M'Lord

M'Lord
F O U R T Y E I G H T



Victor terbangun entah pada jam berapa, saat itu pula ia mendapati kerongkongannya menjerit minta diguyur air. Dengan langkah gontai, ia terbangun. Selimut yang membalut tubuhnya terjatuh begitu saja ke lantai. Tunggu, ia tidak ingat mengenakan selimut tadi. Ah, mungkin Teddy yang melakukannya. Sekarang pria itu pasti telah tidur dengan nyenyak di kamarnya. Sehabis minum, Victor pun akan kembali ke kamar dan tidur. Kalau bisa, ia ingin tidur dan bersantai saja untuk dua atau tiga hari ke depan. Serangkaian kejadian memusingkan yang terjadi akhir-akhir ini membuatnya enggan melakukan apa pun.


Lorong yang ia lalui ke dapur temaram dan sepi. Sebagai orang yang telah menghabiskan ratusan tahun hidup di dunia, Victor tak lagi menaruh ketakutan pada gosip-gosip makhluk gaib yang menyebar di seluruh kastel. Toh, manusia lebih menakutkan daripada makhluk-makhluk tak kasat mata tersebut. Itulah mengapa ketika Victor mendengar gemerisik perkakas di dapur, ia tak berbalik arah. Justru karena kedatangannya di dapur, sosok yang membuat bunyi-bunyian itu justru menjerit kaget. Pun dengan Victor yang sesaat memegang dadanya secara refleks.


"Tuan..., apa yang ada lakukan di sini?" Alexandra memeluk plastik yang menggembung. Ada beberapa buah roti menyembul dari dalam sana. Begitu menyadari ke mana arah pandang Victor, Alexandra segera meletakkan plastik tersebut secara kasar ke sembarang tempat. Ia tertangkap basah sedang mengutip makanan dari dapur.


Victor berdeham sembari menyeringai jahil. "Tak kusangka, ada seekor tikus besar sedang mencuri makanan di dapurku."


Alexandra menunduk. Dari helaian rambut-rambutnya yang turun, Victor dapat melihat sang gadis tengah meringis. Ia pun terkekeh pelan.


"Tikus ini lidahnya dimakan kucing sehingga dia sama sekali tak bisa berkata-kata. Jadi, bisa kauberikan bungkusan plastik itu? Aku ingin tahu apa saja yang sudah kauambil."


Mati kau Alexandra!


Sementara Alexandra menyerahkan plastik hasil jarahannya, Victor berulang kali berusaha menahan tawa. Padahal dulu gadis ini galaknya minta ampun. Apa yang membuat Alexandra menjadi penurut seperti ini


"Ada dua potong roti, satu buah sosis, satu botol saus tomat, tiga butir buah apel, empat lembar keju, dan satu botol besar susu. Apa kau mau piknik?" Victor tak kuasa meledek Alexandra setelah memeriksa isi plastik sang gadis. Ia memiliki nafsu makan yang cukup besar rupanya.


"Tidak, Tuan," sahut Alexandra lirih, akan tetapi Victor masih bisa melihat bahwa gadis itu sedang memberengut kesal.


"Kau pasti baru bangun setelah tertidur seharian. Wajar saja kalau kau lapar. Terlebih lagi karena tidak ada Teddy selama satu hari ini, aku tak bisa memonitori kalian satu per satu. Kau pasti tidak kebagian jatah makanan bukan?" terka Victor yang segera dibalas dengan anggukan kencang Alexandra. Entah mengapa raut wajah sang gadis menjadi semakin kesal. Mungkin karena ia terlewat makan malam.


"Mau makan sesuatu yang hangat? Aku akan memasakkanmu sesuatu," ujar Victor yang lantas mengembalikan plastik tersebut kepada Alexandra.


"Eh, Tuan ingin memasakkan sesuatu untukku?"


"Ya, sebenarnya aku ingin minum. Tapi karena kau juga ada di sini dan kelaparan, aku jadi ingin masak juga. Rasanya sudah lama sekali sejak terakhir aku memasak," Victor melirik Alexandra dengan tatapan menggoda, "ini akan jadi kehormatan buatmu karena mencicipi masakanku."


