
Alexandra ingat betul bahwa sebelumnya ia sudah berbaring di atas ranjang. Sebelum tidur pun masih sempat merutuki diri sendiri karena harus bertemu dengan Victor dan bahkan mencicipi masakan sang pria. Dengan mengingatnya saja rasa kantuk Alexandra sirna, tetapi ia pun tertidur tanpa sempat disadari. Begitu tersadar, Alexandra sudah masuk ke alam mimpi. Lebih tepatnya alam yang diolah sedemikian rupa sehingga dapat menggambarkan masa lalu yang pernah dialami Victor dan Marion.
Ini, adalah malam di pertengahan musim dingin. Salju berguguran membentuk karpet putih sepanjang mata Alexandra memandang. Bukan hanya karpet, musim dingin ini adalah selimut yang membungkus seluruh kota. Gedung-gedung dilapisi salju tebal. Jalanan menjadi lebih tinggi beberapa centi karena gunungan salju yang tiada henti menimbun tanah.
Harusnya telapak kaki Alexandra telah beku karena sejak tersadar, ia bertelanjang kaki di atas tumpukan salju. Satu hal yang mungkin saja terjadi. Ia bukanlah bagian dari tempat ini, sehingga hawa dingin yang bertiup di seluruh kota tak dapat menembus kulit tubuhnya yang hanya dilapisi kaus dan celana pendek. Alexandra tak pernah gagal dibuat takjub oleh kemampuan Marion yang mendatangkannya sesuka hati di mana pun dan kapan pun. Khususnya ketika Alexandra sama sekali tak mengharapkan akan ditelantarkan di tempat seperti ini. Ketika Alexandra berharap, ia justru tak mendapatkan apa pun selama tidur.
Beberapa pria bersekop memaksakan diri keluar rumah. Mengenakan pakaian hangat seadanya dan mengenakan sepatu penuh tambalan. Mereka menggali salju, membuangnya di sudut lain. Salju-salju itu telah menumpuk dan menutupi jendela, mereka harus menyingkirkannya sebelum mengubur seluruh rumah. Pipi dan hidung mereka memerah. Uap tebal keluar dari mulut. Alexandra bertaruh bahwa musim dingin kali ini lebih parah dari tahun-tahun sebelumnya. Bahkan mungkin yang terparah.
"Musim dingin sebelumnya kita bahkan tak perlu berjuang sekeras ini. Kenapa musim dingin kali ini semakin lebih parah dari tahun-tahun yang lalu?" Salah satu dari mereka lantas mengeluarkan botol kaleng berbentuk nyaris kotak. Diminumnya beberapa teguk sebelum dibagikan pada yang lain.
"Ini hukuman dari Tuhan. Ia tak suka jika pria-pria pemburu kehidupan abadi itu masih berkeliaran di kota kita," timpal yang lainnya.
Pria-pria pemburu keabadian? Victor? Ataukah lebih dari satu, bukan hanya Victor saja.
"Mereka, penyihir sialan itu seharusnya dibakar hidup-hidup saja daripada membawa bencana. Namun, pemerintah tak ingin kita main hakim sendiri. Kalau bukan karena pemerintah, pasti sudah kutusuk tubuh mereka dengan garpu jerami lalu kubakar." Pria yang sebelumnya membagi minuman pada penyekop yang lain membalas.
"Aku dengar salah satu dari mereka justru bergabung dengan pemerintahan. Itu berarti mereka bisa dengan mudah menggunakan akses pemerintah untuk melakukan penelitian."
"Penelitian ramuan abadi? Kau terlalu kedinginan hingga otakmu beku. Gosip dari mana itu?"
"Aku kemarin melihat beberapa pria datang ke klinik Kakek El."
Mendengar pembicaraan pria-pria itu, tak akan cukup untuk menuntaskan tanda tanya Alexandra. Ia berjalan mendekat, memijaki tumpukan salju yang tak meninggalkan kesan apa pun di kulitnya. Eksistensinya di ruang memori ini antara ada dan tiada sehingga tak ada keraguan yang tersisa. Ia tak perlu khawatir pria-pria itu menyadari kehadirannya di sana. Bahkan langkah kakinya di atas gundukan salju sama sekali tak berbekas.
"Apa kalian tak memiliki firasat buruk tentang Kakek El? Bisa saja ia salah satu dari pria-pria penyihir itu bukan?"
"Jangan menjelekkan Kakek El, ia sudah berbuat banyak untuk menyembuhkan banyak penduduk kota. Di tengah wabah ini ketika kota-kota lain menjadi sebuah kota mati, kota kita masih hidup. Semua ini berkat beliau!"
Semakin jauh obrolan itu bergulir, Alexandra semakin merapatkan diri pada mereka. Pria-pria itu bagaikan pelanggan yang memberikan testimoni kesembuhan setelah menggunakan sebuah produk. Kalau mereka hidup di era modern, pasti mereka akan ramai pekerjaan mengulas produk.
