
"Sekarang kau sudah lihat sendiri bagaimana ketat dan hebatnya persaingan para gundik di sini? Mereka memang mungkin terlihat ramah. Padahal tidak. Mereka bisa saja sedang menilaimu dari kejauhan dan sedang memikirkan cara untuk menyingkirkanmu." Teddy hanya melirik Alexandra sekilas. Pria itu kembali fokus pada catatan di layar ponsel tentang banyak hal yang harus ia lakukan hari ini. Ruby sedang sakit dan tak dapat mengawasi para gundik untuk beberapa hari ke depan. Tugasnya bertambah satu selain mengajak Alexandra berkeliling dan memperkenalkannya pada lingkungan kastel.
"Ya, mereka juga cantik-cantik. Aku merasa kurang percaya diri." Alexandra lantas menggembungkan pipi.
Teddy menanggapinya dengan tawa kecil. "Tiga dari lima operasi plastik menggunakan uang Tuan. Kau tak lihat kalau mereka punya mata yang sama. Padahal salah satu dari mereka adalah orang Tiongkok dan Brazil. Bagaimana bisa mata mereka sama persis kalau bukan karena operasi plastik."
Jemari Alexandra menghitung. "Tapi hanya ada empat di jendela tadi."
"Yang tertua sedang sakit, maka hari ini aku yang akan mengajakmu berkeliling kastel dan memperkenalkan gundik-gundik Tuan padamu."
"Aku bisa berkenalan dengan mereka seorang diri. Mereka pasti juga mau mengantarku keliling kastel."
Lagi-lagi perkataan Alexandra ditanggapi dengan tawa. "Kau sangat naif, Nona Buffon. Kau pasti belum pernah menonton drama kehidupan orang-orang yang punya banyak istri. Mereka pasti akan memanfaatkan momen ini untuk mengerjaimu, atau paling parah menguncimu di satu tempat yang terpencil di kastel luas ini."
Alexandra mengerutkan kening. "Wah, kupikir itu hanya terjadi di drama murahan saja."
"Selamat datang di drama murahan saja. Bersiaplah jika terjadi sesuatu yang menyeramkan di sini. Kau tak akan tahu rencana apa saja yang mereka sembunyikan di balik wajah cantik nan palsu itu." Teddy berjalan mendahului untuk menyapa salah seorang pelayan wanita yang baru saja membawa masuk barang bawaan. Bibir Alexandra mencebik, Teddy pasti bercanda bukan?
"Kau pasti bercanda, kan, Teddy!" Alexandra berjalan menyusul. Ia berhenti tepat di samping Teddy dan pelayan yang masih berwajah cantik itu kendati beberapa helai rambutnya mulai beruban.
"Ah, ini gundik baru Tuan Victor? Dia cantik sekali. Mirip sekali dengan lukisan mendiang istrinya. Seandainya saja kamu bisa bawa satu yang secantik ini untuk calon menantu, Ibu tak akan cerewet lagi padamu." Wanita itu tersenyum lebar.
"Ibu, sudahlah. Jangan lakukan ini di depan Nona Alexandra. Aku malu."
Alexandra lantas menutup mulut dengan telapak tangan lantas menundukkan kepalanya sopan. "Selamat pagi, Nyonya."
Buru-buru Teddy meminta Alexandra kembali bangkit. Ia tak ingin suasana menjadi canggung jika Alexandra bersikap terlalu sopan pada ibunya. Padahal sehabis ini, Alexandra menjadi gadis yang memiliki posisi di atas ibu Teddy.
"Kau tak perlu melakukannya. Kau adalah majikan ibuku nantinya. Jangan melakukan ini lagi." Teddy menarik tubuh Alexandra menjauh
"Aku hanya menyapa, kok. Aku juga akan melakukan itu semua pada gundik-gundik Tuan yang lain," balas Alexandra datar.
"Kau tak perlu melakukannya. Posisimu akan sama dengan mereka. Mereka tak mengenal tingkatan antar gundik, jadi kau tak perlu melakukannya hanya karena kau yang paling muda."
"Aku akan melakukannya bukan karena aku yang termuda, tapi bukankah sudah kubilang bahwa aku tak mau jadi gundiknya. Aku hanya mau jadi pelayan!"
Teddy segera membungkan mulut Alexandra. Sementara ia menggeleng pada ibunya. Memberi isyarat pada wanita itu itu mengunci mulutnya rapat-rapat atas hal yang baru saja terjadi. Wanita dengan seragam pelayan itu segera berlalu setelah menundukkan kepala.
