M'Lord

M'Lord
F O U R T Y O N E



Perjalanan kembali ke kamar menjadi berlipat ganda melelahkan jika dilakukan dengan satu kaki saja. Alexandra hanya berharap ia tak bertemu dengan siapa pun sekarang. Siapa pun yang akan membuat suasana menjadi lebih canggung. Sebut saja Teddy.


"Ada apa dengan kakimu?" suara itu mengalun dingin, menegakkan seluruh bulu roma Alexandra.


"Ah, Tuan sudah bangun. Bukankah ini terlalu pagi bagi Tuan?"


Bodoh! Kenapa kau malah bertanya seperti itu ke Tuan! Dalam otak Alexandra, bentuk imajiner dirinya dalam bentuk kecil sedang menghajar sel yang berhubungan dengan kinerja mulut karena bicara seenak hati.


"Aku orangnya bisa tidur dan bangun kapan saja tanpa memperhatikan jam tidur. Memang akhir-akhir ini aku lebih sering tidur beberapa jam saja karena banyak pekerjaan." Sembari mengucek mata lalu setelahnya menguap, Victor menjawab.


Ia memang tak mengharapkan kedatangan Teddy, tetapi yang satu ini jauh lebih parah. Di depannya sang tuan besar berjalan agak gontai. Muka bantal dan masih mengenakan piama santai berwarna biru bergaris-garis putih. Sebuah piama yang agak cerah untuk kepribadian Victor yang gelap.


"Aku hanya sedang berolahraga," sahut Alexandra dusta. Kakinya yang baru saja diperban ikut diturunkan ke lantai kendati rasa sakit kembali menjalari kakinya saat perbannya tertekan.


"Hah? Kalau mau olahraga, gunakan saja gym. Apa Teddy lupa memberitahumu soal gym? Ia biasanya juga berolahraga jam segini."


Seluruh tubuh Alexandra berkeringat karena nama Teddy dibawa-bawa. Ayolah, Alexandra sedang menjaga jarak dari pria itu sekarang.


"Terima kasih sarannya, Tuan. Tapi saya tidak nyaman berolahraga dengan pria," dusta Alexandra lagi. Ia bukannya tak mau berolahraga, hanya saja ia memang sedang tak ingin bertemu dengan Teddy. Ia hanya tak suka dengan suasana canggung yang akan melingkupi gym itu jika hanya mereka berdua di sana.


Ya, Alexandra tak terkejut lagi dengan reaksi Victor yang sama sekali tak perhitungan soal urusan rumah. Paman dan bibinya sendiri juga begitu. Namun, sekarang pikirannya kembali berkelana. Mencipta beragam skenario pembicaraan, karena Victor belum juga beranjak dari sana. Terlebih lagi sekarang matanya menjadi jernih.


"Hmm, kulihat jalan dengan satu kaki ternyata juga efektif membakar lemak. Lihat betapa banyak keringatmu," ujar Victor lagi sembari mengelus dagu.


"Iya, Tuan. Saya terbiasa melakukannya dulu saat masih tinggal dengan Paman Davis." Keringat Alexandra mengucur makin deras. Mengapa pria ini tak segera pergi? Cepatlah pergi sekarang! Itulah isi pikiran Alexandra saat ini.


"Aku senang kau sangat bersemangat. Bangun paling awal dari gundik lainnya, kau juga bangun bersamaan para pelayan. Tapi tetap saja aku tak akan menjadikanmu pelayan seumur hidup bukan? Untuk saat ini, nikmati saja kesempatan yang aku berikan sebagai pelayan. Kerja bagus, Alexandra." Victor menepuk pundak Alexandra bangga. Namun, Alexandra masih berkeringat.


Setelah pria itu meninggalkan Alexandra sambil bersiul dan melompat-lompat dengan satu kaki, barulah tubuh Alexandra merosot di lantai. Wajahnya masih diliputi teror.


"Yang tadi, hampir saja."


Sehabis ini, ia akan lebih berhati-hati sembari membuat catatan; Waktu bangun tidur Victor yang tidak menentu dan memakai piama biru muda bergaris-garis.


To.Be.Continue