
Jane buru-buru menyusul Eliza dan Ling yang tengah mengerubungi jendela besar tempat biasa mereka menunggu kedatangan Tuan. Kali ini bintang utamanya adalah si gundik baru. Ivanka menyusul tak lama kemudian. Mereka bertempat berdesakan, berebut ingin melihat sang gadis yang digadang-gadang memiliki kemiripan seratus persen dengan potret mendiang istri Tuan Victor. Jika Ruby mendapati mereka bergerombol menghalangi jendela seperti ini, ia pasti akan marah dan menyuruh mereka bubar. Bukan sekali dua kali mereka kedapatan melakukan hal seperti ini. Dan, Ruby akan selalu menyebut mereka seperti pelacur yang sedang menanti dan akan berebut pelanggan. Karena wanita itu belum muncul juga, mereka dapat sedikit berlama-lama menggosip sembari bertanya-tanya mengapa wanita tak kunjung keluar dari kamarnya.
"Hei, bukankah semalam adalah jadwalnya dengan Tuan? Mungkin saja semalam mereka bermain dengan panas sampai-sampai tak bisa bangkit dari ranjang. Wow, wow," celetuk Eliza sembari melirik Ling dan mereka berdua lantas terkikik geli.
"Jangan menggosip seperti itu tentang Ruby. Selama ini Tuan selalu menganggapnya sebagai teman diskusi yang tepat. Kalaupun mereka juga berhubungan badan, bukan sekadar sebagai pelampiasan hasrat seksual saja. Ia selalu memperlakukan Ruby dengan lembut," sanggah Ivanka.
"Ya, siapa tahu juga, kan? Tuan selama ini selalu memperlakukan ia seperti kakak perempuan di luar, tapi kita tak pernah tahu bagaimana aktivitas mereka di ranjang. Mungkin saja sama kasarnya ketika bersama kita." Ling tak mau kalah, dengan bantuan Eliza, mereka berdua seakan menjelek-jelekkan sosok gundik tertua di sana.
Jane sendiri memilih abai. Ia masih enggan berinteraksi dengan Eliza karena kejadian memalukan sebelumnya di ruang makan. Otaknya justru menyusun rencana agar ia bisa mengusir Alexandra seperti bagaimana ia dapat menyingkirkan gundik-gundik sebelumnya. Ia memang bejat. Dan semua aksinya itu tak pernah melibatkan gundik lain. Ia akan melakukan semuanya sendiri, dengan begitu ia pun dapat memiliki Tuan Victor untuk dirinya sendiri.
"Hei, itu mobilnya sudah datang! Petugas pindahannya juga ikut." Eliza tiba-tiba saja menghentikan adu mulutnya dengan Ivanka saat melihat mobil hitam metalik yang biasa digunakan oleh Teddy memasuki halaman kastel.
"Ya, Tuhan. Mereka menggunakan truk pengangkut yang paling besar. Gadis keluarga kaya dan terhormat memang beda, ya," imbuh Ling sembari mengipasi wajahnya dengan tangan.
Teddy buru-buru keluar dari mobil. Niatnya untuk membukakan pintu bagi Alexandra, tapi gadis itu sendiri telah turun sebelum Teddy membuka pintu untuknya. Karena itu, mereka berdua seperti terlibat percecokan kecil. Hal itu pula juga membuat para gundik itu tertawa. Mereka berdua mungkin berlomba dengan waktu. Teddy yang ingin menunjukkan sopan santunnya dan Alexandra yang teringin menjadi wanita mandiri.
"Ah, lihatlah wajah dan rambutnya. Benar-benar mirip dengan mendiang istri Tuan. Wajah itu juga tampak alami tanpa sentuhan dokter bedah plastik. Luar biasa sekali. Kecantikannya tak ada yang menandingi."
Kalimat itu membuat bendera perang berkibar. Eliza dan Ling menatap tajam Ivanka. Jane yang sejak tadi diam pun yang paling kesal di sini. Ia paling murka karena semua sindiran itu seakan ditujukan untuknya yang telah berkali-kali permak tubuh.
"Ah, aku harus bersiap-siap agar bisa tampil lebih cantik dari gundik baru itu. Kalian juga, daripada menatapku seperti itu, bukankah lebih baik memaksimalkan riasan hari ini agar lebih cantik daripada gadis polos itu. Sampai jumpa."
Pagi itu menjadi awal yang menyebalkan bagi para gundik Tuan Victor. Tanpa Ruby di sana, mungkin suasana akan menjadi lebih kacau setelah ini. Sementara Ruby sendiri, ia lejar di atas ranjang. Seprai putih di kamarnya ternoda oleh darah dan keringat di sana sini. Pun dengan sisa-sisa lain pergulatan Tuan Victor Semarang. Pria itu sedang bersiap meninggalkan kamar. Ia baru saja mengenakan jubah tidur miliknya yang semalam telah terlempar entah ke mana. Pagi ini jubah itu telah ditemukan dalam kondisi basah dan bau menyengat. Mungkin saja jadi salah satu alat dalam aktivitas ranjang mereka semalam.
