
Mimpi yang dialami Alexandra selama berhari-hari ini selalu tentang Victor dan bagaimana pria yang selalu tampak menyeramkan itu entah mengapa berubah menjadi sosok paling lembut yang pernah ia temui. Hari ini ia berkemas dengan bantuan para pelayan. Pamannya tak sabar mengirim Alexandra keluar dari rumah. Mudahnya, ia diusir secara halus.
Setelah memastikan seluruh barang bawaannya lengkap. Alexandra menghitung jumlah koper. Ada tiga koper dan beberapa kardus. Ia tak akan meninggalkan apa pun. Karena pamannya mungkin tak akan pernah menginginkan ia kembali. Pun juga Bibi Charlotte. Namun Irene? Berhari-hari ini pula gadis itu menunjukkan gelagat berbeda. Ia ingin berdamai dengan Alexandra. Namun Alexandra sendiri enggan menanggapi niat baik tersebut. Toh, selama ini mereka memang tak pernah mencoba akur.
"Nona Alexandra. Nyonya Morris ingin bertemu dengan Anda Nona." Seorang pelayan mengetuk pintu. Ia membawa Nyonya Morris yang langkahnya tertatih memasuki kamar Alexandra. Wanita tua itu dibantu oleh pelayan tersebut dengan hati-hati.
"Nenek Morris, harusnya jangan memaksakan diri." Alexandra membantu Nyonya Morris duduk di ranjang. Wanita renta itu tersenyum dalam melihat kamar Nona kecilnya kini tak tersisa apa pun selain perabot besar. Hanya sebuah tempat tidur, lemari, meja, dan kursi yanh ditinggalkan. Sementara seluruh barang pribadi milik Alexandra telah dimasukkan ke dalam kardus dan koper.
"Kau benar-benar akan pergi?"
Ini kali pertama pertemuan mereka setelah penculikan itu, tetapi Nyonya Morris justru mengawalinya dengan pertanyaan yang terlalu sulit untuk Alexandra jawab.
"Mau bagaimana lagi, Nek. Tuan Victor menginginkanku. Ini adalah hal yang sama sekali tak bisa kami tolak." Senyum Alexandra terkembang perih, tak ia duga harus mengalami perpisahan sepahit ini dengan Nyonya Morris yang telah merawat dan membesarkannya sejak kecil. Wanita malang ini kehilangan suami dan anaknya dalam wabah penyakit. Ia bekerja sebagai perawat anak karena merindukan anak-anaknya yang telah lebih dulu meninggalkan dunia. Begitu yang ia ingat dari cerita ayah atau kakeknya tentang Nenek Morris yang malang.
Wanita tua itu menggeleng lemah. Ia meraup Alexandra dalam pelukan hangat dan menciumi ubun-ubun Alexandra beberapa kali. Tak lupa membisikkan pada Alexandra bahwa ia sangat menyayangi gadis kecil yang ia besarkan dengan tangan rentanya kala itu.
"Kau akan baik-baik saja di sana. Ia pria yang baik walaupun perilakunya kadang menyebalkan. Kau harus percaya bahwa dia akan membuatmu hidup lebih baik dari ini."
Alexandra terkekeh geli karena ucapan Nyonya Morris. "Aku bukannya mau menikah dengannya, Nek. Ia hanya akan menjadikanku gundik atau pelayannya. Itu saja. Walaupun Paman berkali-kali menyebut aku akan dijadikan gundiknya. Tapi kalau disuruh memilih, aku akan jadi pelayannya saja. Aku tak terlalu suka duduk-duduk malas dan mendapatkan apa pun tanpa berusaha."
Nyonya Morris tersenyum lagi. "Siapa tahu kau akan mendapat suami yang baik di sana."
Nyonya Morris mencubit hidung Alexandra pelan hingga gadis itu terkekeh geli. Seandainya saja ia bisa membawa serta Nyonya Morris ke sana. Mungkin ia tak akan dihantui ketakutan karena mendengar persaingan antar gundik Victor yang disebut-sebut persis seperti drama picisan yang sering ditonton para pelayan kala mengisi waktu luang.
"Aku tak tega meninggalkan Nenek sendirian di sini. Kendati Nenek Morris bukan nenek kandungku, tapi aku sudah menganggapmu sebagai nenekku sendiri. Nenek Morris apakah mau ikut denganku ke sana?"
Pertanyaan itu dijawab dengan gelengan pelan. "Tugasku sudah sampai di sini, Alex Sayang. Mungkin kebersamaan kita hanya sampai di sini. Tapi kau harus tahu bahwa kasih sayangku akan selalu ada bersamamu."
Telunjuk Nyonya Morris menyentuh dada Alexandra. "Di sinilah aku akan menemanimu. Seperti bagaimana ayah dan ibumu juga."
