M'Lord

M'Lord
T.W.E.N.T.Y T.H.R.E.E.



Alexandra menatap nanar penginapan yang plakatnya nyaris jatuh itu. Plakat itu akan bergoyang tiap kali kena embusan angin atau seseorang mendekat dan menimbulkan bunyi keras. Penginapan ini sudah tak layak ditempati, tetapi tulisan buka tetap terpasang. Teddy pun berulang kali memeriksa ponselnya. Sejak sepuluh menit yang lalu ia mencari penginapan daring yang sekiranya masih bisa ditemui. Namun kebanyakan telah terisi penuh. Karena jalan yang mendadak ditutup itulah orang-orang mencari penginapan terdekat. Dan, mereka tak memberi satu ruangan yang tersisa untuk Alexandra. Para pekerja pindahan tak keberatan tidur di parkiran atau dalam truk. Namun Teddy masih mempermasalahkan tentang Alexandra.


Siapa yang akan menyangka jika hari ini tiga pohon berusia ratusan tahun tumbang sekaligus dan menghalangi jalan. Butuh waktu lama bagi para petugas pemadam kebakaran mencapai wilayah sempit di areal perbukitan seperti ini. Dan, satu masalah lagi. Hutan menuju kastel Victor selalu diliputi takhayul dan aura-aura mistis yang menyeramkan. Beberapa petugas pemadam kebakaran dikabarkan saling melempar giliran agar tak harus menginjakkan kaki di sana. Jadilah si penelepon pertama harus menunggu selama tiga jam sampai pemadam kebakaran datang dan bersiap membuang pohon yang menghalangi jalan tersebut. Rombongan Alexandra dan Teddy baru datang saat pemadam kebakaran datang.


Para petugas pemadam kebakaran menyarankan mereka agar mencari penginapan. Butuh waktu beberapa jam untuk menyingkirkan beberapa batang pohon itu. Terlebih lagi mereka juga mendapat tantangan baru dengan hujan deras beserta angin yang datang tak lama kemudian. Habis sudah. Para pemadam kebakaran pun terpaksa menunda pekerjaan mereka sampai hujan reda. Mereka benar-benar tak mampu meneruskan perjalanan sekarang. Itulah asal-usul bagaimana mereka kini terdampar di penginapan kecil ini.


"Kalau tak ada penginapan yang tersisa, aku tak keberatan tidur di sini," putus Alexandra sembari menunjuk penginapan mengenaskan di hadapan mereka.


"Kau tak bisa tidur seenaknya sendiri. Sekarang kau dalam pengawasanku. Akan jadi masalah buatku juga kalau kau sampai kena apa-apa." Teddy masih sibuk dengan ponselnya. Ia kembali menempelkan ponsel itu ke telinga saat mendapat sebuah panggilan masuk.


"Apa? Tak ada ruangan yang tersisa? Tapi di keterangan aplikasi masih ada satu ruangan tersisa?"


Teddy masih berdebat dengan seseorang yang mungkin berasal dari hotel. Sementara Teddy masih berdebat, Alexandra mengetuk pintu penginapan. Seorang wanita tua muncul dari dalam dengan senyuman lembut. Ia tak tampak jahat di mata Alexandra.


"Apakah kalian sedang mencari penginapan, Nona?"


"Iya, Nek. Kami harusnya pulang malam ini. Namun jalan sedang tak dapat dilalui, maka kami harus mencari tempat untuk bermalam dulu," ujar Alexandra lembut.


Wajah sang nenek berbinar. "Ah, saya selalu punya kamar yang kosong untuk ditempati."


Alexandra mengangguk mengiyakan. Ia membuat reservasi untuk dua orang dengan kamar yang bersebelahan. Setelah menyelesaikan reservasi itu, barulah ia kembali menemui Teddy yang masih uring-uringan dengan ponselnya. Alexandra menepuk pundaknya pelan.


"Aku sudah membuat dua reservasi untuk kamar di sana." Alexander menunjuk penginapan menyedihkan itu.


