
Alexandra menutup pintu kamarnya pelan. Ia bersandar pada badan pintu, membiarkan saja tubuhnya turun dengan lemas. Apa yang baru saja terjadi di antara ia dan Teddy bukanlah sebuah pertanda baik. Mengapa pria itu mengartikan terlalu jauh perhatian kecil yang wajar diberikan kepada seorang teman?
Ah, ia sejenak terlupa. Bagaimanapun juga ia adalah gundiknya Victor, walau masih berstatus magang. Sedangkan Teddy adalah bawahan Victor. Tentu saja pria itu merasa tak nyaman jika nantinya Alexandra dapat menggiring Teddy ke masalah serius. Alexandra berusaha memahami posisi Teddy sekarang. Mereka memang sudah seharusnya mencipta jarak yang lebih aman. Ia tak ingin Teddy mendapatkan masalah karena dirinya. Alexandra memanjat ke ranjang sembari berdoa bahwa hari esok yang akan datang ia tak akan menemui hal-hal yang terlalu menyebalkan.
***
Sebuah suara lembut memaksa mata Alexandra terbuka. Lagi-lagi ia berada ke sebuah tempat asing yang selama ini selalu dibawa oleh Marion. Bicara soal Marion, wanita berpakaian serba putih itu duduk di kusen jendela besar. Tubuhnya bermandikan cahaya matahari pagi yang belum terlalu menyilaukan mata. Namun, atensi Alexandra berpusat pada bungkusan putih dalam timangan Marion. Dua buah tangan kecil menyembul dari dalam kain putih, terangkat ke atas lantas meraih pipi Marion.
"Oh, kau sedang menikmati pemandangan atau apa, Alex? Bergabunglah ke sini," ujar Marion yang selalu disertai sebuah senyuman manis. Alexandra menganggap kalimat tersebut sebagai sapaan, ia bergabung saja di samping sang wanita. Sejenak, Alexandra menatap keluar. Mendapati bagian luar dari bangunan itu adalah sebuah halaman belakang luas. Ada sebuah kandang kuda memanjang dan setumpuk besar kayu bakar. Tempat ini adalah kediaman tuannya Victor pada zaman dulu.
"Kau tak menemukan Victor di sana? Cobalah mencari lagi, lihatlah tempat yang banyak jeraminya," ujar Marion tanpa repot-repot menoleh.
Benar saja, Victor yang sedang dalam kondisi dekil dan kumal tengah tertidur di kandang kuda. Beralaskan jerami dan separuh wajahnya tertutupi topi lebar yang terbuat dari jerami pula.
"Ah, dia tidur di sana." Alexandra cukup iba melihat betapa timpangnya kehidupan masa lalu Victor dengan yang sekarang.
"Dia selalu suka tidur di sana, tanpa menghiraukan aroma busuk kandang kuda milik Tuan El," balas Marion.
"Tuan El? Aku sama sekali tak pernah melihatnya," ujar Alexandra.
Marion mengulas senyum lembut. "Dia orang yang sibuk, nyaris tak pernah menunjukkan batang hidung pada orang lain. Terkadang ia menyuruh Victor menggantikan tugas berjualan atau berkeliling di acara perjamuan para bangsawan. Jika kau tahu tentang kaitan apa yang terjalin di antara mereka, maka kau akan bisa mengambil seutas benang merah yang penting itu."
"Jadi, kau membawaku ke sini supaya aku tahu tentang masa lalunya?"
"Tepat sekali. Dengan begitu kau bisa tahu betapa terlukanya dia dan mengapa dia berbuat sejauh ini menentang takdir Tuhan. Kau pasti tahu kalau alasannya hidup beratus-ratus tahun adalah untuk menemukan kembali diriku yang telah mengalami reinkarnasi."
"Lalu dia menemukan aku?"
"Lalu, kenapa kau masih ada di sini?"
"Bukannya itu berarti bah—"
Kalimat Marion terputus oleh suara tangisan kecil. Mau tak mau, sang wanita membagi sejenak perhatiannya kepada bayi kecil dalam timangan. Alexandra memiliki niat mengintip bayi dalam gendongan Marion, tetapi ia takut. Kalau-kalau wujud sang bayi seperti pada penampakan film-film horor yang pernah ia tonton.
"Dia sangat menggemaskan, lihat saja. Ia punya mata yang sama dengan Victor. Tenang saja, ia tak akan seseram di film horor," ujar Marion yang seketika mengejutkan Alexandra. Marion selalu bisa membaca pikirannya.
"Bolehkah?"
Marion mengangguk kecil, lantas mengintip sang bayi. Wajah Alexandra berbinar cerah tatkala berhasil melihat wajah menggemaskan sang bayi. Bayi itu laki-laki, dipakaikan pakaian khas pelaut. Rambutnya memiliki warna gelap mirip Victor. Pun dengan mata warna abu-abunya. Hanya saja bentuk hidung dan bibirnya mewarisi sang ibu.
"Namanya Edgar. Bukankah ia sangat mirip denganku dan Victor?"
"Iya, mirip sekali."
Baru saja Alexandra mengatupkan mulut, sebuah keributan terjadi di luar. Melalui jendela itu, Alexandra melihat beberapa orang pria berbadan kekar tengah memukuli Victor.
"Cepat katakan di mana tuanmu! Dia harusnya menyerahkan ramuan itu sekarang! Katakan sebelum tuanku memerintahkan kepalamu dipenggal!" Seorang pria menarik kerah baju Victor, dengan tubuhnya yang besar, ia mengangkat tubuh Victor ke udara.
Ekspresi ketakutan yang tak pernah ditampilkan Victor pada dunia, entah mengapa menarik seluruh atensi Alexandra. Tanpa tersadar, kini matanya menatap langit-langit kamar. Ia bangkit dari posisi tidur. Mata bergerak mengelilingi kamar. Sial! Bahkan sebelum mendapat info lebih jauh lagi, ia sudah terbangun.
Alexandra melirik jam di atas nakas. Masih jam enam kurang beberapa menit. Para pelayan pasti sudah bangun dan mulai bekerja. Alexandra bergegas bangun sebelum ia menjadi yang terakhir bangun di antara para pelayan. Secara tergesa-gesa, ia mencuci wajah dan berganti pakaian, lalu segera menarik sepatunya di bawah ranjang. Ia tak waspada, begitu kakinya memasuki sepatu, rasa sakit tak tertahankan membuatnya menjerit kecil. Seharusnya ia tahu bahwa trik kecil yang dilakukan Irene juga bisa dilakukan siapa pun.Termasuk para gundik Victor.
To.Be.Continue