M'Lord

M'Lord
F I F T Y



Sembari merebus air, Victor menarik kursi mendekati kompor. Buku yang diambil dari kamar Ruby diletakkan di pangkuan. Salah satu daya tarik dari buku yang sebenarnya tampak sangat biasa ini adalah setangkai bunga lavender kering yang dijadikan alternatif pembatas. Ruby sebetulnya tak pernah menunjukkan ketertarikan pada bunga. Ia seperti rak buku berjalan, lebih gemar mengumpulkan bahan bacaan daripada produk perawatan kulit atau barang rancangan desainer seperti gundik lain.


Victor tak akan ragu berdiskusi dengan Ruby mengenai segala hal. Bahkan jika tentang teori ledakan kuantum, evolusi, kucing schrodinger, ataupun Victor yang akan menceritakan pertemuannya dengan Einstein dan Thomas Edison. Pembahasan para ilmuwan secara sederhana dari segi humanis yang luput sorotan adalah topik yang paling disukai Ruby. Hal seperti ini tak akan Victor jumpai jika duduk santai bersama gundik-gundik lain.


Victor membuka sampul buku, aroma lavender menyeruak di udara. Ini bukanlah sebuah buku puisi. Ruby menulis tentang catatan kehamilannya dalam buku ini. Sebuah hal tak terduga yang bisa dilakukan seorang Ruby. Wanita itu bukanlah pribadi yang romantis dan memiliki latar belakang keluarga harmonis. Victor selalu beranggapan jika di masa depan Ruby punya anak, mungkin wanita itu segera memasukkan anaknya sekolah ketika sudah berusia dua tahun. Tipe-tipe perempuan yang akan mengedepankan akademik anak daripada menyayangi mereka.


Banyak foto-foto yang diabadikan Ruby. Kertas-kertas itu dihiasi dengan banyak foto Ruby dan stiker-stiker menggemaskan. Tak lupa Ruby akan memberikan sedikit deskripsi di bawah foto yang ia ambil. Victor mencoba tak terkesan ataupun tersentuh, tetapi pada akhirnya ia kalah. Sebuah senyum lembut terulas di bibirnya.


'Minggu ke lima belas, ia akan menjadi bayi yang mungil. Perutku sama sekali belum membuncit.'


'Minggu ke dua puluh, aku beruntung memotret jejak tendangan kakinya. Tapi aku tak ingin dia menjadi atlet.'


Victor sejenak meninggalkan buku Ruby di kursi ketika mendapati air yang sedang ia rebus telah mendidih. Mi dimasukkan ke dalam air yang telah bergelembung, tak lupa bumbu-bumbu dimasukkan setelahnya. Sebelum mi menjadi lembek, Victor memecahkan dua buah telur dan menambah beberapa potong sosis ke dalam panci. Terpengaruh dengan cara Ling memasak dan beberapa tayangan drama Korea di televisi, Victor mengaduk minya menggunakan sumpit.


Diaduk-aduk beberapa kali sembari menunggu kuahnya agak berkurang. Lalu barulah diakhiri dengan menabur potongan daun bawang di atas ramen yang telah siap dinikmati. Sebenarnya Victor tak mengikuti instruksi memasak yang telah tertulis di bungkus ramen. Ia lebih senang bereksperimen. Seperti apa yang ia lakukan demi menyambung hidup selama ini. Tak ingin memperbanyak jumlah cucian, Victor makan langsung dari pancinya.


Panci itu masih berasap ketika Victor kembali dari mengambil air mineral. Layaknya orang-orang Asia Timur makan mi, ia menikmati ramen instannya dengan menyeruput kencang. Tak sadar jika ramen tersebut masih terlalu panas sehingga membuat lidahnya terbakar. Victor meletakkan sumpitnya kencang di atas meja, lantas berlari ke arah kulkas. Pada akhirnya dia memasukkan beberapa potong es batu ke dalam panci, dengan tujuan "mendinginkan" kuah panas tersebut. Orang-orang pasti menganggapnya aneh karena memasukkan es batu ke dalam ramen. Namun, siapa peduli?


Sembari menunggu ramennya sedikit dingin, Victor membuka kembali buku Ruby. Bagaikan remaja yang keranjingan membaca majalah wanita dewasa, Victor tak melepaskan pandangan sedetik pun dari buku tersebut. Bayi laki-laki yang dilahirkan Ruby memanglah mungil, itulah mengapa kehamilan Ruby tak begitu kentara. Namanya Edgar, tanpa diberi nama belakang apa pun. Dada Victor seakan berlubang ketika menyadari betapa menggemaskannya sang bayi.


