
Alexandra tak pernah menyangka akan menjadi objek perhatian lagi setelah sekian lama. Dulu ketika orangtuanya masih hidup. Inilah yang orangtuanya lakukan. Di satu sisi, ia tak begitu menyukai bagaimana semua pandangan itu kini mengarah padanya. Telapak tangannya basah, ia tak berharap Victor tak akan keberatan menggenggam tangannya yang basah karena keringat. Begitu Victor memberikan isyarat untuk turun dengan gelengan kepala, pria itu segera mengulurkan tangan untuk digenggam.
Alexandra gugup, ketika menyambut tangan Victor, ia hanya berharap tak akan terlalu fokus pada permukaan kulit pria itu yang halus bagaikan bokong bayi. Ia juga berusaha agar tak tenggelam pada aroma parfumnya yang kemungkinan dapat memasukkan. Maka dari itu, ia memejamkan mata sejenak. Lantas menghela napas pelan. Ia mengangguk pelan pada Victor, lantas pria itu membimbingnya turun. Tiap ketukan sepatu mereka yang menurun, para tamu undangan bertepuk tangan. Wajah mereka berbinar, menampakkan kekaguman.
Begitu langkah mereka berakhir di lantai utama, para tamu undangan dan pelayan segera menyebar, memberikan ruang lebih lebar bagi keduanya. Terkecuali Irene yang sama sekali tak tersenyum atau sekadar mengulas senyum palsu saat Alexandra menatap ke arahnya datar. Davis dan Charlotte sendiri bertepuk tangan pelan kendati wajah mereka diliputi horor. Sesekali mereka akan saling pandang, tetapi segera diputus untuk menyambut kedatangan Victor dengan lebih formal.
"Selamat datang, Tuanku Victor. Sebuah kehormatan ketika Anda datang kemari dan telah memilih salah satu gadis terbaik milik keluarga Buffon," sapa Davis sembari membungkuk dalam.
"Koreksi, ia satu-satunya gadis terbaik di sini. Jika ia tak terbaik, mengapa aku memilihnya?" Tawa renyah Victor segera disambut oleh tawa tamu undangan lain. Tentu Davis dan Charlotte juga paham apa yang tersembunyi di balik kalimat tersebut. Alexandra yang terbaik, sedangkan Irene sama sekali tak dapat dibandingkan dengan Alexandra sendiri.
"Ah, Anda membuat keputusan yang sangat bijak, Tuanku," balas Davis sembari tersenyum kaku.
"Tentu saja, sehingga hadiah yang kubawakan untuknya dapat dipakai. Lihatlah betapa indahnya anting-anting ini. Usianya sudah sepuluh tahun dan masih sangat indah." Jemari Victor menyingkirkan helai-helai rambut Alexandra dan menyelipkannya ke belakang telinga. Jemarinya bersentuhan dengan kulit pipi Alexandra pelan. Gadis itu kembali merasakan geletar aneh seperti di kamar sebelumnya. Ia menyesal tak mengenakan perona pipi untuk menyamarkan rona di pipinya yang terang.
"Wah, sebuah perhiasan yang sangat indah, Tuanku." Charlotte juga mengakui keindahan anting-anting tersebut. Dulu, ia juga pernah merasa takjub ketika pertama kali melihat anting-anting tersebut dikenakan istri kakak iparnya dengan penuh percaya diri dan tindak-tanduk anggun. Kala itu, ia sama sekali tak mampu menyamai level wanita itu. Margareth. Setelah sekian lama meyakini bahwa perhiasan itu telah menghilang dari permukaan bumi, kini benda yang juga merupakan saksi kematian Margareth dan Davis kembali pulang. Bahkan dikenakan langsung oleh putrinya sendiri.
Baik Davis maupun Charlotte meyakini ada hal yang disembunyikan Victor di sini. Seringai wajahnya yang tak kunjung menghilang, kian meyakinkan mereka tentang sesuatu yang mungkin dapat mengancam kedamaian keluarga kecil mereka.
