M'Lord

M'Lord
T.W.E.L.V.E



"Dia sudah tak sadarkan diri, Tuan? Apa yang harus kami lakukan sekarang?" Salah satu dari pria itu bertanya.


"Masukkan ke dalam mobil, kita bawa dia ke gudang pabrik bagian barat," titah Davis sembari memasukkan kembali sapu tangannya ke dalam saku celana.


"Kalau kalian menyentuh tubuhnya sedikit saja, akan kubunuh kalian! Ia harus tetap dalam kondisi bagus ketika Tuan Victor menikmati tubuhnya," imbuh Davis. Ia mafhum dengan apa maksud tersembunyi dari pertanyaan yang terlontar itu. Ia terbiasa memberikan anak buahnya kebebasan untuk mengurus tubuh orang lain yang terlibat dalam beberapa urusan seperti ini.


Ya, mereka bebas melakukan apa pun. Termasuk hasrat memenuhi berahi mereka sendiri. Namun, kali ini ia tak akan membiarkan mereka menyentuh Alexandra. Keponakannya terlalu berharga untuk diserahkan pada kriminal kelas teri macam mereka. Jika Alexandra dijadikan gundik oleh Victor, ada kemungkinan ia dapat memperlebar bisnisnya dengan bantuan sang tuan.


Davis segera memasuki mobil, mendapati sang wanita tua menangis pada sudut jok belakang. Ada rasa bersalah karena menyaksikan betapa takutnya Nyonya Morris yang malang. Davis dan Daniel besar karena asuhannya, pun dengan Alexandra dan Irene. Nyonya Morris tentu tak kuasa menyaksikan perlakuan kasar Davis terhadap Alexandra. Selama sepuluh tahun ini ialah yang menjadi orang terdekat Alexandra dalam menghadapi kesedihan atas kematian orangtuanya. Bahkan Davis dan Charlotte sendiri tak sudi melakukannya.


"Maaf karena melibatkanmu dalam hal ini, Nyonya. Tapi apa pun yang terjadi, aku tak akan membiarkan keluargaku menanggung hal yang mengerikan atas dosa yang telah kubuat." Davis tak menoleh, tak ingin menyelami sepasang mata tua yang akan membuat rasa bersalah itu makin menggerogoti.


"Saya tahu, Tuan Davis. Saya tahu. Hanya saja, saya tak mengira bahwa tuan muda kecil yang dahulu saya rawat dan saya besarkan sekarang tumbuh menjadi seperti ini, menjadi—


Davis memejamkan matanya. Ia dapat menerka kata selanjutnya yang akan meluncur dari bibir sang pelayan tua. Bahwa ia adalah seorang....


—monster"


Davis enggan mengakui, tetapi ia tak dapat menampik fakta bahwa ia memang secara perlahan berubah menjadi monster. Kata-kata Nyonya Morris dibiarkan berlalu begtu saja, tak lagi terdengar oleh deru mesin yang membelah malam.


***


Teddy bergegas memasuki kamar sang tuan. Sebuah panggilan dari beberapa anak buah tuannya baru saja masuk. Dan, ia khawatir Victor tak akan senang mendengarnya.


"Tuan, Nyonya Morris tak kunjung memberikan kabar setelah panggilan terakhir. Lalu saya dapat sebuah panggilan dari orang kita di kepolisian bahwa baru saja terjadi kecelakaan tak jauh dari kediaman Buffon," lapor Teddy.


Tuannya tak kunjung menjawab. Alih-alih merespons, ia masih menikmati segelas wine miliknya dan menatap lekat-lekat potret cantik sang istri yang tergantung pada dinding kamar. Teddy sendiri tak pernah gagal terpukau oleh visual luar biasa sang nyonya yang tak pernah ia jumpai tersebut. Kendati hanya sebuah potret di atas kanvas, tetapi kecantikannya sudah cukup untuk membawa Victor pada kilasan-kilasan masa lalu yang enggan terlupa.


"Ini masih sangat malam, tapi belum tengah malam.Biarkan aku menikmati malam ini dengan sedikit tenang. Kita ada orang dari kepolisian, mereka pasti akan berbuat sesuatu." Victor menyesap minuman anggur itu perlahan.


"Apakah Anda sama sekali tak khawatir, Tuanku?"


