
Sejatinya, manusia akan berakhir menjadi tanah seperti mereka juga, iya 'kan? Alexandra tak memiliki ketakutan ketika menjejakkan kakinya pada jalanan lembap nan basah di sebuah perkuburan yang terletak tak jauh dari pusat kota. Rumputnya selalu meninggalkan sisa embun atau air ketika hari telah siang. Ada sensasi sendiri ketika telapak tangannya menyapu rerumputan basah. Seperti menyentuh air mata yang ditumpahkan untuk orang-orang yang telah pergi dan tak akan pernah kembali.
Pergi dan tak pernah kembali. Semua makhluk hidup di dunia pasti akan menjumpainya juga. Maut. Namun pria itu, entah pengecualian atau bentuk perlawanan takdir Tuhan yang menelusup dalam wujud manusia. Victor yang baru saja menimbulkan kegemparan di gerbang universitas selalu dikenal sebagai sosok yang hidup ratusan tahun. Ia mungkin penjelajah waktu karena dapat berkenalan dengan sosok-sosok ternama dunia yang telah berpulang pada Sang Pencipta. Napoleon Bonaparte, Charlie Chaplin, Albert Einstein, Mahatma Gandhi, Hitler, Ratu Elizabeth I, sebenarnya ada banyak, tetapi Alexandra lupa. Ia bukannya menggemari pria itu bak aktor terkenal.
Satu gestur pria rupawan tersebut telah mengembuskan kabar bahwa ia pasti akan dijadikan salah satu dari gundik atau pelayan di kastelnya yang misterius. Terlalu kebetulan karena jarak kastelnya dan kediaman Buffon hanya berjarak satu malam perjalanan dengan mobil. Membawa nama Victor dan Buffon membuat perutnya bergejolak. Keluarganya sendiri adalah mimpi buruk, lalu sekarang ia berjumpa dengan pria yang menjadi mimpi buruk di atas semua mimpi buruk. Betapa hidupnya sangat diberkahi oleh Tuhan.
"Selamat pagi, Ayah dan Ibu. Apa kabar kalian?" Alexandra meletakkan masing-masing setangkai lili putih pada batu nisan. Senyum tipis terkembang di bibir sementara wajahnya menunjukkan ekspresi yang beragam. Jika biasanya Alexandra begitu mudah membagi cerita dengan berbagai tambahan bumbu yang mengiringinya. Kini ia lebih banyak menatap batu nisan orangtuanya. Sesekali ia akan melumasi bibir bagian luarnya dengan ludah, lalu mengubah posisi duduk. Rentetan yang kejadian melintas---bahkan belum lima jam sejak ia terbangun---membawa sedikit kekhawatiran tentang bagaimana ia melanjutkan hari esok.
"Mungkin ini terdengar aneh, tapi hari ini aku bertemu Victor. Ayah dan Ibu tentu tahu siapa dia bukan? Ya, kalian benar. Ialah yang terkenal abadi, tak pernah mati. Sebenarnya tak aneh juga aku bisa bertemu dengannya karena rumah kita dan kastelnya tak terlalu jauh, 'kan? Maksudku bukan yang dekat seperti jalan kaki, tapi untuk ukuran kediaman seseorang yang seperti dia, bukankah kita terlalu dekat?" Ia memulai monolog. Mengalir begitu saja tak ada hambatan. Seakan beberapa menit yang sebelumnya berlalu seperti kehampaan, tak pernah terjadi.
"Ia berdiri tepat di sampingku seperti ini. Lihatlah ini." Alexandra lantas menggerakkan tangan, membuat bentuk seorang pria yang tingginya sekitar sepuluh centi lebih tinggi darinya. Berarti pria itu cukup mungil jika diukur dengan rata-rata pria yang tinggal di sana. Mungkin tinggi Victor hanya sekitar 179 centimeter ketika rata-ratanya sekitar 180 centimeter lebih. Bahkan dua pemuda yang kini sudah dipindahkan ke klinik terdekat itu lebih tinggi beberapa centimeter dari Victor sendiri. Mereka pun masih dapat bertumbuh.
"Kalian tak percaya kalau dia berdiri di sampingku seolah tak ada apa pun yang terjadi. Rupanya karena dia memang ingin menyamar. Wah, hebat sekali dia. Membuat orang-orang ketakutan bahkan sebelum kuliah pagi itu dimulai. Padahal hari ini aku ada kuis, tapi orang-orang segera menyuruhku pulang. Ada yang bilang aku harus bersiap kalau nanti dia akan datang dan menjemputku sebagai pelayan atau gundiknya," tutur Alexandra disertai gestur ekspresif. Jika ada orang lain yang kebetulan melihat, mungkin mereka akan memandanginya sebagai gadis yang berbicara dengan kuburan seperti sedang video call.
