M'Lord

M'Lord
T.W.E.N.T.Y E.I.G.H.T



Dipandangi Victor dengan sangat intens sesekali menimbulkan geletar yang menggelitik perut Alexandra. Ia meraih ujung gaunnya, diremas perlahan guna mengalihkan rasa malu. Tatapan para gundik yang menatap sama intensnya, sejenak menjadikan rasa tak nyaman itu muncul. Ia menoleh pada Teddy, berharap pria itu dapat memberikan bantuan. Namun pada akhirnya ia kembali menoleh pada Victor sebelum Teddy memberikan isyarat apa pun.


Victor berdeham. Mengambil alih seluruh perhatian yang sebelumnya habis untuk Alexandra. Jane pun tampak salah tingkah, ia buru-buru membenahi gaun yang dipakainya. Ivanka sendiri masih dengan tatapan kalah di matanya. Sedangkan Eliza dan Ling saling pandang, kemudian saling mengakui kekalahan mereka, bahkan sebelum menunjukkan perlawanan pada Alexandra.


"Kemarilah dan duduk. Kau akan duduk bersama Teddy untuk sementara. Kalian berdua duduk di bagian kiriku."


"Baik, Tuanku." Alexandra menundukkan kepala. Teddy mendahului langkah Alexandra, ia menarik kursi yang letaknya paling dekat dengan Victor. Setelah gadis itu duduk manis di tempatnya, barulah Teddy beralih meraih satu kursi untuk dirinya sendiri.


"Kau tentu tak keberatan memperkenalkan dirimu sendiri, Nona. Silakan perkenalkan dirimu lebih dulu," titah Victor.


Alexandra tertegun sebentar. Ia melirik lagi Teddy, pria itu mengangguk pelan. Victor pun lagi-lagi memberikan gestur agar Alexandra segera mempersingkat waktu agar mereka bisa menikmati sarapan. Dengan perlahan, Alexandra bangkit dari duduknya. Ia memang terlihat ragu, tetapi setidaknya ia memiliki kepercayaan diri untuk memperkenalkan diri.


"Namaku Alexandra Lucille Buffon. Umurku delapan belas, dua minggu lagi usiaku sembilan belas. Sebenarnya aku masih menempuh semester kedua ilmu bisnis di Universitas Stocktown. Namun untuk beberapa minggu ini aku sudah terlalu banyak absen. Aku bisa Muay Thai dan Jiujitsu. Dan, aku tak punya aku media sosial yang aktif. Terima kasih."


Victor yang mengawali tepuk tangan, barulah menyebar ke Teddy dan seluruh gundik lainnya. Tentu saja tak semua dari mereka bertepuk tangan dengan tulus. Terlebih lagi Jane. Jangan tanya bagaimana rupa wanita itu sekarang. Kalau bukan karena ada Victor tepat di sampingnya, mungkin ia tak akan berpura-pura senyum lagi. Lihatlah betapa kencang dan kakunya tarikan senyum itu. Victor nyaris tertawa melihat pipi yang disuntik botox itu kelihatan hendak meledak. Namun ia berhasil menutupinya dengan menunduk. Ivanka mengulas senyum seadanya. Sedangkan Eliza dan Ling tersenyum paling tipis. Mungkin mereka mengakui kekalahan itu, tetapi mereka tak akan berhenti bersaing.


"Untuk sekarang hanya ada mereka bertempat. Kalau nanti kau sudah bertemu dengan Ruby, kalian bisa berkenalan secara pribadi. Dia wanita yang baik dan paling bisa kuandalkan. Selain Teddy dan Ivanka tentunya," terang James.


Senyum Ivanka sedikit terkembang saat namanya disebut dengan konotasi baik oleh Victor, juga saat Alexandra menatapnya lembut dan terpukau.


"Lalu di sampingku ini adalah Jane, dia yang paling lama kedua setelah Ruby. Ia juga yang paling banyak membuat pengeluaran di antara yang lain dengan mengunjungi dokter bedah plastik. Di sampingnya adalah Ivanka, ia berasal dari negara Beruang Merah. Lalu di yang punya dua mata kembar di sana walaupun beda ras, mereka adalah Eliza dan Ling. Kau bisa tahu mana yang Eliza mana yang Ling jika tak melihat ke mata mereka."


"Haruskah Anda menjelaskannya seperti itu, Tuanku?" Jane menatap Victor sembari mengerucutkan bibirnya kesal.


