
[Satu hari sebelum peristiwa....]
"Teddy, kau yang akan mengajaknya berkeliling hari ini. Aku akan berada di laboratorium seperti biasa. Hari ini sampai malam. Jadwal siapa denganku malam ini?"
Setelah sarapan yang berlalu dengan banyak kecanggungan, Victor kembali ke ruang kerjanya untuk menandatangani beberapa berkas. Teddy seperti biasa selalu mendampingi Victor ke mana pun. Terkecuali laboratorium tempat Victor selama ini meracik ramuan-ramuannya. Sampai sekarang, belum ada satu orang pun yang dapat memasuki kamar itu selain Victor. Tak ada yang memiliki tiket memasuki kamar rahasia itu. Tempat di mana seluruh rahasia Victor tersembunyi. Termasuk ia yang tak mampu membuat kembali ramuan hidup abadi itu.
"Malam ini Anda tidak memiliki jadwal dengan siapa pun, Tuanku. Jadwal untuk Nona Alexandra belum saya tambahkan. Ia mungkin tak akan senang saya memasukkan namanya tanpa mendapat persetujuan dulu." Teddy menyerahkan berkas lain lagi yang harus diberi tanda tangan Victor.
Pria itu menghela napas lelah. Rutinitas yang sama setiap harinya. Ia butuh liburan, tetapi dengan banyaknya masalah yang terjadi akhir-akhir ini, ia mengurungkan niat mengajak seluruh gundiknya jalan-jalan. "Alexandra tampaknya tidak seperti itu. Ia memang sedikit arogan, tapi dia orang yang kooperatif jika dalam situasi terpaksa."
Teddy tersenyum miring mendengar penuturan Tuannya. Jika di mata Tuannya memang begitu, lalu ia harus apa? Alexandra cenderung bebas. Tak ingin dikekang, tetapi dalam satu waktu tak ingin menyusahkan orang lain. Bukan satu atau dua kalimat saja untuk menjelaskan Alexandra secara penuh. Kalau dibuat buku, mungkin lebih tebal daripada novel Harry Potter.
"Tuan tak perlu memusingkannya. Saya bisa bercakap-cakap dengannya nanti. Sementara itu, saya sudah terpikiran beberapa tempat wisata yang sedang populer saat ini. Tempat tropis, cuaca yang tepat untuk mengusir dingin," ujar Teddy tiba-tiba yang segera mendapat respons menyenangkan dari Victor.
Pria yang tadinya menyandarkan kepala lelah di kursi itu. Tiba-tiba saja terbangun. Matanya berbinar bak anak kecil yang mendapat permen lolipop besar. "Kalau negara tropis, tolong jauhkan dari Indonesia, Malaysia, atau Brunei. Mereka sepertinya sangat sensi padaku."
Ingatan Teddy dan Victor melayang ke tiga tahun yang lalu saat Victor mengajak Ruby dan Jane ke Bali. Kedatangan mereka tak disambut dengan cukup baik. Ada spanduk besar yang menghadang di bandara. Tulisan-tulisan itu provokatif. Intinya mereka tak menghendaki seorang pria pembawa ajaran sesat tanda kiamat menginjakkan kaki di bumi mereka. Victor kan hanya manusia biasa, tak bisa berbuat apa-apa kalau tak memiliki sekretaris.
Hal yang sama juga berlaku saat Victor mengunjungi Malaysia. Padahal ia hanya ingin mengunjungi Lego Land. Di Brunei pun sama saja. Maka dari itu ia dan rombongannya enggan berkunjung ke sana lagi. Itu adalah kunjungan terakhir mereka. Salah satu dari negara-negara yang menganggap Victor terlalu over power.
"Aku ingin sekali bersemangat. Tapi mendadak aku lemas kalau mengingat Ruby dan anaknya." Victor kembali menyadarkan kepala di kursi putar.
"Dia anak Tuan juga."
Victor mendesis tak suka. "Jangan sebut-sebut dia sebagai anakku. Aku bahkan tak pernah berharap ia akan terlahir ke dunia."
Kejam? Tentu. Victor sendiri yang selalu melabeli dirinya dengan julukan tersebut. Bahkan kepada anak yang bahkan belum berusia seribu hari di dunia. Victor mengulum bibir. Anak itu bisa jadi salah satu cara Ruby mengumpulkan perhatian dan nantinya akan dimanfaatkan untuk mengutip rahasia-rahasia yang selama ini Victor simpan rapat-rapat. Ruby memang terlalu pandai. Ia bahkan mengetahui tentang ramuan kontrasepsi yang selalu diminum tiap harinya itu.
Salah-salah, wanita itu bisa saja menusuknya dari belakang dengan berbagai macam cara. Victor bukannya tak memiliki rival. Ia punya banyak, berpencar di seluruh bagian dunia. Mereka juga memiliki menumbangkan Victor dengan beragam cara. Namun, mereka belum bergerak. Dan, setiap harinya Victor selalu menantikan serangan itu datang kepadanya.
