
Davis dan Charlotte segera memasang wajah paling lembut. Mereka mengikis jarak, berusaha tak mengejutkan sang keponakan. Di depan orang banyak ini, mereka tak bisa memperlakukan Alexandra seperti bagaimana komunikasi sehari-hari yang biasa terjadi. Dingin. Bahkan, sudah lama rasanya sejak terakhir kali mereka makan malam pada satu meja.
"Alexandra Sayang, bisakah kita bicarakan ini lain kali saja?" Charlotte menyentuh pundak Alexandra lembut, yang segera mendapat elakan kecil dari Alexandra. Mata gadis itu tak menunjukkan kesan ramah sejak awal.
"Kalian mau aku bersikap ramah setelah bertahun-tahun memperlakukanku seperti ini? Kenapa kalian tak menjelaskan saja apa yang sebenarnya terjadi pada orangtuaku dulu di depan semua tamu undangan kalian agar mereka juga tahu bahwa ada hal yang tak benar di sini?!"
"Alex, bukan---"
"Aku memang tak tahu apa yang kalian sembunyikan dari kematian mereka yang mendadak itu! Selama ini aku selalu memiliki firasat bahwa kematian mereka tak benar, ada sesuatu yang terjadi. Kematian mereka tak alami. Namun, kenapa polisi dan dokter sama sekali tak mengatakan apa pun?! Kalian mungkin tahu dan kalian mungkin juga menyembunyikannya!"
Bisik-bisik curiga itu makin menjadi ketika tak ada kehadiran Victor di sana. Mereka bergosip makin kencang, mengembuskan bayangan liar tentang seorang yatim piatu yang tersakiti keluarganya sendiri. Bisik-bisik itu nantinya akan berkembang menjadi judul utama koran pagi dan akun gosip. Di tingkat ini, membubarkan pesta adalah jalan terbaik.
"Kita bicara secara pribadi, Alex. Namun sebelumnya, pesta ini harus kami akhiri." Davis mengurut keningnya frustrasi. Ia segera meminta mikrofon dari sang pembawa acara. Pengumuman tentang pembubaran pesta yang mendadak itu tentu ditanggapi dengan beragam reaksi. Namun saat ini Davis dan Charlotte tak lagi mempedulikan tentang gosip-gosip yang telah berembus selama pesta berlangsung.
Pesta yang telah disiapkan selama berminggu-minggu itu hancur. Pun, membawa ketakutan akan runtuhnya imej perusahaan setelah malam berakhir. Dan, ketika pagi datang, ketakutan itu mungkin akan terwujud. Punggung Davis tegang, pun dengan Charlotte yang semenjak tadi urung mengeluarkan suara kendati Irene berulang kali menarik gaunnya untuk meminta penjelasan.
Alexandra pun sama tegangnya semenjak percakapan Tuan Robert dengan entah siapa tadi sampai ke telinga. Kini ia tak dapat melakukan apa pun selain mengikuti ke mana punggung pamannya bergerak. Punggung itu begitu tegang dengan membawa beban berat pada sepasang pundaknya.
"Ibu, kenapa diam saja? Apa yang akan terjadi pada kita sebentar lagi, Bu?" Irene tak ada lelahnya mengejar langkah sang ibu yang sejak tadi dinaungi awan kelabu. Ia benar-benar kurang dewasa, bergantung pada ibunya sepanjang waktu.
"Bisakah kau diam saja!" Charlotte habis kesabaran. Ia membentak Irene, membuat langkah sang putri terhenti dengan wajah yang pucat pasi. Charlotte tak memiliki sisa kedamaian lagi di wajahnya. Ia tak lagi memperdulikan langkah sang putri yang tertinggal karena tak dapat menyamai kecepatan langkah mereka. Gadis itu dibiarkan tertinggal di koridor dan tak akan menyusul lagi. Sementara Davis dan Alexandra telah lebih dulu mendahului memasuki ruang kerja sang tuan rumah.
Ruang kerja Davis selalu membawa aroma cerutu dan pengharum ruangan mahal. Ruangan itu dulu ditempati ayah Alexandra. Ketika ayahnya masih hidup dulu, ruangan tersebut selalu beraroma bunga lavender. Terkadang akan ada aroma kukis cokelat bikinan Ibu yang akan menemani kerjanya. Semenjak kematian kedua orangtuanya, Alexandra enggan sekali menginjakkan kaki pada ruangan itu. Melihat bagaimana kenangan tentang kedua orangtuanya yang terhapus oleh tumpukan rak buku tinggi, Alexandra telah kehilangan alasan untuk menjejaki ruangan yang telah ditata ulang tersebut.
Aroma tembakau dan pengharum yang meliputi ruang kerja membuat perut Alexandra mual. Davis melirik sekejap, lantas ia duduk di kursi putarnya. Ia menunjuk sepasang kursi di depan meja. Meminta agar Alexandra dan Charlotte duduk berdampingan. Itu berarti mereka akan bicara saling berhadapan dan intim.
"Alex ... kau tentu tak mencurigai Paman dan Bibi atas hal buruk yang telah merenggut nyawa kedua orangtuamu bukan?" Davis mengawali pembicaraan. Pandangannya menukik turun. Sekilas, Alexandra menangkap genangan air mata yang menggantungi pelupuk mata tersebut.
