
Alexandra baru saja memasuki dapur dengan membawa dua sekarang besar kentang. Kentang-kentang malang itu terbanting keras ke lantai. Beberapa pelayan yang kebetulan masih berada di dapur terperanjat oleh bunyi keras yang ditimbulkan Alexandra. Bagian bawah karung basah, hasil dari tumbukan keras dengan lantai. Alexandra telah merusak jatah kentang mereka untuk beberapa minggu ke depan.
"Nona...," panggil wanita paruh baya yang Alexandra kenali sebagai ibu Teddy, "lebih baik Anda melakukan hal lain saja. Mungkin membantu kami mencuci piring atau menyiram bunga. Itu lebih ringan daripada memanggul karung-karung berat seperti itu."
Ekspresi wajahnya menyimpan banyak hal. Ia sudah tentu khawatir jika Alexandra menghabiskan stok makanan satu kastel dikarenakan kesalahan-kesalahan selama pemindahan bahan makanan.
"Oh, baiklah. Mungkin aku terlalu menggunakan seluruh tenaga. Kalau begitu, akan kubantu tukang kebun menyiram tanaman dan memotong rumput." Alexandra menunjuk ke arah luar, tepat pada taman yang kini sedang dirapikan.
Begitu Alexandra tak lagi tampak di depan mata, barulah para pelayan kasak-kusuk.
"Kudengar ia bisa beladiri. Wah, pantas saja tenaganya besar padahal tubuhnya kurus begitu."
"Kalau kata Nona Ling, dia bisa menentang kepala orang sampai putus."
"Benarkah? Wah, selain Tuan Victor, aku baru tahu ada orang lain yang punya kekuatan super."
Kasak-kusuk mereka masih berlanjut, kendati Ibu Teddy telah memperingatkan mereka agar kembali fokus pada pekerjaan. Tentu gosip seputar gundik Victor selalu menjadi topik menarik. Mulai dari gaya hidup mereka yang luar biasa hedonis, latar belakang keluarga yang berantakan, dan banyak lagi. Topik tentang para gundik seakan tak pernah habis. Apalagi setelah kedatangan Alexandra yang disebut-sebut sebagai reinkarnasi mendiang istri Victor, dapur tak pernah berhenti mengepulkan asap sembari menyebut-nyebut nama sang gadis.
Alexandra menjadi populer dalam sekejap di kalangan pelayan dan tukan kebun. Bahkan ketika ia tiba di taman, menyapa para tukang kebun, mereka membalas dengan ramah dan antusias. Siapa lelaki yang tak senang jika pekerjaan melelahkan mereka kini dibantu gadis cantik. Gadis cantik yang pintar memotong rumput, mengangkat pot-pot besar seorang diri, dan berkebun. Ekspresi wajah para tukang kebun bagaikan baru saja melihat malaikat turun dari langit. Pekerjaan mereka sejenak terlupakan.
"Halo Tuan-Tuan~~~ Aku lihat kalian dari tadi tidak melakukan apa pun selain menatapi Nona Alexandra, kalian tak ingin dilaporkan ke Tuan bukan?"
Itu Teddy, melambai dari lantai dua. Membawa papan melamin di genggaman, mata menyipit, dan mengulas senyum terlalu lebar. Ekspresi seram dan ancamannya sukses mengembalikan para tukang kebun ke pekerjaan mereka yang seharusnya.
Alexandra menghentikan sejenak aktivitas bertanamnya, ia melambai ke lantai dua. "Teddy! Kenapa kau tak turun ke sini? Aku gemas dengan tatanan rambutmu, rasanya ingin kuacak-acak!"
"Haha, lakukan dari sana, Nona. Aku lebih memilih duduk di antara tumpukan tagihan dan faktur barang! Nikmati saja pekerjaanmu selagi masih bisa!" tandas Teddy sembari melambai, meninggalkan Alexandra yang membalas kalimatnya dengan memberengut.
Teddy terkekeh ketika langkahnya makin menjauh. Alexandra selalu jadi gadis yang manis walaupun ekspresinya kecut. Mirip dengan perempuan yang merajuk ketika pacarnya memutuskan acara kencan mereka.
Alexandra.
Manis.
Kencan.
