M'Lord

M'Lord
E.I.G.H.T.E.E.N



Victor mematutkan dirinya di cermin. Ia mengenakan blazer warna abu-abu yang dipadukan kemeja putih dan celana hitam. Kemeja itu adalah pemberian Ivanka beberapa bulan silam. Sebuah bros berbentuk singa direkatkan pada blazer. Jepitan hewan itu memiliki harga yang sama dengan mobilnya yang lain. Ketika ia menjelekkan kaum wanita dengan menyebut mereka aneh menghabiskan uang demi tas, sebenarnya ia tak terlalu beda. Parfum disemprot ke udara. Maka inilah akhir dari sesi berdandan yang katanya bisa memakan waktu dua belas jam untuk dandannya perempuan. Sebelum turun, ia membawa bingkisan hadiah Ivanka dan sebuket bungan favorit wanita itu. Anyelir warna putih dan merah muda yang memiliki arti cinta tulus.


Menjabarkan arti bunga itu, sebenarnya membuat rasa bersalah timbul di hati Victor. Ia sama sekali tak memiliki cinta yang tersisa untuk wanita itu. Pun dengan gundiknya yang lain. Mereka tak lain adalah pemuas berahi dan wanita yang bisa ia jadikan penghilang bosan di kala suntuk. Tak lebih dari itu. Pengecualian jika mereka bisa membantu Victor mengurus perusahaan. Ya, dari gundik-gundiknya terdahulu pun juga ada yang sepintar Ruby dalam mengatur perusahaan. Mereka pun masih loyal terhadap Victor sampai akhir hidupnya. Namun, semakin dunia tua, semakin sulit menemukan orang-orang yang benar-benar loyal. Terkadang ketika insomnia datang dan mengusir kantuknya, ketakutan bahwa Teddy tak akan loyal pun datang.


Begitu pula pada gundik-gundiknya yang lain bahkan Ruby sekalipun. Ketakutan itu kian membesar saat orang-orang secara perlahan mulai kehilangan ketakutan akan dirinya. Tentu tak semuanya buruk, tetapi ketakutan itu tak pernah hilang walaupun telah berusaha mengusir pemikiran tersebut dengan berkeliling dunia dan melirik wanita-wanita cantik di luar sana. Alexandra pun sepertinya bukan seseorang yang dapat ia harapkan. Ia memiliki jiwa pembangkang.


Ketukan pintu itu membuyarkan lamunan Victor. Suara Teddy menyusul tak lama setelahnya, "Tuan, apakah Anda telah siap?"


"Ya, aku sudah siap."


"Baiklah, Tuan. Kami akan menunggu Anda."


Suara langkah Teddy yang semula tak ia hiraukan kini terdengar menjauh. Victor kembali menatap wajahnya pada pantulan cermin. Untuk sekarang, ia akan fokus pada Ivanka dan pengumuman akan adanya penambahan gundik lagi. Ivanka cukup dewasa untuk memahami keinginannya, sama seperti Ruby. Jane yang menjadi masalah utama, berharap saja wanita itu tak akan berbuat bodoh karena keputusan mendadak Victor.


Ruangan telah terisi, seluruh gundiknya juga telah duduk di tempat mereka masing-masing. Meja panjang itu penuh dengan makanan. Victor memberikan intruksi agar hanya sisi kanan meja yang diisi oleh gundik, sementara sisi kirinya diisi oleh Teddy. Sedangkan Victor akan duduk di kursi utama. Sisi kanan terdekatnya diduduki oleh Ivanka, biasanya diduduki Ruby. Karena malam ini sangat istimewa bagi Ivanka, Ruby selalu berbaik hati memberikan kursinya bagi gundik lain di hari penting mereka seperti ulang tahun atau perayaan bergabung ke kastel.


"Selamat malam semuanya. Seperti yang kalian semua ketahui bahwa aku akan membawa berita penting malam ini. Tentu saja aku sedikit merasa bersalah ketika di hari istimewa Ivanka pengumuman ini harus kubagi dengan kalian. Maka dari itu pengumuman ini akan kusampaikan pertama kali, lalu sisanya kita fokuskan pada Ivanka."


Pandangan Victor menjelajah, tak ada yang bereaksi berlebihan. Maka akan ia lanjutkan.


"Oke, akhir-akhir ini rumor bahwa aku akan membawa gundik baru sudah menyebar luas. Kalian tak salah dengar, rumor itu memang benar. Aku akan membawa satu gundik baru. Ia akan yang jadi termuda, usianya baru delapan belas dan tiga minggu lagi akan berusia sembilan belas. Ia adalah putri mending anak sulung keluarga Buffon, namanya Alexandra dan dia masih berstatus mahasiswi sekarang. Ada pertanyaan sebelum kita beralih ke fokus utama yang lain?"


