
Teddy menyusuri lorong menuju dapur. Sebaskom es dan beberapa lembar handuk kering tersampir di leher. Sesekali ia memijat leher yang siang tadi hampir dipatahkan tenaga luar biasa tuannya sendiri. Seumur hidup, itulah kali pertama ia melihat dengan mata kepala sendiri kekuatan yang selama ini disimpan apik oleh Victor.
Di era yang telah modern ini, Victor tak pernah menunjukkan sisi menyeramkan dirinya. Namun, ketika masa pendudukan dan perang, santer terdengar kabar bahwa tuannya itu tak segan menunjukkan sisi gelapnya. Terlebih lagi pada mereka yang memang memiliki niat mencelakai Victor. Tak peduli alasan apa pun yang melatarbelakangi mereka melakukannya.
Bukankah dunia sekarang damai? Sehingga tuannya hanya perlu mengangkat jari, menunjuk siapa pun yang berniat mencelakainya lagi. Victor sendiri juga telah menyerahkan semua tugas kotor itu pada pasukan tersembunyi miliknya. Tukang pukul Victor sangat pandai berkamulase sehingga pergerakan mereka tak mudah terbaca. Teddy sendiri jarang melakukan kontak dengan mereka. Tugas memastikan urusan rumah tangga dan gundik Victor adalah yang utama.
"Teddy," panggil sebuah suara lembut yang seharian ini Teddy hindari kedatangannya.
"Oh, hai, Alex. Kau tak bisa tidur?" balas Teddy. Ia menatap Alexandra dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Benar-benar tak ada yang dapat dipamerkan dari tubuh ramping Alexandra. Gadis itu bahkan tak ada niatan memamerkan bentuk tubuhnya. Sebuah kaus berukuran agak besar, dilengkapi dengan celana olahraga sebatas lutut benar-benar tak menyisakan bagian mana pun untuk dilihat. Bahkan ketika ia mengenakan pakaian ketat pun, tak begitu banyak bagian mana pun untuk dipamerkan.
"Aku haus, jadi aku mau mengambil minum ke dapur," balas Alexandra sembari menunjuk dapur.
"Ah, kau berani juga. Silakan ambil minumanmu. Kalau kau tak bersikeras menjadi pelayan, aku bisa mencarikan satu pelayan pribadi untukmu. Itu adalah hakmu sebagai gundik Tuan."
Kening Alexandra berkerut tak suka. "Jangan bahas tentang itu lagi. Aku menikmati hari-hari menjadi pelayan."
"Dan, kau hanya diberi waktu tiga minggu menjadi pelayan. Sehabis itu kau tetap akan menjadi gundik Tuan bukan?" Teddy menunduk, mensejajarkan tinggi di antara mereka. Secara tak langsung mengikis jarak. Wajah mereka makin berdekatan.
Alexandra mengalihkan wajah, lantas mendengkus. "Aku tak akan membiarkan itu terja—"
Kalimat Alexandra terputus, jemarinya bergerak menunjuk bekas luka yang tercetak di leher Teddy. "Apa yang terjadi dengan lehermu?"
Teddy menegakkan badan. Handuk yang tersampir di leher ia gunakan untuk menghalangi ke mana arah pandang Alexandra. "Bukan apa-apa. Kau tak perlu menunjukkan wajah seperti itu."
"Tapi, itu seperti bekas cekikan. Apa kau habis terlibat perkelahian?"
"Aku tak percaya, apakah Tuan tahu kau terlibat dalam masalah ini?"
"Ini bukan hal yang besar, kok. Kau tak perlu khawatir," tukas Teddy.
"Teddy! Tunggu!" Alexandra meraih pergelangan tangan Teddy, sejenak menahan langkah sang pria. Napas Teddy memburu ketika kulit mereka saling bersentuhan, dadanya yang naik turun mungkin akan membuat Alexandra curiga bahwa ada hal yang sedang ia sembunyikan.
"Kau, mungkin hanya memandangku sebagai perempuan milik Tuan. Tapi, kau adalah satu-satunya teman yang aku punya. Kau selalu bisa cerita padaku tentang masalah yang mungkin membuatmu terganggu. Aku akan mendengarnya dengan senang hati, tentu saja dengan satu porsi cheesee burger besar." Setarik senyum lebar mengakhiri kalimat Alexandra, meninggalkan lubang besar menganga di hati Teddy.
Gemuruh di dadanya sejak awal salah. Debaran yang selama ini nyaris tak pernah ia rasakan lagi setelah sekian tahun justru ia temukan lagi tatkala memandang wajah ayu Alexandra. Tidak! Ini salah! Teddy segera menarik tangannya dari genggaman Alexandra. Gadis itu terkejut dengan kecepatan reaksi Teddy.
"Alexandra...," panggil Teddy lirih.
"Iya?"
Teddy menatap sang gadis lekat-lekat. "Kau sudah melampaui batas. Sebagai perempuan milik Tuan, kau tak diperbolehkan menarik perhatian pria lain. Tolong camkan itu baik-baik!"
Alexandra dibuat tertegun di tempatnya berdiri. Sedangkan Teddy berjalan menjauh, meninggalkan Alexandra dan harapan tentang rasa di hatinya yang akan mendapat sama suatu hari nanti.
Teddy, secara tak sengaja telah jatuh cinta pada Alexandra. Sebuah rasa yang dapat membuatnya terlibat dalam bahaya. Sebuah rasa yang mungkin akan membuat lehernya dicekik lagi dan tak akan mendapat pengampunan. Teddy sadar bahwa telah menebar bahaya dengan mencintai perempuan yang tak mungkin ia miliki tersebut. Sialnya, ia tak sadar jika seseorang telah mengutip rasa itu sedikit demi sedikit.
Teddy pun tak mengetahui jika Ivanka mengawasi. Lensa kameranya telah mengabadikan sebuah foto yang akan mengantar Teddy pada kehancuran.
To.Be.Continue