
Alexandra baru saja kembali ke rumah menggunakan taksi. Matanya membelalak saat kedatangannya disambut para pelayan yang membungkuk hormat dalam dua barisan panjang. Bibinya pun dengan sangat tumbennya, menanti di antara barisan itu dengan senyum yang merekah lebar. Alexandra berdoa semoga bukan karena Victor yang memberikan sedikit kontak fisik tadi. Sungguh, untuk sebuah kontak fisik kecil, orang-orang terlalu memandang besar masalah tersebut.
"Selamat datang Alex, mari kita masuk lebih dulu dan mengobrol hangat. Sudah lama sekali kita tidak melakukannya bukan?" sapa Charlotte tanpa menurunkan senyum canggung tersebut.
"Bukannya sudah lama, memang kita tak pernah melakukannya. Daripada repot-repot melakukan ini, bisakah beri jalan padaku agar masuk rumah dengan tenang. Kau juga kenapa membuat mereka menunduk padaku begini. Itu tidak perlu." Alexandra bersiap menerobos bibinya. Namun wanita itu tak kalah cepat menghadang jalan. Masih dengan senyum kikuk yang tertahan di wajah. Otot wajahnya berkedut karena terlalu memaksakan senyum.
"Kita harus memberikanmu penampilan terbaik. Kalau semisalnya nanti Tuan Victor datang menjemputmu, setidaknya kau sudah cantik dan wangi."
Sebuah alasan yang sama sekali tak ingin ia dengar hari ini. Alexandra mendengkus, bibinya juga salah satu dari mereka yang terlalu membesarkan masalah. "Kau terlalu berlebihan! Ia hanya menyentuh daguku. Ia tak melakukan hal yang berlebihan."
"Tetap saja, kami tetap akan memberikan pelayanan terbaik untukmu. Mulai sekarang kau akan menjadi tuan putri di sebuah kastel." Charlotte menjentikkan jari.
Dua pelayan dengan tubuh paling besar di samping Charlotte segera mengangkat tubuh Alexandra bagaikan patung mahal. Ia tahu bahwa Alexandra terlalu menyayangi para pelayan. Sehingga dengan begitu Alexandra tak akan melawan jika dibawa pelayan itu ke mana pun. Para pelayan satu per satu menyusul pelayan yang membawa tubuh Alexandra menjauh. Ketika Charlotte berbalik hendak menyusul. Irene datang dengan langkah besar-besar dan terburu-buru. Tangan Charlotte segera diraih kencang-kencang hingga membuat sang nyonya rumah memekik marah. Putrinya dipandangi lekat-lekat.
"Ada apa denganmu, Sayang? Tak lihatkah bahwa Ibu sedang sibuk?"
"Ibu membatalkan pesanan gaun itu untukku? Dan malah diberikan ke Alex? Kenapa ibu jahat sekali padaku?!" rengek Irene tak terima.
Charlotte mengurut pelipis pusing. Ia pun sebenarnya enggan melakukan ini, tetapi demi kedamaian keluarganya yang akan datang, maka mau tak mau harus dilakukan. "Irene, Putriku. Kau tentu sudah mengetahui kalau Tuan Victor bertemu dengan Alexandra hari ini bukan?"
"Aku sudah tahu! Tapi kenapa harus gaunku? Itu adalah yang paling bagus milik mereka? Sekarang Ibu mau aku mengenakan pakaian kelas dua?"
Charlotte memangkas jarak, lantas menepuk bahu putrinya pelan. Lalu menunduk dan berisik, "Kau tak mau Ibu dan Ayah membunuhnya dengan obat atau orang bayaran bukan? Biarkan saja untuk malam ini. Ibu yakin malam ini Victor akan datang ke sini. Jika ia sudah datang, ayahmu akan mengenalkannya pada publik. Lalu kau sudah tahu apa kelanjutannya bukan? Tuan Victor pasti akan membawa Alexandra pergi dari sini."
Charlotte lantas menjauhi wajah putrinya, ia mengambil tiga langkah mundur. "Sekarang kau tahu apa yang akan terjadi bukan? Jadi, hentikanlah bersikap manja kalau kau hidup lebih lama di sini. Jangan manja."
Charlotte berlalu dengan ketukan sepatu hak tingginya yang terdengar makin samar. Ia mungkin terlalu percaya pada putri kesayangannya hingga tak menyadari senyum licik yang tersisa di wajah Irene sebelum akhirnya pergi menjauh. Ia sudah terlahir manja, tak bisa diperbaiki lagi.
***
Alexandra tentu tak pernah menyangka akan berdiri di pesta setelah sekian tahun memilih menyembunyikan diri di dapur. Berinteraksi dengan sesama pelayan dan juru masak lebih terasa hidup daripada berbaur dengan orang-orang kaya berbau parfum mahal. Kecintaannya pada gaun indah dan sepatu hak tinggi perlahan terkikik bersamaan dengan hobinya menggeluti bela diri. Alih-alih gaun, ia akan mengenakan kaus atau singlet sederhana yang dibungkus dengan jaket. Jikalau menginginkan kesan berbeda, ia akan mengganti jaket dengan kemeja berbahan flanel bermotif kotak-kotak. Sepatu hak tinggi juga tak akan sesuai dengan gayanya yang terkesan santai dan agak tomboi. Sepatu bot sebatas mata kaki dan sneakers lebih nyaman bagi kakinya yang gemar menendang.