"Curiga? Tentu saja aku curiga. Selama bertahun-tahun, kalian tak pernah memgungkit-ungkit tentang Ayah dan Ibu lagi, padahal harusnya setiap tahun kita mengenang kepergian mereka. Kalian tak mengizinkanku melihat jasad mereka dan aku bahkan nyaris melewatkan pemakaman waktu itu. Banyak hal yang kalian sembunyikan tentang kematian mereka. Kalian juga menyembunyikan tentang warisan itu, kalian pikir aku tidak pantas curiga?" Alexandra mengakhiri kalimat panjangnya dengan berdiri. Tangannya tergerak menggebrak meja, hingga bibinya terlonjak. Pamannya sendiri tak bereaksi, masih dengan tatapan yang terkunci ke bawah.
Charlotte menarik tangan Alexandra lembut, meminta gadis itu duduk kembali. Namun tangan Charlotte ditepis keras. Wanita itu tak lagi dengan bangga menunjukkan wajah angkuhnya di hadapan Alexandra. Tidak lagi setelah ia dengan berani menghancurkan pesta perayaan seratus tahun bisnis keluarga Buffon dengan pertanyaan yang membawa berjuta arti. Karena egonya demi sebuah kepastian, Alexandra pun bisa saja membawa bisnis keluarganya pada posisi berbahaya, bahkan kehancuran.
"Alex, tolong jangan begini. Bisakah kita bicara baik-baik? Tak ada hal yang perlu kau curigai dari kami." Nada bicara bibinya melembut. Umumnya, ia tak akan seperti itu. Selalu saja dengan bentakan dan cacian lain. Terkadang ditambah umpatan dan berakhir dengan melayangkan kekesalan pada pelayan atau benda-benda yang sekiranya bisa ia beli lagi. Ponsel atau gawai lain misalnya. Dan, bibinya selalu tak pernah seramah ini padanya kecuali di hadapan orang banyak. Ia memang munafik, itulah mengapa Alexandra tak pernah bisa berdamai dengan bibinya ini.
"Kalian bisa bicara begitu setelah menggunakan semua uang perusahaan untuk kesenangan pribadi! Kekuasaan juga sudah kalian genggam, kalian mendapat apa pun yang kalian inginkan. Sedangkan aku saja tak dapat menemukan kebenaran atas kematian orangtuaku."
Davis menegakkan kepala, matanya merah dan basah. "Tapi, Alex. Kami benar-benar tak ada hubungannya dengan kematian orang tuamu. Kau tahu sendiri ketika mereka kecelakaan, kami sedang berada di samping Irene karena ia sedang sakit parah. Kau tahu sendiri bukan? Paman sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan kematian ayahmu, Paman tak bersalah. Bagaimana bisa Paman membunuh saudara kandung sendiri?"
"Alex, Pamanmu benar. Kami sama sekali tak bersalah. Alibi kami kuat, Irene ada di sana waktu itu. Kenapa kau tak tanya sendiri padanya?" Charlotte ikut menanggapi.
"Dia akan berkata kalian tak bersalah apa pun yang sudah kalian lakukan! Aku tak akan percaya!"
"Alex---" Davis bangkit dari duduknya, tatapannya masih memancarkan luka dalam.
"Aku akan mencari tahu dengan caraku sendiri! Kalian tak perlu ikut campur!" putus Alexandra lantas menggebrak meja untuk kesekian kalinya.
Ia tak lagi menahan diri. Ia harus menemui Robert sebelum mereka mengetahui siapa orang yang telah membocorkan tentang isi warisan itu secara tak langsung. Alexandra membuka pintu, mendapati Irene berdiri tak jauh dari pintu dengan tatapan terkejut. Alexandra enggan membalas tatapan itu, ia harus ke Tuan Robert apa pun yang terjadi. Irene baru bergerak dari tempatnya ketika Alexandra tak lagi terlihat.
"Ayah, Ibu! Dia pergi!" Irene menghambur masuk ke ruangan.
Charlotte akhirnya melucuti topeng lembutnya, tergantikan dengan wajah bengis. Pun dengan Davis yang menghapus air matanya sembarangan dengan telapak tangan. Sudah cukup dengan air mata buaya itu. Jika mereka tak dapat membujuk dengan cara lembut, maka lakukan dengan kasar.
"Perintahkan mata-mata kita mengawasi dan mengikuti pergerakannya. Aku sudah membuat satu rencana. Lakukan malam ini juga, sementara Irene jangan sampai ikut campur, atau dia akan mengacaukan segalanya." Davis menggulung lengan pakaiannya sebatas siku. Ia meraih ponsel dan menggeser layarnya turun dan menemukan sebaris nomor.
"Tunggu, Ayah. Apa yang akan kalian lakukan pada Alex?"
Charlotte menarik lengan putrinya menjauh dengan paksa. "Ini bukan urusan untuk anak kecil. Masuk ke kamarmu dan jangan melakukan apa-apa."
"Tapi, Bu ...."
"Lakukan saja atau kita akan jadi napi atau justru jadi bangkai!"
Sementara Charlotte membawa Irene menjauh, Davis membuka laci mejanya. Mengeluarkan sebuah botol obat bius dan selembar sapu tangan.
"Tak kusangka akan melakukan hal seperti ini lagi." Davis menekan tombol yang terhubung dengan pengeras suara pada ruang istirahat para pelayan.
"Tolong panggilkan Nyonya Morris ke sini."
Davis tentu tak ingin lagi mengotori tangannya. Ia pun enggan melakukan pekerjaan kotor yang telah bertahun-tahun ini dihindari secara langsung. Ia selalu menggunakan tangan orang lain dalam melancarkan aksinya, kali ini ia akan melakukannya lagi. Tak perlu menunggu lama sampai wanita renta itu datang ke ruangannya dan mengetuk pintu.
To.Be.Continue