M'Lord

M'Lord
S.E.V.E.N.T.E.E.N.



Pada malam hari, bagian dalam kastel berubah menjadi sebuah aula pesta kecil. Kandelar yang menggantung di langit-langit, lampu-lampu sepanjang dinding menyala, dan para pelayan masih berseliweran sepanjang koridor. Makan malam hari itu lebih spesial daripada biasanya. Sebagai perayaan dua tahun kedatangan Ivanka, wanita itu tak ingin makan malam kali ini standar seperti hari-hari biasa. Ia memesan kalkun paling besar, beberapa lobster kualitas terbaik, caviar, beberapa botol wine, dan hidangan mahal lainnya.


Jane sendiri memutar mata bosan. Ia tak terkesan dengan betapa telitinya wanita yang lebih muda itu dalam mengatur pestanya sendiri. Malam ini ia masih memiliki rencana untuk mengalihkan perhatian Tuan Victor dari Ivanka. Enak saja, sudah berminggu-minggu Tuan Victor tak pernah mengunjunginya saat operasi, kini ketika operasinya sudah mendapatkan hasil yang baik justru Ivanka yang akan mendapat kesempatan semalaman dengan Tuan Victor. Apakah ia tidak tahu yang namanya senioritas?


"Pandanganmu sangat tajam, Jane. Kau bisa melubangi kalkun itu jika terlalu lama menatapnya seperti itu," tegur Ruby yang baru saja datang ke ruang makan. Ia selalu dengan tampilan biasa. Kemeja panjang dengan lengan model trompet, rok panjang dan sepatu hak tahu yang selalu di bawah lima centi. Ada sepasang lensa kacamata berlapis yang menjadi alat bantu penglihatannya.


"Ah, kau tahu sendiri kalau aku sedang diet, haha." Jane mengakhiri kalimatnya dengan tawa renyah. Namun Ruby tak tampak yakin dengan ucapannya barusan.


"Makanlah sepuasmu. Asal jangan membuat keributan apa pun. Ini hari penting bagi Ivanka. Kau tak akan membuat masalah dengannya bukan?"


Tepat mengenai sasaran. Ruby memang tak pernah gagal menilai seseorang dan memahami kondisi sekitarnya. Ia mungkin kutu buku, tetapi kemampuannya membaca situasi dan gerak-gerik seseorang patut diacungi jempol. Mungkin karena ia terbiasa diam dan mengamati dalam keheningan itu.


"Hei, aku tak berniat seperti itu!" protes Jane walau sebenarnya memang ia memiliki niat demikian. Ada sebuah botol obat pencahar yang akan ia campurkan ke minuman Ivanka. Dengan begitu ia tak dapat melayani Tuan Victor dan pria itu dapat ia miliki untuk semalam ini.


Ruby memperbaiki kacamatanya yang sempat merosot, lantas memandangi Jane lekat-lekat. "Aku harap begitu."


Wanita itu melewati tubuh Jane. Ia menghampiri Ivanka yang tengah sibuk menata piring. Ruby memang selalu mencoba akrab pada siapa pun. Ia tak mengenal apa itu prinsip senioritas. Kendati ia yang dituakan di antara para gundik lain, tetapi jika ia melakukan kesalahan, dengan besar hati ia akan mengakuinya. Jika salah satu dari gundik lain memiliki kelebihan dibandingkan dengannya, ia juga tak akan berkecil hati. Ia merangkul semua gundik Tuan Victor, tak ingin salah satu dari mereka merasa ditinggalkan. Ia yang paling dewasa. Dan, Jane sering tak menyukainya.


"Jane, kau tak bergabung dengan mereka?" Eliza baru saja memasuki ruang makan bersama Ling. Dua wanita muda itu sudah seperti kakak beradik yang ke mana-mana selalu berduaan. Jane juga tak menyukai keduanya. Bisa saja mereka menyimpan rencana busuk untuknya. Mereka berdua bahkan mengikuti langkah Jane operasi mata. Pada akhirnya tiga orang gundik di rumah itu memiliki mata yang sama persis dengan potret mendiang istri Tuan Victor.


Pria itu murka? Jelas. Membuang-buang uang demi mengubah bentuk wajah mereka agar menyamai mendiang istrinya adalah sebuah penghinaan. Tuan Victor hampir saja mengusir mereka bertiga kalau bukan kata-kata lembut Ruby yang menyebut bahwa bentuk mata seperti itu memang sedang digemari. Intinya ia meyakinkan bahwa mereka bertiga sebenarnya sedang mengikuti tren operasi plastik dan bukannya hendak meniru wajah mendiang istri Tuan Victor. Walaupun sejatinya Ruby tahu bahwa niat Jane adalah memang demikian. Meniru wajah mendiang istri Tuan Victor agar semakin disayang.


"Kalian duluan saja, aku akan di sini. Mengamati keadaan."


Ling mencibir, "Bilang saja kau tak mau membantu Ivanka dan Ruby."


Eliza menepuk bahu Ling kencang, memperingatkan agar Ling tak mengawali perkara. Namun terlambat, karena Jane telah naik pitam lebih dulu. Ia membusungkan dada, menabrak Ling hingga terjatuh ke lantai.


