
[Semalam sebelum kejadian...]
Teddy belum sempat bertemu dengan Victor karena pria tersebut masih mengurung diri di laboratoriumnya sejak pagi dan belum keluar menjelang waktu makan malam. Di ruangan kerja Tuannya itulah ia memilih bermain dengan bola tenis. Jas dan dasinya dicampakkan di lantai. Ia menggulung lengan kemeja sebatas siku dan mengacak rambutnya yang sebelumnya tertata rapi karena pomade. Sungguh, ia lebih suka berpenampilan santai seperti ini.
Tepat ketika jam dinding gantung itu berbunyi dan mengeluarkan sebuah burung kayu yang cerewet, Victor membuka pintu laboratoriumnya. Teddy buru-buru mengenakan jas dan merapikan rambut, sedangkan dasinya dimasukkan sembarangan ke dalam saku celana. Victor lantas memandangi Teddy dengan tatapan yang seolah mengatakan 'tumben'.
"Tuan, ada hal penting yang harus saya bicarakan," ujar Teddy tiba-tiba.
"Ini kenapa antidot ramuan cinta nomor P3 tak ada satu? Apa kau tahu ke mana hilangnya?" Victor menanggapi secara retoris. Matanya menatap tajam ke arah Teddy.
"Saya yang mengambilnya, Tuan." Teddy belum merasa terbebas dari masalah. Bahkan karena jawaban jujurnya itu. Raut wajah Victor berubah curiga dan keningnya berkerut tajam.
"Itu juga masalah yang hendak saya sampaikan, Tuanku. Ini juga ada hubungannya dengan Nona Alexandra."
"Apa hubungannya antara Alexandra dengan antidot ramuan cinta?" Pertanyaan yang terus keluar dari mulut Victor, seketika membuat jantung Teddy berdebar kencang. Ia tak akan mencurigai Teddy bukan?
"Apakah ia meminum ramuan itu tanpa sengaja? Atau ada sengaja yang membuatnya meminum ramuan itu?"
"Saya berpikir opsi kedua, Tuanku?"
Victor menghela napas panjang. Lagi-lagi, masalah yang berhubungan dengan gundiknya. Sungguh. Inikah hukuman dari Tuhan karena ia lancang meminum ramuan abadi?
"Apa kau sudah punya kecurigaan pada seseorang?" Victor bertanya untuk ke sekian kalinya seraya memilah botol-botol ramuan miliknya.
"Saya selalu curiga pada Jane. Tapi, haruskah kita melakukan sesuatu dulu, Tuanku? Misalnya kita meminta bantuan polisi atau detektif? Kelakuan para gundik akhir-akhir ini selalu di luar batas kendali. Saya rasa sudah sangat sulit mengendalikan mereka."
Victor menopang dagu, ia lantas mengambil satu tabung kecil. "Haruskah aku menggunakan ini agar mereka bisa saling jujur?"
Ramuan kejujuran, dalang dari banyaknya jumlah napi di penjara. Salah satu penemuan Victor yang mendapat banyak penghargaan. Sekaligus jadi musuh para pelaku kriminalisme.
"Lalu, kalau mereka jujur, apa yang akan Anda lakukan, Tuan?"
Seringai tajam itu mengingatkan Teddy pada nasib buruk.
"Buang atau bunuh. Mudah sekali bukan?"
Teddy menelan ludahnya susah payah. Jika itu benar-benar terjadi, ini akan menjadi kali pertama bagi Teddy melihat gundik yang mendapat hukuman mati. Para sekretarisnya terdahulu tak banyak yang melihat hukuman mati. Memang hukuman mati sangat jarang diberikan. Selain itu, banyak yang masih sayang nyawa. Berbeda dengan era Teddy ini. Sudah berkali-kali ia melihat kasus kriminal yang mengikuti para gundik Victor.
Ruby pernah menjadi gelandangan selama kuliah, yang mana adalah salah satu tindakan kriminal di negara mereka. Jane pernah mencuri sebelum resmi masuk menjadi gundik Victor. Kala itu ia masih belum bekerja secara penuh dan masih magang. Ketika mengawasi Jane, ialah yang melaporkan Jane karena telah mencuri dompet seorang wanita tua. Ivanka ayahnya seorang pemasok senjata api ilegal. Keluarga Eliza adalah bandar narkoba.
Hanya Ling yang bersih dari kasus apa pun. Ia termasuk siswi teladan saat SMA. Namun terpaksa tak melanjutkan pendidikan lantaran hendak dijual ke rumah bordil. Tepat saat itu Victor menyelamatkan Ling. Gadis sepolos itu bisa menjadi seram seperti sekarang karena bentukan persaingan gundik yang sangat tak sehat. Benar-benar menyeramkan.
"Tuan, saya tak mau melihat pertumpahan darah di era saya bekerja," lirih Teddy.
"Aku juga tak mau. Tapi mau bagaimana lagi? Mereka mulai bertingkah di luar batas. Haruskah aku hanya diam dan melihat semuanya terjadi? Aku memang tak bisa berbuat apa-apa saat masih masa penjajahan dulu karena tak punya tentara sendiri. Maka dari itu akan memerangi penindasan di kastel ini sendiri."
