M'Lord

M'Lord
F O U R T Y N I N E



Victor tak kunjung tidur kendati telah berbaring di atas ranjang sejak setengah jam yang lalu. Momen yang baru saja dihabiskan dengan Alexandra secara tak sengaja mengorek kembali luka masa lalu. Masa kecilnya tak pernah menyenangkan. Hidup di masa wabah, Victor telah kehilangan orang tua sejak kecil. Pun dengan Marion. Mereka bergantung satu sama lain sejak anak-anak karena tak memiliki sanak saudara.


Hidup di tengah wabah dan perang, Victor tumbuh menjadi pemuda yang murung. Bibit-bibit kriminal tumbuh demi bertahan hidup. Ia tak segan mencuri atau mencopet demi mencari sesuap nasi. Ia pun tak pandang bulu. Siapa pun yang lebih lemah darinya akan menjadi sasaran empuk. Baik wanita tua, anak-anak, pedagang kaya, bahkan gelandangan sekalipun. Situasi dan waktu mendidiknya menjadi sosok yang tak kenal ampun.


Dalam melancarkan aksinya pun, tak jarang ia pulang dengan tubuh dipenuhi luka. Mana ada orang yang merelakan barang-barangnya dicuri bukan? Tentu saja para calon korban Victor tak segan-segan melawan. Mereka akan mempertahankan harta benda sebisa mungkin. Senjata tajam bahkan untuk beberapa orang yang berada, mereka melawan menggunakan senjata api.


Menghadapi para calon korban masih satu dari banyak tantangan yang dihadapi selama masa suram itu berlangsung. Terkadang, Victor akan berhadapan juga dengan pencuri lain yang mengincar barang curian atau jarahannya. Perkelahian yang lebih sengit pun tak akan terhindarkan. Para pencuri yang tumbuh dengan cara sama seperti Victor tak akan melepaskan incaran mereka dengan mudah.


Selain kesulitan-kesulitan di atas, ia juga akan berhadapan dengan petugas keamanan. Kala itu, prajurit atau tentara kerajaan yang bertanggung jawab memantau keamanan. Terkadang mereka akan mengadili langsung para kriminal dengan memenggal atau menembak kepala. Pekerjaan hakim sudah semakin menumpuk, mereka hanya ingin mempermudah kerja hakim. Babat habis, tak ada sel penjara yang tersisa untuk kriminal-kriminal kelas teri.


Ah, mungkin Victor akan selamanya menjadi kriminal kelas rendahan kalau saja ia tak bertemu dengan Tuan El. Alkemis nyentrik yang menjadikan Victor asistennya. Ia tak akan lupa bagaimana perjumpaan mereka kala itu yang terjadi di bawah guyuran salju pertama di bulan Desember. Ketika Marion sakit keras dan Victor harus mencari cara demi membawa istrinya ke tabib.


Tuan El adalah pria muda yang kurus, kelihatan lemah. Mengambil dompet pria yang selalu menutupi wajahnya dengan tudung itu tak akan begitu sulit bukan? Namun, Victor terlalu meremehkan fisik sang pria yang tampak lemah. Hal yang selanjutnya terjadi justru Victor dilumpuhkan dalam satu serangan. Bayangan yang terlalu jelas untuk diingat. Victor masih ingat dengan jelas, seolah-olah terjadi di depan mata ketika kedua tangannya dikunci dari belakang dan Tuan El menindih punggung Victor santai.


"Aku suka dengan sorot matamu, sangat sendu."


Suara Tuan El terbayang, begitu nyata. Victor bergidik ngeri. Victor meraba bagian belakang lehernya demi mendapati bulu-bulu halus di sana meremang. Victor tak akan lupa bagaimana kengerian malam itu justru membawanya terlibat makin jauh dengan Tuan El. Pria yang secara tak langsung membuatnya hidup melampaui batas manusia.


"Tuan El, aku sudah lelah dengan semua ini. Jika nantinya aku akan berakhir seperti dirimu, setidaknya aku telah menemukan orang yang kucari untuk menghabiskan detik-detik terakhirku."


Alexandra. Nama sang gadis tersimpan di lidah Victor. Urung ia ucapkan. Gadis itu bahkan belum mencoba membuka hati kepada dirinya. Alexandra berbeda dengan gundik-gundiknya yang lain. Karena gadis itu adalah perwujudan dari Marion yang telah lama meninggal. Victor tak menyebut Alexandra sebagai reinkarnasi Marion. Kepribadian mereka sungguh bertolak belakang. Namun, jikalau Alexandra dan Marion hidup di satu waktu yang sama, orang-orang pasti akan menganggap mereka sebagai anak kembar.


Anak kembar yang berbeda karakter. Alexandra adalah gadis bebas yang tak segan-segan mengekspresikan karakternya. Maka Marion adalah gadis pemalu yang manis. Walaupun terkadang Alexandra bisa menunjukkan sisinya yang lain—pemalu dan manis. Namun, Victor meyakini bahwa gadis itu hanya menahan diri mengekspresikan apa yang ingin ia rasakan dan ia lakukan. Alexandra hanya menempatkan sifat dan tingkah lakunya sesuai dengan tempat dan suasana. Ia bisa menjadi gadis sopan dari keluarga terhormat, perempuan kasar yang tak segan main tangan, dan gadis pemalu yang tak ingin mengaku ketika melakukan kesalahan.


