
Kedua tangan Davira menumpu di pinggiran wastafel. Kepalanya terangkat dan hembusan nafas panjang terdengar begitu pasrah.
"Garis satu lagi" Davira terkekeh sebelum membuang testp*ck tersebut ke dalam tempat sampah.
Tok tok tok
"Sayang, kau baik-baik saja di dalam" Tanya Chris beriringan dengan ketukan pintu kamar mandi
"Ya!" Wanita muda itu membasuh wajahnya lalu beranjak keluar dari kamar mandi.
Ceklek
"Sayang?"
"Ya, kau butuh sesuatu?" Tanya Vira menatap Chris, "Tidak. Tapi kau benar baik-baik saja?" Tanya balik Chris
"Tentu, memangnya aku kenapa" Balas Vira tersenyum tipis, "Oh ya, nanti kita beli hadiah untuk anak bang Revan, bukankah waktunya tinggal sebentar lagi"
"He'em" Chris mengaitkan kedua lengannya di perut sang istri. "Apa kau habis mencobanya lagi?"
Davira terdiam lama kemudian mengangguk berat. "Aku akan segera mencarikan wanita yang bisa memberimu keturunan"
"Jangan membahas hal itu. Kalau Tuhan tidak memberikan kita anak, yasudah. Kita akan hidup berdua sampai maut memisahkan. Tapi aku mohon, jangan meminta ku untuk menikah lagi. Ini terakhir kalinya kamu menggunakan alat sial*n itu, aku tidak ingin bertengkar denganmu hanya karena hasil dari alat itu" Ungkap Chris semakin mengeratkan pelukannya.
☕︎
"Astaga, Vira. Kenapa kamu beli hadiah banyak sekali" Ucap Selena melihat ranjang miliknya penuh dengan bingkisan pemberian Davira dan Chris
"Tadi Vira terlalu eksaited jadi nggak nyadar kalau beli banyak" Kata Vira menggaruk kepalanya yang tidak gatal, Selena hanya tersenyum. "Terimakasih"
"Iya, sama-sama" Senyum Davira merekah saat melihat calon keponakannya menendang-nendang.
"Sepertinya dia suka dengan hadiahmu" Ucap Selena mengusap perut besarnya, "Kalau dia perempuan akan ku ajak belanja setiap hari, biar uang bang Revan ada gunanya" Kata Vira terkekeh, "Kak, aku harus pergi, aku masih ada urusan dengan Chris di luar"
"Ah ya, hati-hati. Sekali lagi terimakasih hadiahnya"
"Sama-sama, aku pergi dulu."
"Chris, sebenarnya kita ingin kemana?" Tanya Vira memandang sekilas pria di sampingnya lalu kembali fokus ke depan
"Aku ingin memenuhi ucapan mu yang ingin mencarikan ku wanita yang bisa memberikanku keturunan" Jawaban Chris membuat detak jantung Davira seakan berhenti. Wanita itu syok dengan perkataan suaminya tadi.
"C–Chris?"
Sedangkan pria itu hanya tersenyum sambil terus menyetir, sebelum sampai tujuan, Chris menepikan mobilnya di sebuah toko bunga.
"Tunggu disini, aku akan segera kembali" Tanpa menunggu jawaban dari sang istri, Chris langsung keluar dari mobil.
Davira terus menatap kepergian suaminya sampai tubuh Chris menghilang dari balik pintu toko bunga tersebut.
"Tidak. Ini keinginan mu bukan, seharusnya kamu bahagia karena dengan ini Chris bisa punya anak" Gumam Vira menepis air matanya.
Cukup lama Davira menunggu, akhirnya Chris kembali dengan membawa sebuket mawar merah berukuran besar dan juga sebuah kotak panjang yang entah apa isinya.
"Memangnya kita akan bertemu di mana?" Tanya Vira berusaha mengangkat kedua sudut bibirnya, "Dia minta bertemu di hotel" Jawab Chris
Davira mengangguk.
Sesampainya di hotel, sepasang suami-istri itu turun. Chris dan Davira masuk ke dalam lift menuju ke lantai 19. Tidak butuh waktu lama, keduanya sampai di tujuan.
Chris mengeluarkan kartu akses pintu masuk, dan secara otomatis pintu tersebut terbuka.
"Ayo"
Davira menelisik kamar hotel yang tampak sepi. "Chris, kamu yakin ini kamarnya? Disini sepi loh"
Lelaki itu mengangguk. Tangan kanannya bergerak meletakkan buket bunga yang ia beli tadi di atas meja.
"Ira, bisa tolong kamu cek ini, aku takut kalau dia tidak menyukai hadiahku" Pinta Chris menyodorkan kotak panjang kepada Davira
Davira mengangguk sambil menerima kotak panjang tersebut, ia sebenarnya juga penasaran hadiah apa yang akan suaminya kasih kepada calon madu nya.