M'Lord

M'Lord
F O U R T Y T H R E E



Teddy tak menyangka dipertemukan dengan Alexandra lagi dalam suasana yang tak terduga. Napasnya naik turun, entah mengapa waktu berjalan begitu cepat. Ia hanya mengingat sebuah tendangan kilat Alexandra nyaris mematahkan hidungnya. Ingatan satu detik setelahnya tak tersisa. Begitu tersadar, ia sedang berbaring di ranjang klinik dengan plester besar menutupi kening.


Jam dinding yang menggantung di tembok menunjukkan bahwa satu jam telah terlewat. Satu kesimpulan muncul: Ia pingsan karena sedikit insiden yang diakibatkan oleh Alexandra. Kesimpulan itu semakin diperkuat oleh kalimat panjang Lily.


"Kau pingsan setelah tak sengaja menabrak treadmil saat menghindari tendangan Alexandra. Beruntungnya kau tak apa-apa. Ling dan Eliza panik, sedangkan Alexandra lebih parah lagi, mungkin karena ia merasa bersalah. Secara tak langsung ia membuatmu pingsan bukan? Alexandra pun mendapat sedikit masalah karena kau pingsan," terang Lily sembari membantu Teddy bangkit dari posisi tidurnya.


"Aku hanya berharap ia tak melakukan hal-hal yang bodoh untuk sekarang ini." Teddy mengusap wajahnya kasar, di satu sisi ia khawatir jika Alexandra menimbulkan masalah. Di sisi lain ia malu karena gagal menunjukkan sisi kuatnya. Ah, menunjukkan sisi jantan dengan pamer kekuatan juga tak akan mengubah apa pun. Ia akan tetap di posisi yang sama, menatapi Alexandra dari kejauhan.


"Sebenarnya karena tendangan itu dan aktivitas berat lain, luka di telapak kakinya terbuka lagi. Mau tak mau aku haru melakukan perawatan yang sama padanya. Padahal tadi pagi buta jam enam kurang dia sudah ke sini," tandas Lily yang lantas beranjak ke ranjang samping. Ia membuka tirai, lantas menunjuk Alexandra yang tengah tidur nyenyak.


"Ketika Tuan mendapati kau pingsan, ia juga melihat kalau telapak kaki Alexandra berdarah lagi. Jadi dia memintaku merawat kalian. Kau tahu sendiri kalau dia tak bisa diam, jadi kucmpurkan saja obat tidur ke dalam tehnya. Sekarang dia akan tidur seharian seperti bayi," sambung Lily.


Kening Teddy agak berkerut. Ia masih memiliki ingatan buruk tentang ramuan yang dimasukkan ke dalam minuman Alexandra. Waktu itu, Jane tetap menjadi orang pertama yang Teddy curigai. Jane tak pernah segan memasukkan obat pencahar ke minuman gundik lain, maka dari itu seluruh kecurigaan Teddy mengarah pada wanita itu. Namun, mendadak ia meragu. Jane tak pernah bisa main secara rapi, ia selalu menggunakan tangan sang pelayan. Lalu ketika kejadian air mineral bercampur afr*sdiak itu, pelayan Jane tak bisa meninggalkan nonanya. Lantas siapa dari kelima gundik yang tersisa?


"Lebih baik kau istirahat sebentar, Teddy. Kau melamun lagi. Apa ada urusannya dengan pekerjaan?" tanya Lily.


"Ah..., ya, aku memang sedang banyak hal yang harus diselesaikan. Aku sudah mengambil cuti setengah hari, pekerjaanku jadi menumpuk gara-gara itu." Tentu saja ada banyak kebenaran yang disembunyikan Teddy di balik kalimat itu.


"Jangan rusak tubuhmu dengan stres, ambil cuti lagi dan kaburlah sementara. Aku lihat luka di lehermu membekas sangat tebal. Apa kau bertengkar dengan seseorang. Kau masih mau menyangkal?"


"Ini bukan sebuah hal yang bisa dibesar-besarkan. Tentu saja pria selalu punya lawan bukan?"


"Lawan asmara?" balas Lily yang segera diakhiri dengan gelak tawa.


Sebuah senyum masm terulas di wajah Teddy. Lily tak begitu memperhatikan kesan tak nyaman di wajah tampan sang sekretaris. Perawat itu telah lebih dulu meninggalkan tempatnya semula. Agaknya, Lily benar-benar memberikan waktu bagi Teddy agar dapat sedikit bersantai di tengah kepenatan rutinitas sebagai sekretaris yang tiada akhir. Teddy kembali merebahkan tubuhnya di ranjang. Ia bersiap tidur. Namun, dengkuran lembut yang berasal dari ranjang samping membuyarkan niatan tidurnya.


Teddy menatap Alexandra lamat-lamat, tatapannya teduh. Namun, di kedalaman mata itu ia menyimpan begitu banyak kesedihan. Tentang cintanya pada Alexandra yang tak mungkin menjadi nyata, statusnya sebagai asisten pribadi Victor, dan mengapa mereka harus bertemu seperti ini? Mengapa Alexandra harus terlahir memiliki wajah yang mirip dengan mendiang istri Victor? Mengapa ia harus menjadi asisten pribadi Victor? Seluruh pertanyaan 'mengapa' itu sedikit-sedikit melubangi hati Teddy makin dalam dan lebar.


