M'Lord

M'Lord
T.W.E.N.T.Y S.I.X



Jane baru saja keluar dari kamarnya dengan tatanan wajah, rambut, dan pakaian yang supermewah. Ia baru saja melihat seorang pelayan keluar dari kamar Ruby dengan membawa keranjang besar. Sekilas, ia melihat noda darah di sana. Tunggu? Mungkikan semalam Tuan Victor melakukan....


Jane segera menutup matanya, membayangkan Tuan Victor dan cambuknya yang menyeramkan itu terkadang membuat Jane bergidik ngeri. Jika sudah begitu, biasanya Tuannya sedang marah besar. Kira-kira kesalahan besar apa yang diperbuat Ruby hingga Tuan Victor melakukan aktivitas seksual kejam itu? Membayangkannya kembali membuat Jane bergidik ngeri. Ia akan bertanya pada Ruby jika waktunya sudah tepat.


"Oh, Jane. Di mana yang lain? Kita harus berkumpul untuk sarapan pagi sekaligus mendengar pengumuman langsung dari Tuan Victor. Kau koordinir mereka semua, ya." Teddy yang baru saja muncul batang hidungnya hendak meluncur pergu lagi. Namun Jane berhasil menarik lengan sang pria. Tarikan itu cukup kencang hingga nyaris menjatuhkan sang pria.


"Apa lagi?"


"Ruby sedang sakit atau bagaimana? Ia dapat masalah apa sampai-sampai tak keluar kamar sejak tadi?" Tatapan Jane menusuk. Identik sekali dengan wanita-wanita tukang gosip yang hendak berburu bahan ghibah.


Teddy mengalihkan pandangan sejenak, ia pun tahu bahwa Tuannya baru saja melakukan aktivitas seksual yang gila. Namun ia tak akan menjawabnya secara gamblang. "Kau urusi saja yang lain daripada Ruby. Apa kau mau mendapat masalah besar seperti Ruby dan mendapat perlakuan yang sama?"


"Aku hanya bertanya, kok."


"Simpan pertanyaanmu. Lakukan saja apa yang aku suruh. Sekarang aku juga menggantikan peran Ruby untuk sementara. Itu karena kau sama sekali tak becus mengatur gundik yang lain dan justru membuat masalah dengan mereka! Jangan banyak tanya dan tingkah!" Teddy melepas genggaman Jane. Ia segera melangkah ke arah yang berbeda dari sebelumnya, tetapi tiba-tiba saja berputar balik.


"Dan, jangan menyebar gosip atau Tuan akan membuatmu tak bisa bergosip lagi!" imbuh Teddy yang lantas melewati tubuh Jane sekali lagi dengan pandangan linglung.


Pagi ini Teddy tak bisa fokus karena membagi pikiran tentang Victor, Alexandra, menggantikan Ruby yang sakit, gundik-gundik lain, pekerjaan menumpuk di ruang kerja, dan banyak hal lain. Ia sampai tak dapat fokus pada satu pekerjaan saja. Baru saja dipikirkan, ia menabrak seorang pelayan yang baru saja lewat.


"Tuan Teddy, ini seragam yang katanya akan dipakai Nona Alexandra." Pelayan itu segera menghentikan Teddy yang hendak melewati tubuhnya. Sebuah seragam pelayan terulur ke arah Teddy.


"Oh, terima kasih. Aku akan berikan ini pada Alexandra." Tanpa memeriksa lebih lanjut, Teddy segera membawa seragam itu ke kamar yang hendak ditempati Alexandra. Sang gadis pun masih berdiri tanpa kegiatan berarti di depan pintu kamarnya. Entah terlalu santai atau memang belum tahu hendak melakukan apa.


"Alexandra. Ini seragam yang harus kau kenakan nanti. Nanti setelah Tuan Victor memperkenalkanmu pada seluruh gundiknya. Untuk hari ini kau masih akan menjadi tamu istimewanya. Maka bersikaplah dengan baik. Baru mulai besok kau akan bekerja sebagai pelayan."


"Iya, terima kasih."


"Kalau begitu, bersiaplah sementara aku akan menyelesaikan urusan lain. Kalau ada apa-apa kau bisa hubungi aku nanti." Teddy tampak terburu-buru, begitu seragam itu telah diterima Alexandra. Sang pria segera meluncur pergi, tak sempat mendengar kata selanjutnya yang diucapkan sang gadis.