Di tengah obrolan hangat itu—kendati mereka sebenarnya menggigil kedinginan—sebuah langkah gontai mendekat. Kedatangan sosok itu membawa sengatan pada diri Alexandra. Tanpa menoleh pun, ia tahu siapa yang datang. Seseorang yang merupakan pusat dari seluruh ruang memori ini. Seseorang yang juga sedang menembus tubuh transparan Alexandra dan mencoba berinteraksi dengan pria-pria tersebut.
"Permisi, bisakah kalian sebutkan nama pria itu lagi? Pria yang kalian sebut dapat menyembuhkan segala penyakit?" tanya pria kurus berpenampilan kumal yang baru saja tiba.
Pria yang sedang menggenggam botol minuman kerasnya lantas mendengkus, "Anak yang tidak tahu malu. Sebelum bertanya, setidaknya perkenalkan dirimu lalu apa tujuanmu datang kemari."
"Kau tak perlu sampai seperti ini, Nak. Simpanlah untuk Kakek El nanti. Aku tak bisa mengantarmu ke sana, tapi aku bisa menunjukkan jalan ke sana," ujar pria itu lagi.
Pria tersebut menjelaskan jika Tuan El yang dimaksud tinggal di sudut gang. Sebuah area yang rawan dengan aksi kriminal. Orang-orang tak akan heran jika di salah satu gang ditemukan mayat. Entah itu korban perampokan, pemerkosaan, pembunuhan, atau malah semuanya sekaligus. Sebuah lingkungan tempat tinggal yang aneh untuk ukuran seorang disebut-sebut dapat menyembuhkan segala macam penyakit.
Namun, Victor tak memedulikan rumor buruk tempat tersebut. Di matanya terlukis dengan jelas tekad untuk datang ke sana, mengesampingkan adanya kemungkinan menjadi korban tindakan kriminal bejat di atas. Toh, ia sendiri juga bagian dari strata sosial terendah seperti para kriminal tersebut. Walaupun ia tidak membunuh, memperkosa, ataupun merampok, tetapi Victor tetaplah pencuri dan sering melakukan tindak kejahatan tak terpuji. Terkadang ia berpikir apakah sakit yang menderita Marion adalah karena ulahnya sendiri yang menyediakan makanan lewat jalur haram.
Pada akhirnya, Victor tetap mempertaruhkan nyawa menuju lokasi yang dimaksudkan. Ia sudah melakukan perjalanan selama berjam-jam demi sampai di kota ini, haram hukumnya kembali dengan tangan hampa. Marion sendiri meyakinkan bahwa dirinya baik-baik saja. Victor telah meninggalkan beberapa buah dan roti untuk dikonsumsi sang istri selama beberapa hari ke depan. Pria itu sama sekali tak menyisakan perbekalan untuk diri sendiri. Demi sang istri, ia berangkat tanpa persiapan matang. Apa yang ia lakukan tak ubahnya berjudi. Jika beruntung, dapat bertemu dengan Tuan El. Jika tidak beruntung, maka ia akan pulang tanpa membawa apa-apa. Atau justru ia berakhir menjadi mayat tak dikenali di salah satu gang.
Kalau pun bertemu dengan Tuan El, belum tentu pria tersebut bersedia mengobati Marion. Anggap saja jika Tuan El bersedia, apakah ia pun dapat mengobati sakit yang didera istri Victor. Belum lagi dengan uang yang harus dikeluarkan untuk membayar jasa Tuan El. Pikiran Victor kalut dan Alexandra yang membuntuti pria tersebut sepanjang jalan tak mampu berbuat apa-apa. Beberapa kali Alexandra menghela napas resah. Perjalanan ruang memori ini lebih panjang dari biasanya. Yang berarti pula jika memakan waktu yang lebih banyak lagi.
Alexandra mendapat firasat bahwa perjalanan ini akan membawanya pada hal yang lebih kompleks. Ia tak akan menyebut perjalanan mengarungi ruang memori ini menyenangkan. Masa lalu Victor dan Marion terlalu menyedihkan. Alexandra tak tahan menitikkan air mata jika mengingat-ingat masa sulit pasangan suami istri tragis tersebut. Lebih menyedihkan lagi karena tak ada yang bisa dilakukan sekarang selain mengikuti alur cerita ini. Seharusnya di saat-saat seperti ini, Marion muncul.
Mengapa ia belum menampakkan diri semenjak Alexandra menginjakkan kaki di tempat ini? Seperti inikah jika wanita itu diharapkan datang? Justru ia sama sekali tak datang. Alexandra membuat catatan kecil untuk dirinya sendiri agar tak terlalu sering berharap.
"Tunggu, Tuan! Apakah Anda Kakek El?"
