
Alexandra menepi ke jendela mobil. Keadaan yang memaksa Alexandra berdekatan dengan Teddy ternyata membawa keduanya pada situasi canggung. Apalagi setelah pria itu mengetahui Alexandra masih perawan. Kecanggungan itu makin mengusik ketika teringat salah seorang pekerja di toko perabotan menyangka keduanya adalah pasangan suami istri baru. Situasi yang teramat sangat canggung. Segera mendapat reaksi tak menyenangkan keduanya.
Itulah yang membuat Alexandra tak mampu bertatapan dengan Teddy semenjak meninggalkan toko. Ketika ia hendak masuk ke truk pengangkut barang. Rupanya tak ada tempat yang tersisa untuk Alexandra, jok belakang dan bagasi pun telah penuh. Hanya menyisakan kursi di samping pengemudi. Jadilah perjalanan menuju kastel diisi oleh kesunyian.
"Kau tak makan?" Itu kata pertama yang diucapkan oleh Teddy setelah saling mendiamkan selama beberapa jam di atas moboil. Teddy memarkirkan mobilnya di salah satu restoran cepat saji, pun dengan para petugas pindahan. Teddy memutuskan istirahat sebentar sebelum melanjutkan perjalanan. Tempat ini telah menjadi langganan Teddy bersama para petugas pindahan tersebut.
"Tidak."
Namun perut Alexandra mengatakan yang sejujurnya. Perutnya tak ingin didustai, perutnya ingin cheesee burger yang memiliki ekstra keju lumer.
"Yakin tak mau makan?" ulang Teddy sambil menahan tawa.
Dengan wajah memerah, Alexandra turun dari mobil. Ia membuntuti Teddy yang sejak tadi pun menahan tawa. Memasuki restoran itu, Teddy melepas jas dan dasi yang ia kenakan. Ia menggulung lengan kemeja putih itu hingga sebatas siku, pun dengan kedua kancing teratasnya yang telah dilucuti. Ia pun mengacak-acak rambutnya, merusak tatanan rambut yang ia lapisi dengan pomade. Ia dalam mode badboy yang dapat membuat para perempuan menjerit-jerit. Tak kalah tampan dan berkharisma dari Victor.
Para pekerja memilih meja lain yang mengizinkan pelanggannya merokok, sedangkan Alexandra dan Teddy menempati meja lain yang ramah bagi anak. Teddy baru saja kembali dari konter dengan membawa dua nampan. Pria itu memesan satu paket burger biasa dengan tambahan kentang goreng dan segelas minuman bersoda. Sedangkan pesanan Alexandra sendiri cheesee burger dengan ekstra keju di sana. Tak lupa salad dan minuman diet.
"Kau suka makanan cepat saji tapi juga tak ingin gemuk. Lucu sekali seleramu," ujar Teddy seraya mengusir kecanggungan di antara mereka. Ia tersenyum lepas, tak lagi canggung. Pria ini mudah sekali membuka obrolan.
"Kau sendiri seleramu juga makanan cepat saji. Kupikir karena kau hidup dengan Tuan Victor, makanan sehari-harimu adalah caviar," balas Alexandra tak kalah ketus.
Teddy tertawa kecil. "Selera tiap orang berbeda. Tak bisa dipaksa. Aku memang hidup sejak kecil di kastel, aku juga ikut merasakan bagaimana gaya hidup mewah Tuan dan gundik-gundiknya sedikit mempengaruhiku. Namun seleraku tetaplah merakyat. Makanan penuh lemak jenuh ini selalu yang terbaik."
Teddy mengangkat burger miliknya, meremasnya sedikit hingga lemak di dalamnya berguguran. Ia terlihat sangat bangga dengan itu. Lalu dimakan dengan suapan besar.
"Aneh sekali kau tak bergabung dengan pekerja pindahan itu. Kau bisa tinggalkan aku dan bisa merokok bersama mereka. Kau juga butuh sesuatu untuk membuatmu tetap terjaga agar tak mengantuk saat menyetir."
Teddy mengusap sudut bibirnya dengan tisu lalu menggeleng, ia biarkan dulu makanannya tertelan. "Lalu kau sendiri bagaimana? Sendirian di sini? Lalu kalau terjadi sesuatu padamu, aku pasti akan dipenggal Tuan. Lagipula aku tidak merokok, Tuan tak suka bau rokok. Ia juga tak merokok sepanjang hidupnya."