"Bagaimana dengan satu kali dansa keliling ruangan setelah upacara penyambutan? Hanya ada aku dan Alexandra, sementara yang lain dapat menemukan pasangannya sendiri-sendiri."
Davis dan Charlotte mengulas senyum lebar. "Tentu, Tuanku. Malam ini juga menjadi milik Anda. Akan saya lakukan upacara penyambutan sesegera mungkin."
"Baiklah, sementara itu, aku akan berkeliling sebentar dan menyapa. Kau lanjutkan saja, karena bintang malam ini harusnya bisnis kalian yang setiap harinya, kian bersinar." Victor mempersilakan Davis memulai upacara penyambutan dan pidato singkat darinya. Sementara Davis dan Charlotte sibuk dengan segala ***** bengek penyambutan, Victor membawa Alexandra di ujung ruangan tempat Teddy sedang menikmati gelas wine kedua miliknya.
Pria itu segera meninggalkan gelas bertangkainya pada salah satu pelayan. Ia mempertegak posisinya lantas menunduk memberikan hormat pada Alexandra. Sorot mata Teddy lebih tenang dan teduh. Sepertinya ia sebelas dua belas dengan Alexandra jika menyangkut sikap dan tindak-tanduk.
"Namanya Teddy, untuk sekarang aku akan menitipkanmu padanya sementara aku berkeliling dan menyapa yang lain dulu. Jangan bergabung dengan adik sepupumu apa pun yang ia lakukan." Lagi-lagi ia pergi sebelum Alexandra memberikan persetujuan.
Alexandra mengangguk patuh. Baru saja ia terhindar dari hal yang tidak diinginkan. Seperti kata Victor untuk mengecek kembali sepatunya sebelum dikenakan, Alexandra menemukan sebuah kejutan kecil yang membuatnya mendengkus sebal. Ada masing-masing paku payung di dalam sepatu hak tingginya. Ia tak perlu menerka-nerka lagi siapa dalang di balik insiden paku payung itu. Semua kecurigaannya mengarah pada Irene yang saat ini sedang menggosip dengan beberapa gadis remaja lain. Mereka semua sosialita.
"Menyebalkan sekali bukan hidup bersama mereka? Orang-orang palsu yang hanya memperlakukanmu baik di belakang."
Kalimat itu meluncur dari bibir Teddy, ia tersenyum pada Alexandra sembari mengulurkan segelas wine. Alexandra menggeleng, "Usiaku belum ada sembilan belas tahun."
"Sebentar lagi kau akan berusia sembilan belas. Mengawali start, tidak apa-apa bukan, lagipula setiap hari kau pasti berurusan dengan wine. Untuk apa ragu?"
"Justru karena setiap hari berurusan dengan wine, maka dari itu aku bosan, Tuan Teddy."
"Panggil saja Teddy, usiaku hanya terpaut sepuluh tahun lebih tua darimu."
"Haruskah kupanggil kau dengan sebutan Paman?"
"Aku tidak setua itu."
Mereka tertawa kecil, meluruhkan atmosfer canggung yang sejak tadi menyelimuti. Kedatangan Victor memang membawa dua hal sekaligus. Takjub dan takut. Masing-masing tamu undangan memiliki pandangan yang berbeda tentang Victor. Pun dengan bagaimana mereka menyikapi kedatangan sang pengusaha sebagai idola yang sangat dikagumi ataupun momok menakutkan bagi sebagian orang.
"Tuan Victor memang berniat membawamu ke kastel kediamannya. Namun, ia akan menunggu sampai usiamu genap sembilan belas. Tak seperti wanitanya yang lain, ia akan meminta persetujuan darimu dulu. Sampai ulang tahunmu yang kesembilan belas, kau boleh memilih untuk ikut dengannya atau tidak. Dia yakin kau pasti akan dihadapkan pada situasi yang sulit sebelum ulang tahunmu yang kesembilan belas, maka dari itu kau harus berpikir matang-matang, apakah kau akan ikut dengannya atau tidak."
