M'Lord

M'Lord
T.W.E.N.T.Y. T.W.O



Ruby baru saja kembali dari perpustakaan, sebuah novel tergenggam di tangan. Ia hendak kembali ke kamar, berniat untuk mandi. Namun niatannya sejenak terlupa karena melihat Jane sedang menatap ke luar jendela. Dari sana mereka bisa melihat halaman besar dan halaman kastel yang luas. Terkadang Eliza dan Ling akan menanti kepulangan Victor lewat jendela besar ini. Mereka berdua adalah yang termuda, sering kali mendapat perhatian berlebih dari Victor sendiri. Dan, sekarang posisi keduanya terancam oleh kedatangan satu gadis lagi. Padahal mereka baru satu tahun hidup di kastel ini. Namun, satu-satunya orang yang sangat ketakutan posisinya tergeser adalah Jane.


"Pemandangan apa yang membuatmu tak mau beranjak dari sana?" Ruby ikut menempatkan dirinya di samping Jane. Wanita itu terlonjak kaget karena kedatangan Ruby yang tiba-tiba.


"Tidak ada, aku hanya sedang malas berada di kamar dan ingin melihat dunia luar." Jawaban malas itu membuat Ruby mendecih lirih.


"Itu bagus, daripada membuat masalah dengan gundik lain. Sekali-sekali, datanglah ke perpustakaan. Ada banyak buku untuk dibaca. Itu lebih baik daripada memikirkan cara menyingkirkan gundik baru."


Jane segera menoleh dengan tatapan kesal, rambutnya ikut terkibas dan mengenai wajah Ruby. "Aku tak suka saat kau selalu berpikiran buruk tentangku!"


"Hmm, kalau begitu seharusnya kau bisa bersikap lebih dewasa dengan tidak membuat masalah pada gundik-gundik baru Tuan. Sudah banyak yang keluar dari kastel karena sikap kekanakanmu. Semoga kali ini gadis baru itu betah di sini." Ruby melenggang pergi, meninggalkan Jane dan sumpah serapah yang ditujukan pada wanita yang lebih tua tersebut.


Sementara Jane enggan berpaling dari jendela besar. Ruby menuntaskan mandinya sebelum makan malam dimulai. Ia harus tampil lebih sopan untuk menyambut tamu spesial malam ini. Sebenarnya ia enggan diperingati Teddy lagi agar berdandan lebih modis. Bukannya ia tak mau, ia memang tak terlalu suka dengan riasan dan perhiasan berkilau itu. Ia selalu ingin tampil dengan kecantikan alami dan memancarkan kecantikan dari dalam yang digadang-gadang menjadi alasan Tuan Victor memboyongnya ke kastel.


Ketukan pintu itu menginterupsi kegiatannya menyisir rambut. Ruby sebenarnya enggan membukakan pintu bagi siapa pun di balik pintu itu. Apalagi jika itu Jane. Tidak cukupkah ia bersikap kekanakan seperti ini? Lagi-lagi pintu kamarnya diketuk.


"Siapa di sana?" Ruby masih enggan beranjak, dengan jubah mandinya yang basah, ia tak ingin ditemui dengan kondisi kurang sopan begini.


"Kau tak mau membukakan pintu untuk Tuanmu?"


Ruby nyaris menjatuhkan sisir yang ia genggam. Ia baru teringat bahwa malam ini jadwal Tuan berkunjung ke kamarnya? Namun, kenapa harus gadis itu tiba di kastel?


"Sebentar, Tuan. Saya belum berpakaian dengan benar," sahut Ruby tepat di depan pintu.


"Siapa peduli kau belum berpakaian atau belum. Justru lebih baik lagi ketika kau telanjang." Jawaban tegas itu meyakinkan Ruby bahwa Tuannya tak dapat menanti apa pun lagi. Keinginannya harus dipenuhi atau ia akan murka nantinya.


Ruby memutar kenop pintu. Tuannya telah datang, dengan sebotol wine produksi keluarga Buffon dan dua buah gelas bertangkai. Ia melesak masuk tanpa sempat mendengar Ruby mempersilakannya masuk. Victor duduk di dekat jendela. Ada sepasang kursi dan meja yang menengahi. Di sanalah biasanya mereka mengobrol sebelum memulai pergelutan malam mereka yang panjang.