"Aku tak paham dari mana ide menjadi gundik atau pelayannya itu muncul. Tapi aku yakin sekali bahwa hanya karena dia mengelus daguku sambil mengatakan bahwa kami akan berjumpa lagi. Ia bahkan meyakinkan aku bahwa kami memang akan bertemu lagi. Tak tahukah kalian kalau hari ini, sepertinya jantungku tertarik keluar?"
Alexandra kemudian menyebutkan detail-detail yang sempat terlupa pada cerita sebelumnya. Tentang bagaimana rupa Victor, apa yang hari itu ia kenakan, pemuda bodoh yang mengajaknya ribut, dan bagaimana ramainya hari itu saat nyaris satu universitas menyaksikan dengan jelas interaksi singkatnya dengan Victor. Lalu ia kembali menceritakan tentang paginya yang menyebalkan di rumah. Semua dentetan kejadian disebut satu-satu hingga tak ada yang terlewat.
***
"Tadi ada insiden kecil di universitas tempat Nona Alexandra kuliah. Ada yang bilang dagunya dipegang oleh Victor tersebut, Nyonya." Sekretarisnya, Anne lantas menunjukkan potret yang tersebar di dunia maya tentang interaksi singkat Alexandra dengan Victor. Komentar yang melengkapi foto itu adalah tentang betapa beruntungnya Alexandra sehabis ini. Banyak yang menduga bahwa Alexandra akan dibawa Victor sebagai pelayan, bahkan di tingkat yang lebih tinggi adalah sebagai gundikn.
Charlotte tentu memandang ini sebagai tiket emas agar ia dapat menyingkirkan Alexandra jauh-jauh dari rumah tanpa harus mengotori tangan lagi. Ia segera menyambungkan telepon pada suaminya yang tengah mengadakan rapat tertutup dengan para staf penting perusahaan. Ia tak terkejut lagi ketika suaminya protes dengan panggilan yang mendadak itu di tengah rapat.
"Kau harus melihat berita hari ini. Ada hubungannya dengan Alex. Itu bisa jadi kesempatan emas kita untuk membuatnya pergi tanpa repot-repot membunuh." Charlotte masih berlenggak-lenggok di depan cermin. Aksesori di kepala sempat berganti beberapa kali, ia akan mencari semua tampilan terbaik untuk ditujukan pada dunia malam ini. Ia yakin bahwa Victor akan mendatangi kediaman mereka dan mencari Alexandra.
"Maksudmu Alexandra dan Victor ... ini memang kesempatan emas bagi kita. Pastikan hari ini Alexandra datang dan mengenakan gaun dan riasan paling cantik," balas Davis dari sambungan telepon.
"Tunggu, maksudmu ia harus lebih cantik dariku dan Irene? Apa kau serius? Kau mau membuat istrimu tak jadi sorotan?"
"Apa pentingnya itu? Yang penting Alexandra bisa tersingkir dari rumah tanpa harus membuat kita bertindak lebih buruk. Bilang pada Irene untuk berpakaian biasa saja. Panggil butik langgananmu dan perintahkan mereka memberikan gaun paling bagus untuk Alexandra. Aku tak mau mendengar protes darimu, lakukan atau aku akan melakukan hal yang buruk padamu. Telepon kututup."
Charlotte memandangi ponselnya dengan wajah tak percaya. Daripada memikirkan tentang dirinya, ia lebih khawatir Irene yang mungkin tak akan membiarkan Alexandra menguasai panggung untuknya nanti. Selama beberapa pesta, Davis selalu mengenakan Irene sebagai putrinya yang paling cantik dan baik hati. Namun jika Davis sudah memberikan titah agar Alexandra mendapat penampilan terbaik, maka Davis pasti akan memperkenalkan pada para tamu mengenai betapa cantik dan luar biasanya Alexandra.
Entah apa yang nanti akan pria itu perkenalkan tentang Alexandra. Mungkin tentang betapa liarnya gadis itu karena telah melakukan banyak hal dengan kakinya. Mengingat gadis itu telah belajar Muang Thai sejak berusia sebelas. Atau tentang betapa abainya ia pada penampilan. Ah, terserah dengan suaminya. Satu hal yang ia inginkan sekarang, menyingkirkan Alexandra dari rumah.
To.Be.Continue