Ketika orang-orang awam di luar sana menyebut bahwa hidupnya teramat diberkahi Tuhan. Maka, izinkan Victor menyumpal mulut mereka dengan cairan pembersih lantai. Hidupnya sama sekali tak mudah kendati banyak orang tunduk di bawah kakinya. Lagi-lagi kembali pada permainan licik. Victor selalu berusaha mengantisipasi masuknya orang-orang dengan tujuan buruk itu memasuki kehidupannya. Namun salahkan alat kelaminnya yang sama sekali tak dapat berkutik di hadapan wanita cantik.
"Tuan, saya akan mengecek kondisi Nona Alexandra dulu sementara Anda kembali ke laboratorium. Memang lebih awal, tapi saya hanya khawatir para gundik itu akan berbua hal tidak menyenangkan pada Nona Alexandra. Saya undur diri," pamit Teddy.
Begitu sang sekretaris tak berada di ruangan itu lagi, Victor menjelajahi laboratoriumnya dengan langkah pelan. Wajahnya yang terpantul pada botol-botol kaca berwarna itu selalu disebut sendu oleh Ruby. Lagi-lagi wanita yang sedang ia musuhi itu tak pernah gagal membaca dirinya hingga ke dalam. Ada beberapa wanita juga di masa lalu yang memiliki kepekaan tinggi. Mereka tak pernah gagal menebak bagaimana suasana hati Victor dan apa yang membuat pria itu terdiam di sela-sela kegiatan ranjang mereka.
"Marion...."
Sebuah nama yang tertulis pada sebuah kotak kaca. Bunga-bunga lavender ungu dan mawar biru memenuhi kaca tersebut. Seperti tubuh Victor yang tak pernah menua. Bunga-bunga itu pun tak pernah layu. Keajaiban ramuan yang telah diciptakan oleh gurunya dulu. Bunga-bunga itu sejatinya mempercantik kotak kaca besar itu, agar tubuh sang mendiang istri tak kesepian dan kedinginan di dalam sana.
Di dalam kotak kaca itu. Terbaring jasad sang istri yang terawetkan sempurna dalam kedamaian abadi. Potongan wajah yang telah ia simpan beratus tahun dalam pencarian akan sosok yang sama. Lalu, kini Victor telah menemukannya. Sebaris nama yang mungkin dapat menggantikan kepergian sang istri.
***
Teddy menelusuri jejak langkah yang dibuat oleh Alexandra. Gadis itu benar-benar berjiwa angin. Bebas dan tak segan melawan apa yang tak sesuai dengan nilai-nilai yang tersimpan dalam jiwanya. Kini gadis itu melepaskan sepatu, menjepit sepasang alas kaki tersebut dengan dua jari, lantas dibawa berkeliling taman samping kastel yang tengah sepi. Ia menaiki pinggiran kolam air mancur bulat, sesekali ia berusaha menyeimbangkan diri ketika tubuhnya ditiup angin. Terkadang tubuhnya miring, nyaris kehilangan keseimbangan dan tercebur.
Teddy hendak menegur, tetapi ia bungkam. Alih-alih menyuruh gadis itu turun, ia justru mengikuti langkah Alexandra memutari pinggiran kolam renang. Kalaupun Teddy menyebut namanya, mungkin gadis itu akan terkejut dan nantinya masuk ke dalam air. Melihat bagaimana rambutnya diterbangkan angin dan ujung gaunnya berkibar, menghangatkan pipi Teddy. Bukannya ia seorang mesum yang gemar menatapi perempuan cantik dan roknya yang hampir diterbangkan angin. Namun ia sendiri juga mengakui bahwa ia takluk dengan pesona Alexandra. Seperti bagaimana Tuannya juga tak dapat menahan diri mengejar gadis itu.
Namun, di titik ini Teddy mengetahui batas. Bahwa ia tak dapat melanggar garis yang diciptakan Tuannya untuk menandai barang-barang milik pribadi. Bahkan jika barang prinadinya adalah hal yang bernyawa. Seperti Alexandra yang adalah barang milik Tuannya sekarang. Dan, ia mungkin telah lanang karena bermain-main dengan menganggap Alexandra sebagai seseorang yang dapat ia dekati. Teddy mengulum bibir, ia berusaha menghentikan permainannya sebelum semakin jauh dibawa tenggelam pada pesona sang gadis.
"Nona Alexandra."
"Ah, terima kasih, Teddy."
"Sama-sama. Aku sebenarnya tak ingin mengganggu, tapi hari ini aku akan memberikanmu tur kecil keliling kastel. Jadi, kuharap kau segera bangun dan tak membebani tubuhku lagi."
Sejurus kemudian, Alexandra bangkit. Membenarkan gaunnya lalu mengenakan sepatu itu kembali. Teddy sendiri mengulas senyum canggung karena interaksi mereka yang cukup dekat.
"Kau mungkin tak keberatan jika tur ini diawali dengan kamarmu. Mungkin para petugas pindahan itu sudah menyelesaikan menata semua perabotan itu sehingga kau bisa langsung menata barang-barang pribadimu."