Ruby mengangkat tangan, ia segera menurunkannya ketika Victor memberikan isyarat untuk melanjutkan, "Jika ia sedang kuliah, lalu bagaimana dengan kelanjutan pendidikannya?"


"Untuk itu aku akan merundingkannya nanti dengan Alexandra dan Gilberth. Ia kuliah di universitas kenalanku, sekarang canggahnya yang menjadi pengurus utama di sana. Ia adalah anak yang manis buatku, maka berunding dengannya tak akan jadi masalah. Ada pertanyaan lain?"


Lagi-lagi dari Ruby, "Kapan ia akan pindah ke sini, Tuanku?"


"Mungkin secepatnya. Aku sudah memberikan kode agar pamannya segera membawa Alexandra ke sini. Ia harus membawa keponakannya ke sini sebelum kehabisan waktu." Ada seringai menyeramkan yang terulas di wajah Victor. Para gundik itu tak terlalu awas, tetapi Teddy dapat melihatnya. Dan, ia yakin bahwa Tuannya, mungkin merencanakan sesuatu.


Tak ada pertanyaan lagi. Acara utama malam itu diawali dengan Victor yang menyerahkan rangkaian bunga dan hadiah untuk Ivanka. Makan malam yang tenang tanpa adu mulut kecil. Hingga berakhir dengan Teddy dan gundik-gundik lain meninggalkan aula pesta kecil tersebut. Malam itu, Victor menikmati bagaimana Ivanka begitu lihai dalam Waltz, tarian mereka terus berlanjut di atas ranjang hingga pagi menjelang.


***


Dokter Edward menyebut Alexandra dapat sepenuhnya pulih dalam waktu satu minggu. Maka, terpaksalah ia menunda mengirim Alexandra ke kastel sampai kondisi gadis itu benar-benar pulih. Ia mencoba memanggil Victor lewat sambungan telepon. Bertepatan dengan pria itu yang baru saja bangun. Ia menelusup keluar dari selimut dengan seluruh bagian tubuhnya tak dilekati benang apa pun. Ketika membuka-buka ponsel, panggilan dari Davis masuk dan Victor segera mengangkatnya.


"Ada apa meneleponku pagi-pagi Tuan Buffon?"


"Ah, Tuanku. Maaf karena telah mengusik pagi Anda. Tapi saya hanya akan mengabarkan bahwa Alexandra sedang sakit sehingga saya terpaksa menunda mengirimnya ke kastel Anda." Davis terdengar bergetar dari sambungan telepon itu.


"Tak apa, aku pun tak ingin ia datang dalam kondisi tak prima. Ia harus datang ke sini dalam keadaan benar-benar sehat. Berapa lama ia dapat sembuh?"


"Satu minggu, Tuanku."


"Maka bawa dia satu minggu lagi, jangan terlambat jika tak ingin rahasiamu kubongkar."


"Baik, Tuanku. Akan saya tepati."


Setelah panggilan itu terputus, Victor melempar ponselnya kembali ke nakas. Apakah dampak kecelakaan itu yang menyebabkan Alexandra tak dapat dibawa kemari? Nyonya, Morris juga tak kunjung memberikan laporan. Victor mendadak cemas. Apakah Nyonya Morris juga terlibat dalam kecelakaan itu dan membahayakan nyawanya?


"Tuanku?" Ivanka melingkarkan lengannya pada pinggang Victor. Kulit tubuh mereka yang saling bersentuhan kembali membawa geletar menyenangkan di bawah perut Victor. Ia pun sebenarnya ingin menyambung kegiatan panas mereka semalam. Ivanka tak hanya menempelkan kulitnya, tetapi juga menggesekkannya secara lembut. Ia benar-benar kelewat manja jika tidak di hadapan gundik lain.


"Kau sangat rindu padaku sampai-sampai tak mau melepaskanku?" tanya Victor sembari meraih salah satu tangan Ivanka, lantas menciuminya dengan lembut.


"Tentu saja, Tuanku. Apakah Anda sendiri tidak?"


Tidak.


"Tentu. Aku selalu merindukan kalian semua."


Pelukan itu dilepas, Victor berbalik. Mendorong Ivanka agar kembali terbaring di ranjang. Victor bukannya rindu, tetapi memang ia tak dapat menahan hasrat liar yang telah menumpulkan otaknya untuk sesaat.


To.Be.Continue