Teddy hendak menyahut lagi, tetapi tejeda oleh ketukan pintu. Seorang wanita berseragam perawat muncul dengan wajah pucat dan napas tersengal. "Maaf jika saya lancang masuk ke sini dengan tiba-tiba, Tuan. Tapi saya hanya mengabarkan bahwa kondisi Nona Ruby tiba-tiba saja memburuk."
Belum habis satu masalah. Muncul masalah lain. Namun, jika menyangkut urusan nyawa seseorang, Victor pun enggan menganggap sepele. "Ada apa dengan dia?"
"Ia megalami demam dan kejang hebat. Maka dari itu saya datang ke sini untuk memberi tahu langsung pada Tuan." Perawat itu menunduk, enggan menatap wajah Victor.
"Apakah karena hal asing yang ditemukan di tubuhnya?" tanya Victor lagi.
"Tidak, Tuanku. Ini memang kondisi alamnya, sebenarnya kami sudah memberikan penurun demam untuk Nona Ruby, tetapi panasnya belum turun juga."
Malam itu, Victor menghabiskan malamnya di klinik lantai bawah tempat Ruby dirawat. Sedangkan Teddy bergegas menemui Alexandra. Gadis itu tengah memilah-milah manset yang sekiranya dapat dikenakan besok untuk hari pertamanya bekerja sebagai pelayan. Hawa dingin musim gugur tak akan berbaik hati padanya kendati sudah menjadi bagian dari kastel Victor.
"Hai, Alexandra."
Alexandra menaikkan satu alisnya mendengar sapaan Teddy yang terdengar aneh. "Halo, hal mendesak apa yang membuatmu sampai datang ke sini?"
"Aku hanya datang mengingatkanmu agar tetap waspada. Kejadian seperti itu bisa saja berulang beberapa kali."
"Terima kasih atas saranmu, Teddy. Mulai sekarang aku tak akan gegabah lagi. Mungkin sudah salahku karena tadi pagi makan dan minum apa pun yang terhidang di nakas," balas Alexandra sembari menata manset dan seragam pelayan yang telah ia pilih.
"Tunggu, makanan dan minuman? Kau tak menyebutkan soal itu tadi."
"Iya, maaf. Karena aku baru sadar sekarang. Tadi aku mendapatkan segelas air putih dan buah anggur terhidang di nakas. Lalu aku makan saja karena lapar. Mana kusangka jika isinya adalah ramuan **** gila."
"Aku sama sekali tak meminta satu pun pelayan menghidangankan apa pun padamu."
"Berarti di situlah letak masalahnya. Tempat si ramuan cintanya dituang. Lalu ketika tadi kita kembali ke sini, sisanya sudah tak ada. Padahal ketika kita sedang makan siang tadi tak ada yang izin keluar."
"Sehabis sarapan, aku pergi ke ruangan Tuan dan merundingkan sesuatu."
"Lalu aku berkeliling taman seenak hati karena efek ramuannya sudah bekerja sejak aku bertemu dengan Tuan Victor pertama kali saat ia memintaku makan."
"Seharusnya aku yang waktu itu menjemputmu sarapan. Itu berarti jika bukan Tuan yang menjemput pertama kali. Maka kau akan berefek padaku. Dan, bias saja kau nanti mengejarku. Lalu di antara kita muncul skandal, lalu...."
"Lalu Tuan mengusir kita berdua!"
Alexandra dan Teddy saling mengangguk begitu menyadari alasan tersebut. Teddy selalu menjadi orang pertama yang akan menjemput dan membangunkan gundik atau Tuan Victor jika waktu makan tiba. Pelakunya jelas sekali orang dalam yang sangat memahami seluk beluk kehidupan di dalam kastel. Semua kecurigaan lantas mengerucut pada Jane.
"Kau yakini ia pelakunya?" tanya Alexandra meyakinkan.
"Tidak. Semua orang bisa saja terlibat. Terlebih lagi mereka semua merasa terancam karena kedatanganmu," balas Teddy.
"Kenapa aku lagi?" Alexandra menunjuk dirinya tak terima.
"Alexandra, kau itu sangat mirip dengan mendiang istrinya Tuan. Kalian seperti dimasukkan mesin foto kopi."
"Itu tidak mungkin, aku ma—"
Sejenak Alexandra terdiam, teringat akan gadis dalam mimpinya yang memiliki wajah serupa. Marion.
"Memannya kau tahu dari mana?" tanya Alexandra seakan menantang.
"Kalau tak percaya, lihat saja lukisan di kamar Tuan. Kalian berdua benar-benar mirip, seperti saudara kembar. Ah, aku punya foto lukisan itu di ponsel. Kemarilah, biar kutunjukkan." Teddy menepuk kursi kosong di sampingnya.
Alexandra bergabung tak lama kemudian. Sementara tangan Teddy bergulir di atas layar ponsel, Alexandra mulai pusing lagi. Perutnya pun serasa dicubit dan dipenuhi kupu-kupu.
"Ah, ini dia. Lihatlah betapa miripnya kalian!"
Foto itu diletakkan tepat di depan wajah Alexandra, lantas gadis itu menjeritkan sebuah nama. Bentuk dari keterkejutannya karena kemiripan mereka.
"Marion!"
To.Be.Continue