Teddy menatap Alexandra tak percaya. "Nona Alexandra Lucille Buffon! Anda harusnya minta dulu pendapat dariku."


"Lalu kau mau uring-uringan terus di sini tanpa mendapatkan apa pun? Sudahlah, buang saja egomu mendapat tempat yang bagus. Asalkan tidak kedinginan dan kehujanan sudah cukup, 'kan?" sanggah Alexandra.


"Tapi kamar di sana mungkin tidak higienis. Apa kata Tuan Victor nanti jika aku membuatmu sakit atau bagaimana?"


"Untuk ukuran laki-laki, kau banyak sekali pertimbangan. Sudahlah, jangan pilih-pilih lagi. Anggap saja kau sedang membantu seseorang nenek tua menyambung hidup." Alexandra menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Ia sudah teguh dengan keputusan ini.


Teddy mengacak kembali rambutnya yang sudah dipoles dengan pomade sehingga kembali jatuh berantakan. "Kalau terjadi sesuatu padamu, bilan Tuan Victor kalau kau yamg memaksa sendiri. Aku tak tanggung apa-apa kalau kau kena sesuatu."


Alexandra mendengkus. "Aku tak akan meminta bantuan darimu kalau misalnya terjadi apa-apa. Aku cukup kuat untuk menendang kepala maling atau mematahkan lengan penguntit."


Teddy pada akhirnya menyerah. Ia mengikuti Alexandra memasuki penginapan kecil tersebut. Sang nenek menyambut dengan wajah semringah. Mungkin ia terlalu bahagia karena ada seseorang yang menginap lagi di penginapan kecilnya. Ia membimbing Alexandra dan Teddy pada dua kamar yang letaknya saling berdampingan. Ia bilang sengaja memilihkan kamar yang kondisinya paling bagus. Teddy tak begitu peduli kendati semenjak tadi terus memaksakan senyum. Alexandra sendiri benar-benar santai, ia bahkan tak terkejut ketika seekor laba-laba menghinggapi pundaknya. Teddy mencoba mengusir laba-laba itu dengan wajah diselumuti ketakutan. Namun Alexandra hanya meniupnya dengan santai dan laba-laba itu turun dengan sendirinya.


"Terima kasih, Nenek." Alexandra membalas senyum semringahnya dan wajah yang tak kalah ceria.


Teddy pun membalas dengan segaris senyum canggung ketika nenek itu melewatinya. Lantas ketika nenek itu telah pergi, barulah Teddy memasang wajah serius lagi di hadapan Alexandra. "Oke, sekarang tak ada yang perlu aku pertanggungjawabkan kalau kau kejatuhan laba-laba atau hewan lain. Kau bisa mengurus semua itu sendirian, 'kan?"


Alexandra mendengkus, "Mungkin seharusnya aku yang mengurusmu dari laba-laba. Kau tadi saja ketakutan melihat laba-laba. Hati-hati saja kalau mereka merayap di kakimu nanti. Selamat malam, Teddy." Setelah melemparkan kunci pada Teddy, Alexandra bergegas masuk. Ia tak lagi menoleh, sementara Teddy memasang wajah terpaksa jikalau nanti di dalam sana ia disambut dengan sarang besar laba-laba.


Alexandra menjatuhkan tubuh di ranjang. Kasurnya cukup empuk dan aroma kamar ini wangi lavender. Tak buruk juga untuk ukuran penginapan yang sepi dan terlupa. Tanpa berlama-lama, Alexandra segera berguling, ke tengah-tengah ranjang ukuran sedang itu. Sepatunya ditendang agar terlepas dari kaki. Lalu ia membenamkan wajah di bantal. Aroma lavender pada bantal itu dihirup perlahan. Ah, sangat menenangkan. Jika begini, ia bisa langsung tidur tanpa perlu menunggu waktu lebih lama.


Aroma lavender selalu mengingatkan Alexandra pada Ayah dan Ibu, pangkuan dan kasih sayang mereka, dan semua hal indah yang pernah terjadi dalam hidupnya. Juga ilalang yang saling bergoyang karena tertiup angin dan wajah gadis itu, yang wajahnya sama persis dengan Alexandra. Ia berdiri di tempat yang sama pada padang ilalang. Menatap Alexandra dalam-dalam.


