M'Lord

M'Lord
S.I.X.T.E.E.N.



Alexandra merasakan rerumputan kecil itu menggelitiki kakinya. Ia menutup mata sekali lagi, meresapi embusan angin yang membawa aroma lavender dan kukis cokelat panggang yang bergantian memenuhi udara. Aroma nostalgia ini rasanya sudah lama sekali tak pernah dihirup. Selama ini hidungnya selalu menangkap aroma parfum mahal, masakan dapur yang tak pernah membawa kehangatan, dan segala hal yang palsu. Rumah yang dulunya menjadi tempat baginya meluapkan cinta bersama orangtua dan keluarga terdekat telah berubah.


Dulu ia dan Irene pernah memiliki hubungan yang hangat. Pun dengan Paman Davis dan Bibi Charlotte. Piknik di padang rumput dan ilalang. Sebuah meja panjang dengan taplak kotak-kotak perpaduan warna merah dan putih. Enam kursi di sisi kanan dan kirinya. Ibu dan Bibi Charlotte akan menyiapkan makanan. Pie apel dan beberapa potong roti besar. Irene paling suka dengan pie apel yang di atasnya dituang sirop. Ayahnya lebih suka dengan roti lapis dan kopi americano. Paman Davis juga memiliki selera sama untuk kopi, tetapi ia sama seperti Irene yang pecinta pie apel. Ibu dan Bibi Charlotte selalu beralasan diet, maka mereka akan makan apel hijau. Sedangkan Alexandra hanya menatapi meja beserta keluarganya yang sedang menikmati santapan tersebut.


Alexandra paham, bahwa memori masa lalunya ini terlalu rapuh untuk dimasuki. Eksistensinya pada kilasan memori yang terasa sangat nyata ini mungkin hanya akan mengacaukan segalanya. Ia tak ingin merusak kenangan indah yang setidaknya memang pernah benar-benar ia miliki.


"Kenapa kau tak bergabung dengan mereka?" Sebuah suara lembut membisiki telinga Alexandra.


Gadis itu membalikkan tubuh, mendapati seorang gadis berwajah teduh. Seperti menatap pantulan wajahnya di air jernih atau cermin yang agak berembu. Wajah gadis itu benar-benar mirip dengannya. Namun, mata yang selalu memancarkan kelembutan itu sejenak menyadarkan Alexandra bahwa gadis itu mungkin berbeda dengan dirinya yang keras.


"Mereka tak nyata. Hanya bagian dari masa laluku," balas Alexandra skeptis.


"Ya, bagimu mereka sekarang tak nyata. Tapi di masa lalu, mereka nyata bukan? Mereka bukanlah ingatan yang tak dapat disentuh atau dimasuki kala itu. Tapi kau menjadi bagian di dalamnya."


Alexandra tertegun. "Ya, tapi sayang mereka hanya masa lalu. Sama sekali tak dapat kusentuh di masa depan. Aku hanya akan memandang dari kejauhan kendati tak dapat kusentuh."


"Tak apa-apa. Setidaknya mereka ada dan benar-benar hidup di hatimu. Memori itu." Gadis itu menunjuk dada sebelah kiri Alexandra, di mana jantungnya berdetak.


Embusan angin menerbangkan helai-helai rambut cokelat mereka berdua. Gaun putih yang dikenakan gadis itu pun ikut tertiup dipermainkan angin.


"Mengapa aku merasa kita sangat mirip? Apakah kau juga bagian dari masa laluku?"


Gadis itu tertawa kecil, ia menutupi bibirnya dengan telapak tangan. "Entahlah, mungkin iya. Mungkin tidak."


Obrolan ini menerbitkan tanda tanya di kepala Alexandra. Jika ia memang bukanlah bagian dari masa lalunya, mengapa ia bisa ada di sini? Alexandra sendiri tak pernah mengingat ia berubah menjadi begitu lembut beberapa tahun ke belakang. Jika sepuluh tahun ke belakang, ia memang memiliki senyum dan tawa seperti itu. Sang gadis kecil lembut dan naif. Namun gadis itu, mungkin seusia dengannya. Antara delapan belas atau sembilan belas. Alexandra tak ingat jika ia pernah bersikap lembut seperti ini ketika usianya mulai menanjak remaja. Mereka seperti dua orang yang berbeda kendati memiliki wajah yang serupa.


