
Kediaman Keluarga Buffon selalu menjadi yang paling megah di kota. Rumah tersebut memiliki empat lantai dan dilengkapi dengan puluhan kamar. Dinding-dindingnya dicat dengan warna putih gading. Di setiap dindingnya akan berjejer belasan jendela. Butuh waktu lama untuk menghitung keseluruhan jendela rumah Keluarga Buffon, ada baiknya jangan. Untuk menghitungnya, harus mengelilingi seluruh bangunan.
Sebuah usaha melelahkan yang harus dilakukan untuk menghitung jumlah jendela sebuah rumah yang dibangun di atas tanah seluas ribuan meter persegi. Masuk ke halamannya, sebuah kolam air mancur luas dengan patung bison perunggu besar menyapa. Tak heran, karena hewan berkekuatan luar biasa itulah yang menjadi ikon bisnis keluarga Buffon. Dengan halaman yang luas itu, beberapa mobil beragam warna terparkir. Sengaja dipamerkan mungkin. Padahal mereka memiliki garasi yang tak kalah luas.
Hari itu juga, suasana kediaman mewah itu ramai. Perayaan atas tercapainya usia satu abad bisnis minuman anggur Keluarga Buffon. Bisnis keluarga itu terus diwariskan hingga generasi ketiga. Walaupun sebenarnya pemimpin bisnis pengolahan minuman anggur itu telah mengalami pergantian beberapa tahun yang lalu karena anak sulung keluarga Buffon meninggal dunia. Kecelakaan tunggal yang mengakibatkan si anak tertua beserta istrinya meninggal di tempat.
Takhta bisnis itu bergulir kepada si anak bungsu. Suami istri yang malang itu hanya meninggalkan seorang putri yang usianya belum genap sepuluh tahun saat kecelakaan tersebut merenggut nyawa mereka sembilan tahun silam. Pun dengan usianya yang masih sangat belia, ia belum mampu menjalankan roda bisnis keluarga. Ah, anak perempuan yang sangat manis. Lugu dan naif.
"Kenapa mobil ini sudah kotor lagi? Berapa kali kubilang untuk mengelapnya sampai sangat mengilat?!" Nona muda itu selalu begitu. Protes pada setiap hal yang ia jumpai tanpa mempertimbangkan siapa orang yang baru saja ia maki-maki.
"Kau dengar tidak wanita tua?! Sudah - kubilang - untuk - mengelap - mobilku - sampai - mengilat! Kau sudah tua kenapa masih dipekerjakan? Hanya buang uang dan waktu!" Nona muda itu, Irene Buffon. Usianya baru tujuh belas.
Sejak sembilan tahun yang lalu hidup bagaikan seorang putri kerajaan. Lihatlah semua sandangan yang ia pakai dari ujung kepala sampai kaki. Hasil olahan tangan desainer ternama dunia. Jangan tanya harganya karena ia akan memamerkannya seolah tak ada orang lain yang dapat membuang uang seperti dirinya. Lebih tepatnya uang ayahnya.
Sedangkan wanita tua yang sejak tadi ia maki adalah Nenek Morris. Bisa dibilang, ia sudah terlalu tua untuk bekerja untuk keluarga Buffon. Usianya sudah nyaris mencapai angka delapan. Tubuh rentanya tak lagi sekuat dulu. Penglihatan dan pendengarannya pun tak lagi tajam. Sungguh orang mana yang berani membentak wanita rapuh sepertinya? Hanya Nona Irene. Tak ada yang berani menghentikan ataupun menyela perkataan sang nona muda. Para pelayan lain sebenarnya tepat di samping Nenek Morris dan Nona Irene, menyibukkan diri dengan membersihkan taman yang telah dibersihkan pula sebelumnya. Telinga mereka dibiarkan tulis. Mata mereka dibiarkan buta. Dan, hati mereka dibiarkan mati. Hanya untuk Nona Irene.
Sebuah lap basah dan kotor melayang, mendarat tepat pada rambut Nona Irene yang baru saja dibawa pulang dari salon mewah di pusat kota. Berselang satu detik, jeritan nyaringnya menerbangkan burung-burung gereja yang tengah mandi di kolam.
"Siapa bedebah yang melakukan ini padaku?! Kau yang ada di sana cepat ambil bedan menjijikkan ini!" Telunjuknya mengarah pada pelayan. Kakinya tak tinggal diam, ia melompat-lompat geli. Mungkin kepalanya telah menyusun gambaran tentang rambutnya yang melepuh hanya karena terkena lap kotor.
"Kau sudah keterlaluan, Irene. Memaki orang yang lebih tua tanpa alasan jelas bukan hal yang patut dilakukan orang waras." Perempuan itu melintas. Kata-katanya seketika membawa suasana pada titik tegang.
Perempuan itu berdiri di samping Nenek Morris, mengelus pundaknya lembut. Ia menoleh pada para pelayan, lalu meminta mereka mengantar Nenek Morris kembali ke kamar. Ada jeda beberapa detik, tak ada yang berani bergerak satu inchi pun dari tempat mereka berdiri.
"Alex! Berani-beraninya kau! Mereka tak akan mematuhi perintahmu jika aku ada di sini!" bentak Irene. Suaranya yang melengking tajam, membuat perempuan berambut cokelat itu memijat pelipisnya sejenak sembari memutar mata bosan.