Alexandra selalu santai dan ekspresif di depan Teddy. Seolah mereka adalah teman lama yang saling mengenal dengan cukup baik. Teddy sendiri pun tampaknya tak begitu terganggu dengan sikap Alexandra yang terkadang bisa seenaknya sendiri. Mungkin, di antara gundik-gundik Victor yang lain, Teddy hanya tak bisa bergaul dengan Jane. Wanita itu terlalu banyak menggoda pria, yang untungnya hanya main-main saja. Jane sudah paham betul bahwa ia bisa terkena masalah jika memiliki hubungan dengan laki-laki lain. Victor juga tak segan-segan memberikan saksi berat jika nantinya ia menemukan perselingkuhan di antara para gundiknya.


Pada akhirnya, Victor menurunkan kakinya lagi ke lantai. Ia terpikir membuat sesuatu yang hangat. Mungkin segelas susu dan beberapa potong kukis atau roti yang sudah agak kering. Ah, tadi Alexandra sudah mengambil rotinya. Mungkin kukis cokelat lebih baik.


Gelisah rupanya juga menimbulkan rasa lapar, rasa-rasanya segelas susu dan kukis tak akan mempan mengusir lapar yang tiba-tiba datang. Ditambah lagi suara keroncongan yang datang setelahnya. Kali ini, Victor terpikir membuat semangkuk ramen instan pedas yang sering dibuat Ling. Namun, niatnya lagi-lagi dibuat pupus tatkala melewati kamar Ruby.


Wanita itu dan anak yang dilahirkannya. Alih-alih meneruskan perjalanan menuju dapur, Victor justru meraih kenop pintu kamar. Didorongnya pintu itu pelan. Ruangan yang telah ditinggalkan selama beberapa hari ini nyaris gelap jika bukan karena lampu yang menyala di nakas.


Sisa-sisa kekacauan malam itu telah dibereskan. Victor mendudukkan dirinya di atas ranjang, terdengar decitan kecil ketika Victor merebahkan tubuh di sana. Sejak dulu, Ruby selalu menjadi yang paling sederhana di antara gundik-gundik yang lain. Victor hampir tak menemukan tanda-tanda kemewahan di dalam kamar Ruby.


Siapa yang akan menduga bahwa ini adalah kamar seorang gundik jika pertama kali memasukinya. Ruby hanya memiliki sebuah ranjang, nakas yang bersebelahan dengan meja rias. Itu pun jika bisa disebut meja rias. Ruby hanya memilki beberapa botol cairan perawatan kulit. Ada beberapa alat rias yang disimpan rapi di atas rak.


Beberapa, hanya beberapa. Berbanding terbalik dengan gundik-gundik lain yang memiliki botol-botol cairan kecantikan berjejer. Tak lupa dengan deretan warna gincu yang lengkap dari beberapa merk kosmetik ternama. Victor terheran-heran, apakah mereka sedang mengumpulkan kosmetik atau sedang membuka toko? Meja Ruby justru dipenuhi dengan buku-buku tebal. Ruby terkadang malas pergi ke perpustakaan, sehingga menimbun buku di meja riasnya.


Mata Victor kembali menjelajah. Sebuah lemari berukuran sedang yang isi di dalamnya tak begitu banyak. Lagi-lagi berbanding terbalik dengan gundik-gundik lain. Mereka setidaknya memiliki dua lemari. Bahkan Jane memiliki kamar sendiri tempat seluruh pakaian, sepatu, tas, dan seluruh aksesorisnya disimpan.


Sekali lagi, Ruby memang tak memiliki niat memperkaya diri dan hidup dalam kemewahan seperti gundik lain. Ia adalah wanita yang baik dan sederhana. Namun, mengapa semua keunggulan itu harus ia rusak dengan memiliki anak yang selama ini tak pernah Victor inginkan. Jika Victor benar-benar menginginkan anak, maka anak itu harus lahir dari rahim Alexandra dan bukannya wanita lain.


Ia menginginkan seorang anak yang mirip dengannya dan Marion. Alexandra yang berwajah serupa dengan Marion tentu nantinya akan memberikan anak yang memiliki wajah perpaduan mereka berdua. Tak pernah ada gundik yang memiliki wajah sama dengan Marion kecuali Alexandra .Maka, itulah yang membuat Victor tak menghendaki anak dari rahim gundik-gundiknya selama ini. Ah, jika saja hati Alexandra bisa lebih mudah ditaklukkan.


Pria itu menghela napas panjang sebelum bangkit dari ranjang. Ia akan kembali ke rencana awal memasak ramen instan sebelum kembali tidur. Ketika melintasi meja rias Ruby, mata Victor menangkap sebuah buku catatan berwarna ungu pudar. Setangkai lavender kering diselipkan sebagai pengganti pembatas buku. Sungguh, Victor sendiri tak paham mengapa ia lebih tertarik dengan buku tak bernama itu daripada buku yang lain. Pada akhirnya, Victor mengambil buku tersebut dan membawanya ke dapur. Mungkin salah satu koleksi puisi Ruby. Akan ia baca selagi memasak ramen.


To.Be.Continue