
Satu tahun kemudian..
Sepasang tangan melingkar di pinggang seorang wanita yang sibuk mengeringkan rambutnya di meja rias, sang wanita diam dan membiarkan orang itu memeluknya.
"Kenapa?" Tanya sang wanita yang tak lain adalah Selena Aprilia
Wanita itu meletakkan hair dryer yang ia pegang di atas meja rias lalu membalikkan badannya.
"Cantik" Satu kata keluar dari bibir seorang Revano, Selena hanya tersenyum tipis menanggapi pujian dari suaminya
Revan duduk di lantai lalu menempatkan kepalanya di pangkuan Selena, tangan kanan Selena mengulur mengusap lembut rambut sang suaminya
"Ada masalah?" Tanya Selena lagi, "Tidak ada, aku hanya bahagia kita bisa berkumpul kembali. Bukan berdua, tetapi bertiga. Maaf, kalau waktu itu aku tidak bisa menemani mu berjuang untuk Devan" Tutur Revan menatap lekat manik mata sang istri
"Jangan di pikirkan lagi, semua sudah berlalu. Waktu itu aku sama kamu juga sedang berjuang, kita sama-sama berjuang untuk hidup. Bedanya, aku berjuang untuk memberikan kehidupan baru dan kamu berjuang untuk kembali. Yang terpenting sekarang kita sudah bersama, kita mulai semuanya dari awal bersama putra kita" Balas Selena tersenyum lega
"Terimakasih, terimakasih karena sudah memberikan Devan sebagai pewarna di pernikahan kita" Ucap Revan menciumi tangan Selena, "Sudah, ayo kita keluar. Pasti Devan udah ada di meja makan, kasian dia nunggu lama" Ajak Selena
"Heem"
Mereka berdua beranjak keluar dari kamar menuju meja makan. Terlihat bocah berusia enam tahun yang tengah duduk diam di meja makan
"Selamat malam, Adek" Sapa Revan dan Selena mencium pipi Devan, "Malam, Ayah/Buna. Kenapa kalian lama sekali, Adek udah bosen disini" Rengut Devan
"Maaf, Sayang. Sekarang ayo kita makan malam" Balas Selena menaruh nasi dan lauk di piring Revan dan Devan.
Usai makan malam, Revan membantu Devan mengerjakan PR di ruang tengah. Selena datang menghampiri keduanya dengan membawa cemilan, kopi panas, dan segelas susu.
"Adek, di minum dulu susunya. Dan ini, kopi untukmu" Ucap Selena menyerah segelas susu kepada Devan lalu beralih memberikan secangkir kopi untuk Revan
"Makasih, Buna" Balas mereka bersamaan.
"Iya"
Revan mengacak gemas rambut putranya sebelum pergi menyusul Selena.
"Lena" Terlihat sang istri tengah duduk di tepi ranjang dengan wajah gelisah
"Sayang, ada apa?" Tanya Revan duduk di sebelah Selena, "Aku juga nggak tau kenapa, Revan. Dari tadi aku gelisah terus" Jawab Selena
"Hei, jangan terlalu di pikirkan. Kebanyakan pikiran nggak baik buat kesehatan, ayo kita bergabung dengan Devan. Dia pasti senang kalau belajar di temani kedua orang tua nya" Ajak Revan
"Ya baiklah."
Revan dan Selena berjalan bersama menghampiri Devan yang tengah belajar.
"Buna, Adek mau ketemu sama papa" Rengek Devan duduk di pangkuan Selena, Revan dan Selena saling pandang sesaat.
"Buna.."
"Anak Buna yang ganteng, papa-nya lagi kerja. Nanti kalau papa udah selesai kerja, pasti papa kesini" Bujuk Selena, "Kenapa lama sekali, Adek kangen sama papa" Rajuk Devan
Selena memalingkan wajahnya dan menghapus cepat air mata nya yang mulai turun, sekarang ia harus mengalihkan perhatian Devan untuk Kendrick seperti dulu ia mengalihkan perhatian Devan sebelum Revan kembali.
"Ini udah jam sembilan lewat, udah waktunya Adek tidur" Timpal Revan mengambil alih Devan dari pangkuan istrinya, "Aku akan membawa Devan ke kamarnya" Selena hanya mengangguk.
Sepeninggalan Revan, Selena menelungkup-kan kepalanya di antara kedua kakinya. Isakan pelan mulai terdengar di ruang tengah
"Mungkin kasih sayangmu kepada Devan memang ada maksud tertentu. Tetapi lihatlah Devan, dia sangat menyayangi mu Ken. Selama lima tahun dia percaya kalau kamu adalah ayahnya, bahkan sampai sekarang dia masih terus menanyakan dirimu" Selena terisak, dadanya begitu sesak jika mengingat hubungan antara Kendrick dan Devan yang begitu dekat.