Namun, hari belum sepenuhnya malam. Jam dinding masih menunjukkan angka tujuh. Tumben. Daripada mendapat firasat Tuan Victor segera memulai aktvitas seksual mereka, tuannya itu mungkin saja hendak melakukan diskusi panjang tentang sesuatu.


"Kau tak perlu khawatir kedatangan Alexandra akan merusak malam ini. Aku baru saja mendapat telepon dari Teddy bahwa jalan menuju kastel sedang ditutup karena beberapa pohon tumbang dan memblokir jalan. Malam ini jadwalmu tetap aman."


Victor masih tenang seperti biasa. Maka Ruby duduk di kursi lain yang masih kosong. Ia mengambil pembuka botol dan kembali ke meja. Masih mendapati Tuannya ada si sana. Pria itu kini menopang dagu, menatap Ruby lekat-lekat. Ruby telah terbiasa dengan tatapan itu selama dua belas tahun, sehingga ia tak akan salah tingkah ditatap oleh Tuannya seperti itu.


"Ada apa Tuan menatapku seperti itu? Tak ada yang dapat dilihat dariku kecuali tubuh yang mulai berlemak ini." Ruby membuka botol, menuangkan masing-masing gelas hingga terisi setengah dari kapasitas gelas.


"Kau tentu bertambah tua, Ruby. Tapi aku menyukai proses penuaanmu."


Ruby tertawa kecil, lantas menatap Tuannya lembut. "Ya, semua manusia mengalami penuaanmu. Terkecuali Anda,Tuanku. Tentu saya semakin tua. Anda telah melalui siklus ini selama ratusan tahun. Sehingga Anda tak akan merasakan kehilangan jika nantinya saya mati."


"Kau benar, aku sudah beberapa abad ini aku menyaksikan kematian orang-orang penting itu. Terkadang aku sendiri merasa sudah waktunya menyusul mereka, tetapi aku sendiri masih dalam perjalanan pencarian itu. Aku tak bisa mundur sekarang. Setelah ratusan tahun mencari." Victor memainkan gelasnya yang baru terisi separuh. Dipandanginya cairan warna ungu kehitaman dengan tatapan dalam.


"Tapi, Tuanku. Anda bahkan baru bertemu dengannya beberapa kali. Apakah Anda yakin dia adalah reinkarnasi kembali istri Anda? Jika dilihat-lihat, saya memang mengakui fisik mereka berdua mirip. Namun sifat dan lain-lainnya, hanya Anda sendiri yang tahu."


Ruby mengangguk pelan, "Jika itu keputusan Anda, apa boleh buat, Tuanku. Mungkin memang sudah saatnya Anda menjalani hidup normal seperti manusia kebanyakan."


Victor baru saja menyesap sedikit anggurnya. Ia tersenyum lagi, tetapi disertai dengan gelengan lemah. "Aku bukannya ingin melakukannya sekarang. Pembicaraan ini sebenarnya pernah aku lakukan juga dengan Teddy. Namun dia menyuruhku memikirkan kembali tentang keputusanku."


Ruby tertawa kecil lagi, "Anda sudah hidup berabad-abad, Tuanku. Harusnya Anda tahu bahwa ada kontra di setiap persetujuan. Ada jelek di antara yang baik. Dan, ada yang putih di antara kegelapan."


Victor mengangkat gelas anggurnya dan Ruby segera membalas dengan mengetukkan gelasnya dengan milik Victor. "Itulah kenapa aku lebih senang bicara denganmu daripada orang lain. Kau memiliki pemikiran yang luas. Dan, tidak pernah melangkahi batas. Kau bisa jadi seorang pemimpin yang baik."


Ruby terkekeh, ia meletakkan gelas anggurnya lagi di meja. "Terima kasih, Tuan. Tapi saya tidak terlalu menyukai hal yang memiliki banyak tanggung jawab seperti itu. Jika Anda ingin saya menggantikan direktur utama perusahaan pertambangan itu, saya akan menolak. Saya tak akan pernah menerima tawaran kerja seperti itu."


