
Sepulang dari makan, Selena langsung menuju ke ke kediaman orang tua Revan. Sesampainya di sana, Selena turun dari mobil dan berhenti di depan pintu.
Selena menarik nafasnya lalu membuangnya perlahan, ia menata pintu depan rumah orang tua Revan. Ia merasa ragu untuk masuk kedalam, karna setiap sudut rumah itu ada kenangan yang begitu indah
"Nyonya muda, kenapa nggak masuk" Tanya seorang tukang kebun, "Mm..apa ayah sama mama ada di rumah" Tanya balik Selena
"Iya, Nyonya" Jawabnya
"Terimakasih" Tangan Selena perlahan membuka pintu tersebut, matanya menelisik setia sudut ruangan yang begitu sepi seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana
"Assalamu'alaikum" Ucap Selena
"Waalaikumsalam" Salah seorang pelayan mendatanginya
"Bi, dimana ayah sama mama" Tanya Selena, "Tuan Evan ada di ruang kerjanya dan Nyonya Tiara ada di kamar, Nyonya muda" Jelasnya
"Terimakasih, kalau begitu saya keatas dulu" Pamit Selena, "Biar saya temani sampai atas" Katanya diangguki Selena
Mereka berdua menapakkan kedua kakinya secara bergantian di setiap anak tangga, Selena menyuruh pelayan itu kembali bekerja setelah ia sudah berdiri di depan kamar mertuanya
Tangannya mengulur mengetuk pintu. "Mah, ini Lena. Apa Lena boleh masuk" Tanya Selena
Ceklek
Pintu kamar itu terbuka dan menampilkan seorang wanita paru baya menatapnya dengan senyuman tipis
"Masuklah" Selena menganggap lalu melangkah masuk ke dalam
"Kenapa nggak manggil Mama aja buat ke bawah, jadi kamu nggak perlu ke atas" Ucap Tiara, "Mana mungkin bisa seperti itu, Mama lebih tua dari ku. Tidak sopan jika Mama yang menghampiri diriku" Balas Selena
"Mah"
"Mm..ya"
"Apa Mama tidak keberatan kalau aku tetap memanggilmu dengan sebutan Mama?" Tanya Selena, "Tidak sama sekali, Mama sudah mengatakannya dulu. Mama juga ibumu sebelum kamu menikah dengan Revan, panggil Mama sesukamu" Jelas Tiara
"Ini?" Manik mata Tiara tak sengaja melihat cincin yang ia kenal melingkar di jari Selena
"Cincin pernikahan kami, dan aku tidak berniat untuk melepaskan nya" Kata Selena tersenyum, "Kau tidak ingin melanjutkan hidupmu, Lena" Tanya Tiara
"Lena"
"Lena tidak pernah berfikir untuk menikah kembali, Mah. Lena akan berusaha untuk menjadi ibu sekaligus ayah yang terbaik buat anak Lena sama Revan" Jawab Selena, "Menikah bisa dipikirkan nanti, yang terpenting sekarang anak Lena sama Revan baik-baik saja dan kebutuhannya tercukupi. Itu sudah lebih dari cukup"
"Terserah padamu. Tapi kalau kamu ingin menikah lagi, Mama mohon jangan lupakan Revan."
***
"Bagaimana tawaran ku? Apa kau setuju. Tenang saja, setelah semuanya selesai hidupmu akan aman tanpa ada yang berani mengganggu. Saya kan menjamin keselamatan mu dan juga keluarga mu" Ucap seorang gadis yang tak lain adalah Davira
"Apa perkataan mu bisa saya pegang, Nona" Tanyanya
"Kalau saya ingkar, kau bisa membunuhku saat itu juga. Dan saya tidak akan melawan saat kau mengangkat senjatamu. Begitupun juga sebaliknya, jika kau ingkar? Maka saat itu juga nyawamu dan juga keluarga mu tidak akan selamat, sekalipun kau memohon" Jawab Vira
Pria itu tampan berfikir dan akhirnya mengangguk setuju
"Pilihanmu sangat tepat, kau bisa beristirahat terlebih dahulu. Nanti saya akan menjelaskan semua tugasmu" Pria itu mengangguk lalu pamit pergi
"Permainan di mulai."
"Lena, mending kamu duduk aja. Biar ini Mama yang nyelesein" Ucap Olivia ketika putrinya ngotot ingin membantu di dapur, "Mah, Lena bosen. Lena bantu Mama aja" Balas Selena
"Iya, kamu boleh bantu Mama. Tapi nanti, kamu nggak sendiri. Duduk aja" Tambah Olivia
Selena menghembuskan nafas pasrah lalu duduk di salah satu kursi yang ada di meja makan.
"Mah"
"Iya"
"Lena selama ini ngerepotin Mama ya" Ucap Selena, Olivia mematikan kompor dan menyuruh para pelayan untuk pergi
Wanita itupun duduk di sebelah putrinya. "Siapa yang bilang kamu ngerepotin Mama?"
Selena menggeleng. "Nggak ada, Lena ngerasa aja kalau Lena udah banyak ngerepotin papa sama Mama"
"Papa sama Mama nggak pernah ngerasa di repotin, kami senang jika kamu selalu membutuhkan kami. Kamu anak papa sama Mama satu-satunya, kamu juga harta kami yang paling berharga. Bahkan papa sama Mama kadang merasa sepi dengan sikap mu yang berusaha untuk dewasa dan bisa melakukan sesuatu hal sendiri."