Alexandra meringis. Bukannya ia merasa tersanjung karena Victor yang menawarkan masakan untuknya, tetapi karena ekspresi yang ditujukan pria itu sebelumnya. Perpaduan antara wajah menggoda dan wajah menyebalkan. Rasanya ingin sekali Alexandra tampar wajah menyebalkan itu.


"Aku akan masak sesuatu yang sederhana saja supaya kau tak menggila karena menunggu terlalu lama. Duduklah di sana dan nikmati dulu makanan seadanya. Masakan untukmu akan siap kurang dari sepuluh menit." Victor mendorong punggung Alexandra menjauh dari kompor. Didorongnya Alexandra menuju meja terdekat, lantas menggerakkan gadis itu agar duduk.


"Tuan, Anda tak perlu melakukannya," ujar Alexandra ketika pria tersebut kembali bergerak mendekati kompor.


Victor mengangkat tangan sebagai isyarat agar Alexandra tak lagi berisik. "Aku melakukannya bukan untuk dirimu, tapi untuk mengetes apakah kemampuan masakku masih sebagus dulu."


Alexandra mencebik. Ia tak yakin jika pria itu bisa memasak dengan baik. Daripada mengkhawatirkan rasa masakan Victor sedangkan cacing di perut makin menjerit, Alexandra menjejalkan roti ke dalam mulutnya. Rotinya kering dan mulai terasa keras. Jika membayangkan masa lalu Victor yang menyedihkan, sesaat Alexandra merasa bersyukur karena melalui masa kecilnya tanpa kekurangan. Punggung Victor terlihat begitu santai ketika asap masakan mengenai wajahnya. Seolah ia memang sudah terbiasa memasak.


Kira-kira, apa pendapat Marion jika tahu suaminya sedang memasak untuk perempuan lagi? Alexandra tak tahu kapan wanita itu akan menemuinya lagi melalui mimpi. Selama ini, Marion datang tanpa diprediksi. Datang sesuka hati, pergi pun seenak hati pula. Memang, selama ini Marion memang memberikan sepotong demi sepotong petunjuk mengenai masa lalu suram Victor. Wanita itu menghendaki Victor kembali ke jalan yang lurus.


Alexandra berperan sebagai media. Mengapa harus melalui dirinya dan bukannya datang langsung ke mimpi Victor? Terlalu banyak pertanyaan jika menyangkut Marion dan masa lalu kelam Victor. Namun, jika memang ia digariskan menjadi media penghubung atas harapan Marion itu, maka Alexandra tak bisa menolak. Apakah karena ia mirip dengan Marion sehingga ia yang terpilih? Bukannya masih ada Pak Gilberth yang sudah mengenal Victor sejak lama? Lalu, Teddy?


Ah, menyebut nama itu, serasa ada sebuah lubang di hati Alexandra. Mereka berdua mendadak canggung, Teddy semakin melebarkan jarak, dan Alexandra di satu sisi tak ingin membuat pria itu terlibat dalam masalah. Namun, bagaimanapun, ia tetap tak bisa mempertahankan hubungan canggung ini. Setidaknya mereka harus sedikit "berdamai", Alexandra menganggap Teddy sebagai satu-satunya teman. Para gundik lain, tak akan pernah bisa menjadi temannya. Kehilangan Teddy, akan membuatnya kesulitan bertahan hidup di sini.


"Belum makan sudah melamun? Apa yang sedang kaulamunkan?" Tanpa Alexandra ketahui, pria itu telah menata beberapa piring di hadapan Alexandra. Victor menuang telur orak-arik di atas piring. Lalu dari wajah lain, ia menuangkan beberapa potong sosis dan ham yang telah digoreng hingga matang.


"Iya, terima kasih kemurahan hati Anda, Tuanku." Alexandra sebenarnya ingin sedikit berdebat karena lawakan itu, tetapi perutnya lebih penting sekarang. Benar kata Victor, ia bisa mati kalau tak segera makan.


"Nikmati makananmu," balas Victor sembari mengambil air mineral dari dalam kulkas.


"Anda tak ingin makan, Tuan?"


Victor menggeleng pelan. "Ada alasan kenapa aku bersedia memasakkanmu sesuatu. Mau mendengar sedikit ceritaku?"


Ah, udang di balik batu. Pasti pria ini sengaja memanfaatkan kelaparan Alexandra untuk pendekatan. Laki-laki zaman sekarang tak pernah melakukan apa pun secara tulus. "Ya, saya tak keberatan."


