
"Kau lihat betapa kasaranya dia pada Irene? Tidakkah kau harusnya melakukan sesuatu?" Charlotte mengipasi wajahnya gusar, pendingin udara tak berhasil mengusir hawa panas yang sejak tadi berputar di ruang kerja Davis Buffon.
"Bisakah kau diam? Daripada mengkhawatirkan Irene, kenapa kau tak mencoba mengkhawatirkan posisi kita di sini? Sebentar lagi pengacara Daniel pasti akan mengungkap wasiatnya pada kita. Mata-mata yang kita kirim mendapat hal baru pagi ini. Isi surat wasiat kakakku yang dibuat mendadak itu tak hanya akan mengusir kita dari rumah ini, tapi juga menggiring ke penjara."
Charlotte menghentikan kipasan tangannya. "Maksudmu, dia sudah mengetahui rencana kita? Tapi mereka sudah mati!"
"Mereka memang sudah mati, tapi kematian mereka saja masih bisa membawa teror bagi kita. Isi wasiat itu, mereka menyertakan bukti bahwa kita sudah membunuh mereka. Dan, yang membuatku lebih tercengang lagi, adalah rencana mereka mengungkapkan semuanya setelah sembilan tahun. Aku sama sekali tak menyangka mereka bisa menyusun rencana sejauh ini." Davis mengerutkan kening, kakaknya sungguh orang yang sangat hebat.
"Tapi kenapa harus selama sembilan tahun? Kenapa ketika Alexandra sudah dewasa baru isi wasiat dan bukti kejahatan kita dibeberkan?"
"Kau bodoh?!" Davis bangkit dari kursi putarnya, menggebrak meja lantas menunjuk wajah istrinya. "Tentu saja agar kita bisa mengurus bisnis ini sampai Alexandra sudah cukup dewasa untuk mengambil alih perusahaan. Setelah itu, kita dibuang dan dijebloskan ke penjara."
Ketegangan yang tercipta karena kalimat terakhir Davis. Sesaat tercipta jeda antar pasangan suami istri tersebut. Ingatan Charlotte terlempar pada bubuk sianida yang ditaburkan pada teh Daniel dan Margareth. Lantas melayang pada sambungan telepon terakhir Daniel dan Davis.
"Kau yang menaruh racun pada minuman kami?" suara Daniel tersengal, napasnya yang terdengar diburu meyakinkan Davis bahwa kakaknya tengah berada di ambang maut.
"Tentu saja, istriku di sini bahkan tertawa-tawa dari tadi? Mana suara istrimu? Aku sama sekali tak bisa mendengarnya?" respons Davis terlalu kentara. Ia tak dapat menduga sejauh mana kakaknya melindungi Alexandra melalui rekaman pembicaraan pendek itu. Kepuasan karena telah menyingkirkan rival terbesar, telah menumpulkan kejeliannya.
"Kau mungkin dapat menikmati apa yang sudah kutinggalkan. Namun, kau tak akan menikmatinya lebih lama. Karma selalu datang dan akan datang padamu suatu saat nanti." Tak ada suara lagi yang terdengar dari pengeras suara ponsel tersebut selain benturan keras. Lantas panggilan tersebut berakhir, untuk selamanya.
Davis sendiri mengulas senyum lebar, matanya melirik Charlotte yang duduk di pangkuan. Mendengar napas terakhir kakaknya melalui pengeras suara ponsel terlalu menyenangkan hingga membuat keduanya saling terjebak dalam permainan panas ranjang sehabis itu. Tanpa mereka ketahui, rekaman panggilan itu sampai pada sang pengacara Daniel.
"Kita harus cari cara agar Alexandra pergi dari sini sebelum ulang tahunnya. Haruskah kita juga membunuhnya?" Charlotte menimang dagu, tatapannya kosong. Pikirannya telah berkelana pada jeruji penjara, hidup dalam kesengsaraan, dan berakhir eksekusi mati.
"Kita tak bisa gunakan sianida lagi. Aku akan mencari obat yang dapat membunuh seseorang secara perlahan. Dengan begitu kita tak perlu dicurigai lagi dan tak perlu membuang uang demi menutupi segalanya."
Kematian Daniel tentu tak bisa dibayar murah, harga yang mereka keluarkan demi hidup pada puncak ini haruslah dibayar dengan mahal. Selain merogoh uang untuk sianida. Menyogok perut-perut buncit para polisi itu juga membuat rekening mereka kosong. Tim forensik kepolisian memiliki harga yang berlipat daripada penjual obat situs terlarang.
"Aku akan menemui pengacara Daniel. Semoga mulutnya bisa dirobek dengan uang."
***
Mantel musim gugurnya dikenakan bukan untuk melindungi kulit dari terpaan dingin. Anggap saja ia bertingkah seolah manusia normal, kendati sebenarnya bukan. Kerahnya yang tinggi mencapai pipi menghadang penglihatan orang-orang yang hendak mengintip paras memukau yang tersembunyi. Kacamata lensa hitam pekat menutupi iris mata abu-abu yang ia punya. Lantas, penampilan itu disempurnakan dengan sebuah topi cokelat yang dihiasi sebuah bulu elang. Itu asli omong-omong. Tongkat yang dihiasi rubi di puncaknya mengetuk jalanan batu.