"Apa maksudmu dengan bilang seperti itu padaku?! Tak pernah diajari sopan santun, ya? Dasar sipit!" bentak Jane marah.


"Aku baru saja bilang padamu untuk tidak membuat keributan. Tapi sekarang apa yang kau lakukan?" Ruby melerai keduanya. Jane masih tidak terima sedangkan Ling mulai mengambil langkah mundur dan berlindung di belakang Ruby.


"Dasar pengecut! Bersembunyi di belakang Ruby dan tak mau melawanku secara langsung!"


"Kau juga dada bata! Kenapa tak bisa menahan diri? Kau sudah dewasa, eh, tua. Kenapa tak bisa bersikap sesuai usia?"


Ruby menatap tak percaya Ling yang ikut memperkeruh situasi. Ia menghentakkan sepatu keras-keras ke lantai ketika dua wanita itu kembali saling adu mulut. Kesabarannya telah habis, ia tak ingin dua orang ini membuat keributan di hari penting Ivanka. "Kalian pilih aku yang memberikan solusi agar diam atau biar Tuan saja? Aku yakin ia tak akan keberatan membuang dua nama gundik demi satu gundik baru yang lebih berpendidikan."


Jane dan Ling segera bungkam. Tanpa mengucap apa-apa lagi mereka memisahkan diri. Ruby masih belum melepaskan pandangannya dari Jane. Sebuah botol yang nyaris jatuh dari saku Jane segera direbut paksa. Jane nyaris kena serangan jantung saat Ruby mengambil botol itu. Ruby menatap botol itu serius dan Jane secara bergantian. Ruby tak berkata apa-apa lagi. Botol itu berpindah memasuki kantongnya, sementara Ruby membuat gestur akan selalu mengawasi Jane.


Jane beruntung Ruby tak membawa masalah obat pencahar itu lebih jauh. Ia memang sangat dewasa, mungkin masalah ini akan mereka pendam berdua daripada menyebar ke gundik lain. Ruby melanjutkan niatnya membantu Ivanka. Ia menepuk pundak Ivanka lembut, memberikan semangat pada Ivanka bahwa malam ini semuanya akan berjalan dengan lancar. Ling dan Eliza ikut membantu sedangkan Jane memilih menepi di sudut ruangan dan bermain ponsel. Tak lama, Teddy memasuki ruang makan.


"Semuanya sudah berkumpul, 'kan?" Teddy lantas memberikan isyarat agar semua gundik itu berkumpul dalam satu lingkaran. Baru setelah itu ia mengawali pemberitahuan penting. "Karena semuanya sudah berkumpul malam ini, maka Tuan akan memberikan pengumuman penting malam ini. Aku tahu bahwa ini adalah malam yang penting bagi Ivanka. Tapi Tuan menganggap bahwa jika niatan ini diumumkan lebih cepat, maka akan lebih baik."


Pandangan Teddy bergulir ke arah Ivanka. Wanita itu mengangguk patuh. "Bukan masalah, terlebih lagi rumor itu sudah berembus selama beberapa hari terakhir. Tuan tentu mempertimbangkan bagaimana media memberitakan bahwa ia akan menambah gundik lagi."


"Baiklah, karena sekarang kalian semua sudah siap, tolong bersiap. Biar pelayan yang menyelesaikan seluruh persiapan pesta ini. Kalian duduk saja menanti Tuan Victor turun. Mungkin sepuluh atau lima belas menit lagi ia akan ke sini. Jadi kalian bersiap-siap saja. Nona Ruby kau selalu rapi seperti biasa, tapi kau terlalu biasa juga. Pakailah sedikit perhiasan dan pakai riasan. Yang lain sudah tampak bagus, hanya saja Nona Jane selalu berlebihan seperti biasa."


Seluruh pasang mata beralih ke arah Jane. Wanita itu mengenakan setelah pakaian warna merah muda berkilau. Ada lubang berbentuk hati di bagian dada. Bermaksud untuk memamerkan dada 'barunya'. Sepatu hak itu mungkin tingginya ada tujuh centi dan sama-sama berkilau. Riasannya tak kalah ramai. Apalagi aroma parfumnya yang sesaat membuat Teddy terbatuk.


"Tutupi dadamu dan jangan pakai parfum lagi." Teddy menutup hidung. Eliza dan Ling nyari kelepasan tertawa. Ruby dan Ivanka tersenyum canggung.


"Baiklah! Aku akan ganti baju!" Jane menghentakkan kakinya ke lantai. Ia meninggalkan ruang makan dengan langkah besar-besar. Tak sadar jika pergerakannya membuat dadanya ikut bergerak seirama.


Alih-alih terpukau, Teddy justru terkekeh. "Semoga silikon barunya tidak pecah," ujarnya sinis yang segera disambut dengan tawa wanita lain. Ruby pun undur diri untuk memperbaiki penampilannya. Pun dengan Teddy yang juga pamit untuk mengecek kondisi Tuan Victor.


To.Be.Continue