"Apa maksudmu melakukannya?!" omel Alexandra saat Teddy telah melepaskan bekapannya.
"Jangan bicara semudah itu pada orang lain. Gundik-gundik itu akan memanfaatkanmu jika terus-terusan begini."
"Aku akan meminta pada Tuan, jadikan aku pelayan dan masalah selesai. Apa pun yang terjadi aku tak akan mau melayani orang di ranjang."
Bibir Alexandra mengerucut. "Aku akan tetap bicara pada Tuan!"
"Nona Alexandra—"
"Ada apa ini?" Victor baru saja sampai di lobi kastel. Ia langsung disuguhi dengan pertengkaran antara sekretaris dan gundiknya.
Untuk kali ini Teddy memberi isyarat Alexandra membungkuk hormat. Dengan setengah hati, Alexandra menunduk hormat.
"Maaf atas kelakuan kami yang membuat Tuan tidak nyaman." Teddy menunduk lebih dalam, sedangkan Alexandra tak mengubah posisi tubuhnya.
"Aku mendengar bahwa ia tak mau jadi gundik. Apa benar begitu?" Teddy menunjuk Alexandra dan gadis itu lantas ikut menunduk dalam. Ia dapat menatap wajah tegang Teddy dari sana.
"Maaf, Tuan. Ia hanya sedang bergurau, jadi mohon maklumi saja."
"Memangnya mengapa kau tak mau jadi gundik, Alexandra? Bukankah kau enak jika tak melakukan apa-apa." Victor berjongkok, menatap wajah Alexandra sekaligus mengagumi kemiripan wajahnya dengan sang mendiang istri. Mereka benar-benar mirip.
Kini Teddy dan Alexandra berkeringat dingin karena Victor bergantian menatapi mereka.
"Kenapa kalian tahan dengan pose begitu? Bangkitlah dan bicara dengan jelas!"
Teddy meluruskan tubuh, ia berdeham sebentar sebelum menatap Alexandra tajam sambil berharap gadis itu segera mengubah maksud perkataannya.
"Aku bersungguh-sungguh ingin menjadi pelayan karena aku tak suka gaya hidup mewah itu. Jadi saya minta Tuan Victor bermurah hati menjadikan saya pelayan saja daripada seorang gundik." Alexandra membungkuk dengan percaya diri. Dan, Teddy dibuat cemas oleh keputusan percaya diri Alexandra tersebut.
Victor belum memberikan reaksi. Alih-alih menjawab, ia justru mendekati Alexandra lantas menyentuh dagunya dengan jari. Secara perlahan, ia menarik wajah Alexandra mendekat. Walaupun sebenarnya pria itu mendekatkan bibir ke telinga sang gadis. Alexandra menegang karena sentuhan pria tersebut, seluruh tubuhnya kaku. Tak dapat digerakkan.
"Mari kita lihat, apakah kau kuat menjadi seorang pelayan. Aku akan memberimu waktu selama tiga minggu menjadi pelayan. Kalau kau tak kuat, maka kau tetap jadi gundikku apa pun alasanmu."
Teddy terdiam, ia tak menyangka Tuannya berbaik hati memberikan kesempatan bagi Alexandra. Apakah karena gadis itu terlalu mirip dengan mendiang istrinya sampai-sampai ia menuruti apa pun kemauan Alexandra?
"Anda bersungguh-sungguh Tuan?" tanya Alexandra pelan.
"Tentu saja. Seperti saat kau memohon agar aku tak membunuh dua pemuda bodoh itu. Aku menuruti permohonanmu itu bukan? Aku selalu suka dengan keberanianmu."
Teddy mengembuskan napas lega. Pun dengan wajah Alexandra yang tak setegang sebelumnya. Victor menyudahi sentuhan fisiknya pada Alexandra, ia mundur beberapa langkah. Ia tak berkata apa pun sesudahnya, tetapi Teddy segera menanggapi perginya Victor sebagai awal dimulainya "karir" baru Alexandra.
"Selamat, sekarang kau resmi menjadi pelayan selama tiga minggu ke belakang. Mulai sekarang kau akan menjadi bawahanku." Senyum jahat yang terulas di wajah Teddy itu mendadak membuat Alexandra merasakan ancaman berbahaya yang baru saja datang. Ketika harimau galak itu pergi, muncullah kucing hutan galak. Duh, kehidupan Alexandra di dalam kastel tak akan seindah jika dibandingkan dengan kediamannya dulu.
To.Be.Continue