Alexandra tersenyum, ada banyak arti yang tersimpan pada segaris senyum tipis itu. Ia, mungkin bahagia karena pamannya menjanjikan tentang hidup Nyonya Morris yang dijamin sepenuhnya. Ada sedikit kelegaan ketika ia dapat meninggalkan neraka kecil tempatnya hidup selama ini. Lalu, banyak kesedihan yang tersisa karena terpaksa meninggalkan Nyonya Morris. Mungkin hanya ia yang merasakan. Nyonya Morris pasti sudah mengalami hal ini berkali-kali ketika merawat anak-anak lain dari keluarga Buffon yang keluar dari kediaman karena menikah atau sebab lain.
"Aku sayang padamu, Nenek Morris." Alexandra melebarkan tangannya, lantas memeluk Nyonya Morris dalam pelukan paling hangat. Wanita itu balas memeluk Alexandra hangat, lantas ia memasangkan sebuah gelang di pergelangan tangan kiri Alexandra.
"Jaga gelang ini baik-baik. Ini hadiah terakhir dariku."
***
Mengingat status sosialnya yang cukup tinggi, mungkin saja Alexandra memiliki selera tertentu untuk perabotan dan lain-lain. Awalnya Teddy menduga bahwa Alexandra akan membawa beberapa perabot mahal miliknya. Namun ia tertipu. Alexandra hanya membawa beberapa koper dan kardus yang bahkan bisa dibawa mobil dinas Teddy.
"Barang-barangku hanya ini, kok. Aku tak membawa semua barang di kamar. Ranjang, lemari, dan meja belajarku tak usah dibawa. Kalau kau mau, belikan saja apa yang belum kupunya." Alexandra mengencangkan risleting jaketnya. Lagi-lagi udara dingin yang dibawa penghujung musim semi membuat ia tak kuasa menahan dingin.
Teddy menyilangkan kedua tangan di depan dada, lantas memasang pose berpikir. "Jadi maksudmu, kau mau dibelikan barang-barang baru begitu?"
Alexandra ikut menyilangkan kedua tangannya di depan dada dan memiringkan kepala seakan berpikir. "Hmm, sebenarnya tidak. Perabot itu mungkin lebih dibutuhkan pelayan lain yang memiliki anak, biar mereka yang ambil kalau bibiku hendak menggusur kamar."
"Omong-omong soal bibi, kenapa tak ada satu orang pun yang mengantar kepergianmu?" tanya Teddy lagi.
"Paman dan bibiku tidak peduli. Lantas sepupu baikku Irene sedang ada jadwal temu dokter kulit. Mereka mungkin baru sadar aku tak ada di sini ketika mereka menyadari tak ada yang menendangi perabotan mahal mereka."
Jawaban itu sukses membungkam Teddy. Alexandra bisa Muai Thai dan Jiujitsu. Ia tak akan membuat gadis itu marah atau nanti perutnya akan ditendang. "Ya, baiklah kalau begitu. Kau memang harus membeli perabotan baru. Tuan Victor hanya menyediakan kamar. Untuk perabotannya, ia selalu memberikan kebebasan bagi gundiknya itu memilih sendiri. Lagipula ia juga tak tahu seleramu."
"Tapi aku tak mau jadi gundik."
Satu kalimat pendek dari Alexandra itu nyaris membuat Teddy kena serangan jantung.
"Tunggu, apa maksudmu dengan tak mau jadi gundik. Lalu kenapa kau mau saja ketika mau kubawa ke kastel?"
"Aku ingin bekerja bersama pelayan. Aku tak suka duduk-duduk dan tak melakukan apa-apa. Kalau jadi pelayan, setidaknya aku bisa berbuat hal yang bermanfaat."
"Tapi—"
"Bilang saja padanya kalau aku pandai bersih-bersih rumah dan memasak. Aku bisa melakukan apa pun kecuali jadi gundiknya."
Teddy mengusap wajahnya kasar. "Kau terlambat, Alexandra. Dia tetap akan memperlakukanmu seperti gundiknya. Kau bisa melakukan apa pun bukan? Maka jadilah gundiknya saja."
"Aku bisa melakukan apa pun kecuali pekerjaan di atas ranjang." Tiga kata terakhir sengaja diucapkan dengan lirih.
Wajah Teddy memanas, hingga ia terpaksa menutupinya dengan telapak tangan. "Tunggu dulu! Jangan bilang kau masih .... Oh Tuhan!"
Alexandra enggan menanggapi lagi. Ia pun sama malunya. Ia menyembunyikan wajah yang memerah itu di balik kerah jaketnya yang tinggi.
To.Be.Continue