M'Lord

M'Lord
P.R.O.L.O.G



“Kau hanya seorang wanita rendahan. Pelayan kotor! Dan, sekarang kau mau menggodaku dengan tubuhmu? Hanya karena kau merasa mirip dengan mendiang istriku?” Kalimatnya dingin, seperti embusan angin di musim salju. Membuatmu membeku, tak memiliki daya melawan. Kamu sendiri juga tahu bahwa sepasang mata abu-abunya selalu bisa menghipnotis. Menelan keawarasanmu sedikit demi sedikit.


Kamu mungkin tak lagi waras sejak menginjakkan kaki di sana. Setiap kali aroma tubuh pria beraura maut itu mendekat, kamu akan kehilangan napas. Ia benar-benar menarik kewarasan, membutakan pandangan, membuatmu dungu. Walau pada awalnya kamu memang pernah mengutarakan penolakan pada semua kharismanya yang diam-diam menggerogoti hati dan pikiran. Namun, mengapa tak sekarang cobalah untuk mengakuinya? Bahwa kamu memang sudah terperosok pada lubang yang ia buat, entah apakah yang ia sengaja atau tidak ia sengaja.


“Kalaupun aku hanya seorang wanita rendahan, setidaknya wanita rendahan ini memiliki paras yang sama dengan mendiang istrimu. Jadi setiap kau memukulku, menampar, menjambak rambut, maka kau akan merasa bersalah karena wajah yang sama ini menerima perlakuan biadab darimu. Asal kau tahu saja, Tuanku. Bahwa tak pernah ada niatan seburuk itu dalam hidupku.” Kamu mendongak, menatap langsung pada sepasang matanya yang berkilat murka. Dusta dari mulutmu benar-benar sebuah racun.


Dan, ia tertawa. Mengejek. Sementara langkahnya pada kamar tidur besar itu membentuk lingkaran. Telapak tangannya menutup sebelah mata, sementara tawanya kian bergema. Tanpa kamu sadari, tawanya membawa getaran. Entah mengapa membuatmu merasa sangat membutuhkan telapak tangannya menyentuh tiap jengkal kulitmu. Menggosok, membelai, mencubit, mencakar. Apa pun itu, terserah! Selama kalor tubuhnya dapat kamu rasakan tanpa ada penghalang lagi.


“Kaupikir aku akan berlaku lembut padamu hanya karena kau sedikit berbeda? Agak liar, tetapi kau masih bisa bersemu malu? Kau tak ada bedanya dengan gundik-gundik itu! Yang mengubah wajahnya agar mirip dengan mendiang istriku. Kalian semua, perempuan hina. Sama saja di mataku.” Ia meninggalkan tubuhmu di lantai kamar, berjalan ke sudut ruangan di mana lemari besarnya menanti. Derit yang membawa perih itu meremangkan bulu kudukmu.


Kamu masih betah bersimpuh di lantai, sementara matamu mendadak beralih pada pada bayangan wajahmu yang terpantul di cermin besar. Apa yang ia keluarkan selanjutnya dari lemari, membawa suara lecutan nyaring di udara. Langkahnya mendekat. Mengikis jarak di antara kalian, lalu dengan sebuah jenggutan keras, ia menarik wajahmu mendekat. Terlalu dekat hingga napas kalian hanya berjarak satu kepalan tangan.


“Kubilang padamu untuk duduk di ranjang perempuan hina!” Ia menarik rambut panjangmu lagi, lantas beteriak keras tepat di lubang telingamu. Napasnya menyentuh rongga telinga, lagi-lagi menarik napasmu hingga kesulitan menarik oksigen.


Ia terkekeh menyaksikan reaksimu. Sebuah ekspresi wajah wanita yang terlalu mendamba sentuhan pria. Melihat wajahmu, seakan menyiratkan bahwa tak ada waktu bersabar lagi. Lakukan saja yang membuatnya sedikit bersemangat. “Menarik sekali. Seorang perempuan arogan, dengan wajah yang serupa dengan istriku, sikap kalian bertolak belakang, dan hebatnya lagi, kau masih tersegel. Perawan menyedihkan.”


Ia benar-benar tak memberimu ruang mengambil udara lagi setelahnya.


Bersambung