"Khawatir apa? Bahwa Davis kemungkinan membunuh Morris?"


"Bagaimana jika itu Nona Alexandra?"


Victor menyeringai. "Dia tak akan berani melakukannya. Karena aku sudah memberikan kode supaya menyerahkan Alexandra padaku. Jika dia berani membunuhnya, bukankah itu sama saja dengan bunuh diri? Dia tak ingin aku membeberkan tentang bukti pembunuhan itu, kenapa dia sendiri harus menggali lubang dengan memubunuh keponakannya sendiri?"


"Tapi, jika saja insiden terjadi lalu nyawa Nona Alexandra terancam?"


"Kita bunuh dia, selesai."


"Baiklah, Tuan."


"Bisakah kau keluar sementara aku menikmati waktu bersantai yang kian menipis ini?" Victor melambaikan tangan, memberikan isyarat bagi Teddy untuk segera meninggalkan kamar.


Namun, kalimat yang baru saja keluar dari mulut tuannya itu justru membuat Teddy kembali mendekati kursi sang tuan. Kalimat itu sarat makna. Beberapa kali pikiran ini terlintas di kepala, sesekali membuat dadanya bergemuruh cemas. Apakah tuannya benar-benar akan melabuhkan hatinya untuk Alexandra sebagai pelabuhan terakhir? Apakah tuannya telah memantapkan hati untuk hidup menua seperti manusia pada umumnya? Jika memang benar begitu, lalu bagaimana dengan kastel ini dan segala isinya jika hal tersebut benar-benar telah diputuskan tuannya?


"Kenapa kau masih di sana? Aku belum memiliki pemikiran ke situ, seperti apa yang kaupikir. Hanya saja untuk beberapa hari ke depan, akan ada banyak pesanan yang datang. Itulah mengapa aku bilang waktu istirahatku makin berkurang." Victor selalu bisa menebak pikiran Teddy.


Teddy menundukkan kepala lantas benar-benar meninggalkan kamar tuannya. Dengan suara sepatu yang kian lirih itu, Teddy pun tak lagi mengusik waktu istirahat Victor. Pada wajah yang terlukis santun di atas kanvas, lagi-lagi Victor gamang. Ia mungkin telah menemukan pemilik wajah yang sama dengan istrinya, tetapi hatinya belum memiliki keteguhan untuk menenggak ramuan yang tersimpan rapi di balik ruang penyimpanan. Ia menatap wajah Marion sekali lagi, sembari berharap bahwa lukisan itu akan memberikan jawaban atas kegundahan hatinya. Namun, lukisan itu benda mati, tak akan bisa memberikan jawaban apalagi saran.


***


Sang gadis baru saja menghapus dan membilas seluruh riasan yang tertempel di wajah. Dengan mengenakan sebuah gaun tidur merah muda bermotif kelinci, ia masih duduk menghadap meja rias. Mengikuti serangkaian tahap perawatan wajah sebelum tidur yang amat lama. Sembari menepuk-nepukkan krim malam ke seluruh wajah, ia menanggapi pertanyaan sang ibu dengan gelengan lemah.


"Bukan hal yang penting."


Charlotte menghela napas. Putrinya tak pandai dalam segala hal, termasuk berbohong. Penelitian membuktikan bahwa bakat yang dimiliki seorang ibu lebih banyak mendominasi ke anak. Tepat, seperti bakat Charlotte sendiri yang tak pandai melakukan apa pun. Benar-benar anaknya. Hanya kemampuan menghabiskan uang secara cepat yang menjadi tolok ukur betapa miripnya mereka dalam menambah beban berat Davis.


"Kalau kau tak mengaku, Ibu akan bertanya langsung pada Tuan Victor," putus Charlotte sembari bangkit dari pinggiran ranjang.


"Ibu mana berani? Lagi pula Ibu pasti juga tak akan berkutik saat berada di depannya, seperti aku tadi atau di tingkat terburuk, Ibu mungkin bisa disakiti atau dibunuh." Irene berpaling dari cermin besar, kini menghadap ibunya dengan ekspresi bercampur aduk.


"Kau mau Ibu disakiti atau dibunuh?"


"Tentu saja tidak! Aku hanya tak mau ibu tahu kalau aku ... memasukkan paku payung ke dalam sepatu Alexandra tadi."