Jalan. Ia masih setia pada pencarian panjang itu, sehingga jalan itu belum terlihat. Jalan berbatu ini pun juga tak menuntunnya pada takdir itu, kendati telah dilewati beribu kali. Pria dalam balutan mantel itu teringat kala pertama ia menyaksikan batu pertama jalan ini terpasang. Kala itu, pria berjenggot itu masih hidup kendati paru-parunya yang terlalu lemah menyebabkan batuk menyakitkan itu tak dapat ditahan. Jemarinya lantas menghitung. Dua, tiga, empat, ah, sudah empat generasi berlalu. Sekarang jalanan berbatu ini dijalankan oleh canggahnya. Usia si canggah juga tak terlalu berbeda dengan si pendiri jalanan beserta seluruh gedung dan lapangannya kala itu.
"Hei, lihatlah orang itu. Setua itukah dia sampai harus mengenakan tongkat?!" Seorang pemuda berjaket berlambang burung elang yang jadi maskot universitas tersebut selama empat generasi.
"Sepertinya dia hanya orang kaya yang mau pamer. Lihatlah batu rubi di atas tongkatnya!" timpal pemuda lain yang mengenakan jaket sama.
Ia tersenyum mendengar betapa 'ramahnya' pemuda penerus bangsa sekarang. Apakah mereka terlalu pandai hingga tak mendapat pendidikan moral hingga mulutnya dengan mudah melontarkan kata-kata yang bisa melukai hati orang lain? Jika kacamata dan topi ia kenakan dilucuti satu per satu hingga tampaklah wajahnya, apakah masih dapat tertawa-tawa seperti itu? Sebuah seringai kecil tertarik ke atas. Ia penasaran bagaimana reaksi mereka jika topi dan kacamata itu benar-benar ia lepaskan.
"Hei, kalian! Tidak bisakah kalian lebih sopan pada orang lain?" Tangannya tertahan. Niat menakuti pemuda-pemuda itu tertiup angin yang juga menerbangkan rambut perempuan yang baru saja berdiri tak jauh darinya.
Selama beberapa puluh tahun ia belum pernah paras yang begitu mirip dengan mendiang istrinya. Perempuan itu, adalah cetak biru dari sang mendiang istri. Mata itu berwarna cokelat terang dengan bentuk alis alami, tak dipercantik dengan goresan pensil alis tebal. Hidungnya proporsional, mancung seperti wanita dengan ras kaukasia pada umumnya. Bibir itu juga sama ranumnya, dengan warna yang tak terlalu intens. Seperti buah persik yang matang pada pohon, belum dilumuri dengan cairan warna-warni yang mempercantik bibir. Pun dengan wajahnya yang bening tanpa diberi lapisan apa pun.
Bentuk tubuhnya sama persis. Tak terlalu tinggi, hanya sebatas pundaknya. Tak gemuk, cenderung kurus dengan kaki yang jenjang. Celana denim ketat yang dibungkus dengan sepatu bot setinggi betis itu memperjelas bagaimana bentuk kakinya yang juga kurus bak model. Panggulnya tak berisi, persis dengan istrinya. Tak lupa dengan tubuh bagian atasnya yang dibungkus dengan singlet hitam dan jaket denim. Sekali tengok pun ia tahu bahwa bagian tubuhnya itu tak memiliki lekukan yang berarti. Ya, sekali lagi benar-benar seperti istrinya, kendati menyakitkan untuk diakui, memang begitulah adanya. Mendiang istrinya yang selurus papan tulis.
"Alexandra Lucille Buffon! Mau jadi jagoan lagi? Kami tahu kau pintar bela diri, tapi kau mau mencari lawan bertarung dengan mencari alasan jelek. Kau tak terima kami mengganggu pria ini? Memang dia siapamu?" tantang pemuda yang lebih dulu meledek sang pria. Kini, pemuda itu berniat membuat masalah dengan gadis yang mirip dengan mendiang istrinya tersebut.
Nama itu, Alexandra Lucille Buffon. Keluarga Buffon yang penuh prahara, lagi-lagi senyumnya terkembang lebar.
"Aku tak mencari-cari alasan. Ada baiknya kalian sekarang minta maaf. Kalian sudah membuat reputasi universitas kita tercemar! Cepat minta maaf!" Nada bicara perempuan itu meninggi. Kedua tangannya terlipat di depan dada dan wajahnya memasang ekspresi paling galak.
Hanya satu hal yang membedakan Alexandra dengan mendiang istrinya. Yaitu temperamen perempuan ini yang buruk. Sedangkan mendiang istrinya adalah orang paling lembut di dunia. Jangankan marah dan membentak, berdiam diri sebagai bentuk marah pun, ia tak berani.
"Hei kalian! Apa yang kalian lakukan di sana? Kenapa kalian berteriak tak sopan di depan Tuan Victor?!" Itu suara dari si canggah pendiri universitas. Ia datang dengan tergopoh-gopoh diikuti dua orang pria berpakaian formal.
Menyebut nama yang selalu membawa ketakutan itu, dua pemuda yang awalnya meledek itu tiba-tiba saja bersimpuh di jalan. Wajah mereka diselumti ketakutan yang mendalam, lengkap dengan tubuh yang bergetar, dan isak tangis yang menyusul tak lama kemudian.
"Mohon ampun, Tuanku! Kami tak tahu bahwa itu Anda, mohon pengampunan Anda."
Ia menyeringai, topi dan kacamata itu kini tak lagi menyembunyikan wajah rupawannya. Manusia yang mampu melewati batasan waktu, hidup berabad-abad. Disebut-sebut hidup abadi. Hanya satu nama untuk membawa ketakutan pada dunia. Victor.
To.Be.Continue