"Kau tak suka? Haruskah kubuat lebih detail? Haruskah kusebut bagian mana saja yang sudah kamu rubah, berapa harganya, dan di mana operasi bedah plastik itu dilakukan?" jawaban retoris itu sukses memukul mundur Jame. Wanita itu mirip dengan anjing yang kesal karena tuannya mendapatkan peliharaan baru.


"Kenapa kalian tidak senormal Ivanka. Lihatlah betapa baiknya dia. Tak pernah berbuat masalah. Tak minta banyak, walau sekali minta harganya selangit." Victor masih meneruskan perkenalan yang terkesan tak ramah itu.


Alexandra melirik sebentar ke arah Teddy. Tangannya bergerak ke arah celana sang pria. Teddy nyaris menjerit ketika tangan Alexandra bergerak ke sana. Bayangan gadis itu melakukan hal yang tidak senonoh segera tergantikan oleh cubitan panas pada pahanya. Tanpa bersuara, ia memohon agar menghentikan kebisingan ini. Pada akhirnya, Teddy juga yang harus bergerak dan mengorbankan dirinya pada Victor.


"Tuanku, sepertinya Anda sudah kelewatan. Mungkin kita bisa lanjutkan sarapan pagi ini tanpa ada sindiran lagi di sana sini." Teddy segera menengahi sebelum suasana kian canggung.


"Teddy benar, Tuan. Mari kita lanjutkan dengan tenang saja acara makan ini. Rasanya kurang etis jika membuat tamu istimewa Anda mengalami hal seperti ini di hari pertamanya dibawa ke sini." Ivanka ikut menengahi, tak ingin memperpanjang suasana canggung tersebut. Tak ada Ruby di sana, maka ia yang menggantikan peran gundik tertua. Peran yang membutuhkan banyak tanggung jawab dan berbesar hati. Jika mengandalkan Jane, maka rasanya mustahil. Wanita itu bahkan lebih kekanakan dan egois dibandingkan Eliza dan Ling.


Perkenalan yang penuh sindiran itu diakhiri ditambah dengan dehaman tak terima Jane. Victor hanya melirik sebentar lalu mengangkat kedua tangannya seakan tak mau tahu. Sementara Jane menatap tajam Tuannya, Victor sendiri kembali menatap Alexandra lekat-lekat. Mengagumi wajah ayu sang gadis. Ia tak percaya dapat melihat wajah ini setelah sekian tahun lamanya. Pengobat rindu yang telah lama ia cari. Semoga saja, ia sama manis dan lembutnya dengan Marion. Namun, harapan itu nyatanya tak dikabulkan oleh Tuhan. Mungkin malaikat yang kebetulan lewat enggan mencatat doa itu. Alexandra jauh dari kesan manis dan lembut.


***


"Nyonya, harus kutaruh di mana karung ini?" tanya Alexandra yan telah mengganti pakaiannya dengan seragam pelayan. Ia awalnya marah karena seragam yang ia kenalan lebih pendek dan menunjukkan lebih banyak kulit daripada milik pelayan lain. Namun ia tak habis akal. Rok yang hanya sebatas paha itu diberi celana rangkap. Dan lengannya yang pendek juga dirangkapi dengan manset sepanjang siku.


Apa yang ia lakukan sekarang pun akan membuat Victor sendiri berhenti dari aktivitasnya semula dengan mulut menganga. Ya, Alexandra tak bisa melakukan kegiatan manis layaknya perempuan. Sebagai gantinya, ia membantu para penyuplai bahan makanan mengangkuti karung-karung mereka.


"Apa yang kau lakukan di sana, Alexandra?!" Victor tampak tak senang dengan ulah di luar perkiraan Victor. Teddy yang mendampingi langkah Victor, mencoba menahan tawa. Ivanka dan Jane yang mengekor di belakang Victor pun sama kagetnya. Bahkan melongo.


Teddy benar-benar tak mampu menahan tawa. Ia menyembunyikan wajah di balik papan melamin yang berisi faktur para penyuplai barang. Ia tak menyangka bahwa Alexandra dengan terang-terangan menunjukkan kelakuan ajaibnya pada Victor dan gundik lain di hari pertamanya bekerja. Kali ini, Alexandra bebas menjadi dirinya sendiri. Di atas truk pengangkut barang itu, ia bergabung bersama kuli panggul lainnya. Menatap hari ke depan dengan wajah cerah.


To.Be.Continue