
Alexandra melangkah perlahan, berusaha sebisa mungkin agar tak ada yang mencurigai kondisi kakinya. Dari penjelasan Lily pagi-pagi tadi, Alexandra menarik beberapa kesimpulan. Satu, para gundik Victor selalu memiliki cara sendiri dalam mengintimidasi gundik lain. Dua, tampaknya tak semua gundik melapor pada Victor melalui Teddy. Ketiga, menunjukkan kelemahan hanya akan membuat tingkah mereka makin liar.
Dengan kesimpulan yang ia susun sendiri, Alexandra akan membuat para gundik itu menyerah menakut-nakutinya. Jangan tunjukkan kelemahan apa pun. Lakukan seperti yang ia lakukan pada Charlotte dan Irene. Siapa sangka jika tumbuh besar dengan para perisak itu sedikit-sedikit memberinya gambaran untuk bertahan hidup di dalam kastel ini. Tujuan utama sebenarnya Alexandra bertahan adalah demi bisnis keluarga Buffon yang dipegang oleh Davis. Tentu saja Alexandra tak akan membiarkan bisnis keluarga terhormat itu dipegang oleh seorang pria pemaksa yang menghalalkan segala cara dalam mencapai tujuan.
Langkah Alexandra sejenak tertahan. Jika ia berusaha merebut bisnis keluarganya melalui tangan Victor, maka itu berarti secara tidak langsung Alexandra juga menghendaki tangan pria itu menyentuh tubuhnya. Sebuah pemikiran yang tiba-tiba saja merangsang jantungnya bekerja lebih keras dari seharusnya. Kaki Alexandra tiba-tiba saja berubah lembek. Ia sama sekali tak berpikir sampai ke sana.
"Ah, lihat siapa yang kita temui di lorong dengan tatapan kosong? Apa kau takut akan sesuatu, Alexandra?"
Tepat di saat keberanian Alexandra sejenak menipis, dua gundik paling lemah muncul. Ling dan Eliza, mereka benar-benar lekat seperti amplop dan perangko. Belum ada pukul tujuh pagi, tetapi mereka berdua sudah bangun. Mengenakan pakaian olahraga dan handuk yang tergantung di leher. Belum ada aroma menyengat dari keringat yang keluar dari tubuh mereka. Oh, mereka sama sekali belum mulai berolahraga.
"Ah, aku hanya sedang banyak pikiran. Mungkin karena beberapa hari ini aku sama sekali tak berlatih Muay Thai." Alexandra menjawab sekenanya saja, ia akui bahwa beberapa minggu ini terlalu sibuk dengan banyak hal sehingga lupa sedikit latihan.
Sebuah senyum canggung terbentuk di bibir Ling. Alexandra melihat bahwa perempuan asal Tiongkok itu baru saja menelan ludah susah payah. Tangannya berulang kali mengepal dan dilepaskan, seolah sedang menghalau sesuatu hal. Eliza tak bergerak setelah mendengar alasan Alexandra. Namun, Alexandra menyadari bahwa keduanya sama-sama sedang mengalihkan diri dari sesuatu. Sebuah rasa yang Alexandra kenali sebagai rasa takut. Tatapan yang sering kali ia jumpai pada lawan tanding atau berlatihnya. Sekarang Alexandra tahu apa yang akan ia lakukan sekarang.
"Apakah kalian keberatan aku ikut berolahraga ke gym? Tuan bilang aku boleh berkunjung ke sana. Aku yakin kalian pasti tak keberatan," ujar Alexandra sembari tersenyum cerah.
Mata Ling bergerak beberapa kali, sebelum akhirnya saling bertatapan dengan Eliza. Mereka berdua tentu akan menolak. Sebelum kedua perempuan itu memberikan jawaban, Alexandra melakukan peregangan pada jari-jarinya hingga bunyi keras yang ditimbulkan membuat Eliza dan Ling sejenak terkejut.
"Ah, maaf. Badanku benar-benar sangat kaku karena sudah lama tak berolahraga. Jadi, bagaimana? Apa kalian keberatan?" tanya Alexandra lagi. Ia tersenyum lebih lebar lagi, memaksa tulang pipinya makin naik dan nyaris menyisakan segaris mata yang tersisa.
"Ya sudah, terserah! Cepat ikut kami atau tak ikut sekalian!" Eliza buru-buru berbalik. Ia berjalan paling depan, lantas disusul Ling yang segera mendempet tubuh Eliza. Mereka berdua terlibat sedikit pembicaraan rahasia sebelum akhirnya kembali menatap ke depan dalam diam. Mereka sempat menangkap tatapan penuh arti Alexandra.
