
"Sudah kuduga bahwa Davis Buffon akan melakukan hal seperti ini lagi. Menghilangkan nyawa seseorang dengan begitu mudahnya. Bahkan seorang wanita tua yang sebentar lagi akan mati," ujar Victor yanh lantas merebahkan kepalanya di meja kerja Teddy. Energi fisik dan otaknya terkuras untuk hari ini. Terlalu banyak tagihan, panggilan, dan hal-hal lain yang begitu memeras fungsi otak dan kesabaran.
Sekembalinya Teddy dari kantor polisi, pria itu segera menceritakan segala hal yang baru saja ia alami. Pertemuan tak terduga dengan Irene Buffon, percakapan yang alot di antara mereka, serta dugaan campur tangan Davis Buffon di balik semua ini. Perjalanan sepuluh jam pulang pergi yang terasa sama sekali tak berguna itu membuat Teddy menenggelamkan tubuhnya pada selimut di atas sofa. Tempat biasa ia menghabiskan waktu beristirahat di sela-sela kesibukan.
"Irene bahkan meninggalkan nomornya. Ia benar-benar bersikeras ingin bertemu dengan Nona Alexandra," imbuh Teddy sebelum ia benar-benar tidur karena kelelahan dan rengkuhan hangat selimut.
"Kita bisa jadikan gadis itu mata-mata untuk kita," celetuk Victor.
Rasa kantuk Teddy perlahan pudar karena ide dari tuannya yang dianggap kurang masuk akal. "Anda pasti bercanda, Tuan."
Victor terkekeh. "Hei, aku serius."
"Tapi dia adalah putri dari Davis Buffon, pria paling licik yang kata Anda tak segan-segan membunuh kakak dan iparnya sendiri. Bagaimana jika Davis memanfaatkan putrinya untuk mengeruk informasi dari Anda melalui ide tak masuk akal tadi?" sangkal Teddy.
"Kau tentu ingat kita punya ramuan kejujuran bukan?"
"Jadi Anda berniat menjejalinya dengan ramuan itu? Efek sehabis minum ramuan itu benar-benar menjijikkan."
Teddy tak akan pernah lupa bagaimana pengalaman di masa lalu mengajarkan bahwa ramuan kejujuranVictor sangat merepotkan. Dulu, ketika Teddy masih kecil, pernah ada kejadian gundik yang menjalin hubungan dengan salah satu pekerja kastel. Sekretaris yang kala itu bekerja untuk Victor memaksa gundik yang malang itu mengaku dengan menjejalkan ramuan kejujuran padanya. Ya, singkat cerita gundik tersebut mengaku. Namun, efek yang ditimbulkan sehabis ramuan itu bekerja adalah yang terparah daripada kejujuran yang diucapkan si gundik.
Teddy membayangkan lagi bagaimana wanita itu menggelinjang di lantai dengan mulut berbusa bak anj*ing gila. Benar-benar mirip, karena wanita itu menggeram, tangannya mencakar-cakar lantai. Kuku-kukunya tergores dan berdarah. Beberapa kali merayap di lantai atau menggelantungi gorden. Lalu menggeram lagi dengan mulut yang berbusa dan lidahnya menjulur. Sebuah efek yang benar-benar gi*la. Sekaligus hasil karya luar biasa milik Victor yang digunakan banyak pemerintah dunia untuk menjegal banyak kriminal kerah putih dan menjebloskannya ke sel tahanan. Ramuan yang dibuat Victor tak melukai manusia, tetapi efektif untuk membuat mereka mengaku dengan mudahnya.
Filosofi dari ramuan itu adalah: karena anj*ing tak akan mengkhianati tuannya, kalaupun ia berkhianat hukuman yang pantas diterima adalah kegilaan. Sungguh, sebuah filosofi yang jahat.
"Kau tahu Teddy, tanpa dirimu hari ini, aku merasa menjadi seorang pecundang," ujar Victor yang masih tak berdaya di atas meja kerja sang sekretaris. Matanya yang hanya menyisakan segaris kesadaran meyakinkan Teddy bahwa memang hari ini menjadi sangat berat untuk sang alkemis.
"Apakah para gundik membuat masalah atau ada hal yang tak terduga terjadi, Tuan?" Teddy menyingkirkan selimut yang sempat menutupi tubuhnya. Rasa kantuk dan lelah yang sejak tadi menggelayutinya perlahan menghilang, bersamaan dengan datangnya kesadaran melakukan tanggung jawab pekerjaan.
