
Perjalanan menuju kantor polisi di kota asal Alexandra memakan waktu lebih dari kurang lebih lima jam jika menggunakan jalur tembusan yang sekarang telah resmi dibuka. Sedikit memangkas waktu, tetapi sekarang ia sedang berpacu dengan waktu. Hilangnya Nyonya Morris memiliki keterkaitan dengan Davis Buffon. Secara tak langsung membawa kemungkina jika pria tersebut telah melakukan hal yang lebih buruk dari bayangan Teddy. Lebih kejam dari penculikan, kemungkinan besar adalah pembunuhan. Sembari mengendalikan kemudi, Teddy tak dapat menghilangkan spekulasi terburuk itu. Jika benar Davis membunuh Nyonya Morris, maka mereka kehilangan mata-mata. Informasi yang sebelumnya dikutip wanita tua itu pun hilang sebelum sampai ke tangannya ataupun Victor.
Lima jam lebih duduk berkonsentrasi dengan jalanan selagi dihantui dengan banyak firasat buruk, Teddy kehilangan banyak tenaga. Ia membelokkan mobil ke salah satu minimarket. Seharusnya tak kurang dari sepuluh menit lagi, kantor polisi telah berada di depan mata. Namun, Teddy tak dapat menahan dahaga yang sejak tadi menggelayuti tenggorokan. Dua buah botol air mineral dingin dan sebungkus roti lapis hendak dibawa ke meja kasir. Belum sempat Teddy mendekati meja kasir, seseorang menarik tangannya. Hanya percobaan, karena dengan ukuran tubuh dan tenaga Teddy, sang penarik tak kuasa melakukannya. Teddy pun tak heran karena pelaku penarikan itu adalah perempuan muda. Sebuah jaket bertudung menyembunyikan identitasnya.
"Apa yang kau inginkan dariku?" tanya Teddy waspada.
Perempuan itu menurunkan tudung yang menaungi wajahnya. Ekpresinya dipenuhi ketakutan dan keraguan. Teddy tak menyangka akan bertemu dengan perempuan ini di sini. Seseorang yang mungkin tak akan pernah Alexadra harapkan kehadirannya. Irene Buffon.
"Bisakah kita bicara berdua saja? Ini penting." Meluncur saja dari bibir pucat Irene. Seluruh wajahnya dibiarkan polos tanpa pulasan bedak dan teman-temannya. Sebuah hal yang cuku menarik ketika perempuan ini selalu lekat dengan imej penampilan yang paripurna. Teddy menertawakan dalam hati penampilan Irene yang tak jauh beda dengan tunawisma. Jaket bertudung warna abu-abu pudar. Sepasang sepatu yang telah dipenuhi noda. Tak ada aroma pafum mahal di tubuhnya. Ia benar-benar tak dapat dikenali sebagai anak tunggal pemimpin bisnis keluarga Buffon.
"Sepenting apa sampai Anda berpenampilan seperti tunawisma Nona Irene?"
Perempuan itu memberengut mendengar kata tunawisma, tetapi tak lama. Segera tergantikan dengan ekspresi mengiba. "Tolong jangan sebut namaku. Bisa kita keluar sebentar?"
"Baiklah, setelah aku membayar ini. Kau tentu tidak keberatan bukan?" Teddy mengangkat minuman dan roti lapisnya yang masih tersegel dan belum terbayar.
"Aku yang bayar!" Irene berjalan mendahului Teddy, tak lupa merampas belanjaan sang pria.
Teddy tak menduga bahwa perempuan itu akan membayar. Ia pasti tak akan keberatan jika Irene membayar berapa barang lagi. Maka ketika perempuan itu hendak mengeluarkan uangnya dari dompet, Teddy menambah sekaleng kopi kalengan dan dua buah sosis ke meja kasir. Tentunya Irene agak mendelik ketika Teddy memanfaatkan kesempatan. Namun, perempuan itu tak banyak bicara lagi. Ia membayar dengan mudah, tanpa perhitungan. Bahkan kembalian tak diambil. Memang orang kaya. Teddy curiga bahwa jaket yang tampak lusuh itu adalah rancangan desainer.
"Kau pintar memanfaatkan suasana," ujar Irene ketus sembari mengulurkan barang belanjaan Teddy.