"Kau sangat penurut, Ruby. Seperti biasa. Namun, jangan harap kau dapat melakukan hal seperti itu lagi di belakangku. Ah, aku menyesal meninggalkan kastel ini sangat lama waktu itu. Nyaris setahun, ya? Kesempatan bagimu untuk hamil dan melahirkannya. Tenang saja, rahasia ini akan terjaga baik denganku. Kau tak perlu khawatir aku akan membocorkannya pada gundik lain. Mereka tentu tak seberani dirimu yang mau hamil dan melahirkan. Nikmati istirahatmu, hari ini biar Teddy yang mengurus segalanya tentang para gundik lain."
Ruby sama sekali tak dapat bergerak dari posisinya sekarang. Wajahnya memiliki beberapa bekas luka. Pun dengan sekujur tubuhnya. Sayatan, gigitan, tusukan kecil, luka bakar, ia tak dapat menebak benda apalagi yang digunakan Tuan untuk menyakiti tubuh ringkihnya. Salahnya sendiri. Selama sepuluh tahun ia memanfaatkan waktu untuk meneliti sampel ****** Tuan Victor. Tak ada yang mengetahui mengapa Tuan tak dapat memiliki keturunan dari gundik-gundik sebelumnya. Alasannya mudah saja. Ia mengonsumsi ramuan yang menyebabkan ****** miliknya tak dapat membuahi indung telur.
Alat kontrasepsi yang paling efektif. Dari semua penelitian hasil yang didapat adalah seratus persen manjur. Ramuan itu pula yang dijual Tuan Victor dengan harga mahal. Ruby pun mengganti ramuan Tuan dengan air biasa saat pria itu mabuk berat. Dengan bantuan temannya di rumah sakit, Ruby berhasil mengawetkan ****** yang sehat itu dan menyuntikkannya ke rahim setelah memilih waktu yang tepat. Tepatnya, ketika Tuan Victor pergi ke Mesir untuk ikut serta memecahkan misteri makam Firaun. Sebenarnya aneh saja karena Tuan Victor sebenarnya tak setua itu untuk hidup dengan Firaun. Hanya saja, Tuan Victor memang memiliki beberapa pengetahuan yang ditinggalkan mendiang gurunya tentang misteri yang ditinggalkan Firaun.
Itulah mengapa ia ditumbalkan untuk ikut serta dalam penelitian itu. Jikalau bukan karena bayaran besar dan iming-iming sebuah ladang minyak bumi, tentu saja ia tak akan datang. Namun, ia tetap saja datang karena tiba-tiba teringat akan batu permata bernilai jutaan dolar yang disebutkan dalam buku yang ditinggalkan mendiang gurunya. Tentu saja ia menemukan batu permata itu dan menjualnya di pasar gelap dengan harga berlipat. Bonus uang yang dijanjikan ditambah dengan sebuah ladang minyak bumi. Semakin kayalah pria itu, tanpa sempat tahu bahwa ada satu anggota keluarga bertambah di kastel. Itu adalah salahnya karena lancang. Menggunakan ilmu yang ia punya untuk kepentingan sendiri. Memiliki anak biologis dengan Tuan Victor dapat menjaga posisinya lebih lama di sana.
Ia pun juga memiliki niat memiliki keluarga sendiri. Namun, Tuan Victor tak akan pernah mengabulkannya. Ia hanya akan memiliki keturunan resmi dengan gadis yang dicari-carinya selama ini. Dan, mungkin adalah Alexandra. Kemiripan wajah yang luar biasa dengan potret tanpa nama sang mendiang istri Tuannya mungkin semakin menegaskan bahwa memang gadis itu yang nantinya dipilih menjadi istri resmi Tuan Victor. Sekaligus akhir dari pencariannya selama ratusan tahun. Dan, antidot dari ramuan panjang umur itu akan digunakan sehabis ini.
Ruby menangis di atas kasurnya. Salahkah jika ia memiliki rasa yang menggebu-gebu itu? Ia pun sama dengan gundik lainnya yang menginginkan Tuan Victor secara utuh. Ia teringin memiliki keluarga kecil dengannya. Hidup bersama anak-anak manis itu sampai maut yang memisahkan. Ruby paham bahwa harapannya terlalu melambung tinggi. Bahkan, di mimpi terdalamnya, mungkin tak akan pernah terjadi.
To.Be.Continue