M'Lord

M'Lord
T.W.E.N.T.Y S.E.V.E.N



Segelas air putih dan beberapa butir anggur hijau terhidang di nakas. Kamar itu masih belum mendapat perlakuan khusus apa pun. Hanya sebuah tempat tidur biasa dan nakas di sampingnya. Mungkin baru hari ini kamar akan dipermak. Alexandra duduk di kasur yang sebenarnya cukup empuk tersebut. Bahkan lebih empuk daripada kasur di kamarnya dulu. Ah, ia jadi teringat dengan para pelayan yang melayani keluarga Buffon sejak dulu.


Apa jadinya mereka jika tak ada Alexandra yang akan melindungi dari kemarahan Irene dan Charlotte? Pasti mereka tengah mengalami hal-hal yang berat semenjak kepergiannya. Seandainya saja ia diperbolehkan membawa Nyonya Morris. Bicara tentang Nyonya Morris, ia teringat akan gelang pemberian wanita itu yang masih tersimpan rapi di dalam ransel. Baru kali ini ia dapat mengamati gelang itu secara spesifik. Selama ini pun ia tak pernah melihat Nyonya Morris mengenakan gelang tersebut.


Ia juga tak ingat Nyonya Morris membuat gelang untuk mengisi waktu luang. Mungkin Nyonya Morris sengaja membelikan gelang ini untuk hadiah perpisahan untuk Alexandra. Seharusnya ia tak perlu melakukannya. Namun Alexandra sendiri tak kuasa menolak. Wanita tua itu telah menyiapkan gelang ini untuk dirinya.


Ia kembali melirik jam di tangan, masih tersisa beberapa menit lagi menuju waktu yang dikatakan Teddy untuk pertemuan ketika mereka dalam perjalanan ke kastel. Ia harus bersiap-siap sebelum dicari. Ia segera menandaskan air putih dan anggur-anggur itu untuk mengisi perut. Lantas mengambil handuk di dalam ranselnya dan peralatan mandi.


***


Victor tak pernah merasa terlalu bersemangat seperti ini. Kedatangan Alexandra sedikit-sedikit membawa angin segar pada kehidupan kastelnya yang pengap. Ratusan tahun mencari, ia benar-benar berharap bahwa gadis itu adalah bagian dari masa lalunya yang terlahir lagi. Marion. Istri tercintannya yang meninggal dalam sebuah wabah penyakit.


"Alexandra?" Victor mengetuk pintu lantas menempelkan telinganya ke sana. Tak mendengar suara apa pun.


Ia mengetuk lagi dan belum mendapat reaksi apa pun. Victor membuka handel pintu. Gadis itu tak menguncinya. Ceroboh sekali. Lain kali ia akan mengingatkan gadis itu agar mengunci pintu kamarnya. Gundik-gundik itu tahu sekali cara menjatuhkan satu sama lain dengan cara menerobos kamar. Victor mendorong pintu pelan. Matanya segera disuguhi pemandangan indah Alexandra yang hanya mengenakan handuk dan rambutnya masih basah.


Selama beberapa detik, Victor membiarkan matanya menelusuri Alexandra dari atas sampai bawah. Sangat mirip dengan Marion. Bentuk tubuh keduanya pun sama persis. Tepos depan dan belakang. Lelehan air yang menurun dari rambut ke lekuk-lekuk tubuh sang gadis makin menegaskan bagaimana bentuk tubuh yang kelewat ramping itu berhasil memanaskan tubuh Victor sekali lagi.


Jerit Alexandra menyadarkan Victor bahwa pria itu telah berlama-lama di sana dan mengagumi bentuk tubuh sang gadis. Tanpa meminta maaf, Victor kembali menutup pintunya. Punggungnya bersentuhan dengan pintu dan napasnya memburu. Beberapa pelayan yang kebetulan lewat menunduk. Namun Victor dapat melihat telinga mereka memerah. Ada yang punggungnya bergetar karena menahan tawa atau justru telah tertawa. Bagus, sekarang akan ada gosip yang berembus di kalangan pelayan kalau tuan mereka ketakutan sehabis keluar dar kamar gundiknya.


Mungkinkah Tuan mereka ketakutan karena melihat sang gundik baru? Seseram apakah gundik baru itu hingga Tuan mereka ketakutan? Apakah gundik itu manusia atau seorang jelmaan penyihir yang memiliki hidung seruncing paruh burung? Atau justru gundik itu sebenarnya lelaki yang menyamar? Ah, mungkin saja gundik itu sebenarnya makhluk jadi-jadian.


Victor menggelengkan kepala. Biarkan saja para pelayan itu dengan gosip mereka nanti. Bukan hal yang penting sekarang. Dengan napas yang masih naik turun, Victor menyandarkan punggungnya kembali ke pintu. "Alexandra? Kau masih di sana?"


"Iya, Tuanku," suara lemah Alexandra menyahut dari balik pintu.


