MARRIED BY MISTAKE

MARRIED BY MISTAKE
EKTRA PART - 03



Seorang wanita tengah melajukan mobilnya menuju ke tempat di mana putranya menimba ilmu, karena mendapatkan panggilan dari kepala sekolah. Sedang sibuk membereskan kamar, tiba-tiba ia mendapat telfon dari sekolah.


Sampai di sana, ia turun dari mobil lalu melangkah masuk ke dalam.


"Permisi, Pak. Di mana letak ruang kepala sekolah?" Tanya Selena, "Oh itu, anda jalan lurus lalu belok kanan. Ruangan ada di samping kiri ruang guru" Jelas satpam yang berjaga


"Terimakasih" Buru-buru Selena mengikuti arahan yang di tunjukkan satpam tadi.


Setelah menemukan ruangan kepala sekolah, Selena masuk ke dalam dan melihat Devan bersama bocah yang seumuran dengannya. Tetapi bocah itu memiliki luka lebam di sudut bibirnya


"Permisi, saya Ibunya Devan. Ada masalah apa sampai anda memanggil saya" Tanya Selena duduk di depan kepala sekolah


"Begini, Bu. Waktu jam istirahat, anak Ibu telah memukul dengan teman sekelasnya. Dari tadi keduanya tetap diam saat saya bertanya ada masalah apa di antara mereka" Jelas sang kepala sekolah


Selena melirik Devan yang menunduk dalam.


"Di mana orang tua anak ini, Bu?" Tanya Selena, "Saya sampai sekarang masih terus mencoba menghubungi orang tuanya" Jawab kepala sekolah


Selena menghembuskan nafasnya. "Saya meminta ijin untuk membawa Devan pulang, jika orang tua anak ini meminta pertanggung jawaban? Tolong suruh mereka menghubungi saya" Ujar Selena menyerahkan kartu namanya


"Baik, Bu."


Rencana mengajak Devan berkunjung ke makam Kendrick di batalkan karena Revan dan Selena harus menangani masalah Devan dengan teman sekelasnya.


Selena baru saja sampai di rumah begitupun juga dengan Revan yang di minta Selena untuk segera pulang.


Mereka bertiga duduk di ruang tengah dengan Devan berada di antara mereka berdua.


"Ayah/Buna, maaf" Cicit Devan yang masih setia menunduk


Selena menegakkan kepala putranya. "Ayah sama Buna akan maafin kalau Adek mau cerita kenapa tadi Adek mukul temen Adek"


"Memukul?" Selena mengangguk


"Tadi dia gangguin anak perempuan yang ada di kelas, Buna. Waktu Adek tegur, dia malah dorong Adek" Jelas Devan memperlihatkan kedua telapak tangannya yang memerah


Revan memindahkan Devan kepangkuan nya. "Sikap Adek udah bener, cuma caranya saja yang salah. Lain kali jangan pernah pakai kekerasan, terutama sama temen perempuan Adek"


"Anak laki-laki yang baik itu nggak pernah kasar sama anak perempuan, anak perempuan itu harus di sayang—"


"Kayak Ayah sayang sama Buna" Ucap Devan memotong ucapan sang Ayah, Revan mengangguk sambil tersenyum ke arah istrinya.


"Sini, Buna obatin dulu tangan Adek" Selena membuka kotak obat yang ada di pangkuannya lalu mengobati tangan mungil Devan


"Ayahnya nggak sekali" Celetuk Revan menaik-turunkan kedua alisnya


Selena menggeleng. "Ayahnya udah tadi malem"


"Tangan Ayah juga sakit? Mana Adek mau lihat" Pinta Devan, "Eh, nggak. Tangan Ayah baik-baik aja, tadi Ayah cuma bercanda" Jawab Revan tersenyum kaku


Selena yang masih mengobati tangan Devan pun tertawa.


~


Revan berjalan mendekati Selena yang asik membaca buku di atas kasur, pria itu merebahkan kepalanya di pangkuannya sang istri lalu menyembunyikan wajahnya di perut Selena.


"Ini udah waktunya tidur siang, apa Devan sudah tidur?" Tanya Selena fokus ke buku yang ia pegang, "Hem, dia sudah tidur. Makanya aku bisa disini" Revan menyibak sedikit baju Selena hingga menampilkan perut putih milik wanitanya


Ciuman bertubi-tubi ia daratkan di perut tersebut sampai sang empu tertawa geli.


"Revan, hentikan!"


"Apa kita yakin akan memberikan Devan adik?" Tanya Revan tiba-tiba, "Entah, kalau kita masih di percaya sama Tuhan ya terima saja. Itu rezeki kita bukan?" Jawab Selena


Wanita tersebut menutup bukunya lalu meletakkannya di atas nakas, tiba-tiba saja dadanya terasa sangat sesak. Matanya memanas ketika sekilas kejadian beberapa tahun yang lalu berputar di kepalanya


"Lena, ada apa?" Tanya Revan bangkit dari tidurnya, "Tidak, aku hanya sedang mengingatnya. Mungkin sekarang dia sudah besar jika masih ada" Ucap Selena tersenyum getir


Tes. Butiran kristal berhasil lolos dari pelupuk mata Selena, dengan segera Revan mengelap-nya


"Aku mohon jangan menangis. Dia tetap menjadi anak kita walaupun dia tidak ada disini, bersama kita. Dia pasti juga bahagia kalau melihatmu bahagia disini" Urai Revan merengkuh tubuh istrinya.