
Alexandra digiring memasuki halaman rumah melalui pagar belakang kediaman. Sesekali ia limbung, kehilangan keseimbangan dan nyaris jatuh kalau bukan karena salah satu pria berpakaian hitam itu menangkap tubuhnya. Alexandra sendiri enggan bersentuhan dengan orang-orang itu. Begitu ia dapat berdiri tegak, ia segera mengambil langkah besar-besar. Para pelayan di pintu belakang segera membantu memapah tubuh Alexandra ke dapur. Mereka mendudukkan Alexandra pada salah satu kursi. Sementara para pelayan itu sibuk mencari air dan beberapa potong roti, Alexandra menatap lantai dapur kosong.
Pikirannya tak berada di sana, mengembara ke tempat sebelum dapur. Di mana semua kejadian buruk itu berawal. Pisau yang nyaris menggores kulit leher Nyonya Morris mengilat. Seringai pamannya lebar, matanya menyipit, tawa kecil itu berputar-putar di kepala. Alexandra kembali dibawa pada sebuah meja. Di sanalah pamannya meletakkan sebuah pena. Kertas itu tak memiliki tulisan selain garis hitam tempat Alexandra akan membutuhkan tanda tangan. Pamannya licik. Tentu ia akan menggunakan tanda tangan Alexandra untuk melakukan hal-hal buruk.
"Kenapa? Kau ragu? Apa kau mau lihat Nyonya Morris benar-benar dibedah leher dan perutnya?" Davis meraih pena yang tergeletak di meja, lalu tangan Alexandra. Pena itu diletakkan di telapak tangan sang gadis. Mata Davis berbinar, ada nyala api yang membara di sana.
"Untuk apa tanda tangan ini? Kau hanya menyuruhku menandatangani kertas kosong? Paman, kalau kau mau mengajariku berbisnis, setidaknya ajarkan aku hal yang benar," ujar Alexandra dengan bibir bergetar.
"Oh, kupikir kau akan melakukan apa pun asalkan Nyonya Morris tetap mulus sampai nanti ia dibawa kembali ke rumah. Kau banyak tanya seakan tak ingin dia kembali dengan selamat. Kalau kau bertanya lagi, aku mungkin akan menggores bagian tubuhnya yang lain." Davis menopang dagunya, sementara tangannya yang lain bermain-main dengan pisau. Duduk berhadapan seperti ini benar-benar tak nyaman.
Kendati seluruh ikatan dan sumpalan pada bibinya dilucuti, tetapi Alexandra masih terperangkap. Pria berkepala plontos dan bertubuh tinggi itu masih menanti di belakang Alexandra. Sejak tadi tatapannya ke Alexandra tak berubah, masih waspada sejak awal. Ia pun memegang stunt gun, berjaga-jaga agar Alexandra tak melakukan tindakan spontan. Nyonya Morris sendiri masih tak sadarkan diri. Tubuhnya kini dibaringkan di salah satu sofa.
"Aku akan melakukannya. Tenang saja, Paman." Kalimat itu terpaksa keluar dari bibir Alexandra. Ia merapatkan gigi, otot sekitar lehernya tegang. Ia sebenarnya berencana mengumpat lagi, tetapi tertahan di rongga mulut karena ancaman sang paman. Nyonya Morris harus kembali ke rumah dengan selamat apa pun harganya. Bahkan jika Alexandra menandatangani kertas tersebut. Persetan jika surat itu adalah pembedahan organ tubuh, persetujuan euthanasia, atau apa pun.
"Tenang saja, Alex Sayang. Paman bukannya hendak menjual organ tubuhmu atau apa. Mana mungkin Paman melepaskan tiket emas menuju awal dari bisnis yang bagus jika kau mati? Kau akan hidup tenang di kastel Tuan Victor sedangkan Nyonya Morris juga akan menghabiskan masa tuanya yang santai di rumah dengan baik. Kau tak perlu khawatir nantinya ia tak mendapat perawatan yang bagus. Aku jamin itu." Davis seakan dapat menebak pemikiran terliar Alexandra.
"Paman berjanji untuk menjaga Nyonya Morris walaupun aku sudah tak ada di rumah lagi, bukan? Kau janji tak akan menyakitinya?"
Davis mengangguk mantap. "Tenang saja, kata-kataku dapat dipegang."
Pisau pada genggamannya diletakkan di atas meja. Seakan menegaskan bahwa ia tak akan melukai Nyonya Morris lagi. Alexandra menarik napasnya dalam-dalam. Satu tatapan lurus pada mata sang paman dan tubuhnya ditegakkan. "Baiklah. Sebelum menandatangani kertas ini, apakah ada hal lain yang harus aku lakukan agar kau tak melukai Nyonya Morris dan membawanya kembali ke rumah?"
Davis menarik senyum lebar lagi. Ia mendapat firasat baik tentang bisnis dan kehidupan keluarganya sehabis ini. "Tak ada. Kau hanya perlu mempersiapkan diri berkemas dan pergi ke kastel Tuan Victor. Itu saja. Ia pasti akan betah di kastel jika kau ada di sana. Dia juga bergelimang harta, lebih kaya dari orang mana pun di dunia. Ia pasti akan mengabulkan semua keinginanmu."
Satu tarikan napas panjang lagi, Alexandra benar-benar tak tahu apa yang akan pamannya gunakan dengan tanda tangan ini. Namun ia berharap bukan hal buruk yang akan diterimanya sehabis ini. Setelah tanda tangannya benar-benar terbubuh di atas kertas itu, pamannya bertepuk tangan kecil lantas menjabat tangan Alexandra. "Inilah bisnis yang sesungguhnya, Alex Sayang."