"Bukankah itu adalah ilmu bisnis? Aku senang-senang saja ditraktir, lain kali traktirlah di tempat yang agak mahal," sahut Teddy sembari membuka kaleng kopinya. Ia lebih butuh kopi daripada apa pun untuk saat ini.
"Terserah saja, tapi aku hanya memperingatkan. Kalau kau datang karena panggilan polisi, maka kau akan pulang dengan tangan hampa. Kedatanganmu ke sini tak berguna." Irene mengeluarkan ponsel, kukunya yang dihiasi dengan manik-manik berkilau naik turun di atas layar.
Tanpa bersuara, Teddy menatap Irene penuh tanda tanya. "Seolah kau tahu ke mana tujuanku."
"Aku hanya akan bilang sekali. Kalau kau diminta menjadi saksi atas hilangnya Nyonya Morris, maka ketika kau sampai ke sana sehabis ini, kau tak akan mendapat apa-apa. Nyonya Morris sudah meninggal."
"Apakah harus kutebak siapa orang di belakangnya?" tanya Teddy ketus.
"Aku masih berharap bahwa tebakanmu bukanlah ayahku."
Teddy tergelak mendengarnya. "Aku juga berharap Alexandra tak akan mendengar berita ini."
"Kalau begitu, lebih baik dia mengetahui hal ini. Bantu aku bertemu dengannya dan menghentikan ayahku sebelum ia melakukan hal yang lebih buruk lagi."
"Lantas kaupikir Alexandra mau?" jawaban retoris Teddy meninggalkan desis ketakutan di wajah Irene.
"Dengar, Nona. Apa pun yang baru saja kau katakan, aku tak akan menganggap semuanya benar. Aku tetap akan datang ke kantor polisi sesuai dengan perintah mereka. Jika nantinya memang benar laporan kehilangan itu dicabut, aku juga tak akan berbuat apa pun tanpa perintah tuanku. Jadi, untuk sekarang lebih baik kau tak memperlambat apa yang harusnya aku lakukan." Teddy mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya, meletakkan lembaran itu di bawah kaleng kopi yang isinya telah berkurang separuh.
"Tidak bisakah aku meminta sedikit saja kemurahan hatimu? Pertemukan aku dengan Alexandra sebentar saja," pinta Irene.
Teddy menghela napas. "Sudah kukatakan padamu, Nona. Tanpa izin tuanku, aku tak bisa berbuat apa-apa. Jika kau punya nyali, temui tuanku dan utarakan niatmu padanya. Aku tak bisa berbuat apa-apa."
Teddy menjauh, menuju mobil. Membuka pintunya dan masuk sebelum Irene menyusul. Namun, Irene juga keras kepala dengan caranya sendiri. Ia mengembalikan sejumlah uang yang ditinggalkan Teddy pada pengelap kaca. Ada kertas lain yang ditinggalkan dalam lipatan uang. Ketika Teddy keluar dari mobil, perempuan itu telah masuk ke dalam sebuah mobil jeep dan menghilang meninggalkan asap. Seperti dugaan Teddy, Irene meninggalkan nomor teleponnya pada kertas itu. Sekarang Teddy kembali terlibat pada hal yang tidak tertulis pada skenario yang telah ia rencanakan.
Tepat seperti yang dikatakan Irene, Teddy tak mendapat apa pun ketika sampai di kantor polisi. Salah satu dari mereka meminta maaf karena salah seorang pelayan yang kemarin melaaporkan tentang hilangnya Nyonya Morris justru hari ini datang mencabut laporannya. Semuanya sama persis seperti yang dikatakan Irene dan baru saja terjadi, sekitar lima belas menit yang lalu. Itu berarti ketika ia dan Irene sedang dalam pembicaraan alot, sang pelayan datang mencabut laporannya. Dengan jarak waktu yang bedekatan ini, apakah Irene juga sedang mengawasi pelayan tersebut? Pun polisi sama sekali tak menyebutkan alasan mengapa laporan tersebut dicabut.
Entah apa yang akan dikatakan Victor tentang hal ini. Satu hal yang kembali jelas, pekerjaan Teddy akan makin bertambah. Ia teringat akan tumpukan tagihan yang belum sempat dihitung dan para gundik. Apakah mereka akan menggila tanpa pengawasannya?
To.Be.Continue
A/N: M'Lord akan update sebanyak tiga kali seminggu. Hari Senin, Kamis, dan Sabtu.