
Di kediaman Anggara, semua anggota keluarga merasa sangat cemas karna putri mereka sudah hampir seminggu tak kunjung pulang setelah pamit ingin pergi bersama teman-teman nya
"Dia mana Metha sebenarnya, kenapa tidak bisa di lacak sama sekali" Gerutu Ricky terus mengotak-atik benda pipih-nya
"Mas" Ricky menoleh dan melihat sang istri mendekatinya, keadaan istrinya sudah tak beraturan setelah Metha menghilang
"Apa kamu sudah menemukannya" Tanya Meryl dengan tatapan sendu, "Belum, aku masih masih berusaha" Jawab Ricky
"Apa Metha ketahuan" Ucap Meryl tiba-tiba, Ricky diam sejenak memikirkan ucapan Meryl. "Kemungkinan kalau Metha ketahuan, dan sekarang dia ada di tangan keluarga mereka" Balas Ricky
"Tapi aku heran? Selama aku memantau, mereka masih terus melakukan pencarian. Bahkan orang suruhan tuan Evan masih terus bergerak" Sambung nya
"Mungkin itu hanya trik" Sahut Meryl
"Entahlah."
Dengan ide pintarnya, Vira memotret Metha dengan keadaan yang penuh luka lalu mengirimkannya ke keluarga Anggara
"Nona, lihatlah. Sebentar lagi tuan dan nyonya Anggara akan melihat fotomu yang mengenaskan ini" Ucap Vira tertawa senang, sedangkan Metha hanya diam karna percuma saja berbicara dengan Vira yang sudah menjelma sebagai iblis
Sesuai ucapan Vira tadi, Ricky dan Meryl syok setelah melihat foto putri mereka dengan keadaan yang tak mungkin di jabarkan
"Mas, itu Metha! Kenapa dia bisa sampai seperti ini!" Seru Meryl histeris, "Tenanglah, aku akan mencoba melacak nomor ini"
Tetapi Vira tak sebodoh itu, setelah mengirim foto tersebut ia langsung merusak kartunya.
Revan melangkah mendekati Selena yang duduk di ruang tv sambil memakan cemilan
"Lena"
"Ya"
"Untukmu" Ucap Revan memberikan paper bag kecil kepada Selena, "Untukku? Apa ini" Tanya Selena menerima bingkisan tersebut
"Buka dulu"
Selena mengangguk dan membukanya. "Ponsel?"
"Ya. Aku lihat ponselmu sudah keluaran lama, jadi aku inisiatif buat beliin kamu yang baru" Jelas Revan, "Bukannya aku nggak mau ganti ponsel, tapi ponselku yang ini masih bagus dan masih bisa digunain. Jadi, dari pada buat beli yang baru mending buat yang lebih penting. Tapi nggak masalah, aku menerimanya dan terimakasih" Tutur Selena tersenyum
"Sama-sama, tapi itu nggak gratis" Imbuh Revan menaik-turunkan kedua alisnya
"Diam dan nikmatilah" Revan menggendong bridal Selena dan membawanya ke kamar.
"Mama! Tiara datang" Ucap Tiara berteriak, "Salam dulu, Sayang. Kebiasaan kalo masuk rumah teriak-teriak" Tegur Aileen, "Hehe, Tiara kangen sama Mama" Ibu dua anak tersebut memeluk Aileen
"Mama juga kangen sama kamu, ayo kita duduk" Ajak Aileen diangguki Tiara
"Kamu kesini sendiri?" Tiara menganggukkan kepala lalu merebahkan kepalanya di pangkuan Aileen
"Udah lama aku nggak tidur disini" Kata Tiara tersenyum, "Sekarang semuanya udah berubah, kamu udah berkeluarga dan kakakmu juga sudah berkeluarga. Kalian pasti sibuk dengan keluarga kalian masing-masing" Ujar Aileen
"Mama benar. Nggak kerasa kalau Tiara udah punya dua anak, bahkan Revan sekarang udah berkeluarga. Rasanya baru kemarin aku merawatnya" Imbuh Tiara, "Bahkan Mama juga merasakan itu, semuanya berjalan begitu cepat" Lanjut Aileen
"Di mana kakak?" Tanya Tiara, "Kakakmu hari ini nggak kesini, dia katanya lembur di kantor" Jawab Aileen, "Lalu Rheta? Di rumah sendiri" Tanya Tiara lagi
"Nggak, kakakmu nyewa baby sitter buat ngerawat Rheta sampai dia pulang. Mama udah minta dia buat nitipin Rheta disini, tapi katanya dia nggak mau kalo Mama kecapean" Urai Aileen
"Heem, aku setuju sama kak Tara. Mama nggak boleh capek-capek, kesehatan Mama nomor satu" Tambah Tiara bangkit dari tidurnya
Aileen menghela nafasnya. "Rumah ini sangat sepi, apa lagi setelah—"
"Mah, papa udah tenang di sana. Tiara nggak mau sampai Mama sakit karna terus sedih kayak gini, apa perlu aku sama kak Evan pindah kesini biar Mama nggak kesepian?" Potong Tiara menggenggam kedua tangan Ibunya
"Nggak perlu, Sayang. Cukup kalian sering-sering saja kesini, kalian sudah berkeluarga. Jadi, fokus saja dengan hal itu" Balas Aileen tersenyum tipis.
"Catrin, ada apa?" Tanya Manaf ikut duduk di sebelah sang istri, "Bukan apa-apa, kepalaku hanya pusing sedikit" Kilah Catrin
"Jangan boong, aku sangat sudah mengenalmu" Balas Manaf, Catrin menatap suaminya sejenak. "Gibran mau nge-lamar Rere" Kata Catrin
"Rere? Maksudmu putrinya Ethan" Catrin mengangguk
"Bagus dong, kenapa kamu malah cemas" Tanya Manaf heran, Catrin menatap datar Manaf. "Mereka yang kita kenal selama ini hanya bersahabat, bagaimana kalau Rere menolak Gibran karna dia sudah punya kekasih? Selama ini, aku melihat Rere selalu bersikap biasa dan tidak ada gelagat suka dengan putra kita" Jelas Catrin panjang lebar
"Bukannya aku nggak mau dukung Gibran, tapi aku hanya takut" Lanjut nya, "Kita lihat saja kedepannya, kalau mereka berjodoh pasti mereka bisa bersatu. Jalan hidup sudah di atur sama Tuhan, jadi jangan khawatir" Terang Manaf mengusap punggung istrinya.
...»»——⍟——««...
👤 : "Makin kesini makin nggak PD sama tulisan sendiri. Udah ngerasa kalo alur ceritanya jadi berantakan dari yang udah di pikirin"