Gen Victor mendominasi, ia memiliki mata berwarna abu-abu. Setiap kali menatap wajah dalam foto tersebut, dada Victor bergetar pilu. Entah mengapa potongan wajah lain tertangkap. Bentuk hidung dan bibir itu mirip dengan Ruby. Namun, alasan lain mengapa Victor tak dapat menahan air matanya yang berguguran turun adalah, karena bentuk hidung dan bibir Ruby sangatlah mirip dengan Marion.


Bukankah dengan begitu, Edgar seperti anak yang terlahir darinya dan Marion? Seolah bayi itu memang diciptakan memiliki proporsi yang tepat dari gen mereka berdua? Victor melemparkan buku tersebut secara kasar hingga bibir meja. Sesaat ia terlalu emosional. Seluruh pemikiran anehnya tentang Edgar yang memiliki kemiripan dengan dirinya dan Marion hanyalah tebakan dan opini tak berdasar. Anak itu tetaplah terlahir dari Ruby dan bukannya Marion. Tangan Victor bergetar hebat, ia tak bisa menggenggam sumpit dengan baik.


Pancinya yang teranggurkan segera didekatkan lagi. Ia akan menyeruput minya sampai puas dan sampai tuntas. Itulah niat Victor sebelum ia menyadari bahwa si mi telah melebar dan menyerap nyaris seluruh kuah. Nafsu makan Victor melayang entah ke mana. Kira-kira sudah berapa lama ia mendiamkan mi tersebut sampai membengkak seperti ini? Ia juga tak bisa membuang-buang makanan, ingatan buruk tentang kelaparan di masa wabah itu mencegah Victor membuang isi pancinya ke tempat sampah. Pada akhirnya mi bengkak itu juga ditandaskan dengan puas hati. Ia benar-benar sayang membuang makanan dan terlalu malas untuk memasak lagi.


***


Boks bayi yang ditempatkan di ujung ruang itu menarik atensi Victor lagi. Jemarinya menelusuri permukaan kayunya yang teramplas halus dan sempurna. Lapisan pliturnya masih berkilau dan aroma menyengatnya tak lagi tersisa. Semenjak kabar kelahiran bayi laki-laki itu, Victor merasa enggan bertemu dengan Ruby lagi. Pun ia mengungkapkan bahwa ia tak akan pernah menganggap anak itu sebagai anak. Namun, Victor merasa ragu dengan ucapannya kala itu. Haruskah ia menjilati air liurnya waktu itu?


Setelah melihat potret Edgar dalam buku Ruby, dada Victor tak henti-hentinya bergetar hangat. Seolah anak lelaki itu telah merebut hatinya. Ada perasaan yang meluap-luap setiap kali teringat wajah menggemaskan sang bayi dan pipinya yang gembil. Inikah perasaan seorang pria ketika menjadi ayah? Rasa benci yang pernah ia tunjukkan kepada Ruby dan Edgar kala itu, telah tersapu entah ke mana.


"Marion? Inikah rasanya menjadi seorang ayah? Dulu, kita memang belum sempat mencicipi rasanya menjadi orang tua. Namun, bolehkah sekarang aku mencobanya? Menjadi seorang ayah? Anak itu juga entah mengapa justru mengingatkanku pada dirimu dan bukannya Ruby?" Victor bermonolog sembari menatap langit berbintang.


Kendati Victor menyadari Marion tak akan menjawab pertanyaan tersebut, tetapi Victor tak berhenti melanjutkan monolognya.


"Mungkin, besok aku akan meminta maaf kepada Ruby. Aku akan mempertemukan mereka berdua. Kau tahu, Marion? Aku berutang terima kasih juga pada Teddy yang telah memberikan ide membawa anak itu ke sini. Ia juga mempertaruhkan nyawa karena ide itu, aku mencekiknya hingga hampir mati."


Victor tak henti-hentinya tersenyum hangat sembari mengagumi boks bayi di hadapannya.


To.Be.Continue


Halo teman-teman semua pembaca setia M'Lord. Rasanya saya tak pernah menyapa teman-teman selain waktu pengumuman event giveaway. Menulis sangatlah berat, ya. Termasuk juga M'Lord ini yang saya tulis dengan marathon selama dua kali sebelum akhirnya saya sempat terpikirkan untuk menyerah. Jujur, pikiran itu masih ada sampai sekarang. Apakah teman-teman juga pernah merasa ingin menyerah?