"Aku akan menunggu lima belas menit lagi. Semuanya telah menunggu. Kau jangan membuat kami menanti lebih lama. Banyak hal yang harus dilakukan,"imbuh Victor.


"Baiklah, Tuanku."


"Bagus, segeralah menyusul."


Sepeninggal Victor, Alexandra berusaha menormalkan detak jantung dan napasnya yang bekerja di luar kendali. Terima kasih pada Victor yang baru saja membuka pintu dan mendapati tubuhnya setengah telanjang. Sebenarnya insiden yang baru saja terjadi juga murni kesalahannya yang tak mengunci pintu dengan benar. Kepalanya mendadak berputar. Pusing yang mendera sejak mandi tadi kian parah setelah Victor memasuki kamar. Selama beberapa detik, Alexandra tak dapat memprotes apa pun selain paras tampan sang tuan. Begitu tatapan pria itu bergerak naik turun, barulah Alexandra mendapat kesadarannya kembali.


Ketukan pintu itu lagi-lagi membangkitkan bulu kuduk Alexandra. Ia melirik jam dinding. Ini baru berlalu sepuluh menit dari waktu yang dijanjikan Victor. Apakah ia terlalu membuang waktu hingga pria itu kembali menjemput. "Nona Alexandra. Ini aku Teddy, kalau kau sudah siap segera kabari aku."


"Ah, rupanya Teddy. Apakah Tuan masih ada di sana?"


"Tuan sudah ada di ruang makan. Ia pun sedang menantimu bersama para gundik lainnya. Lekaslah keluar sebelum mereka menanti lama."


"Baiklah, aku akan keluar sekarang."


Alexandra keluar dari kamar. Ia mengenakan gaun putih yang dibawa dari rumah. Gaun itu memiliki lengan trompet dan memiliki belahan dada tinggi. Kalaupun belahannya rendah juga tak akan menampilkan gundukan lemak yang tak berarti. Gaun itu hanya sebatas lutut. Ia mengenakan sepasang sepatu tanpa hak berwarna putih gading. Untuk melengkapi tampilannya ia hanya memulas bibirnya dengan warna merah muda yang mendapat sentuhan jingga, seperti buah persik.


"Apakah aku sudah kelihatan bagus?" Pertanyaan yang meluncur dari Alexandra itu sukses membuat Teddy tersadar, selama beberapa mikro detik, pria itu melongok melihat tampilan cantik Alexandra. Benar-benar mirip dengan mendiang istri Tuan. Apalagi rambutnya yang bergelombang turun dan dibiarkan jatuh tanpa diberi tambah aksesori apa pun.


Teddy menunduk, menyingkirkan anak-anak rambut yang menempel di bibir Alexandra. Sang gadis sendiri baru tersadar jika ada sehelai rambut yang menempel si sana


"Kau cantik. Tuan akan menyikainya. Mari kita berangkat."


***


"Dia lama sekali. Apa ia sedang membangun rumah baru atau bagaimana?" Jane yang tak dapat menahan rasa bosan akhirnya bersuara. Karena suaranya itulah Victor sejenak teralih pada sang wanita. Pun dengan gundik lain yang saling berpandangan dengan tatapan bosan dan mengantuk. Eliza mencuri kesempatan untuk menguap yang untungnya tak ketahuan oleh Victor sendiri.


"Tuan, apakah tidak sebaiknya kita mulai saja sarapannya. Saya rasa minuman kami sudah dingin," imbuh Jane lagi. Ia melirik Ivanka yang sama sekali tak membantu.


"Iya, Tuan. Makanan dingin kurang bagus bagi pencernaan."


"Kita akan menanti Alexandra dan Teddy apa pun yang terjadi," putus Victor. Pria itu tak ingin mendengar rengekan manja dari gundiknya lagi. Sekarang empat gundik yant tersisa di meja makan itu telah sadar bahwa posisi mereka digeser oleh kedatangan sang gadis baru. Bahkan Eliza dan Ling juga merasakan ketakutan yang sama besarnya dengan Jane jika membayangkan Alexandra.


Deritan pintu itu sejenak mengalihkan pandangan seluruh penghuni ruang makan termasuk Victor. Teddy lebih dulu masuk dan membukakan pintu lebih lebar untuk Alexandra. Gadis itu masuk tak lama kemudian. Tiap langkahnya menarik napas mereka yang berada di ruangan. Gaun putihnya agak berkibar saat berjalan. Ia anggun tanpa dibuat-buat, seolah memang terlahir dengan pesona tersebut.


Lalu Victor, ia bangkit dari tempat duduknya. Matanya tak lepas dari sang gadis sejak pertama kali memasuki ruangan. Gaun putih selalu mengingatkan Victor akan istrinya. Rambut cokelat yang terurai dan bergoyang tiap kali bergerak. Gestur sang gadis kala berjalan, tatapan teduhnya saat ini. Wajah cantik itu dan bibir yang melengkungkan senyum kendati canggung. Victor membatu di tempat. Ia telah menyaksikan istrinya bangkit dari kematian.


To.Be.Continue