
Alexandra menelan bubur yang dibawa pelayan perlahan. Ia tak suka bubur. Sudah tiga hari ini ia hanya memakan benda lunak itu dengan sedikit bergidik jijik. Bubur selalu memiliki rasa tak enak, hambar, dan tak meningkatkan selera makan. Kalau ia harus makan banyak untuk segera kembali sehat, bubur tak akan membuatnya sehat.
"Satu suapan lagi, Nona. Lalu kita makan obat dan habislah sudah. Anda sudah bisa kembali tidur." Pelayan mengelap sisa bubur yang tertinggal di sudut bibir Alexandra.
"Makanan ini tak akan membuatku lekas sehat," balas Alexandra jijik.
"Lalu, apa yang Anda mau?"
"Cheese burger dan boba tea."
"Nona ... itu bukan makanan yang sehat."
"Burger itu ada sayuran dan daging, serat dan protein. Ada keju juga, vitamin D. Bagaimana bisa tak sehat?" protes Alexandra.
"Ya, tidak sehat saja, Nona. Aku akan ambilkan buah dan kukis saja untuk Nona."
"Aku mau—"
"Tidak ada burger atau minuman apa pun, Nona. Ini demi kebaikan Anda."
Alexandra kembali mencibir. Ia benar-benar tak paham mengapa bubur bisa disebut makanan sehat. Ia menjatuhkan kepala ke bantal. Tiga hari sakit dan terbaring di tempat tidur bukanlah ha yang menyenangkan. Ia ingin berkeliling rumah, memecahkan pot bunga Bibi Charlotte, memukul kaca mobil Irene hingga pecah, serta melempari pamannya dengan kotoran kuda.
Pamannya tak akan membiarkan Alexandra melakukan itu. Ia akan memaksa Alexandra tetap berada di tempat tidur sampai satu minggu habis. Masa sembuhnya sekaligus masa tunggu pergi ke kastel Tuan Victor. Ketika mendapati Alexandra sakit, ia segera mengabarkan Alexandra akan berangkat seminggu lagi. Ketika ia sudah sembuh total. Sialan sekali pria itu! Ingin rasanya menjejalkan kotoran kuda ke mulutnya dan melempar pria itu ke kandang ****.
Selama tiga hari itu, ia selalu berharap dapat menemui mimpi yang sama. Ketika seluruh keluarganya berkumpul di padang rumput dan ilalang itu. Sekaligus bertemu dengan kembaran dirinya yang lain. Berharap bahwa gadis itu dapat ia ajak bicara dan berbagi beban yang tengah bersandar di pundaknya.
Namun selama tiga hari itu pula ia hanya mendapati mimpi yang sama tentang roti yang telah mengering, dicelup ke dalam susu sapi. Ia sama sekali tak mengerti mengapa mimpi yang sama datang berulang-ulang dengan latar belakang dalam mimpi itu kian melebar setiap harinya. Awalnya hanya roti dan mangkuk kecil, lama-lama fokusnya melebar. Sebuah kamar reyot yang tak memiliki jendela. Bahkan mungkin itulah satu-satunya kamar di tempat itu. Ada sebuah pintu yang menganga lebar, membawa masuk cahaya matahari.
Sudah lama sekali sejak ia bermimpi dan tidur nyenyak. Harusnya malam yang telah beberapa hari berlalu ini tak mengizinkannya tidur lelap. Bayangan hidup di dalam kastel Victor dan menjadi salah satu gundiknya bukanlah hal yang menyenangkan. Seperti ia memang sengaja dijual oleh pamannya sebagai pelacur yang akan memenuhi seluruh kebutuhan seksual Victor. Terlebih lagi dengan kondisi Nyonya Morris, kertas kosong yang telah ia tanda tangani, dan kebenaran tentang warisan itu. Dengan banyaknya kejadian buruk yang menimpa dalam satu minggu ini, harusnya ia tak dapat terlelap dengan nyenyak seperti bayi.
"Mungkin pengaruh obat, Nona. Anda selalu tertidur sehabis minum obat bukan? Bukankah intinya obat itu adalah untuk menyembuhkan sakit Anda dan memperbaiki kualitas istirahat Anda?" Pelayan itu mengangsurkan sebuah apel yang telah dikupas pada Alexandra.
Di sela waktu sebelum minum obat itu, ia mempertanyakan tentang tidur nyenyaknya pada sang pelayan. Namun wanita itu menanggapi dengan santai. Tentu saja Alexandra tak akan menyebut perihal bagaimana Paman Davis memaksanya hingga membubuhkan tanda tangan dan warisan yang sampai sekarang masih belum bisa dipastikan kebenarannya.
"Saya akan membuatkan Nona Alexandra makanan yang lebih berasa daripada yang kemarin. Anda pasti sudah bosan makan bubur." Pelayan itu pamit.
Alexndra menghela napas, ia memang telah lelah disuguhi makanan hambar selama berhari-hari. Ia ingin makanan yang asin dan gurih. Cheese burger, pizza, sup ayam, makanan apa pun asal jangan bubur lagi. Sebuah ketukan di pintu dan Alexandra enggan menjawab, biasanya pelayan akan masuk setelah mengetuk pintu. Kecuali dilarang masuk mereka tak akan memasuki kamar.