"Mencariku?" Ia bertanya lembut.


Alexandra tak kunjung menjawab sehingga gadis itu membalikkan tubuh. "Kalau kau mau tahu sesuatu, ayo ikuti aku."


Kaki Alexandra bergerak sendiri, mengikuti ke mana gadis itu melangkah. Dari padang ilalang yang tinggi dan rimbun itu, sang gadis menuntun Alexandra menjauhi kawasan hijau. Beralih ke kawasan yang lebih tandus. Rumah-rumah reyot yang tak lagi layak ditempati, di beberapa tempat tengkorak-tengkorak hewan saling bertindihan. Beberapa bangkai anjing dikerubuti lalat dan burung pemakan bangkai. Alexandra tak pernah melihat hal seperti ini sebelumnya. Gadis itu terus saja melangkah, membawa Alexandra pada sudut tergelap. Namun, di tempat itulah, sang gadis hilang. Alexandra tak mendapatinya lagi di mana pun.


"Marion? Aku membawakanmu roti lagi." Sebuah suara yang tak asing itu terdengar dari salah satu gubuk paling reyot. Alexandra mengikuti asal suara. Sebuah pemandangan yang seketika membuat hatinya trenyuh. Di sanalah ia melihat Victor dalam kondisi yang memprihatinkan. Melihat betapa lusuh dan kurusnya pria tersebut, ia menyaksikan sendiri sisi lain Sang Tuan yang selalu membawa ketakutan pada orang lain. Jika Victor selama ini dikenal sebagai pria bertangan dingin, maka Victor di hadapannya ini adalah pria yang lembut dan penuh kasih sayang. Matanya yang berwarna abu-abu tak menyisakan kesan bengis.


"Beruntung sekali hari ini Tuan El menyisakan beberapa potong roti yang masih baru untuk kita," suaranya merdu, seperti petikan harpa.


Pada kekecauan yang nenyeliputi desa mati itu. Masih tersisa kehidupan yang berharga dari sepasang anak manusia. Kendati posisi Victor kini memunggungi Alexandra dan menghalangi gadis yang terbaring pada ranjang sempit itu, tetapi Alexandra dapat merasakan cinta yang tulus kedua anak manusia tersebut.


"Kau tak akan menyangka ia menjadi orang yang sangat menakutkan bukan?" suara sang gadis misterius kembali terdengar. Alexandra membalikkan tubuh. Gadis itu berdiri di belakangnya dengan tatapan teduh pada Victor.


"Kenapa kau bisa tahu?" balas Alexandra retoris. Lancang jika ia membalas pertanyaan seseorang dengan tanya pula. Terlebih pada orang asing dan ajaib yang hanya ia bisa temui dalam mimpi. Namun gadis itu tak tampak terusik. Alih-alih marah, ia justru tertawa kecil. Deretan giginya yang putih dan rapi serta suaranya yang agak rendah, sesaat mengingatkan Alexandra pada dirinya sendiri. Ya, mau bagaimana lagi, kemiripan mereka berdua bagaikan kertas yang keluar dari mesin fotokopi.


"Jawabannya mudah sebenarnya, tapi aku tak ingin membuat mimpi singkat ini menjadi sangat menakutkan bagimu. Sebenarnya aku selalu mengawasinya selama ratusan tahun, dari atas sana." Gadis itu tersenyum lagi dan Alexandra mendadak ketakutan. Seluruh bulu halus di tubuhnya meremang.


Mata Alexandra terbuka secara paksa. Ia bangkit dari ranjang saat menyadari tak lagi berada di alam mimpi. Seluruh tubuhnya berkeringat, basah. Dadanya bergemuruh bak genderang perang. Bahkan ia dapat mendengar suara debaran jantungnya sendiri. Mimpi itu. Victor dan masa lalunya. Juga gadis itu.


"Marion...."


To.Be.Continue