M'Lord

M'Lord
S.I.X



Ia mengenakan setelah jas mahal, jahitan desainer mahal yang dipesan secara khusus. Satu-satunya di dunia. Ia selalu bangga dengan barang-barangnya yang selalu eksklusif. Tak ada duplikatnya. Sebenarnya, tanpa merias diri pun, ia telah menjadi tokoh utama dalam pesta. Bahkan ketika ia datang tanpa membawa undangan, resepsionis di meja segera mempersilakan ia masuk tanpa sempat mengecek apakah ia memiliki amplop tersebut.


"Apa kau sudah mencari tahu tentang gadis itu?" Ia lantas mengambil dua buah gelas bertangkai yang menjadi bintang kesayangan milik keluarga Buffon. Mereka memang selalu pintar membuat minuman fermentasi terbaik. Satu gelas diulurkan pada sang sekretaris yang membuntuti ke mana pun ia pergi.


"Nona Alexander Lucille Buffon. Usia delapan belas, dalam hitungan minggu ia akan berusia sembilan belas. Mendiang orangtuanya---"


"Aku sudah tahu itu, yang lain. Lebih spesifik, hobi, warna kesukaan, makanan favorit, akun media sosial. Beri aku yang seperti itu," selanya sembari menggulirkan pandangan pada seluruh ruangan.


"Ia tak punya media sosial. Ia menyukai segala jenis kucing. Warna kesukaannya adalah ungu, tetapi dia lebih sering mengenakan pakaian warna hitam atau putih yang netral jika dikenakan dengan warna lain. Makanan kesukaannya adalah telur omelette dan buah ceri. Dan, ia bisa Muang Thai dan Jiujitsu."


"Hmm, menarik. Aku suka dengan perempuan tangguh seperti itu. Omong-omong, apa dia tak punya pacar?"


"Tidak, Tuanku. Ia sedang tidak menjalin hubungan dengan siapa pun, selama delapan belas tahun terakhir."


Ia mengulas senyum lebar. Di era modern seperti ini ketikan media sosial dan sebuah hubungan adalah dua hal yang saling berkaitan untuk menunjukkan eksistensi, gadis itu justru memilih tidak mengikuti arus. Padahal dengan paras Alexandra yang ayu, ditambah dengan status keluarga, dan kemampuan menguasai bela diri, ia bisa saja menjadi selebritas media sosial. Sungguh berbeda dengan gadis kebanyakan. Sebagai pembanding. Adik sepupunya selalu memamerkan segala hal dan aktivitas yang baru dilakukan di media sosial. Ia cukup terkenal karena gaya hidup hedonisme.


Dan, pembandingan itu sedang berjalan turun dari tangga bersama dengan ibunya. Mereka melambai anggun. Membalas sapaan orang yang kebetulan berpapasan di tangga. "Hmm, untuk ukuran seseorang yang pernah membunuh, ternyata ia dengan begitu tentangnya hidup dengan menguras hak yang harusnya tidak ditujukan untuknya." Ia bergumam.


"Anda baru saja mengatakan apa, Tuanku?" Sekretaris muda itu tak ingin melewatkan satu pun perkataan tuanya. Bisa saja ia juga melewatkan perintah yang mungkin saja dijabarkan secara tak langsung.


"Bukan apa-apa. Kau tak perlu tahu untuk saat ini. Sekarang kau bisa beristirahat dulu, Teddy. Akan ada banyak hal yang harus aku lakukan seorang diri." Tangannya melambai, lantas memisahkan diri dari sang sekretaris muda. Tentu saja Victor ingin menyapa secara langsung sang nyonya beserta putri semata wayangnya. Ia penasaran dengan apa yang akan dikatakan wanita itu jika ia menyisipkan cerita tentang kematian saudara ipar dan istrinya.


"Selamat malam, Tuan Victor. Sebuah kehormatan dapat menyambut kedatangan Anda yang sama sekali tak terduga ini." Charlotte membungkuk sembari melebarkan gaun yang ia kenakan. Pun dengan Irene yang mengekor di belakang tubuh ibunya.


