
Lutut Alexandra lemas, kehilangan daya begitu kacamata dan topi itu tak lagi memberikan penghalang bagi dunia untuk melihat sang pemilik wajah. Victor. Hanya satu nama tanpa ada tambahan nama keluarga atau julukan. Namun dengan satu nama itu, dunia bertekuk lutut padanya. Tak ada satu pun pemimpin dunia berani melanggar titahnya? Walau sebenarnya ia sendiri pun tak pernah berkeliling dunia terlalu jauh. Ada pula negara yang sama sekali tak menaruh ketakutan padanya, mereka masih menganggap pria itu adalah manusia biasa yang suatu saat akan menemui maut juga.
Kini tatapan yang bak malaikat pencabut nyawa itu menatap dua pemuda Malang tersebut. Alexandra tak mampu menyembunyikan ketakutan kalau-kalau Victor mengambil nyawa mereka hanya dengan satu ucapan. Terlebih lagi dua pria berpakaian formal di belakang mereka membawa pistol. Mengeksekusi mereka bukan hal sulit. Menunggu titah sang tuan, pelatuk pistol ditarik, lantas mereka akan pulang ke rumah menjadi mayat.
Tanpa menanti instruksi selanjutnya dari Pak Gilbert Smith, Alexandra segera berlutut. "Tuanku, tolong jangan lakukan hal buruk pada mereka. Tolong pula ampuni saya yang telah membuat keributan dan mungkin membuat Anda tak nyaman. Namun, tindakan kami yang sebenarnya tak dapat dibenarkan ini benar-benar tak disengaja karena kami benar-benar tak mengetahui identitas Anda. Mohon pertimbangkan ampunan untuk kami."
Pak Gilberth mengurut dadanya, mungkinkah pria itu terkena serangan jantung? Sedangkan dua pemuda tersebut, makin bergetar di lantai berbau tersebut. Mereka tak berani mendongak, tak ada keberanian yang tersisa bahkan sekadar menatap sepasang mata yang sebenarnya indah tersebut. Alih-alih menjawab permohonan tersebut, Victor justru tertawa. Kepalanya tertoleh pada dua pria berperawakan tinggi tersebut. Dengan jarinya, ia menunjuk pistol yang tersembunyi di dalam saku celana. Perintahnya sudah jelas, agar salah satu dari mereka menyerahkan pistol tersebut.
Tak ada jeda yang lama. Pistol yang terisi penuh dengan peluru kini berpindah tangan. Pistol tersebut memukul mundur kerumunan mahasiswa dan mahasiswi yang hendak menyaksikan peristiwa menegangkan yang terjadi. Jerit ketakutan dari segerombolan perempuan semakin memperlebar senyumnya. Ia suka dengan ketakutan massal ini. Apalagi jika ia yang mengawali segala ketakutan tersebut. Dengan hanya namanya, Victor. Victory, kemenangan. Di balik setiap kemenangan pasti ada kekalahan. Ia yang memenangkan segalanya. Ia yang berhasil menyebar ketakutan itu pada dunia.
Suara desingan pistol kembali membawa jerit ketakutan itu kembali. Kerumunan mahasiswa dan mahasiswi itu tak setakut beberapa detik sebelum peluru ditembakkan. Mereka saling berbisik dan menanyakan apa yang baru saja terjadi.
"Tuan Victor mengampuni mereka bertiga! Terima kasih Tuan Victor!" Salah satu pemuda di barisan terdepan segera bersimpuh, bersyukur atas ampunan yang Victor berikan. Seluruh kerumunan pun melakukan hal yang sama dalam waktu sepersekian detik.
Dua pemuda di depan tubuh Victor itu tak bergerak lagi. Mungkin pingsan setelah mendengar bunyi ledakan mesiu tersebut. Alexandra sendiri tak mampu menarik oksigen secara normal, tarikan napasnya terlalu kencang hingga menimbulkan suara aneh. Persis seperti tikus yang terjepit. Ia bahkan tak mampu memproses kejadian apa yang terjadi selanjutnya saat jemari yang dibalut sarung tangan beledu mahal itu menyentuh dagunya. Mempertemukan mata mereka pada satu pandangan lurus.
"Kau perempuan yang baik. Aku yakin kita akan saling bertemu lagi, pegang kata-kataku," ujar Victor disertai seringai penuh arti yang Alexandra sendiri benar-benar tak mengerti maksud tersembunyi di baliknya. Begitu jemari Victor tak lagi menyentuh kulitnya, Alexandra tak mampu lagi membiarkan dagunya tegak.
"Kalian berdua, bawa dua pemuda itu pergi dari sini." Dengan gerakan dari dagunya, dua pria berjas itu segera membopong mahasiswa yang tergolek di lantai batu itu bak karung beras.
"Ah, aku nyaris lupa, Gilbert. Tolong ajarkan mereka tata krama saat berbicara dengan orang yang lebih tua. Aku bahkan lebih tua dari universitas ini dan mereka dengan lancang berkata tak sopan. Bawa gadis cantik ini untuk jadi saksi nanti. Mari kita bicarakan hal yang harusnya dibicarakan," imbuh Victor lantas memberikan titah agar Gilbert mengikutinya dengan gerakan tangan.
