
[Semalam sebelum kejadian...]
"Marion? Apakah itu namanya? Nama mendiang istri Tuan? Sampai sekarang tak ada yang tahu namanya. Dan, kau justru tahu. Bagaimana bisa? Apakah kau benar-benar reinkarnasi mendiang istri Tuan?" Teddy seketika heboh. Sekana baru saja menjumpai keajaiban dunia.
Alexandra menggeleng pelan. "Aku bertemu dengannya di alam mimpi percaya tidak percaya. Ketika aku pingsan karena ulah Paman Davis yang mengancam hendak membunuh Nyonya Morris dan saat perjalanan ke sini di penginapan itu. Di sanalah aku mengetahui namanya."
"Tunggu, apa maksudmu dengan pamanmu nyaris membunuh Nyonya Morris?"
"Itu urusan belakangan. Sekarang biar aku ceritakan apa saja yang kulihat di alam mimpi itu. Mungkin sedikit dari masa lalu Tuan Victor yang selama ini tak diketahui siapa pun."
Teddy menopang dagu dengan kepalan tangannya. Pembicaraan dengan Alexandra ini bisa jadi hal yang sangat rahasia. Ia menengok kanan kiri lantas memeriksa sudut-sudut ruangan. Sambil berharap tak menemukan apa pun. Dan, ia berapa lega.
"Apa yang kau lakukan tadi?" tanya Alexandra begitu Teddy kembali duduk di tempatnya.
"Aku khawatir ada alat penyadap di sini."
Alexandra menepuk keningnya frustrasi. "Oh, Tuhan. Cobaan apa lagi ini?"
"Itu tak penting. Sekarang jelaskan padaku semua yang kau ingat tentang Marion dan masa lalu Tuan."
Alexandra menopang dagu, mencoba mengingat hal yang terjadi pada mimpi-mimpinya.
"Marion dan aku memang sangat mirip. Secara fisik benar-benar mirip. Namun ia lebih lembut dan kalem. Ia juga bukan orang yang blak-blakan. Ia suka tersenyum. Lalu seingatku dalam ingatan itu, Tuan dan Marion hidup di desa yang terjadi wabah penyakit. Banyak orang yang mati di sana, tetapi mereka berdua tetap bertahan di sana. Guru Tuan Victor bernama Tuan El. Mungkin ialah yang mengajarkan ilmu itu pada Tuan Victor."
"Jadi maksudnya, masa lalu Tuan saat itu sangatlah susah?"
"Benar sekali. Kau ingat kenapa aku pernah bertanya apakah Tuan sangat suka roti kering? Itu karena aku pernah melihat ia sedang membawakan roti itu untuk istrinya dengan semangkuk susu." Alexandra menghentikan ceritanya.
Ia terdiam dan memikirkan sesuatu. "Ia pernah berkata padaku, jika sewaktu-waktu membutuhkan, aku bisa menemuinya. Tapi aku tak tahu caranya."
Teddy mengangguk-angguk. Sedikit-sedikit ia mengetahui asal-usul Tuan. Dan, yang paling penting adalah nama mendiang istri Tuan yang selama ini dinamai sebagai 'mendiang istri Tuan Victor'.
"Apa pun yang terjadi, jangan pernah membagi informasi ini dengan siapa pun. Para gundik itu akan memanfaatkan segalanya untuk menaklukkan hati Tuan. Yang perlu kau lakukan sekarang adalah menguatkan diri. Kini kau diincar gundik lain. Bayangkan kalau misalnya kejadian seperti tadi siang terulang lagi dan aku tak ada di sana. Mungkin kau sudah diperawani orang asing."
Alexandra mengerucutkan bibir dan alisnya nyaris bertautan. Ia tak suka dengan bayangan liar yang mengganggu itu.
"Kau akan selalu punya aku yang akan membantu. Selama ini aku selalu berusaha agar Tuan mendapat perempuan terbaik. Maka aku akan membantumu apa pun yang terjadi."
Alexandra ingin tersenyum, tetapi ia hanya mengangguk lemah. "Kau sudah melakukan banyak hal untukku terutama yang tadi siang . Terima kasih, ya."
