M'Lord

M'Lord
T H I R T Y S I X



"Nona Ruby, tolong makanlah sedikit saja. Jika Anda tidak makan, kondisi Anda akan semakin memburuk," bujuk sang pelayan paruh baya di samping ranjang Ruby.


Ruby sendiri tak bereaksi selain berkedip pelan. Sebuah gelengan pelan menyusul tak lama kemudian. Ia membuka mulut, tetapi tak menghendaki kata-kata yang ia simpan rapat-rapat keluar. Bagaimana dengan keadaan bayinya sekarang? Apakah Victor membunuhnya setelah mengetahui keberadaan si kecil itu? Apa yang akan ia lakukan nanti jika bayi mungilnya tak ada lagi di dunia?


Ia tak ubahnya mayat hidup yang berbaring di atas ranjang pesakitan. Mungkin saja akan menjadi ranjang terakhir sebelum maut menjemputnya. Ia telah kehilangan kepercayaan Victor sekaligus kejelasan kondisi bayinya. Buat apa ia hidup lebih lama? Toh, tak ada jaminan Victor akan berbaik hati membiarkan Ruby dan bayinya bertahan hidup.


"Nona!" Wanita paruh baya itu menangis di tepian ranjang. Tak tega menyaksikan sang nona berada dalam kondisi terburuknya selama bertahun-tahun tinggal di dalam kastel.


"Ada apa ini?" suara Teddy memasuki klinik pribadi kastel. Ia mendekati ranjang, berharap bahwa firasat buruknya benar.


Teddy meraih pergelangan tangan Ruby, memeriksa denyut nadinya. Lantas setelah mendapati wanita itu masih hidup, ia menghela napas lega. Setidaknya Ruby masih hidup. Jika Ruby meninggal, maka akan menjadi kasus kematian pertama selama masa kerja Teddy. Ia sudah sering mendengar tentang gundik-gundik Victor yang mati di masa lampau. Mayoritas memang dilatarbelakangi persaingan tak sehat antar gundik. Pria itu mengacak rambutnya yang telah rapi dilapisi gel rambut. Kini rambutnya berantakan, Alexandra mungkin senang jika mendapat kesempatan mengacak rambut Teddy.


Oh, shit!


Teddy mengenyahkan bayangan Alexandra. Bukan saatnya ia memikirkan gundik milik tuannya. Fokus kepada Ruby sebelum kondisinya semakin memburuk.


"Ruby, kau harus makan sesuatu. Dokter sudah menyuruhmu makan bukan? Tapi aku dengar dari suster maupun pelayan lain, kau sama sekali tak makan. Apa kau punya rencana bunuh diri? Kalau bukan karena cairan infus ini, kau pasti sudah mengalami dehidrasi berat sekarang. Hentikan acara mogok makan ini, Tuan tak akan senang jika kau meninggal," ujar Teddy sembari mengistirahatkan kedua telapak tangan di pinggang.


Wanita itu tak kunjung memberikan respons. Alih-alih menyangkal atau sengaja mengiyakan tuduhan Teddy, Ruby justru berbalik memunggungi lawan bicaranya. Ia sama sekali tak memiliki niatan diganggu.


Teddy menarik napas lagi. "Ruby, kau harus tetap hidup. Anakmu, kau tentu ingin melihatnya lagi bukan? Kau tahu, Ruby? Tuan baru saja memberiku perintah, jika kau memilih meninggal, maka ia juga akan membuat anak itu


bergabung denganmu di liang lahat."


Satu kalimat yang bersangkutan dengan anaknya membuat Ruby bergerak sebaliknya. Ia justru bangkit dari posisinya semula tanpa menanti arahan lagi. "Kalian berdua sangat bejat!"


Teddy mengambil alih tempat pelayan Ruby, pun dengan mangkuk bubur yang berpindah tangan ke Teddy. "Makan ini dan yakinkan aku bahwa kau akan bangkit dan memperjuangkan hidupnya. Kau paham maksudku?"


Teddy mengaduk bubur yang telah sepenuhnya dingin, mengambil satu sendok kecil. Ia mengangkat sendok, berinisiatif menyuapi Ruby. Sementara wanita yang kini duduk di di atas ranjang itu tak menunjukkan ekspresi senang. Namun, pada akhirnya satu suapan bubur telah masuk ke dalam mulut. Ia menerima begitu saja setiap suapan yang diberikan Teddy.


"Ini demi anakmu, Ruby. Tuan memang membenci tindakanmu, tapi kau tetap wanita Tuan. Kau sekarang berada dalam perawatannya, ketika Tuan sudah terpikirkan ide untuk membunuh anak itu, aku berusaha agar ia berubah pikiran. Bagaimana pun juga, anak itu, satu-satunya keturunan Tuan. Ia mungkin membenci anak itu juga, tetapi ia pasti memiliki rencana di masa depan. Kau berutang terima kasih padaku karena berhasil membujuk Tuan."


Sampai isi mangkuk tersebut tandas dan obat telah diminum, tak ada satu pun obrolan yang tercipta di antara mereka. Teddy mafhum, Ruby adalah wanita dengan pemikiran luas. Mungkin selama ia menghabiskan bubur, ada banyak skenario yang telah tersusun. Teddy sendiri juga tak mampu menyelami kedalaman pikiran sang wanita. Ia adalah genius di masa kuliah dulu. Tak heran jika Victor merekrutnya menjadi gundik. Secantik apa pun gundiknya yang lain saat itu, Victor juga membutuhkan sosok cerdas dan bijak untuk berdiskusi.


"Tolong awasi dia lagi, pastikan dia minum vitamin dan makan buah. Aku akan menemui Tuan Victor," pesan Teddy pada sang pelayan.


"Baik, Sekretaris."


"Teddy," panggil Ruby lirih.


Jemari Teddy yang hendak menggapai daun pintu, seketika terhenti. Ia menoleh ke arah sumber suara. Ruby menatapnya berlinang air mata. Ketika pandangan mereka saling bertemu, Ruby menuduk.


"Terima kasih, Teddy."


Teddy mengangguk pelan, mengakhiri sesi kunjungannya dengan sebuah senyuman tipis. Ia masih harus menemui Victor, ada banyak hal lagi yang harus dilaporkan.


To.Be.Continue