Langkah Teddy terhenti. Wajah Alexandra secara tiba-tiba memenuhi kepala. Senyum dan wajah manisnya berlarian di kepala seakan sedang menarik Teddy ke dalam pesona sang gadis.
"Sial!" Teddy mendecih, bibir bawahnya dikulum resah.
"Tidak! Ini tidak benar! Sadarlah Teddy, sebelum kau tenggelam!"
Tak tahukah ia jika cara itu sama sekali tidak higienis? Teddy hendak memperingatkan Alexandra, tetapi kata-katanya sama sekali tak keluar kendati mulutnya telah terbuka. Ia bisa saja melewati batas yang telah digariskan Victor dengan warna merah tebal.
Jangan pernah jatuh cinta pada gundik Tuan.
"Teddy? Apa yang kau lakukan di sana?" tegur Ivanka.
Wanita itu tampil kasual dengan gaun sebatas lutut berwarna kuning pudar. Dua buah novel didekap erat.
"Aku ... hanya mengecek tukang kebun sebentar. Aku akan kembali ke ruang kerja, banyak tagihan yang minta dihitung, nikmati bacaanmu."
Tatapan Ivanka bergerak turun ke arah taman, hanya tersisa beberapa pria yang masih merapikan tama. Teddy sendiri tersenyum canggung lantas mengalihkan perhatian Ivanka dengan mendekat dan menarik satu buku dari dekapan Ivanka.
"Apa yang kau lakukan?! Jangan dekat-dekat denganku! Kembalikan buku punyaku!" omel Ivanka.
"Hei, gampang sekali marah. Ruby tak pernah searah ini saat kupinjam buku miliknya," kilah Teddy.
Ivanka berdecih. "Aku bukannya dia. Dia orang yang terlalu penurut dan mudah sekali diperdaya. Jangan samakan aku dengan dia, aku bukan orang yang seperti itu!"
Alis Teddy naik sebelah.
"Apa-apaan ini? Bukankah mereka sangat dekat? Berarti memang benar kalau Ivanka selama ini hanya berpura-pura baik di depan Ruby," pikir Teddy. Selama ini ia terbiasa menyaksikan Ivanka dan Ruby terlibat dalam obrolan hangat dan saling membantu. Mereka berdua jarang sekali terlibat pertengkaran, selalu tampak akur, bahkan saling melengkapi.
Ah, ternyata mereka semua sama saja. Teddy pikir akan ada ikatan yang sejati di antara mereka, pertemanan misalnya kalau mereka tak bisa menjadi saudari. Lagi-lagi persaingan antar gundik memaksa mereka saling menusuk punggung dari belakang.
"Oke, oke. Aku minta maaf, aku akan pergi sekarang. Ruby sedang sakit, datanglah menjenguknya," pamit Teddy.
Namun, Ivanka tampaknya tak terlalu senang dengan ide yang dikatakan Teddy. "Kau menyuruhku menjemput wanita tua ketinggalan zaman dan udik itu? Tenang saja, aku akan menjenguknya nanti tanpa kausuruh!"
Ivanka berbalik badan, ia berjalan cepat meninggalkan Teddy yang tercenung di tempatnya berdiri. Pria itu menggosok lehernya tak nyaman, pada akhirnya Teddy hanya menghela napas pasrah lantas pergi, melanjutkan kembali tugasnya yang sempat terlupa.
Teddy sudah jelas menghindar dari tatapan penuh selidik Ivanka. Berharap saja wanita itu tak mengetahui bahwa sedari tadi ia sedang mengamati Alexandra. Sepeninggal pria itu, Ivanka melongok dari tempat persembunyiannya. Ivanka mengistirahatkan kedua legannya pada tembok pembatas balkon. Seringai di wajahnya terkembang ketika mendapati Alexandra yang tengah membantu kerja para tukang kebun. Senyum sang gadis yang cerah menyemangati para pria paruh baya itu.
"Teddy, kau tak tahu siapa orang yang sedang kau hadapi sekarang. Alexandra, Teddy, kalian mungkin lebih mudah tersingkir daripada perkiraanku." Ivanka menutup kalimatnya dengan memasang gestur menembak menggunakan pistol.
Ia memang seorang anak mafia.
To.Be.Continue