Pada akhirnya Alexandra juga tak menolak. Victor duduk berhadapan dengan Alexandra. Sedangkan sang gadis tak kunjung menyentuh hasil jerih payah Victor berpanas-panasan dengan asap dan cipratan minyak.


"Aku ingin melihatmu makan," ujar Victor tanpa basa-basi lagi. Perkataan Victor membuat Alexandra mengangkat sebelah alisnya bingung. Victor berdeham sebelum meneguk air mineral dinginnya lagi.


"Aku ingin melihatmu makan, jadi makanlah sekarang sebelum aku berinisiatif menyuapimu." Penekanan Victor pada kata menyuapi mendorong Alexandra mengangkat sendok, lantas mengambil telur orak-arik yang masih berasap itu. Ia tiup sebentar sebelum dijejalkan ke dalam mulut dengan agak terpaksa.


Rasanya enak, jadi tidak terlalu buruk. Alexandra cukup menyukainya. Kendati ia harus makan dalam keadaan diamati Victor. Setiap gerakannya diawasi oleh pria berusia ratusan tahun itu. Seolah Alexandra adalah objek penelitian. Sungguh tidak nyaman. Sebuah senyum teduh, terbit di wajah sang tuan. Kunyahan Alexandra otomatis melambat karena senyuman Victor. Entah kenapa.


"Kau makan dengan sangat baik, ya?" Victor meneguk air mineralnya lagi.


"Ya, ini cukup enak. Tak terlalu buruk."


Victor mendengkus, bukan dalam artian kasar. Wajahnya masih santai. "Aku bisa masak lebih enak jika tidak terburu-buru. Lain kali, akan kubuatkan masakan yang lebih enak."


Alexandra tersedak. Lain kali? Lain kesempatan di mana ia makan sambil diamati seperti ini? Orang mana yang bisa makan dengan nikmat jika dipantau tiap detiknya dengan tatapan teduh itu? Gelas air minum milik Victor berpindah ke sisi piring Alexandra. Beberapa tegukan kasar, lantas isi gelas itu lompong. Ia kembali mendapat tatapan penuh arti Victor.


"Bagimu, mungkin itu terasa aneh, Alexandra. Mengamati orang makan bak sedang menatap lukisan indah untuk dikagumi. Tapi bagiku, itu sudah jadi bagian dari masa lalu yang aku rindukan." Victor mengetukkan telunjuknya di atas meja, sesekali matanya akan bergerak mengelilingi ruangan sembari menarik napas dalam. Ini adalah saat-saat yang cukup emosional baginya.


Alexandra pun terbayang dengan salah satu ingatan ketika Victor menyuapi Marion roti kering. Victor sama sekali tak berkedip ketika menyuapi istrinya yang lemah di atas tempat tidur. Mungkin itulah alasannya.


"Dulu, ketika istriku masih hidup, ia sakit-sakitan. Ditambah lagi dengan datangnya wabah penyakit. Ia semakin terbaring lemah di atas ranjang pesakitan. Aku selalu bertanggung jawab atas apa pun yang ia makan. Aku akan menyuapinya. Mengelap sisa-sisa makanan yang menempel di wajahnya. Lalu, selagi ia makan, kupandangi dirinya seperti ini. Dan, itu adalah salah satu saat-saat paling indah yang pernah kami miliki," terang Victor sembari menahan air matanya.


"Tuan...."


"Ah, aku hanya ingin melihatmu makan dengan enak dan baik. Hal yang dulu sama sekali tak bisa kuberikan padanya karena kami sangat miskin. Habiskan makananmu, aku akan tidur lagi." Victor bangkit dari tempatnya duduk.


Namun, ia tak kunjung pergi. Justru memandangi Alexandra cukup lama, sebuah senyum tercetak di wajah ngantuknya. "Kau memang belum dewasa, ya?"


Jemari Victor terulur menyentuh wajah Alexandra. Ibu jarinya mengusap sudut bibir sang gadis yang tengah terduduk kaku di atas kursinya. "Pada akhirnya aku mengelap sisa-sisa kecerobohan seorang gadis nyaris dewasa."


Ketika Victor telah meninggalkan dapur, Alexandra menjatuhkan wajahnya di atas meja. Merutuki betapa ceroboh dan kekanakannya karena makan tak rapi seperti seorang bocah.


To.Be.Continue