M'Lord

M'Lord
T.H.I.R.T.E.E.N.



Bola mata yang masih tertutupi kelopak mata itu bergerak-gerak. Cahaya matahari yang menghangatkan wajah ikut mengusik matanya yang enggan terbuka. Seberapa keras ia mencoba, matanya tetap lekat. Dalam kegelapan itu, ia mengingat mobil, tabrakan kecil, dan Paman Davis dengan selembar sapu tangan yang membekap mulutnya. Begitu seluruh ingatan itu menjejali otaknya bak gerbong kereta api yang saling berbenturan, barulah matanya dapat terbuka penuh.


Ia duduk terikat pada kursi kayu dan mulutnya disumpal kain---yang untungnya bersih. Matanya bergerak menjelajah ruangan, tak menemukan seorang pun yang dapat dimintai pertolongan. Ada tirai besar yang menghadang pandangan. Kenapa tirai itu tak dipasang pada ventilasi udara yang justru membawa cahaya terang nan hangat menusuk wajahnya? Ingatannya mulai membawa adegan-adegan film aksi di mana tokoh utama perempuan diculik, lalu nantinya dibawa ke lautan, dilempar dengan batu besar yang terikat di kaki. Pada akhirnya, tokoh utama prianya datang dan berhasil menyelamatkan tokoh perempuan ini. Namun Alexandra sama sekali tak ingin terlibat pada adegan romansa selanjutnya. Ia ingin bebas, secara harfiah. Dari kekangan tali dan sumpalan kain pada mulutnya.


Dalam usahanya melepaskan diri itu, tirai tersibak keras. Seorang pria dengan tubuh menjulang menatap bengis Alexandra. Sebuah rokok terselip di mulut, ujungnya telah disulut api. Asapnya membumbung hingga langit-langit yang hanya berjarak beberapa senti dari kepala botaknya. Jika ia menegakkan tubuh, maka kepala plontos dan langit-langit itu akan berbenturan.


"Gadis ini sudah sadar, Bos. Akan kita apakan?" Pria itu menengok ke belakang. Pada kursi yang tampak separuh dari sudut pandang Alexandra. Sepasang sepatu itu milik pamannya. Memang itulah orangnya, sang paman yang baru saja bangkit dari kursi, membuka tirai dengan tatapan datar, dan menjepit sebuah cerutu di mulut. Belum tersulut. Jika kedua tembakau berbentuk tabung itu dinyalakan, asapnya akan bercampur di udara dan menekan pasukan udara bersih yang tersisa.


"Bagaimana dengan tidur panjangmu. Lumayan panjang, ya? Sekarang hampir tengah hari. Kau benar-benar mendapatkan tidur yang berkualitas karena obat bius itu." Seringainya terkembang, sementara tangannya meraba-raba tubuh. Mungkin mencari korek api. Pada akhirnya ia menyerah dan menengadahkan tangan pada si pria besar gundul. Sedetik kemudian sebuah korek berpindah tangan. Davis menyalakan cerutunya. Sempat terbatuk, tetapi segera menegakkan tubuh. Berpura-pura batuk itu tak mengusiknya kendati beberapa kali pundaknya naik turun.


"Jadi, kau pasti penasaran kenapa dibawa kemari dengan kondisi seperti ini. Maka dari itu akan menjelaskannya padamu." Lagi-lagi ia menggerakkan tangan, menyuruh si pria gundul itu mengambil kursi.


"Ini lebih baik untuk menjelaskan secara rinci apa maksud kelakuanku ini. Maaf jika aku harus mengikat dan menyumpal tubuhmu. Kau tentu ingin sekali mengumpat dan menyumpahiku sejak tadi bukan?"


Alexandra jelas akan melakukan itu semua ditambah menendang kepala pamannya jika sekarang ia sedang tidak diikat. Pamannya pasti telah mengantisipasi bahwa ia tidak akan main-main jika urusan tendang-menendang, maka ia sengaja memberikan obat bius dan mengikat tubuh Alexandra kuat-kuat. Berharap dengan begitu kepala dan anggota tubuhnya yang lain terselamatkan.