Charlotte lagi-lagi menghela napas. "Lalu?"


"Tuan Victor tahu bahwa aku yang memasukkan paku itu ke dalam sana. Ibu lihat sendiri ia menyusul Alex ke kamarnya. Karena aku yang membawa sepatu itu masuk, pastilah Alex yang memberitahu Tuan Victor. Pasti dia juga menyuruh Tuan Victor bicara padaku tadi." Bibir Irene lantas mengerucut, jemarinya saling teranyam di pangkuan.


"Apa yang dia katakan?"


"Kalau seandainya paku itu juga dimasukkan ke dalam sepatuku secara sengaja, apakah itu dapat disebut sebagai karma? Ia juga memperingatkan aku lagi, dia bahkan menakuti teman-temanku. Kalau suatu hari nanti ada yang terluka karena kakinya tertusuk paku payung, maka aku adalah pelakunya."


Charlotte menghela napas lagi dan lagi. "Kau pasti sudah diingat Tuan Victor sebagai tukang iri berhati licik. Dia juga sudah memiliki catatan hitam pada dirimu. Kalau nanti Alexandra jadi gundik Tuan Victor, kau mungkin akan mendapatkan masalah."


"Lalu Ibu sendiri tidak?" ujar Irene retoris.


Charlotte terkekeh. "Ibu akan berada dalam masalah yang lebih besar daripada dirimu. Maka sebaiknya kau bermurah hati meminta maaf padanya. Jangan menyesal ketika ia nanti membalas semua perlakuan buruk kepadamu."


"Ibu sendiri tidak minta maaf padanya. Kenapa aku harus bersusah payah melakukannya?"


Bola mata Charlotte bergerak jatuh ke lantai, sementara kedua tangannya memeluk tubuh. Bukan menyilangkan kedua tangan arogan. Lebih pada gestur yang menunjukkan betapa takutnya ia pada sesuatu yang mungkin datang.


"Kesalahan Ayah dan Ibu padanya tak dapat dimaafkan."


Charlotte segera menepuk kedua tangannya keras. Dimaksudkan untuk mengakhiri perbincangan malam itu. Wanita itu meninggalkan kecupan penuh sayang pada ubun-ubun Irene lantas mengucapkan selamat tidur dan bermimpilah indah. Pintu kamar Irene ditutup perlahan dan Charlotte masih menahan senyum terpatri di wajah. Ketika langkahnya mulai menjauhi kamar putri semata wayang, senyum itu perlahan pudar.


Langkahnya dilebarkan, bergegas mencari sang suami di ruang kerjanya. Namun ruangan itu kosong. Laci kerjanya yang terbuka membawa kekhawatiran bahwa pria itu mungkin saja melakukan ha bodoh di luar sana. Charlotte memeriksa berulang kali dan mendapati botol obat bius di sana telah raib. Tepat saat itulah ia terpikirkan akan Alexandra. Wanita itu kembali memeriksa kamar Alexandra, gadis itu sudah tak berada di kamarnya. Itu berarti suaminya mungkin tengah mengikuti ke mana perginya gadis tersebut.


Ia hanya berharap semoga suaminya tak melakukan hal yang melewati batas lagi. Membunuh Daniel dan Margareth sudah menjadi dosa terbesar yang mereka lakukan, terlebih lagi mereka juga memperlakukan Alexandra dengan kurang baik di rumah. Ia hanya berharap suaminya tak akan menyakiti gadis itu.


"Nyonya." Salah seorang pelayan memasuki kamar. Ia memunguti pakaian kotor Alexandra yang tercecer dari keranjang. Biasanya Nyonya Morris yang melakukan tugas itu sembari menjadi teman bercerita Alexandra, tetapi di manakah wanita tua itu? Mungkinkah ia sedang sakit.


"Di mana Nyonya Morris? Tumben sekali kau yang melakukan tugasnya.


"Ia dipanggil Tuan Davis. Saya tak tahu apa yang Tuan Davis inginkan dari Nyonya Morris, tetapi sampai sekarang ia belum kembali."


Detik itu pula, tubuh Charlotte lemas. "Davis, apa yang akan kau lakukan lagi pada orang-orang tak bersalah seperti Nyonya Morris?" lirih Charlotte gelisah.


To.Be.Continue