"Apa pun demi Anda, Nona. Pastikan aku mendapat bonus, ya."
***
"Hei, kau mencariku?" Marion datang lagi dengan wajah tenang seperti biasa. Ia berdiri di atas dahan rapuh sembari memainkan gaunnya yang berterbangan ditiup angin.
Kini Alexandra dan Marion berada di dekat sebuah rumah besar tempat seorang alkemis tua sedang mempersiapkan ramuan hidup abadi yang telah dicari-cari. Victor baru saja melewati tubuh samar Alexandra. Ia tak sebersih dan setampan sekarang. Namun tatapan dari mata abu-abunya itu benar-benar tak dapat dilawan.
"Kenapa kau selalu membawaku ke tempat ini?" tanya Alexandra pelan ketika Marion masih memandangi Victor dengan wajah sendu. Wajah itu menyimpan banyak arti. Rindu, bahagia, sedih, semua ekspresi di wajahnya melukiskan segala emosi yang tak dapat disalurkan melalui tangannya sendiri.
"Karena di sinilah semuanya berasal, Alex. Karena keserakan seseorang yang mengorbankan pria kecil macam Victor." Marion menatap Alexandra lekat-lekat. Seakan ingin menyalurkan rasa yang menyelimuti hatinya.
"Aku tak tahu, tapi aku memiliki firasat bahwa akan ada pertumpahan darah yang terjadi. Sama seperti bagaimana keluargaku hidup.'
Marion kembali tersenyum tipis. "Kau tak perlu takut pada hal itu. Sekarang bunuh membunuh sudah jadi hal yang wajar bagi seorang kaya untuk mencapai apa yang mereka mau. Terkadang aku menangis jika melihat Victor seperti itu. Membunuh orang banyak kendati ia memang tidak sejahat itu."
"Marion, tolong ajarkan semua yang kau tahu tentang Tuan padaku. Aku akan berusaha merawatnya dengan baik."
Marion menggeleng pelan. "Ia sudah terlalu lama di sana. Aku ingin sekali ia kembali berkumpul denganku dan seharusnya calon anak kami yang bahkan tak kuketahui saat aku sudah meninggal."
Alexandra nyaris menangis karena itu. Victor rupanya melewatkan banyak hal. Termasuk kenyataan bahwa istrinya sedang mengandung saat meninggal dalam wabah penyakit itu.
"Tuhan mungkin sudah marah padanya karena telah pergi meninggalkan-Nya dan memilih melampaui batas waktu. Aku pun ingin ia kembali ke pelukanku. Namun...."
"Namun...."
"Bisa saja kau menahannya lebih lama di sana."
Alexandra tertegun. "Apakah itu buruk?"
Lagi-lagi, Marion menggeleng. "Kau tak akan tahu apa bedanya baik dan buruk saat menghadapi pilihan sulit. Semuanya akan terasa baik walaupun sebenarnya buruk."
"Lalu, apa yang harus aku lakukan?"
Marion kembali tersenyum, telunjuknya mengarah pada Victor yang tengah sibuk memlih bahan baku. Pria yang selalu tampak menyeramkan dan mewah itu, kini menyedihkan dengan pakaian kumal dan wajahnya yang sayu.
"Kau tak perlu lakukan apa pun. Dukung saja dia apa pun yang ia lakukan. Karena di saat aku masih hidup dulu, aku tak pernah melakukannya." Senyum di wajah Marion itu tak pernah pudar atau berubah kendati telah ia lakukan berkali-kali.
Itulah akhir dari mimpi Alexandra. Matanya agak basah karena percakapan singkatnya dengan Marion semalam. Sembari mengucek mata, ia mendapati hari agak pagi. Tanpa banyak tingkah, ia segera menggosok gigi dan membasuh muka. Ia mengenakan manset dan seragam yang akan ia pakai. Ia tak mau membuang hari ini untuk hal yang tak penting. Pekerjaan pertama sebagai pelayan, dimulai.
To.Be.Continue