Jika Irene benar-benar terobsesi memiliki kulit licin dan lembut. Maka untuk Alexandra sendiri, asalkan mandi dengan bersih dan tidak berbau keringat saja sudah cukup. Di kamarnya, tak ada meja rias selebar milik Irene atau bibinya. Maka, ketika kecantikannya yang alami menimbulkan orang bertanya-tanya, ia hanya menggeleng dan meyakinkan mereka bahwa ia tak melakukan apa pun. Kendati orang-orang pasti akan sangsi dengan pernyataannya tersebut.
Kepalsuan? Ia akan melihat banyak hal yang sama sehabis ini. Orang-orang kaya biasanya lebih mudah memaang wajah palsu. Gestur mereka telah disusun. Kata-kata mereka tak lebih dari sekadar skenario demi menjilat wajah orang-orang yang berdiri lebih atas. Membayangkan malam ini ia menjadi tokoh utama, di antara kepalsuan mereka membuat kepala Alexandra berkedut tak senang. Haruskah ia benar-benar datang?
"Nona Alexandra? Nona Irene mencari Anda," ujar seorang pelayan dari balik pintu kamar.
Alexandra mendesah. Irene mungkin akan membuat masalah dengannya. Mengingat apa yang pagi tadi ia lakukan pada mobil kesayangan Irene, ia tak lagi berharap akur ke depannya dengan adik sepupu. Namun ketika gadis itu masuk ke kamarnya dengan wajah cerah dan senyum lebar, rasa curiga itu hinggap. Irene nyaris tak pernah bersikap ramah padanya kecuali di depan orang lain. Jikalau itu di depan pelayan atau orangtuanya sendiri, Irene tak pernah berpura-pura. Namun jika di hadapan publik, tamu-tamu ayahnya, maka seperti itulah wajah yang ia tunjukan.
"Alexandra, kau cantik sekali."
Oke, Alexandra benar-benar curiga. Tak pernah sekalipun Irene mengawali obrolan mereka dengan sebuah pujian. Maka Alexandra hanya menarik sudut bibir ke atas, tersenyum dengan tarikan bibir yang canggung. Ia heran bahwa Irene dapat mempertahankan ekspresi palsu tetap melekat di wajah. Ah, mungkin karena ia memang sudah terbiasa menjadi munafik.
"Terima kasih pujiannya. Kau juga cantik dengan gaun dan perhiasan itu." Alexandra lantas menunjuk kursi meja belajarnya. Mempersilakan Irene duduk di sana walau tak lebih dari sekadar basa-basi.
"Aku tak lama, hanya sekadar mampir. Aku hanya ingin melihat gaun dan mengantar sepatu yang harusnya aku pakai malam ini." Ia mengangkat sebuah kotak sepatu yang memiliki label nama desainer sepatu kawasan. Kotak sepatu lantas dilemparkan ke ranjang dan mendarat dengan sempurna.
Alexandra sudah menduga. Irene memang tak pernah memiliki niat baik menyapa sejak awal. Sebenarnya ia pun sudah cantik dengan gaun warna merah sepanjang lutut tersebut. Ada banyak tambahan aksen perhiasan berbeda warna yang menjadikan gaun tersebut berkilau tak membosankan. Sedangkan gaun yang Alexandra kenakan saat ini memiliki rok panjang seperti putri duyung. Ia tak memakai perhiasan apa pun. Bahkan jika diminta mengenakan, ia akan menolaknya. Gaun ini sudah cukup mencolok tanpa tambahan perhiasan apa pun.
Berbeda dengan Irene yang tak membiarkan koleksi perhiasannya menganggur begitu saja di kotak penyimpanan. Ada kalung permata beraneka warna yang tergantung di leher. Melihat seberapa besar batu permata itu, Alexandra tak sudi mengira harganya. Itu belum dihitung dengan cincin pertama lain yang menghiasi kedua tangannya. Belum habis dengan kalung dan cincin, masih ada jam tangan desainer kenamaan dunia. Dan sepasang anting-anting yang nyaris tersembunyi di antara helaian rambutnya yang dibiarkan turun dan dibuat berombak. Apakah dia sedang berusaha berjualan perhiasan atau bagaimana?
"Ya, terima kasih ibumu sehingga malam ini aku bisa mengenakan gaun cantik ini. Aku bersyukur masih diberi kesempatan mengenakan gaun pesta dan dapat tampil di pesta malam ini."
"Ya, riasan mencolok seperti pelacur itu pasti akan membuatmu jadi sorotan."
"Ya, setidaknya aku bisa menjerat satu pria tampan pengusaha superkaya dan berwajah tampan seumur hidupnya. Dengan begitu aku bisa lepas dari rumah ini dan hidup mandiri tanpa perlu merecoki kalian yang sudah mengklaim semua harta untuk keluarga untuk diri kalian sendiri."
Batas antara menyindiri dan adu mulut langsung lebur ketika Irene menjenggut rambut Alexandra tanpa ampun. Ia menjerit alih-alih Alexandra. Harga dirinya mungkin sangat terluka karena Alexandra membawa-bawa orangtua Irene dalam perkataan sebelumnya.
"Dasar perempuan jalang! Mati saja kau! Tadi pagi kau sudah menghancurkan mobilku, lalu sekarang kau merebut gaun beserta sepatuku, lalu kau masih sempat menghina orangtuaku yang sudah menampungmu! Kau harusnya berakhir saja di panti asuhan!"
Alexandra dapat membalikkan tubuh Irene, lalu mengunci tubuhnya agar tak bergerak lagi. Namun ia memilih diam, menunggu momen tepat memutar keadaan tanpa melukai siapa pun. Tepat saat itu, salah seorang pelayan menerobos masuk diikuti Charlotte. Bahkan sebelum pesta dimulai, keadaan sudah kacau. Apa yang akan terjadi jika pesta sudah berlangsung?
To.Be.Continue