"Tindakanmu tidak dapat mencerminkan perilaku keluarga Buffon yang beradab. Kendati kita bukan keluarga bangsawan, setidaknya bersikaplah seperti orang terpelajar," kata-katanya terputus saat raut wajahnya berubah iba---lebih tepatnya, dibuat iba. "Ah, kau bahkan selalu tinggal kelas dan tak pernah bisa menyelesaikan perkalian di atas angka sepuluh. Aku mafhum jika kau tak bisa bertingkah dengan beradab. Maafkan aku karena menuntutmu bersikap di luar kemampuan."
Para pelayan menahan tawa. Sedangkan yang salah satunya berada di belakang Irene, menggigit pipi bagian dalamnya. Akan menjadi akhir dari pekerjaannya kalau terpergok Irene sedang tertawa.
"Dasar perempuan sialan! Kau harus diberi pelajaran!" Irene berlari dengan langkah tersendat karena sepatu hak tingginya. Beberapa alat-alat berkebun berserakan di dekat tanaman hias berbentuk bison. Sebuah sekop panjang ia tarik susah payah.
Alex menyuruh salah satu pelayan itu mengamankan Nenek Morris. Ia lantas melepas jaket denim yang dipakai. Seorang remaja yang lebih kekanakan dibanding anak-anak, harus sedikit mendapat nasihat yang lebih keras. Begitu Irene mendapatkan sekop itu, lantas diayunkannya keras-keras di udara. Sembari tersenyum mengejek, ia berharap nyali Alex segera ciut.
Namun sekop malang itu segera terbagi menjadi dua bagian saat tendangan Alex menghantam gagang sekop. Bunyi benda keras yang berjatuhan itu menarik atensi sang pemilik rumah yang baru saja tiba di depan gerbang. Sang pria berpenampilan perlente dan istrinya berjalan tergesa ketika mendapati keributan yang terjadi di taman mereka. Pasangan suami istri tersebut nyaris menjerit saat melihat putri mereka meraih gunting rumput besar. Hendak dilayangkan pada Alex.
"Irene! Hentikan!"
Gunting rumput itu terbanting di rumput. Tak lagi dihiraukan sang nona muda. Ia segera menyambut orangtuanya dengan tangis buaya. Alex memutar bola matanya bosan. Play victim. Sebentar lagi ia akan menyaksikan drama hebat peraih piala Oscar.
"Apa yang kau perbuat pada putriku yang berharga?" Nyonya Buffon membentak. Sedangkan Tuan Buffon mencoba menenangkan putrinya. Alex belum sempat menjawab.
"Dia melempar lap kotor dan menjijikkan padaku lalu dia membentak-bentakku tanpa alasan."
Alex menghela napas kasar dengan keras-keras.
"Kau melakukan itu padanya? Kakak sepupu macam apa kau?!" Nyonya Buffon memang selalu mudah dibodohi, itulah yang membuat Alex yakin dari mana kebodohan Irene berasal.
"Kakak sepupu yang baik. Aku hanya sedang memberinya sedikit pelajaran karena telah memarahi wanita tua hanya karena alasan yang diada-ada."
"Itu tidak benar, Ibu!"
"Benarkah? Oh, putriku yang malang."
Alex hilang kesabaran. Potongan sekop yang terabaikan di rumput segera ia raih. Ia ayunkan tinggi-tinggi dan lantas menghantam bagian kap mobil Irene sampai penyok parah.
"Mobilku!" Irene menjerit dan pingsan setelahnya. Diiringi pekikan Nyonya Buffon dan tatapan tak percaya Tuan Buffon.
"Kalin bisa melihat rekaman CCTV. Dia yang mulai lebih dulu. Membentak Nenek Morris tanpa alasan jelas. Aku hanya memberinya sedikit pelajaran. Salah kalian karena membesarkan dia seperti itu!"
Nyonya Buffon hendak menyangkal. Namun mengingat kondisi Irene sekarang, ia tak mampu berkutik. Suaminya bahkan menghadang.
"Kau benar, kami membesarkannya dengan salah. Sekarang kau sudah puas bukan? Terima kasih sudah mengajarkan hal baik pada putriku." Nada bicara Tuan Buffon datar. Tak ada ekspresi apa pun yang tercetak di wajahnya.
Kendati begitu Alex paham bahwa pamannya ini juga mengalami pergolakan batin.
"Baguslah. Daripada membelikannya pakaian mahal dan mobil, berikan saja dia guru moral. Aku berharap kalian juga sewa guru matematika anak sekolah dasar sehingga ia bisa belajar tentang sopan santun sekaligus perkalian. Aku berangkat kuliah dulu, Paman Davis, Bibi Charlotte."
Ialah sang putri dari penguasa sebelumnya takhta kerajaan bisnis Keluarga Buffon. Alexandra Lucille Buffon. Usianya akan menginjak sembilan belas pada bulan mendatang. Pada hari pertambahan usianya itu, Davis Buffon dan Charlotte Buffon mungkin akan tersingkir dari lingkaran keluarga Buffon. Hukuman atas dosa yang telah mereka perbuat.
To.Be.Continue