
Menjadi pelayan di kastel supermewah dan megah milik Victor yang memiliki tingkat keamanan berlapis ternyata tak semudah merawat rumah sendiri. Selama membantu para kuli panggul itu, berulang kali Alexandra melalui beberapa kali pemeriksaan sidik jari, mata, dan bahkan suara. Hei, bukannya ia berniat mencuri atau mencelakai Victor. Ia benar-benar tak habis pikir dengan betapa ketatnya petugas keamanan memeriksa bagian tubuhnya dari puncak kepala sampai ujung kaki.
Belum habis dengan drama pagi-pagi itu, kini Alexandra harus berhadapan dengan hal yang sama sekali tak ingin ia hadapi sekalipun baru beberapa hari tinggal di kastel. Dua perempuan itu, yang disebut-sebut telah mengubah bagian tubuhnya demi Victor. Ling dan Eliza yang tampak mencurigakan tengah berbincang di depan kamar Alexandra.
"Oh, ini dia adik termuda kita," sapa Eliza disertai setarik senyum yang kaku ketika matanya menangkap Alexandra dari kejauhan.
"Wah, kebetulan sekali kami akan mengajakmu jalan-jalan sebentar," sambung Ling.
Di tempatnya berdiri, Alexandra menciut. Seakan ajakan ajakan mereka adalah sebuah vonis hukuman penjara.
"Masih ada beberapa karung yang belum sempat kupindahkan ke dapur, jadi—"
"Jadi kau menolak?" potong Eliza buru-buru, senyum yang sempat melekat di wajahnya hilang entah ke mana.
"Jadi, lebih baik aku izin ke pelayan lain agar bisa ikut dengan kalian." Buru-buru Alexandra mengoreksi susunan kalimat sebelumnya yang berisi penolakan.
"Ah, itu sama sekali tak diperlukan. Kau bahkan tak perlu melakukan ini semua," ujar Eliza sembari memangkas jaraknya dengan Alexandra. Ia menepuk pundak gadis itu pelan, mata Alexandra sendiri secara otomatis mengikuti pergerakan Eliza.
"Kau sudah cantik dan menarik tanpa harus bertindak sejauh ini. Kenapa harus berbuat sejauh ini demi merebut atensi Tuan?"
Pada akhirnya tanya Eliza tersebut meyakinkan Alexandra bahwa kedatangan duo gundik termuda ini—sebelum kedatangan Alexandra—bukanlah acara ramah tamah.
"Aku tebak, Teddy sudah menceritakan perihal mendiang istri Tuan Victor yang benar-benar mirip denganmu. Kau pasti sudah memiliki kepercayaan diri dapat mengambil seluruh perhatian Tuan dari kami," imbuh Ling.
"Kau tentu paham betul mengapa kami melakukan ini bukan?" Eliza menelusuri pundak Alexandra, turun hingga pergelangan tangannya. Sebuah cengkeraman kencang secara tiba-tiba menarik tubuh tinggi Alexandra, nyaris saja bertubrukan dengan wajah Eliza.
"Aku tak akan tinggal diam jika kau mengancam posisi kami di sini."
Begitu cengkeraman Eliza terlepas, telunjuk Ling segera menusuk pundak Alexandra keras. Otomatis Alexandra bergerak mundur, menyisakan ruang lebar bagi kedua perempuan itu melewati tubuhnya. Kedua pundaknya saling dibiarkan begitu saja tertabrak. Dengan senyum kecut, Alexandra berbalik ketika menyadari langkah kaki keduanya kian lirih.
"Lakukan saja semau kalian, aku juga bukannya dengan suka rela ada di sini." Alexandra bermonolog, membiarkan saja kalimatnya didengar oleh angin.
Tanpa Alexandra ketahui, dua perempuan itu kini tengah meringkuk di belokan lorong. Ekspresi mereka pucat pias.
"Ia tak akan menendang kepala kita sampai putus bukan?" Ling berulang kali melirik melalui kaca-kaca buram, memastikan Alexandra tak mengikuti mereka.
"Aku harap begitu. Cukup dengan ini, aku harap dia tak akan memandang rendah kita hanya karena bisa bela diri dan jadi nanak kesayangan Tuan."
Satu hal yang harusnya Alexandra ketahui, bahwa kedua perempuan itu ternyata tak lebih dari penakut yang bersembunyi di balik gertakan murahan.
To.Be.Continue
Halo teman-teman, setelah lama tak melanjutkan M'Lord, akhirnya saya meneruskan saja cerita ini. Dengan catatan, bab yang akan datang tak akan memuat lebih dari 1000 kata demi kenyamanan para pembaca. Terima kasih.