"Tidak, hari-hari sama seperti biasanya. Mereka setiap hari selalu berbuat ulah untuk menarik perhatianku bukan?" Victor lantas menguap.
"Lalu?"
Teddy tersenyum lembut, tuannya memang terkadang memiliki sisi yang manis. "Terima kasih untuk pujiannya, Tuan. Tapi ada baiknya jika Anda pindah ke kamar dan tidur di sana."
Victor mengerang tak suka. "Meja ini terasa lebih menyenangkan daripada ranjang. Aku ingin tidur di sini sebentar saja, bangunkan jika mau kaupakai mejanya. Ah, kau pasti belum makan malam."
"Sudahlah, Tuan. Tidurlah saja. Jangan cemaskan aku." Teddy menggantungkan selimutnya di bahu Victor.
"Ah, sellimut punyamu wangi lavender. Aku suka lavender, seperti kembali ke masa lalu. Terima kasih, Teddy. Kau salah satu asisten terbaik yang aku punya, asisten paling baik dan setia," tandas Victor sebelum dengkuran halus itu lolos dari bibirnya. Sebuah pertanda bahwa ia telah dibuai alam mimpi.
Teddy sejenak tercenung mendengar bagaimana Victor menyebutnya sebagai asisten terbaik. Sejenak, ingatan tentang gundik yang berselingkuh dari Victor kembali memenuhi kepalanya. Ia mungkin bukan anjing yang baik lagi. Kedatangan Alexandra telah memutarbalikkan dunia Teddy. Gadis itu telah merebut hatinya secara perlahan. Membiarkan rasa itu tumbuh menggerogoti dada Teddy. Sebuah rasa terlarang yang seharusnya tak boleh dibiarkan tumbuh. Mencintai gundik Tuan adalah hal yang terlarang. Menjadi sebuah hal paling tabu yang tak boleh diketahui Tuan.
Akan menjadi sebuah bencana besar bagi Teddy jika tuannya mengetahui hal tersebut. Ia dan ibunya mungkin ditendang dari kastel untuk selamanya atau mungkin ia hanya tinggal menjadi nama. Sebuah harga yang sangat mahal untuk menumbuhkan rasa cinta. Kini, sebuah pekerjaan besar menanti Teddy. Membunuh rasa cinta itu, dengan cara apa pun. Sebelum rasa itu membunuhnya perlahan.
Teddy menutup pintu ruang kerja perlahan, tak lupa menggantungkan sebuah tanda merah di pintu. Sebuah tanda peringatan khusus yang dibuat Teddy. Biasanya ia menggantungkannya ketika diburu tenggat waktu pekerjaan atau ketika terlibat pembicaraan serius dengan Victor yang orang lain tak boleh ikut campur. Hanya Victor yang dapat menerobosnya, bahkan sang ibu pun tak diberi izin menerobos. Sebutlah ia anak durhaka karena menempatkan tuannya di atas sang ibu. Namun, sungguh. Ia lebih takut pada Victor daripada ibunya sendiri. Teddy hendak kembali ke kamarnya sendiri, mengambil handuk lantas mandi ketika seseorang berdiri tak jauh dari punggungnya.
"Oh, Ivanka. Apa yang kau butuhkan malam-malam begini?" tanya Teddy datar ketika mengetahui bahwa wanita itu sedang menantinya. Entah untuk alasan apa.
"Teddy, aku hanya penasaran dengan suatu hal, keberatan jika aku bertanya padamu?" Sebuah jawaban retoris yang sukses menimbulkan kerut pada kening Teddy.
"Ya, tak masalah. Silakan bertanya." Teddy mengangkat bahunya sedikit, memberikan kesan santai.
Ivanka tersenyum, sebuah senyum kecil yang nyaris menenggelamkan matanya. Sedikit membawa ketakutan yang membangkitkan bulu roma Teddy. Ketika pertanyaan itu keluar dari mulut Ivanka, seluruh tubuh Teddy menegang, jantungnya berdetak lebih cepat seakan hendak meledak. Rasa itu benar-benar akan membunuhnya.
"Apakah kau suka dengan Alexandra?"
To.Be.Continue
Jangan lupa ini adalah hari terakhir giveaway, ya. Semangat!