Alexandra tak kunjung memberikan reaksi. Matanya masih memancarkan keraguan yang tentu saja terbaca oleh Teddy. Pria itu lantas mengalihkan pandangan, mencoba mencari batang hidung Tuannya yang kini entah ke mana. Dan, ia mendapati pria berusia beberapa abad itu tengah bergabung dengan Irene dan gerombolannya. Irene berada dalam masalah besar, tercetak jelas di wajahnya ketakutan yang mendalam. Sementara para teman sosialitanya perlahan menepi, enggan bergabung dalam lingkaran itu.
"Aku, tentu ragu. Beberapa kali aku mendengar para wanita dan pelayan Tuan Victor tak ada yang kembali dari kastel. Ada keraguan kalau mereka...." Alexandra menjeda kalimatnya agak lama, segera ditanggapi Teddy dengan huruf 'O' di mulutnya.
"Mereka tak kembali karena mereka betah bekerja dengan Tuan. Bukannya mati. Kendati sudah masuk kastel, masih ada di antara mereka yang menikah dan punya anak. Lalu anak mereka akan bekerja pada Tuan. Bisa dibilang, seperti pekerjaan yang diwariskan pada keturunannya. Aku juga termasuk salah satu dari mereka yang mendapat pekerjaan warisan itu. Ibuku adalah pelayan Tuan, sedangkan ayahku adalah penyetok bahan baku ramuan awet muda Tuan. Jadi kau tak perlu berpikir bahwa hidup dengan Tuan akan membuatmu terbunuh."
"Di satu sisi, aku ingin meninggalkan neraka ini. Namun di sisi lain, ini adalah warisan yang ditinggalkan kakek buyutku. Aku juga ingin merawatnya, sejak kecil aku sudah belajar bisnis pun ketika usiaku semakin dewasa. Aku juga masih belajar. Ada yang bilang bahwa aku tetap akan memimpin di perusahaan keluarga ini, tapi aku harus menunggu sampai usiaku cukup." Mata Alexandra bergerak ke atas, pada langit-langit yang dipenuhi dengan kandelar. "Namun, haruskah aku menunggu lebih lama dan hidup dalam neraka ini? Haruskah aku menyerahkan apa yang seharusnya kudapat pada pamanku dan keluarga kecilnya yang terlalu hedonis?"
Mata Teddy menatap pada titik yang sama dengan Alexandra. Di satu sisi, ia pun pernah berada pada pemikiran yang serupa. Ketika dulu sekali ia mendapat tawaran dari ayahnya agar keluar dari kastel, ia justru memilih pekerjaan yang sama dengan ibunya untuk melayani Tuan Victor.
"Kau sendiri yang tahu jawabannya, Nona." Teddy menyesap kembali wine yang sempat teracuhkan karena obrolan mereka yang entah mengapa mengalir dengan tenang.
"Aku juga butuh saran dari orang lain." Alexandra kembali mengarahkan pandangannya pada Victor dan Irene. Sejak tadi, ia khawatir entah Irene atau Victor akan membuat masalah. Benar saja dugaannya. Wajah Irene memerah, air matanya mulai bercucuran. Untungnya tak sampai merontokkan riasan wajahnya yang mahal dan anti air. Alexandra tak dapat mereka apa yang pria itu ucapkan pada Irene hingga gadis itu luar biasa ketakutan. Orang-orang yang berada di sekitar mereka menunduk, sejenak membutakan mata.
"Nona Buffon," panggil Teddy pelan, yang tak mendapat respons apa pun dari sang gadis. Mata Teddy teralih pada Victor yang terlibat pada obrolan penting dengan Irene. Sejatinya itu hanya monolog sang pria, karena Irene sama sekali tak membalas atau memberikan reaksi apa pun selain isakan yang tertahan di bibir. Ia benar-benar dalam masalah karena orangtuanya sedang memberikan sambutan kepada para tamu undangan, sedangkan para tamu abai. Mereka lebih takut pada Victor daripada Davis Buffon.
