MARRIED BY MISTAKE

MARRIED BY MISTAKE
28



"Shiv, kita selesai cepat masalah disini. Kalau perlu kita lembur" Ucap Revan semangat, Shiv memandang atasannya dengan pandangan bingung


"Jangan dipikirkan masalah gaji, gajimu nanti akan saya lipatkan bulan ini. Yang penting secepatnya kita harus menyelesaikan masalah disini" Lanjut Revan


"Baik, Tuan."


Di rumah, Selena merasa sangat bahagia sambil menatap foto USG yang berada di tangannya


"Sehat-sehat di sana, Mama akan lebih menjagamu agar kejadian waktu tidak terulang lagi" Ucap Selena mengusap perut ratanya


Arah pandang Selena teralih ketika pintu kamarnya terbuka, terlihat kedua sahabatnya datang malam-malam tanpa memberitahu dirinya


"Kalian? Kok malam-malam kesini, cuma berdua" Tanya Selena menghampiri mereka berdua, "Hm. Abis denger lo isi lagi, gue langsung nyeret Gibran kesini. Nggak mungkin gue kesini sendiri, jauh lagi" Kata Tere sedikit memprotes rumah Revan yang jauh dari rumah keluarga yang lain


Tere mengambil foto USG milik Selena. "Apa ini dia? Masih kecil sekali, tapi menggemaskan"


"Heem, baru empat minggu. Gedenya masih segede biji kacang hijau" Jawab Selena, "Revan tokcer juga" Timpal Gibran yang sedari tadi menyimak percakapan dua wanita itu


"Makanya cepet halalin Rere" Goda Selena


"Apaan sih!"


"Okey. Re, ke KUA yuk" Ajak Gibran, "Nggak usah ngawur, lo kira nikah kek orang nge-mall. Butuh persiapan" Ketus Tere


"Yang penting sah dulu, masalah pesta bisa belakangan" Balas Gibran santai, "Gibran bener tu, jarang lo ada cowok langsung ngajak halal. Dari pada pacaran nggak ada hasil" Tambah Selena membela Gibran


"Terserah!"


"Hahahaha" Tawa Selena dan Gibran pecah karna berhasil membuat Tere kesal


"Bran, gue boleh minta tolong nggak?" Tanya Selena, "Apaan? Jangan yang susah-susah" Kata Gibran was-was


"Gue pengen sate kambing yang ada di ujung jalan, beliin dong" Pinta Selena


"Iye, tunggu bentar. Lo mau nitip apaan, Re" Tawar Gibran berdiri dari duduknya, "Seblak aja kali ya, tapi yang pedes" Jawab Tere


"Okey."


"Nginep aja disini, lagian udah malem banget. Lo tidur ama gue, Gibran biar tidur di kamar sebelah" Ujar Selena sambil memakan sate kambing miliknya


Tere menatap Gibran yang mengangguk. "Okey"


Pagi hari, Selena yang sudah berpakaian kantornya terpaksa harus mengganti pakaian santai ketika orang tuanya melarang nya untuk masuk kerja


"Udah pada sarapan?" Tanya Selena, "Udah, tadi sebelum kesini kita sarapan dulu" Jawab Olivia.


***


Seseorang tersenyum miring melihat laporan dari mata-mata nya, rencana yang sudah ia susun akan berjalan dengan lancar tanpa hambatan


"Let's play the game"


Jari-jarinya terus menari di keyboard untuk memastikan rencananya sempurna


"Aku suka cara kalian yang licik, kelicikan kalian tak akan berguna untukku. Kita lihat aksi kalian nanti" Ucapnya kembali memantau layar di depannya.


Perubahan sikap Vira bisa Tiara rasakan, gadis yang biasanya sangat manja sekarang menjadi dingin. Bahkan senyumnya hampir tak terlihat


"Sayang, kamu mau kemana" Tanya Tiara ketika melihat Vira baru saja keluar dari kamar


"Ada urusan"


"Kamu kenapa? Apa ada masalah, cerita sama Mama. Mama kangen sikap manjamu" Ujar Tiara menatap sendu putrinya, "Nggak ada, aku sudah terlambat" Kata Vira melenggang pergi


"Kalau kamu nggak mau ngasih tau, Mama akan mencari taunya sendiri. Kamu putriku, setidaknya Mama tau masalah yang membuat mu berubah."


***


Sesuai kesepakatan bersama, Selena akan tinggal di rumah Evan dan Tiara. Sedikit paksaan karna Selena sendirian di rumah dan itu jaraknya juga cukup jauh


"Lena, Mama udah siapin kamar di lantai bawah. Semua keperluan mu sudah lengkap, tapi kalau masih ada yang kurang bilang saja" Terang Tiara, "Baiklah, maaf merepotkan" Kata Selena


"Mama juga Ibumu, bahkan sebelum kamu jadi menantu Mama. Istirahatlah, Mama masih ada pekerjaan" Selena mengangguk lalu masuk ke kamar


Tiara melangkah menuju area belakang rumah, ada sebuah rumah kecil yang di jadikan gudang. Wanita itu masuk ke dalam dan menggeser vas bunga, di balik vas bunga tersebut terlihat ada sebuah tombol berwarna hitam


Sebuah lukisan yang berada di depan Tiara bergeser, wanita itu masuk ke dalam tak lupa menutup nya kembali


"Bagaimana, apa kau sudah mendapatkan apa yang saya minta" Tanya Tiara datar, "Tentu, Nyonya. Anda bisa memeriksa nya sendiri" Ucapnya memberikan sebuah flashdisk dan juga map sebagai bukti kerjanya selama dua puluh empat jam sesuai perintah


"Kau yakin ini benar"


"Iya, Nyonya. Saya bisa memastikan kalau semuanya akurat, tidak kesalahan apapun"


"Kau bisa pergi, ini bayaran mu" Tiara memberikan amplop coklat yang berisi uang sebagai imbalan.