"Aku mungkin bukan bagian dari masa lalumu. Namun aku akan ada di sini, kalau-kalau kau membutuhkan sedikit saran dari seorang wanita yang pernah bersuami," imbuhnya sembari tersenyum. Matanya tenggelam dan berbentuk seperti bulan sabit yang tengah tersenyum.


"Tunggu ... apa maksud—"


Sebuah embusan angin besar menerbangkan helai-helai rambut Alexandra, memblokir pandangannya. Begitu angin itu tak lagi bertiup dan rambutnya tak lagi menghalangi pandangan, gadis di hadapan Alexandra telah raib. Meninggalkan Alexandra sendiri bersama meja dan kursi kosong. Rerumputan, ilalang, dan langit kelabu. Angin kembali berembus, mengaburkan pandangan Alexandra. Dari kejauhan, ia melihat seseorang. Seorang pria dengan pakaian kumal. Kondisinya buruk, ia mungkin gila menangisi rerumputan dan sesekali menjerit. Embusan angin itu kian besar. Alexandra menutup matanya untuk kesekian kalinya. Kegelapan itu kembali menariknya.


***


Alexandra sendiri masih mengerjap-ngerjapkan matanya perlahan, mencoba beradaptasi pada kondisi ruangan yang terang benderang. Ini bukan lagi padang rumput dan ilalang. Ini kamar sempitnya, seperti biasa. Dengan beberapa pelayan yang berlarian mengerjakan kesibukan masing-masing.


"Sudah menghubungi Dokter Edward? Apakah dia akan segera datang?"


"Ia mungkin akan datang terlambat. Bagaimana dengan demam Nona?"


"Masih belum turun."


"Siapa yang tadi mengambil es? Kenapa belum kembali juga?"


"Sudah ada yang menghubungi Tuan Davis atau Nyonya Charlotte?"


"Nona Alexandra, Nona bertahanlah. Jangan pingsan lagi, No —


Kegelapan itu turun lagi bak tirai yang menyelubungi pandangan Alexandra. Ia berharap ketika kegelapan ini habis ia akan menemukan padang rumput itu. Dan, gadis misterius tadi.


***


Ruang kerja Victor tak boleh dimasuki siapa pun selain dirinya. Di ruangan yang dipenuhi botol-botol reaksi beraneka warna itulah ia meracik ramuan yang didapat dari belajar selama bertahun-tahun. Setelah ratusan tahun berjibaku pada dunia ini, ia memang telah menciptakan puluhan bahkan ratusan ramuan dengan fungsi beragam. Awet muda, regenerasi tubuh, pemurni racun, penumbuh bulu jenggot, dan banyak yang lebih aneh daripada itu. Aroma-aroma aneh yang bercampur di ruangan sempit itu sesekali membuatnya mual. Ia benci ruangan ini.


Sejatinya meracik ramuan mudah seperti itu, ia tak membutuhkan waktu lama. Selalu ada banyak stok untuk dijual. Namun alasannya mengurung diri berjam-jam di sana bukanlah untuk menjauhkan diri dari kegilaan para gundiknya. Pun juga bukan untuk menghindari sorotan media masa yang ingin mengetahui rahasia hidup abadinya. Bukannya ia pelit. Hanya saja—


"Sialan! Perlu berapa kali lagi aku mencoba semua ini?! Kenapa tak ada satu pun yang berhasil?!" Victor mengumpat. Memandangi tikus-tikus yang baru saja ia suntik dengan racun. Makhluk-makhluk malang itu menggelepar. Lantas mati beberapa detik kemudian.


Ia melepas kacamata. Berjongkok di lantai sembari meremas kepala dengan kedua tangan. Ini sudah percobaannya yang entah tak terhitung lagi. Ribuan kali. Dan, semuanya menemui kegagalan. Ia memang memiliki gelar genius yang diberikan para dosen dan peneliti dari berbagai negara. Namun, nyatanya ia tak segenius itu. Selalu ada pendahulu yang membuatnya dapat berada di tingkat ini. Dan, ia sudah tak ada di dunia ini.


"Guru ... mungkin aku sama sekali tak akan bisa membuatnya lagi. Ramuan abadi itu...."


—ia memang tak tahu bagaimana menduplikasi ramuan yang telah membuatnya hidup abadi.


To.Be.Continue