Namun, ia disambut oleh yang tak diduga-dua akan masuk ke sana. Irene masuk ke dalam kamarnya dengan membawa sebuah buket bunga besar. Alexandra menjatuhkan kepalanya lagi ke bantal lantas menyembunyikan wajahnya di balik selimut. Ia benar-benar tak mengharapkan kedatangan Irene ke kamarnya.
"Kau tahu soal insiden paku payung dalam sepatumu? Ya, aku tak dapat menyangkal bahwa aku yang melakukannya."
Ha! Rasanya seperti memenangkan lotre ketika mendengar Irene yang terlalu kekanakan itu mengakui kesalahannya. Alexandra masih enggan keluar dari selimut. Ia sama sekali tak akan keluar dari sana sebelum Irene minta maaf. Ya, jika ia ada niat meminta maaf tentunya.
"Aku minta maaf, Alex."
Alexandra menyibak selimutnya tak percaya ketika mendengar permintaan maaf dari Irene. Alexandra menatap Irene lekat-lekat, berusaha menemukan setitik saja dusta di wajah itu. Namun Irene benar-benar tulus, ada genangan air pada pelupuk matanya.
"Keluar...." desis Alexandra.
"Apa?"
"Keluar dari sini kubilang!"
"Tapi—
"Aku tak mau melihat wajahmu!"
Wajah Irene tertunduk merah. Ia tak protes, mungkin ia pun sudah lebih dulu menduga akan seperti ini jadinya. Irene meninggalkan kamar dengan pintu yang ditutup secara halus. Untuk tiga menit ketika Irene masuk ke kamarnya dan meminta maaf, Alexandra benar-benar tak dapat mempercayai apa yang baru saja terjadi.
Seorang Irene yang selalu mengawali pertengkaran, menyudutkan, memfitnah, tiba-tiba saja meminta maaf. Ia benar-benar tak dapat mencerna apa yang baru saja terjadi. Apakah karena sebentar lagi ia akan pergi dari rumah sehingga Irene meminta maaf? Jika memang begitu, mengapa tatapannya begitu terluka padahal setiap harinya Irene selalu berharap bahwa Alexandra akan angkat kaki dari rumah?
Sampai pelayan datang dan membawa sup ayam, Alexandra masih tak mampu mempercayai penglihatannya. Ketika obat yang ia telan membawa rasa kantuk datang, barulah Alexandra melupakan Irene. Fokusnya kini kembali pada kamar reyot itu. Beberapa potong roti kering, satu mangkuk kecil susu, dan seorang pria yang baru saja memasuki ruangan itu. Pakaian itu harusnya putih, tetapi warna aslinya telah berubah. Noda-noda yang mengotori pakaian itu tak dapat disebut pantas untuk dikenakan kembali.
Namun pria itu masih saja mengenakannya. Mungkin karena pria itu sudah tak memiliki pakaian lagi sehingga ia harus bertahan dengan satu-satunya sandangan yang dimiliki. Pria itu berjongkok pada sebuah dipan kecil tanpa bantal. Seorang wanita dibaringkan secara lembut di sana. Ia menyelimuti wanita itu dengan kain tebal yang kusam.
"Aku sudah membawakan makanan untukmu. Ini dari dapur Tuan. Mungkin memang sudah tak begitu enak karena kutemukan di bagian terdalam lacinya. Tapi jamurnya sudah kubersihkan. Roti ini pasti masih enak."
Seluruh kejadian yang baru saja terjadi tampak buram, seakan fokusnya belum tepat. Alexandra tak dapat mengenali wajah sang wanita. Namun, begitu pria itu berbalik, Alexandra dapat menemukan wajah teduh seorang pria dengan mata abu-abu yang selama ini selalu membawa mimpi buruk bagi siapa pun. Pria itu, Victor.
Alexandra kembali tak mempercayai penglihatannya. Pria dengan pakaian lussuh, rambut acak-acakan, seluruh tubuh kotor, dan kurus itu adalah Victor yang selama ini selalu dikenali sebagai seorang pria adi daya yang tak memiliki belas kasih pada siapa pun. Pria di hadapannya ini tampak berbeda dengan wajah dipenuhi jejak-jejak kotor. Bahkan kuku-kuku tangannya hitam saat mengambil roti kering itu.
Dengan telaten ia membagi roti itu menjadi beberapa bagian kecil, mencelupkannya pada susu, lantas disuapkan pada sang wanita yang tak dapat bangun dari dipannya. Sesekali ia akan mendaratkan beberapa kecupan di kening wanita itu ketika sepotong roti habis. Seakan memuji karena dapat menghabiskan roti yang sebenarnya tak layak makan itu. Sang wanita sendiri, wajahnya masih buram dalam pandangan Alexandra.
"Dia sangat berbeda dengan pria yang selama ini kalian kenal bukan?" suara itu mengalun lembut menarik pandangan Alexandra agar menoleh ke belakang. Kini ia tak lagi terperangkap dalam ruangan pengap. Digantikan oleh padang rumput dan ilalang yang luas. Wanita waktu itu juga berdiri di sana. Masih mengenakan gaun putih yang sama dengan senyuman lembut. Wajahnya masih teduh, lembut, dan entah mengapa membawa Alexandra pada kedamaian.
To.Be.Continue