Lautan manusia itu terbelah, memberikan jalan bagi Victor dan Pak Gilbert lewat. Masih dengan tubuh yang bersimpuh pada tanah dan pandangan terpaku pada lantai. Barulah ketika sosok mereka berdua memasuki gedung, buru-buru gerombolan pelajar tingkat tinggi itu menghampiri Alexandra dan menyokong tubuhnya agar bangkit. Sebotol air mineral diacungkan pada Alexandra. Dan, perempuan itu segera menandaskan isinya bak kesetanan.
"Kau baik-baik saja, Alexandra?"
"Haruskah kita membawanya pulang?"
"Kita bawa dia pulang saja, semua dosen pasti sudah tahu apa yang terjadi di sini."
"Tadi Tuan Victor mengelus dagunya, kalian lihat itu?"
"Alex! Kau akan jadi salah satu wanitanya! Bukankah itu hebat?"
Kata-kata itu hanya melewati telinga kanan dan keluar telinga kiri tanpa halangan. Alexandra benar-benar tak mampu memproses apa yang baru saja terlewat.
Ia tak peduli lagi ketika mereka mulai beranggapan bahwa ia hendak mengubur diri sendiri atau hal sejenisnya. Rumah besarnya bukan tempat untuk mencari kenyamanan setelah mengalami serentetan kejadian hari ini. Sepasang baru bernama ayah dan ibunya, itulah tempatnya menyandarkan segala kegundahan. Bahkan benda mati itu jauh lebih baik daripada satu-satunya keluarga yang ia punya.
***
"Wah, kau makin tua saja setiap harinya, Gilbert. Dulu aku pernah menggendongmu di punggung. Sekarang waktu berlalu begitu cepat. Tahu-tahu kau sudah operasi pemasangan ring dua kali, haha." Tawa garing yang terselip di akhir kalimat tak membuat Gilbert berhenti menghirup oksigen dari alat bantu tabung itu.
"Hmm, aku terlalu mengejutkanmu tadi. Maaf sudah membuatmu sakit hingga begini."
Gilbert segera menjauhkan tabung oksigen itu dari mulut. "Tidak Tuanku, Anda tak perlu meminta maaf."
Tatapan Victor melunak. Ia lantas duduk di samping Gilbert. Menepuk paha pria tua itu. Seperti memutar film hitam putih, Victor selalu melakukan ini pada Gilbert kala kakek tua ini masih anak kecil polos dulu. Gilbert di masa kecil memiliki tubuh kurus, sejak kecil memang telah mengidap lemah jantung. Kadang kala ketika Gilbert memandang anak-anak seusianya yang bermain bola dengan tatapan mendamba, Victor akan menyemangati bocah itu agar tak patah semangat.
Ia boleh menyerah dari impiannya menjadi guru olahraga, tetapi ia bisa mencari impian baru. Jadi akuntan, jurnalis, arsitek, atau kepala sekolah misalnya. Dan Gilbert kecil akan tersenyum. Memerkan salah satu atau dua giginya yang hilang. Lalu Victor akan menggedongnya di punggung, membawanya berkeliling kompleks sambil makan permen loli.
"Kau sudah bekerja keras, aku bangga padamu, Gilbert Kecil."
"Tuan, soal mahasiswi yang sedang Anda cari---"
"Kau tak perlu mencarinya lagi." Keputusan mendadak Victor justru meninggalkan lubang di hati Gilbert. Apa lagi yang membuat tuannya ini berhenti pada salah satu pencarian kecilnya?
"Aku sudah menemukan gadis itu tadi, yang berambut panjang dan bersimpuh padaku tadi. Kau pasti tak begitu mengenalnya karena di sini banyak anak konglomerat lainnya. Tapi aku benar-benar ingat namanya. Sebuah nama yang ditinggalkan orangtua hebat, yang bahkan sebelum kematiannya masih memastikan masa depan anaknya terjamin. Ia Alexandra Lucille Buffon."
Gilbert lantas mengurut kening, nama keluarga itu memang terkenal. Bisnis wine hebat yang menjadi ladang pajak terbesar di kota. Juga merupakan perusahaan keluarga terbesar di kota itu.
"Yang anak sulung penerus perusahaannya meninggal karena tenggelam? Sekarang perusahaan itu diambil alih adiknya, Davis Buffon. Aku sudah beberapa kali berkunjung di sana. Namun aku tak terlalu mengenali Alexandra sebagai bagian dari keluarga tersebut."
Victor mendengkus. "Kau belum tahu saja apa yang terjadi, Gilbert. Ketika gadis itu berusia sembilan belas nanti, akan muncul berita yang menggemparkan dan menjadi yang terpanas tahun ini. Aku jamin itu."
"Memang, apa yang terjadi, Tuanku?"
Victor menoleh, senyum jahat terbentuk. "Pertumpahan darah."
To.Be.Continue