Tentu kalimat terakhirnya memiliki dualitas. Satu, Victor yang salah karena tak menyadari perusahaan wine favoritnya mengadakan acara perayaan satu abadnya. Yang kedua adalah betapa memalukannya keluarga Buffon yang tak mengundang Victor yang jarak kastelnya tak terlalu jauh dari mereka. Tentunya Charlotte sudah cukup peka dengan situasi macam ini. Prasangka kedua segera membuatnya berlutut dan lantas meminta maaf. Irene pun turut berlutut di belakang ibunya. Ekspresinya benar-benar seperti acara lawak. Sangat lucu sampai-sampai Victor menahan tawa.


"Ampuni kesembronoan kami yang tak mengatahui bahwa Tuan Victor adalah penggemar setia wine kami. Kami juga sangat tak bertanggung jawab karena tak mengirimkan undangan ke kastel Anda. Padahal jarak menuju kastel Anda tak terlalu jauh."


Orang-orang tak berani mengomentari atau berbisik-bisik. Nyaris semuanya tak membiarkan kepala tegak dan menatap Victor pada level sama. Mereka ikut merundukkan tubuh dan berlutut. Terkecuali satu orang. Teddy sendiri yang menjauh dari keramaian pun menikmati pandangan itu. Ia menyesap wine yang tersedia dengan khidmat sembari bersandar pada dinding. Jika sudah begini, mungkin Tuannya sedang menahan diri tidak tertawa. Tuannya memang gemar membuat orang-orang ketakutan. Ketika mereka tak lagi di hadapan Sang Tuan, maka barulah tawa itu meledak. Ia akan menertawai kebodohan mereka yang terlalu patuh pada kata-katanya.


Ia juga menjadi satu-satunya orang yang menjaga postur tubuh tetap tegak ketika seluruh ruangan menunduk, berlutut, atau bahkan bersimpuh. Hanya ia dan Tuannya. Sebagai sekretaris, malam ini ia dibiarkan berlibur. Ia akan menjadi penonton sementara Tuannya yang akan memimpin jalannya panggung. Teddy menyeringai, semoga Tuannya nanti berbaik hati membagi cerita yang sudah disimpannya rapat-rapat. Prahara yang menyelimuti kediaman keluarga Buffon tak dapat dilewatkan.


"Bangunlah. Itu bukan kesalahan yang disengaja. Jika membunuh orang, barulah kau boleh berlutut dan bersimpuh seperti itu. Sekarang tegaklah, biarkan aku melihat wajah cantik kalian."


Charlotte bangkit dengan kaki bergetar. Pun dengan matanya yang mulai digenangi air mata. Kendati begitu pun, ia masih bersikeras tersenyum lebar. Sedangkan Irene belum mendongakkan wajah sama sekali. Victor tak dapat menahan dirinya kali ini. Ia tertawa kendati tak begitu nyaring.


"Nona kecil ini sangat ketakutan rupanya. Mengapa? Apakah ada paku di sepatumu?"


Pertanyaan itu justru menjadi pukulan telak bagi Irene, tubuhnya bergetar hebat dan nyaris kehilangan keseimbangan. Ibunya menahan bahu Irene, menjaga agar gadis kecilnya tak terjatuh ke lantai. Kedatangan Victor yang mendadak, ditambah dengan sapaan yang membawa angin dingin itu justru membuat hawa menegangkan tak kunjung lenyap.


"Ah, bisakah aku mengunjungi Nona Buffon satunya? Yang camtik itu. Ada hadiah yang harus kuberikan padanya. Maaf jika itu berarti aku harus masuk ke kamar seorang gadis perawan. Anda tak keberatan, Nyonya?"


Charlotte menggeleng perlahan. Seluruh kekuatan tubuhnya telah terserap karena pertanyaan yang membuatnya nyaris muntah di tempat. Pembunuh. Sedangkan Victor seakan tak mau tahu, ia lantas melewati tubuh Charlotte dan Irene seakan tak ada dua orang orang tersebut di sana. Tangan kiri Victor meraba kantung celananya, kotak perhiasan itu akan menjadi mimpi buruk lain bagi anggota keluarga Buffon lain yang velum sempat ia temui. Alexandra harus melihat dan mengenakannya lebih dulu. Barulah Davis dan Charlotte akan mendapat serangan jantung untuk ke sekian kalinya hari ini.


To.Be.Continue