Seringai lebar itu sesaat membuat Alexandra mual. Sebelum salah satu pelayan itu menyerahkan segelas air padanya, Alexandra segera berlari ke wastafel. Memuntahkan seluruh isi perutnya. Para pelayan memandangi Alexandra iba, mereka telah menyaksikan bagaimana keluarga ini memperlakukan Alexandra dengan cukup buruk. Mereka pun tak dapat melakukan apa pun.
"Nona Alexandra!" pekikan tak tertahan itu keluar dari salah satu pelayan terdekat. Tubuh Alexandra limbung dan mendarat di lantai dapur. Alexandra sendiri tak mampu menjaga matanya tetap terbuka lebar sejak seluruh isi perutnya dikuras. Keributan di dapur itu rupanya telah menjadi tontonan Irene sejak tadi, ketikan mobil body guard ayahnya memasuki halaman pintu belakang.
***
"Tuan tidak mengunjungiku? Padahal aku tadi sudah menyuruh Teddy agar berkunjung ke sini." Jane berbaring di sofa empuknya sementara pelayan menyapukan kuteks warna merah muda pudar pada kuku kakinya.
"Ia mungkin sedang sibuk, Nona. Lagipula beberapa hari belakangan banyak rumor berembus ia akan membawa satu gadis lagi ke sini. Ditambah lagi dengan perayaan kedatangan Nona Ivanka ke kastel ini. Ia pasti juga sedang mencari hadiahnya. Ia sangat sibuk akhir-akhir ini, Nona. Harap maklum." Pelayan itu sesekali melakukan kontak mata dengan Jane. Wanita yang tubuh dan wajahnya telah mengalami beberapa kali permakan itu mengerucutkan bibir.
Teringat akan kali pertama mereka bertemu di salah satu bar. Ia sedang menari tiang kala itu. Banyak pria yang rela merogoh dompet dalam-dalam demi melihatnya bergelantungan pada tiang dan mengumbar lekuk tubuhnya yang luar biasa. Pun dengan Tuan Victor. Pria itu segera memesan satu kamar untuk mereka saling mengenal jauh, singkat kata pria itu mengundang Jane agar tinggal bersamanya di kastel. Persis dengan dongeng-dongeng seorang gadis biasa yang dipertemukan dengan pangeran pujaannya.
Namun dongeng itu segera berubah menjadi opera sabun murahan tentang kehidupan berpoligami begitu Jane menyadari bahwa ia bukanlah satu-satunya wanita di sana. Ia saja yang terlalu naif, menganggap diri sendiri istimewa. Kedatangannya ke kastel sepuluh tahun yang lalu, ia tak sendiri. Masih ada tiga wanita di sana. Ruby salah satunya, sedangkan dua di lainnya pamit undur dari kastel tak lama kemudian. Biasanya para gundik yang telah berusia di atas kepala empat atau yang menginginkan kehidupan rumah tangga, tak dianggap lagi sebagai wanita yang mampu melayani Tuan Victor.
Tuan Victor pun tak sekejam pamornya. Mereka yang undur diri memiliki kesempatan menjadi pelayan kastel atau bekerja di salah satu perusahaan yang telah Tuan Victor beli. Ada pula beberapa di antaranya yang tak memilih satu di antara opsi itu. Hidup bebas dan memiliki keluarga sendiri. Namun, dengan satu syarat bahwa info mengenai kastel dan Tuan Victor tak boleh disebarkan. Ya, mereka cukup patuh untuk itu. Beberapa kali Jane bertemu pelayan atau gundik Tuan Victor di luar kastel. Mereka masih loyal pada Tuan Victor kendati tak lagi menjadi bagian dari kastel dan ranjangnya.
Jane sendiri sama sekali tak mendambakan hidup di luar kastel dan memiliki anak. Di luar kastel, hidupnya mungkin tak akan lebih baik dari ini. Kalau bisa, ia akan menghabiskan seluruh sisa hidupnya di kastel. Dunia luar pasti terlalu kejam untuknya yang sama sekali tak ingin mengangkat jari untuk pekerjaan kasar. Maka dari itu ia tak boleh main longgar, ia harus menjadi kesayangan Tuan Victor sampai kapan pun.
"Nona Jane, Anda ingin memakai pakaian apa hari ini?" tanya pelayannya yang baru saja menyelesaikan riasan kuku cantik Jane. Wanita itu mengangkat jari-jarinya, memandanganginya dengan puas.
"Carikan yang paling seksi dan manis." Jane berhadapan dengan cermin besar, mengagumi bentuk tubuhnya yang makin seksi. Operasi payudara itu sepertinya belum cukup, mungkin sehabis ini bagian bokongnya. Dengan begitu mata Tuan Victor tak akan beralih ke wanita lain.
"Apakah yang ini? Ini koleksi terbaru Pendi. Baru saja keluar minggu lalu." Pelayan itu mengangkat sebuah gaun pendek. Belahan dadanya rendah dan nyaris menunjukkan seluruh punggungnya.
Jane menggeleng-geleng. "Itu memang seksi, tapi aku butuh sedikit kesan lucu, dengan begitu Tuan Victor akan suka."
"Lalu apa yang Anda inginkan, Nona?" sahut sang pelayan lagi.
"Yang bisa membuat Tuan lupa kalau hari ini ada perayaan penting untuk Ivanka."
To.Be.Continue