Victor yang berada di depan Alexandra segera berlari menghampiri seseorang yang mengenakan mantel bertudung di ujung jalan. Sebuah keranjang berisi tanaman-tanaman kering dan stoples berisi cairan tergantung di tangan kanannya. Pria itu menghentikan langkah. Ia mengintip Victor melalui tudung. Namun, tunggu. Apakah Victor sama sekali tak sadar jika pria yang sedang dipanggilnya itu masih muda? Jika itu Tuan El atau Kakek El, bukankah seharusnya ia memiliki kulit berkeriput dan jenggot yang panjang? Di mata Alexandra, pria di ujung jalan itu memiliki wajah androgini, rambut berwarna abu-abu, dan mata yang memancarkan kegelapan. Sebuah kegelapan yang begitu dalam, seperti lubang cacing yang akan menyedot seseorang jika dipandangi terlalu lama. Pria yang disebut Kakek El tersebut, jauh dari bayangan awal Alexandra.
To.Be.Continue
***Halo teman-teman, lama sekali saya tak menyapa. Beberapa minggu ini menjadi hari-hari yang berat bagi saya. Sejak dahulu saya menjadikan menulis sebagai terapi (atau juga pelarian) atas segala rutinitas dan masalah. Namun, beberapa bulan belakangan ketika saya mulai memiliki harapan memperbanyak pembaca, menarik banyak pembaca dengan beragam promosi di sana-sini, dan meluangkan diri mampir di kolom komentar orang lain dengan harapan mereka akan berbaik hati bertukar komentar dan tanda hati, saya merasa bodoh.
Bukan bodoh karena saya tetap menulis walaupun tak ada jaminan saya akan mendapat pembaca yang banyak, fans yang tak akan segan-segan meninggalkan komentar berdasarkan tulisan bab tersebut, ataupun saya yang dengan polosnya dapat mengutip beberapa keping rupiah dari tulisan-tulisan saya. Namun, saya bodoh karena saya menulis melenceng dari tujuan awal. Sejak awal saya menulis, selalu saya jadikan sebagai obat dan usaha untuk memperbaiki kualitas tulisan. Namun, makin hari saya mengejar pembaca, kualitas tulisan saya makin buruk. Saya sudah tak lagi berkunjung di ipus*nas dan meminjam beberapa novel-novel bagus. Dulu saya sering membaca novelnya Ziggy di sana, belakangan ini tergantikan dengan mencari pembaca baru.
Secara tak langsung saya tak lagi memiliki bacaan yang bagus untuk meningkatkan kualitas tulisan. Jujur, kualitas tulisan saya dipengaruhi dari apa yang telah saya baca. Sehingga teman-teman sudah dapat menebak sendiri apa yang terjadi pada saya. Ya, kualitas tulisan saya semakin jelek, saya bahkan tak bisa menulis selama berhari-hari. Pernahkah teman-teman membayangkan menatapi layar putih kosong sambil menangis? Ya, itu pula yang terjadi pada saya karena tak mampu menulis seperti dulu lagi.
Maka, saya manfaatkan beberapa hari ini untuk membaca-baca lagi novel penulis-penulis bagus. Sebut saja Okky Madasari, Ayu Utami, Eka Kurniawan, Dan Brown, Haruki Murakami, dan lain sebagainya. Setelah membaca novel-novel tersebut, secara tak langsung membuat saya dapat mengutip kepercayaan diri yang sempat tercecer. Namun, belum ada keberanian lagi untuk menulis. Pun dengan bab ini yang sebenarnya sudah saya buat jauh hari sebelum saya kehilangan kepercayaan diri dalam menulis.
Sebenarnya saya malu, M'Lord selama beberapa bulan ini saya tulis, tidak dilakukan secara maksimal. Saya hanya mengejar hadiah, pembaca, jumlah vote, popularitas, dan lain-lainnya sembari melupakan esensi sebenarnya dalam menulis. Sehingga beginilah jadinya. Untuk ke depannya, saya akan meningkatkan kualitas tulisan dengan revisi bab-bab terdahulu dan mengendapkan bab-bab yang sebelumnya sudah saya tulis. Saya akan memberikan kualitas bagi para pembaca, bukan lagi sekadar tulisan untuk mengejar pembaca dan popularitas. Sebuah hukum tak tertulis yang saya percayai: semakin dikejar, maka semakin jauh. Sehingga saya tak akan menulis dengan serampangan lagi.
Saya akan kembali menjadi penulis yang memiliki jiwa dalam setiap tulisannya. Mengingat betapa tulisan saya di novel ini sudah tak memiliki lagi jiwa sejak awal, saya akan berusaha mengembalikan rasa tersebut. Saya belum kontrak, saya hanya ingin menuntaskan apa yang sudah saya mulai.
Terima kasih kepada para pembaca setia M'Lord***.