"Dari mana kita memulai, ya? Bagaimana dengan kau setuju menjadi gundik atau pelayan Tuan Victor. Mengurusi bisnis bukan urusan perempuan sebenarnya. Kau cukuplah hidup dengan menjilat kaki Tuan Victor. Ia pun tampaknya sangat suka denganmu. Kau bisa dengan mudah memintanya membuatkan satu perkebunan anggur untukmu sendiri atau bagaimana. Biar bisnis keluarga ini aku saja yang menjalankan sementara anak dan istriku hanya bisa menghabiskannya."


Mulai dari itu ia mmutari ruangan sempit itu. Ia berhenti di belakang kursi, memainkan rambut Alexandra lantas bergerak lagi. Di titik ini pamannya melepas topeng, memamerkan wajahnya yang sesungguhnya.


"Bagaimana? Sejak awal Paman memang tak ingin bisnis ini dipegang perempuan. Kau mungkin tak jauh beda dengan bibimu dan Irene. Mereka boros untuk urusan penampilan, sedangkan kau mungkin akan boros untuk urusan memperkaya para pelayan dan gelandangan malas di luar sana. Aku selalu kesal tiap kali kakakku mengadakan acara amal yang sama sekali tak membawa keuntungan apa-apa. Tanpa media untuk menaikkan namanya, tanpa sponsor untuk memperluas bisnisnya, tanpa keuntungan! Dia membuang semua uang untuk menyenangkan orang lain yang tak mau berusaha. Hebat sekali."


Matanya menatap Alexandra lagi, mata gadis itu sarat akan kemarahan yang tak dapat diuraikan dengan kata-kata. Dan, mungkin akan penuh dengan kata cacian jika nantinya penutup mulut Alexandra tersebut dilepas. Melalui tatapan tajam itu saja, Davis merasakan seluruh bulu kuduknya menegang.


Davis mungkin tak akan berhenti bermonolog sampai cerutunya habis. Hal yang tak terduga justru terjadi. Ia mendekat, menarik kain penyumpal mulut itu. "Sekarang mari kita dengar bagaimana pendapat Nona Buffon yang cantik."


Alexandra tak kunjung menjawab, tatapan masih tajam. Kata-kata tak akan mempan untuk pria itu. Alexandra meludah, tepat mengenai wajah pamannya. Membuat pria itu mundur beberapa langkah, mengusap wajah sambil tertawa mengerikan. Hal yang selanjutnya ia lakukan tak membuat Alexandra terkejut. Kursi yang dibiarkan kosong sejak pria itu berkeliling ditendang keras.


"Rupanya kau butuh pelajaran sopan santun daripada pria kaya yang bisa memberimu nafkah seumur hidup. Sekarang aku mau dengar mengapa kau sama sekali tak tertarik dengan ide menjadi pelayan atau gundiknya. Sejak tadi aku menceritakan detailnya dan kau sama sekali tak tertarik. Mengapa?"


"Karena aku tahu ada sesuatu yang harus aku perjuangkan! Hak yang harusnya aku terima setelah kematian Ayah dan Ibu!"


Ia tertawa lagi. Pamannya benar-benar menunjukkan sisi yang selama ini tak pernah ia ketahui. Tersembunyi dengan apik di baik topeng wajah datarnya dan perangai tenang itu. Tak disangka ia begitu menyeramkan ketika topeng itu terlepas. Seseorang yang sangat berbeda.


"Apa kau masih akan bersikap arogan seperti itu saat aku membawa seseorang yang mungkin akan sangat mengharapkan kau pergi dari rumah dan hidup dengan Tuan Victor."


"Apa yang kau rencanakan, Paman? Kau bukan orang tak punya hati yang akan menggunakan orang tak bersalah untuk mencapai tujuanmu bukan?" desis Alexandra di akhir kalimat.


Lagi-lagi ia tertawa. Kali ini makin kencang hingga ia terbatuk. Cerutunya dimuntahkan, lantas diinjak-injak hingga tak lagi berasap. "Ah, naif sekali keponakanku yang cantik."


Ia menggerakkan tangan, menyuruh si pria plontos membuka tirai. Detik berikutnya, Alexandra dibiarkan tertegun dengan air mata yang berdesakan keluar. Di depannya, di atas kursi yang sama. Dengan tali tambang yang sama dan sumpal mulut, Nyonya Morris duduk dengan tatapan sayu. Alexandra tak mampu lagi menahan jerit dan caci maki yang ditujukan untuk pamannya. Ia mengawali pagi dengan asupan yang buruk untuk kondisi psikologinya.


To.Be.Continue