Ia tak bisa menyalahkan takdir yang telah digariskan-Nya. Ia bukan Victor yang memiliki daya untuk mencurangi kehendak Sang Pencipta. Pun, Victor bukannya dapat mengubah takdir cintanya sendiri kendati dapat hidup beratus tahun. Bagi Teddy, Victor adalah seorang suami yang sangat menyayangi istrinya. Segala upaya ia lakukan, bahkan melewati ratusan tahun demi berjumpa lagi. Bukankah pertemuan Victor dengan Alexandra sangatlah manis? Lamunan Teddy terusik oleh Lily, kali ini perempuan itu menatapnya khawatir.


"Teddy," panggil Lily yang masih tersambung dengan panggilan melalui telepon kabel.


"Apa?" tanya pria itu balik.


"Ini dari kepolisian, mereka bertanya apa kau mengetahui keberadaan Nyonya Morris?"


Sebelah alis sang pria naik. Ia bahkan sudah dan masih menunggu kabar wanita tua itu selama berhari-hari, tetapi belum juga mendapat kabar. Namun, kini ia mendapat firasat bahwa sang pelayan veteran telah menghilang. Teddy bangun sembari memegangi kepala. Pandangannya berputar dan mengabur ketika bangkit dari ranjang. Sembari mengerutkan kening, ia mengambil alih gagang telepon.


"Apakah ini dengan Teddy?" tanya suara seorang pria di seberang telepon.


"Ya, ada yang bisa saya bantu?"


"Ya, kami hanya bertemu sebentar," Teddy menjeda kalimatnya, sebenarnya ia sudah beberapa kali bertemu Nyonya Morris di luar sepengetahuan Alexandra demi mengumpulkan informasi tentang keluarga Buffon dan memberikan alat mata-mata pada sang wanita tua, "tetapi cukup sering. Memangnya apa yang terjadi sampai ia menghilang?"


"Kami tak bisa memberitahukan Anda. Tetapi, bisakah Anda pergi ke kantor polisi? Ada beberapa pertanyaan yang harus kami sampaikan."


Teddy kembali menggosok rambutnya lelah. Walaupun pada akhirnya ia menjawab, "Baiklah. Saya akan berusaha datang hari ini."


***


Victor sedang duduk di meja kerjanya dengan dua tumpukan kertas tinggi di kanan dan kirinya. Ekspresi pria itu seperti sebotol soda yang dimasukkan permen ment*s. Meledak. Bukannya ia kesal karena Teddy pingsan dan tak dapat mengerjakan seluruh tagihan ini, tetapi ia merasa payah karena tak bisa mengerjakan satu pun perhitungan tanpa bantuan Teddy. Tepat ketika ia hampir membuang seluruh kertas itu ke lantai, ketukan pintu sekaligus suara Teddy menginterupsi.


"Tuan, saya baru saja dihubungi kantor polisi. Ini ada hubungannya dengan Nyonya Morris." Teddy bergegas masuk, ia bahkan belum sempat mengganti pakaian olahraganya. Apalagi mandi.


Victor menutup hidung begitu Teddy mendekati meja. "Setidaknya, mandilah dulu."


"Maaf, Tuan. Saya hanya ingin melapor lebih cepat."


"Jadi, apa kata kantor polisi?"


"Dia menghilang, Tuan."


"Bahkan ia belum sempat melaporkan apa pun pada kita."


Ekspresi Victor dan Teddy mendadak mengeras. Mereka telah terpikirkan skenario terburuk. Nyonya Morris bisa saja meninggal. Entah secara alami ataupun karena campur tangan manusia, atau justru karena kecerobohan sendiri. Tentu saja nama Davis Buffon yang pertama kali terlintas jika benar Nyonya Morris meninggal.


"Pergilah ke kantor polisi. Jangan berpenampilan mencolok seperti biasa. Pakailah pakaian santai dan jangan sampai ada yang mengikuti. Aku yakin sekali bahwa Davis Buffon ada hubungannya dengan hal ini," terang Victor.


"Baik, Tuan." Teddy mengangguk paham, ia membungkukkan kepala sebentar, bersiap-siap pergi.


"Tunggu, Teddy," sela Victor.


"Iya, Tuan."


"Apa pun yang terjadi, jangan sampai Alexandra tahu. Biarkan ini jadi rahasia di antara kita berdua. Peringatkan perawat itu untuk tutup mulut."


Teddy mengangguk paham. Tentulah Victor tak ingin Alexandra bersedih karena kabar yang mendadak ini. Tuannya, mungkin ia sangat menyukai Alexandra. Bahkan bisa saja mencintai gadis itu sebagaimana mencintai mendiang istrinya, Marion. Ada segaris senyum penuh luka di wajah sang sekretaris. Bagaimanapun juga, ia telah melewati garis tebal itu. Mencintai gundik Tuan Victor. Namun, setidaknya ia akan menahan diri. Rasa itu biarkan terus bertumbuh, tetapi ia tak akan membiarkan cintanya dipetik. Bahkan jika nantinya gadis itu meminta.


To.Be.Continue