Jika bukan karena sedang berakting kuat dan menyeramkan, Alexandra akan tertawa sekarang. Mereka hanya dua perempuan penakut yang suka menggertak. Nyatanya mereka berdua sama-sama tak memiliki nyali bertatap muka dengan Alexandra. Rasa sakit di telapak kaki Alexandra perlahan naik, semoga saja lukanya tak lagi terbuka, setidaknya sampai ia bisa menakuti Eliza dan Ling. Alexandra akan menunjukkan pada mereka berdua bahwa ia bukanlah gadis yang lemah dan menjadi kesayangan Victor hanya karena penampilan fisik saja.
***
Gym selalu sepi. Namun, setidaknya selalu memiliki pengunjung setia. Hanya beberapa nama, Teddy, dan untuk akhir pekan atau saat sedang khilaf rajin, ialah Eliza dan Ling. Awalnya Alexandra beranggapan alasan mengapa dua gundik itu mengunjungi gym karena Victor. Namun, anggapan itu dipatahkan oleh suara pria yang sedang tak ingin Alexandra temui sekarang.
Teddy jarang sekali menunjukkan bentuk tubuhnya. Setiap harinya mengenakan kemeja dan blazer. Hampir setiap hari berpakaian formal sehingga bentuk tubuh luar biasanya tersembunyi. Alexandra sendiri tak begitu menyadari bentuk tubuh Teddy ketika di restoran makanan cepat saji itu. Kini, ia dapat melihat bagaimana bentuk tubuh Teddy berhasil membuat Eliza dan Ling merona hebat. Suaranya yang berat dan macho terdengar sangat menggoda ketika melenguh atau ketika deru napasnya mengudara.
Jika melihat bentuk tubuh Teddy dari depan, mungkin Eliza dan Ling akan mimisan di tempat. Lihat saja betapa merahnya wajah mereka hanya dengan melihat punggung Teddy dan mendengarkan suara beratnya. Alexandra sendiri secara tak sadar mengingat bagaimana Teddy memanjat tempat tidurnya kala itu. Ketika ia naik ke ranjang Alexandra dan mengikat pergelangan tangannya di kepala ranjang. Sial! Pipinya memanas sekarang.
"Hai Nona Ling dan Eliza, olahraga seperti biasa?" sapa Teddy pada duo gundik itu. Alexandra memutar bola mata bosan ketika melihat ekspresi nakal mereka tadi berubah menjadi tenang.
"Ya, demi menjaga stamina. Kau tak tahu kalau Tuan terkadang sering bermain terlalu lama sampai harus ada penambahan jam, 'kan?" Eliza tersenyum tipis. Berusaha bersikap biasa saja.
"Kau juga Teddy, jangan sampai sakit. Ada banyak pekerjaan yang harus kau lakukan saat Ruby sedang sakit," sambung Ling.
"Haha, terima kasih. Aku akan pamit, ada banyak pekerjaan yang harus kulakukan," pamit Teddy.
Ini saatnya. Kendati suasana canggung di antara Alexandra dan Teddy masih tak bisa dihindari, tetapi Alexandra tetap harus melakukannya. Alexandra bangkit dari posisi sit up yang ia lakukan lantas menghadang tubuh Teddy. Ekspresi pria itu menakutkan. Matanya membola sembari menunjuk Eliza dan Ling dengan tatapan matanya.
"Teddy, apa kau tak keberatan menjadi lawan tandingku hari ini? Aku sedang butuh seseorang untuk berlatih." Alexandra mengabaikan isyarat yang diberikan Teddy.
"Ah sayang sekali, Nona Alexandra. Masih ada ba—"
"Oh, jadi apa kau mau meminta Tuan mengirimkan aku lawan tanding?" potong Alexandra sembari meyilangkan kedua tangan di depan dada yang sebenarnya tak membuat bagian dadanya lebih menonjol. Justru makin tertutupi.
Teddy memejamkan mata, menahan ekspresi kesal lantas berbalik lagi. "Tapi saya peringatkan bahwa saya sama sekali tak bisa bela diri apa pun."
"Tubuhmu itu besar! Malulah dengan tubuh besarmu kalau kalah dengan perempuan kurus sepertiku."
Untuk sesaat, Eliza dan Ling saling pandang. Ekspresi mereka tegang. Alexandra dapat melihat ketakutan yang merambat naik di wajah mereka.
To.Be.Continue