Membiarkan Victor melakukan apa pun yang ia mau, adalah cara paling aman menjauhkan diri dari masalah. Jika Victor tak suka pada seseorang, maka habislah dia dengan cara yang terduga. Kebanyakan dimiskinkan, terkadang ia bisa membunuh orang. Satu hal yang pasti, kata-katanya absolut.
Teddy menepuk pundak Alexandra, gestur ringan itu berhasil menarik atensi Alexandra. "Nona, jangan sampai ada terlibat apa pun. Tetaplah di sini."
"Tapi, setidaknya aku harus tahu apa yang terjadi pada adik sepupuku."
"Tuan Victor memang menyukaimu, Nona. Tapi dia tak suka seseorang yang terlalu berani dan melawan perintahnya. Kau tak ingat apa yang tadi ia katakan mengenat tidak mendekati adik sepupu Anda? Dia benar-benar serius dengan perkataannya."
"Tapi...."
"Anda percaya bahwa dia adalah sebuah wujud nyata dari hukum absolut bukan?"
Tatapan mata yang mengancam, kata-kata yang ditekankan, dan remasan pria itu pada bahunya. Alexandra menghela napas, ia telah mendapat peringatan keras. Maka niatnya untuk mendekat dan melihat segera menghilang bersamaan dengan tepukan tangan meriah sehabis kata sambutan pamannya habis. Victor pun tak lagi mengintimidasi Irene. Seringai yang semula menghiasi wajah itu segera tergantikan oleh senyum yang tak begitu lebar.
"Aku ingin mencari udara segar dulu," pamit Alexandra sembari menundukkan kepala pada Teddy. Pria itu pun mempersilakannya pergi.
Kaki Alexandra bergerak menjauh dari kerumunan pesta. Ia ingin minum jus jeruk atau minuman bersoda hingga habis. Karena ia belum bisa meminum wine, hanya dua pilihan minuman itu yang berputar-putar di kepala. Pada langkahnya yang tergesa-gesa menuju dapur, ia melihat seorang pria berjas berkeliaran tak jauh dari ruangan pesta. Ia tengah melakukan pembicaraan serius dengan seseorang melalui sambungan telepon. Tak ingin dianggap menguping, Alexandra segera menyembunyikan diri pada salah satu tanaman hias yang menjulang tinggi.
"Ulang tahun Nona Alexandra sebentar lagi tiba. Tentu saja aku sudah menyiapkan seluruh berkasnya. Berkas apa lagi selain penyerahan warisan itu? Ia juga yang harusnya menerima seluruh kekuasaan atas aset perusahaan." Ada jeda lama dalam percakapan itu.
Alexandra terdiam di antara jeda tersebut. Apa yang selanjutnya ia dengar adalah tentang seluruh aset perusahaan yang harusnya ia terima. Termasuk rumah ini, perkebunan seluas puluhan hektar, pabrik pengolahan wine, beserta gedung perusahaan. Jantungnya berdegup kencang, seakan hendak terlepas dari tempatnya. Ia melirik pria tersebut dari balik dedaunan. Wajah itu tak asing baginya. Tuan Robert, pengacara mendiang Ayah. Alexandra tergerak ingin keluar dari persembunyian dan mencoba mencari tahu alasan di balik pria tersebut menyiapkan seluruh berkas tersebut.
"Tuan Albert!" suara itu bukan berasal dari Alexandra. Seorang pria bertubuh tambun segera membisikkan sesuatu pada Tuan Albert. Mereka berdua segera meninggalkan tempat tersebut melalui pintu lain. Alexandra tak sempat mengejar dan tak mengetahui apa alasan di balik obrolan itu.
To.Be.Continue