***


Teddy mengangguk pelan. "Ya, saya berterima kasih pada pohon tumbang, tidur di penginapan tua, dan Ruby yang sakit hingga terpaksa saya yang menggantikan seluruh pekerjaannya," balas Teddy dengan alisnya terangkat satu. Ia segera memasang pose siap.


Victor kembali terkekeh, "Baiklah, hari ini adalah kedatangan Alexandra yang pertama. Pastikan gadis itu mendapatkan haknya dengan baik. Ia berhak mendapat sebuah kamar dan seorang pelayan sebenarnya. Namun karena ia sedang dalam masa percobaan dan justru ingin menjadi pelayan seorang diri, maka untuk sekarang tak perlu kau lakukan. Mengerti?"


"Baik, Tuan."


"Cukup untuk Alexandra. Beralih ke Ruby. Semalam aku baru saja membuat ia jujur dengan semua apa yang ia lakukan hingga dapat memiliki anak itu. Kau benar, ia mendapatkan bantuan medis. Sekarang anak itu tak lagi dirawat oleh agen yang terdahulu. Aku sengaja memindahkannya ke tempat yang dekat dengan kita supaya kita dapat mengawasi dan membatasi ruang gerak Ruby. Wanita itu sudah berbuat keterlaluan." Victor mendekati Teddy ia menepuk pundak pria yang lebih tinggi itu. Pundaknya terasa tegang dan Victor memaklumi. Ruby, bisa dibilang baru kali ini ada yang berbuat senekat itu demi memiliki keturunan dari Victor sendiri.


"Kalau dia macam-macam, bunuh saja anak itu. Toh, aku juga mengharapkan kehadirannya."


Teddy lemas di tempatnya. Victor memberikan tepukan terakhir di pundak sebelum memberikan Teddy isyarat meninggalkan kamar. Untuk sesaat, Teddy memahami betapa menakutkannya pria ini. Bahkan seorang anak yang berdaya pun dapat ia korbankan jika kehadirannya dianngap mengusik Victor sendiri. Bahkan jika anak itu adalah anak biologisnya.


Mengekori sang pria, kini mereka berpindah ke ruang makan utama. Begitu Victor memasuki ruangan. Ia mendapati tak semua kursi di sana terasa penuh. Jane duduk menggantikan tempat Ruby, lantas berurutan Ivanka, Eliza, dan yang terakhir Ling. Alexandra belum tampak batang hidungnya.


"Kenapa Alexandra belum ke sini?" tanya Victor.


"Akan saya lihat dulu, Tuan. Ia mungkin masih ada di tempatnya." Teddy hendak berangkat, tetapi Victor menahan langkahnya.


"Biar aku saja, kau di sini saja bersama yang lain. Aku akan mengeceknya sebentar sembari menggodanya sedikit." Kalimat terakhir diucapkan dengan berbisik ke telinga Teddy.


"Tuanku, bukankah sebaiknya Anda tetap di sini? Biar Teddy saja yang menjemput Alexandra. Bukankah mereka berdua terlihat cukup akrab?" suara Ivanka menyela. Ia mengangkat tangan dan menahan langkah Victor.


Victor sendiri sadar bahwa wanita itu akhir-akhir kekurangan perhtian darinya. Ia hampir dibuat pusing oleh Alexandra, Ruby, dan Jane. Sehingga wanita itu mungkin merasa pembagian jatah bermalam tidak lagi adil. Sekarang dengan kehadiran Alexandra, posisinya mungkin saja terancam. Alarm tanda bahaya itu telah berbunyi.


"Kau tak perlu cemas, bukannya aku akan memerawaninya atau bagaimana. Aku hanya akan menjemput Alexandra ke sini saja."


Itu adalah keputusan final, bahkan sebelum Ivanka hendak menahannya lagi, Victor telah meninggalkan ruang makan. Ivanka lagi-lagi kalah. Ia mungkin sudah kehilangan tempat di hati pria itu. Teddy menatap punggung Tuannya yang menghilang di balik pintu. Mungkin itu adalah kali pertamanya melihat Tuannya begitu menyayangi gundiknya. Ia menggigit bagian dalam bibir dengan rasa membuncah. Mungkinkah Tuannya benar-benar akan mengakhiri pencarian beratus tahun yang selama ini ia lakukan?


To.Be.Continue