"Lalu, apakah Tuan Victor suka dengan roti kering dan susu?" Teringat mimpi-mimpinya beberapa hari ke belakang, Alexandra berniat memastikan kebenaran mimpi itu.
Teddy mengangguk, "Ya, ia sangat suka dengan roti kering. Roti yang dibiarkan beberapa hari terbuka dari plastik pembungkusnya, lalu dicelupkan ke dalam susu agar lembut. Apa kau juga suka dengan itu?"
Alexandra tak tahu harus menjawab apa, maka ia membalas dengan anggukan lemah sembari menyeruput minumannya. Wajah Teddy berbinar.
"Wah, kalian punya selera yang sama. Mungkin itulah tanda bahwa kalian berjodoh."
"Tapi, kau harus bicara pada Tuan bahwa aku tak akan jadi salah satu dari gundiknya. Apa pun yang terjadi, aku akan menjadi pelayannya saja. Itu lebih baik untuk diriku. Aku tak mau menjadi pemuas kebutuhan biologisnya. Aku tak mau punya anak di usia muda."
Mendengar penuturan itu, Teddy kehilangan senyumnya. Ia lantas menengok kanan kiri. Memastikan tak akan ada orang yang mendengar pembicaraan mereka. Seakan pembicaraan ini adalah rahasia negara yang tak boleh didengar siapa pun.
"Kita bicara lebih lanjut di mobil. Segera kembali setelah makananmu habis. Aku akan merapikan penampilanku dulu lalu kembali ke mobil."
Alexandra mengangguk patuh. Tadi pria itu tak ingin jauh darinya, sekarang ia malah ditinggalkan. Ah, pria itu tak benar-benar meninggalkannya. Seorang petugas pindahan diminta duduk di samping Alexandra. Pria bertubuh tambun itu mengulas senyum lebar, sedangkan Alexandra membalasnya dengan senyum canggung. Sebenarnya Alexandra agak terusik dengan ekspresi yang ditujukan Teddy tadi. Setelah mendengarkan kalimat panjang itu, tiba-tiba saja Teddy tak lagi menunjukkan ekspresi ramah. Ia penasaran.
Setelah menghabiskan makanannya dan menyikat gigi, Alexandra segera bergabung dengan Teddy di parkiran. Pria itu kembali dengan tampilan rapi bak orang kantoran. Rambutnya disisir ke belakang dan diolesi dengan pomade agar tak bergeser. Jas dan dasinya terpasang dengan benar. Tak ada aroma minyak jelantah pada tubuhnya, digantikan aroma parfum maskulin yang tipis-tipis.
"Duduklah dulu, ini perkara penting sebenarnya," pinta Teddy.
"Jadi, perkara penting apa itu?" tanya Alexandra setelah duduk dan menutup pintu.
Teddy menghela napas rendah, barulah ia menatap Alexandra lekat-lekat. "Ini tentang Tuan dan kehidupan seksualnya. Kau harus mendengar ini sebelum benar-benar masuk dalam dunia Tuan."
Tenggorokan Alexandra yang baru saja dilumuri minuman mengering kembali. Jujur, ia sangat tak menyukai pembahasan seperti ini. Namun, ia tak bisa lari lagi dari keputusannya memasuki kehidupan Victor. Demi kebaikan Nyonya Morris dan terlepas dari belenggu keluarga neraka, kendati ia harus meninggalkan warisan yang disebut-sebut Tuan Robert.
"Tuan memang memiliki banyak gundik, hasrat menyalurkan kegiatan seksualnya juga tinggi, tetapi ia tidak bisa memiliki anak," ujar Teddy dengan raut wajah tegang.
"Dia mandul?"
Teddy menggeleng pelan. "Aku tak begitu yakin. Ia tak pernah mau membahasnya. Begitu juga dengan sekretaris Tuan sebelum diriku. Mereka sama sekali tak tahu."
"Mereka tak tahu? Apakah Tuan memang memiliki banyak rahasia?"
"Ya, siapa tahu. Ia memang pria yang misterius sejak pertama kali muncul di koran sebagai orang yang dikenal abadi. Namun mereka mengetahui satu hal. Bahwa Tuan sebenarnya memiliki antidot dari ramuan yang membuatnya hidup abadi. Ia pun bisa hidup lagi menjadi orang normal."
Alexandra tertegun. Obrolan ini akan menjadi lebih berat daripada yang ia pikirkan.
To.Be.Continue