Alexandra mengangguk-angguk semangat. Ia benar-benar seperti angin, mudah berganti ekspresi. Maka, Teddy memimpin tur singkat tersebut. Pertama-tama, ia membawa Alexandra mencari jalan lain menuju kamar. Kastel ini memiliki empat pintu di sisi utara, barat, selatan, dan timur. Mereka datang lewat pintu barat, kini Teddy membawa Alexandra melalui pintu samping di sebelah utara.
Ada banyak hal baru yang Alexandra lihat sepanjang jalan menuju kamar para gundik lewat pintu utara. Kebanyakan adalah pakaian besi para prajurit yang sering ia lihat di film-film kolosal. Sisi utara tak seterang sisi lain karena kebanyakan adalah tempat Victor menyimpan koleksinya, seperti pakaian besi tersebut. Beberapa peralatan perang yang tertinggal. Dan sebuah perpustakaan yang menjadi sudut favorit Ruby.
Menuju ruang para gundik, lagi-lagi Alexandra dibuat terpukau oleh dekorasi kastel yang merupakan perpaduan unsur klasik dan modern. Pada jendela-jendela yang harusnya dipenuhi dengan mozaik khas era pertengahan, jendela mozaik itu justru menggambarkan tokoh kartun favorit Alexandra. Spongebob dan seluruh karakter dalam film kartun itu.
"Nah, ini belokan menuju ruang gundik. Kau akan mulai terbiasa jika berkeliling seperti ini," terang Teddy.
"Kalau kamar milik Tuan?"
Teddy menaikkan alis. Aneh sekali Alexandra bertanya dengan nada mendayu-dayu dan pipi yang merona merah muda. Padahal kemarin saja ia enggan membahas apa pun yang ada hubungannya dengan pergundikan. Dan, sekarang gadis itu justru menunjukkan gelagat mabuk cinta. Lagi-lagi, Teddy menyalahkan sifat angin Alexandra.
"Nah, kamar yang paling ujung itu adalah punya Ruby karena ia yang tertua. Lalu di depan kamar Ruby adalah milik Jane. Pokoknya kamar itu selang-sling menurut yang tertua. Punyamu sebaris dengan milik Jane dan Eliza. Sedangkan punya Ruby sebaris dengan Ivanka dan Ling. Sekarang kau hafal siapa saja pemilik kamarnya bukan? Jangan sampai keliru." Teddy masih meneruskan penjelasan sementara Alexandra mengangguk-angguk paham.
"Bagaimana dengan kamar milik Tuan? Apakah satu lantai?" Lagi-lagi pertanyaan tentang kamar Tuan.
"Kamar Tuan di lantai dua. Berhadapan dengan kamarku. Ia sengaja tak satu lantai dengan para gundik karena ia juga terkadang ingin santai dan tak diganggu. Dalam sebulan, ia memiliki beberapa hari di mana tak bermalam dengan siapa pun."
"Apakah ada yang pernah satu kamar dengan Tuan di kamar utamanya?"
Alis Teddy makin naik dan keningnya berkerut. Bukannya gadis itu enggan memiliki hubungan yang sesungguhnya dengan Tuan?
"Selama beberapa tahun ini, aku tak pernah mendengar hal yang seperti itu. Tuan selalu sendiri. Itu juga yang aku dengar dari sekretaris sebelum diriku."
Alexandra mengangguk-angguk. Masih dengan rona merah muda di wajahnya. Pandangan gadis itu tak lagi fokus. Sesekali ia akan memainkan bibir, menggesek-gesekkan lutut, lalu sesekali tersenyum aneh.
"Bagaimana kalau kita melihat kamarmu dulu?" Teddy tak ingin terlibat dalam suasana yang lebih canggung. Ia lantas membuka kamar dengan kunci cadangan yang ia bawa.
Perabotan di kamar itu telah tertata rapi. Kecuali barang-barang pribadinya yang masih tersimpan rapi dalam koper dan kardus. Di sudut kamar, seragam yang akan dikenakan Alexandra esok tergantung di bagian luar lemari. Teddy nyaris melompat kaget saat mendapati seragam itu pendek. Benar-benar pendek.
"Apakah Tuan sendiri yang memilih seragam itu untukku?" tanya Alexandra kemudian saat sang gadis mengikuti arah pandang Teddy.
"Seingatku begitu, tapi aku tak menyangka kalau Tuan pada akhirnya memilih pakaian seperti itu." Teddy hendak mengumpat, tetapi sama saja dengan mencaci Tuannya. Seragam itu memiliki rok yang sangat pendek, mungkin sebatas paha. Bagian atasnya pun juga dengan belahan dada rendah. Lengannya bahkan tak ada. Hanya tali tipis yang akan menjaga seragam itu tak melorot nantinya.
"Kalau Tuan ingin aku mengenakannya. Maka aku akan pakai."
Dan, entah keberapa kalinya dalam satu jam itu. Ia dibuat kaget dengan perubahan mendadak Alexandra.
To.Be.Continue