M'Lord

M'Lord
T H I R T Y F I V E



Jane enggan mengalihkan pandangannya dari Alexandra. Alexandra bertubuh ramping, bahkan terlalu ramping. Melihat sebelah mata bentuk tubuh sang gadis sejenak menerbitkan seringai di wajah Jane. Setidaknya ia masih memiliki banyak lekuk tubuh yang dapat dibanggakan daripada terlalu kurus. Namun, ia masih tak habis pikir dari manakah gadis seramping Alexandra memiliki kekuatan yang cukup besar untuk mengangkat berkarung-karung kentang, cekatan menggunakan gunting rumput, dan bisa memanjat pohon untuk menyelamatkan kucing yang tersangkut.


Aktivitas terakhir paling banyak dihindari para gundik. Selain karena mereka memang tak bisa memanjat, bukankah perilaku seperti itu sangat tidak sopan dilakukan perempuan? Alexandra sendiri tak banyak berpikir ketika melihat hewan berbulu nan menggemaskan itu mengeong-ngeong, meminta belas pertolongan karena tak dapat turun. Ia segera memanjat, memastikan si kucing tak ketakutan, dimasukkan ke dalam saku belakang seragam pelayan miliknya, lantas turun seperti seekor monyet. Sungguh, dia sangat piawai bergelantungan pada dahan, memilih pijakan yang tepat, dan punya keberanian untuk lompat.


"Nona Jane sudah melihat gundik baru Tuan selama seperempat jam, teh yang saya sajikan sekarang sudah dingin," ujar salah pelayannya.


Jane berjengit dari kursi yang tengah ia duduki. Balkon di kamarnya membawa pemandangan halaman belakang kastel yang dipenuhi pohon dan kebun sayuran kecil. Alexandra sendiri baru beberapa menit datang ketika Jane tengah menghabiskan siangnya dengan membaca majalah. Ditemani beberapa potong macaron dan teh manis hangat asal Inggris. Sungguh suasana yang sangat mewah.


Sekali lagi, Jane masih tak habis pikir. Dengan paras cantik dan tubuh kurus itu, siapa sangka kalau Alexandra gemar sekali melakukan aktivitas yang sama sekali tak menunjukkan kegadisannya. Memanjat, mengangkat barang, bercanda dengan para pekerja lelaki, dan hal-hal yang banyak melibatkan kotoran. Alexandra seakan tak peduli jika paras ayunya akan terkotori debu maupun lumpur. Ia sangat menikmati pekerjaan kasarnya daripada duduk bersantai menikmati secangkir teh manis dan kipasan dari pelayan. Sedangkan Jane sendiri tak akan sudi masuk ke dapur. Sekadar mencari sekeping kukis atau segelas air saja ia akan mengangkat tangan, menyuruh pelayan agar membawakannya dengan segera.


"Aku hanya heran saja dengan gadis seperti itu. Ia bisa bela diri, tak takut kotor, ia berani, tapi di waktu yang sama juga bisa menunjukkan sisi manisnya. Apa kalian pikir itulah pesonanya? Selain karena wajahnya yang cantik itu mirip dengan mendiang istri Tuan?"


Pertanyaan Jane tak kunjung mendapat jawaban dari pelayannya yang masih berdiri tegak di belakang kursi santai. Ia menunduk saja. Terkadang diam lebih baik daripada berkata salah bukan? Jane pun tampaknya lebih pandai menemukan jawabnya di antara keheningan itu. Tentu saja jawaban yang ia putuskan sendiri.


"Iya, kau benar. Dia memang tak memiliki pesona apa pun selain wajah yang mirip mendiang istri Tuan. Selain itu, ia hanya sedang cari perhatian. Benar sekali, kau memilih jawaban yang tepat. Mari kita lihat apakah ia bisa menjadi adik yang baik di bawah kakiku." Jane bangkit dari kursi, senyum yang terkembang di wajahnya tak membawa firasat baik bagi si pelayan. Apalagi langkah kakinya yang cepat, hak tingginya beradu dengan lantai. Membawa suara ketakan kencang sepanjang lorong.


"Kau masih menyimpan paku payung itu?" tanya Jane sembari menoleh ke belakang sementara langkah mereka tak berjeda.


"Iya, Nona. Apa yang harus saya lakukan dengan paku payung itu?" Sang pelayan berdoa. Meminta hal sederhana, semoga Jane tak membuatnya dalam masalah jika Victor sampai tahu.


"Masukkan itu ke dalam sepatutnya."


Oh sial!


"Baik, Nona," sahutnya patuh. Bukannya ia hanya melakukan ini sekali dua kali. Sudah berkali-kali ia lakukan hingga gundik-gundik lain di bawah Jane angkat kaki dari kastel. Jumlahnya? Entah, ia sudah berhenti menghitungnya, setelah banyak sekali telapak kaki yang dibuat berdarah karena perintah Jane.


To.Be.Continue