Victor tergelak karena ucapan Ruby. "Oh, Ruby Sayangku. Perusahaan itu hanyalah benda mati, kau bisa mengendalikan mereka tanpa harus menyentuhnya. Kau genius, tentu kau punya banyak cara."


"Melalui orang lain. Ya, tentu saya paham. Namun saya masih tak tertarik dengan tawaran itu." Ruby ingin sekali mengakhiri percakapan ini. Ketika Tuannya mulai menyebut tentang bisnis yang sedang ia gelui, terkadang Ruby ingin lari dari sana dan bersembunyi sampai Tuannya tak lagi menyebut-nyebut tentang perusahaan tersebut.


"Tapi mungkin Edgar mau."


Nama itu disebut, gelas dalam genggaman Ruby meluncur jatuh ke lantai. Pecah berserakan. Pecahan beliung itu mengenai kakinya, tetapi ia enggan bergerak. Menikmati rasa sakit yang menusuk kaki itu tak terlalu menyakitkan daripada tatapan tajam sang tuan yang diarahkan padanya.


"Ruby ... aku tahu kau memang yang paling dewasa di antara yang lain. Kau yang paling bisa kuandalkan juga. Namun, siapa sangka jika kedewasaanmu ternyata di luar batas yang lain." Victor bangkit dari kursinya. Ia mengikis jarak, kakinya menginjak beling-beling yang berserakan di karpet. Namun pria itu memang tak lagi terusik dengan rasa sakit kecil itu.


Ia semakin mendekat, memenjara Ruby pada dinding kamar. Senyum Victior lenyap. Terganti oleh wajah bengis. "Aku sangat kecewa padamu, Ruby. Sejak kapan kau bisa melakukannya? Aku tahu kau memang tak pernah berusaha menunjukkan cakarmu pada gundik yang lain. Tapi kau sudah berbuat jauh dengan memiliki anak dariku melalui bantuan kecanggihan alat medis."


Ruby bersujud di kaki Tuannya. Ia menangis sesenggukan, lantas meminta ampunan dengan menciumi kaki Victor. Sungguh, ia sendiri tak menduga bahwa Tuannya telah mengetahui rahasia apa yang selama ini ia simpan rapat-rapat. Tiga tahun, usia anak itu. Edgar, anak yang lahir dari ibu pengganti dengan DNA gabungan antara ia dan Victor.


"Karena malam ini kedatangan Alexandra ditunda. Maka menjadi sebuah kehormatan juga bagimu untuk mendapat hukuman atas perbuatan bejat yang kau lakukan di belakangku." Seringai lebar Victor tak kunjung padam. Pria itu menarik sebuah benda dari saku celananya.


"Tuan...."


"Kemarilah, biar kupasangkan padamu. Dan malam ini kau akan jadi tahananku sampai malam berganti pagi."


Sehelai kain penutup mata itu melingkari mata Ruby, menghalau pandangannya. Lalu tak lama setelah itu, ia merasakan sebuah benda tajam menggores pipinya kendati tak sampai berdarah parah.


"Mari kita mulai hukumanmu, Nona. Tentu kau tak ingin melihat anak kesayanganmu itu mati mengenaskan karena ulah ibunya bukan? Ah, akan lebih tragis lagi jika pembunuhnya adalah ayah biologis dari si anak. Benar?"


"Tuan ... kumohon. Ia masih balita...."


"Hmm, aku tak akan meminta kalau jadi kau Ruby. Karena semua permohonan maaf itu akan kubalas dengan cara yang sama."


Ruby menjerit tertahan. Benda tajam itu kini berpindah menggores bagian dadanya yang terbuka. Ia tak tahu seberapa dalam luka yang ditinggalkan benda tajam itu di sana. Namun ia akan diam, karena Tuannya sama sekali tak suka jika omongannya dibalas. Ruby akan tetap bungkam, walau itu berarti ia harus menggigit lidahnya sampai putus.


To.Be.Continue