M'Lord

M'Lord
T H I R T Y S E V E N



Victor menyapukan telunjuknya pada lapisan kayu. Ia tak habis pikir dengan saran Teddy yang menginginkan agar anak Ruby dibawa ke kastel. Rupanya pria itu masih belum matang. Kedatangan si bayi hanya akan membawa persaingan lebih sengit di dalam kastel. Ia masih ingat betul bagaimana obrolan siang tadi nyaris membuat Teddy kehilangan nyawa. Bukan karena orang lain, tetapi karena tangan Victor sendiri. Kilasan ingatan tentang obrolan panas dan 'percobaan pembunuhan' Victor pada sang sekretaris berputar-putar.


"Tuan, ada baiknya Anda memikirkan ulang niatan membunuh bayi itu. Anak Ruby. Bagaimana pun juga, ia tetap anak Anda bukan?"


Victor menatap tegak Teddy yang baru saja datang dan meminta tanda tangan. Wajahnya berkerut, tetapi ia tak ingin bertingkah berlebihan. Teddy sangat pandai membaca dan mengartikan gestur Victor. Terkadang ia mengartikan dengan baik hal yang dibenci Victor, tetapi di saat yang bersamaan membuat Victor berinteraksi pula dengan hal yang dibencinya.


"Saya tahu bahwa Anda berusaha mengabaikan Ruby dan anak itu sekarang, tetapi Tuan, saya mohon sedikit saja kebaikan hati Anda."


Teddy, untuk satu kali ini, ia justru memancing amarah Victor. Pena yang digenggam Victor patah. Potongannya dibiarkan berserakan di atas meja. Ia beralih menatap Teddy bengis.


"Sudah berapa kali aku memperingatkanmu agar tak menyebut apa pun tentang Ruby dan anak itu?" Sengaja, Victor menyisipkan peringatan di balik nada bicaranya yang datar.


Teddy tampak meragu, ia menggigit bibir bagian dalamnya. Namun, ia justru menegakkan tubuh, seolah mengusir segala ragu dan takut yang tercetak di wajah. "Mohon bermurahhatilah sedikit, Tuan. Anda memang pernah membunuh orang, melenyapkan nyawa mereka dengan berbagai cara. Entah itu menggunakan tangan sendiri atau melalui tangan orang lain. Namun, Tuan, tidakkah Anda merasa kasihan pada, Edgar? Anak itu bahkan tak tahu bahwa kelahirannya ke dunia sama sekali tak diharapkan. Bisakah Anda sedikit berbelas kasih?"


Tutur kata Teddy yang santun tak meninggalkan kesan sopan bagi Victor. Ia tetaplah membangkang, meragukan keputusan Victor hanya karena belas kasih yang tak diperlukan.


"Kau sudah berani melawan kata-kataku?" desis Victor.


"Tidak, Tuan. Hanya saja Anda sebaik—"


Tubuh Teddy ambruk sebelum sempat menggenapi ucapannya. Victor, pria berusia ratusan tahun yang selama beberapa dekade ini tak pernah menunjukkan kekuatan fisiknya, kini mendorong tubuh Teddy ke lantai. Leher Teddy ditekan telapak tangan kanan Victor. Sembari berusaha menarik napas, Teddy menyaksikan dengan kepalanya sendiri bagaimana mata abu-abu Victor berubah menjadi merah darah sementara urat-urat di sekitar lehernya menonjol dan menebal, serta merambat sampai ke rahang.


Victor menarik tangannya menjauh. Matanya berkedip beberapa kali, ia beringsut mundur hingga punggungnya menabrak badan meja. Napas mereka berdua sama beratnya. Perlahan, Victor kembali normal, matanya kembali menjadi abu-abu, urat-urat di sekitar lehernya perlahan menyusut, dan ukuran lengannya mengecil ke ukuran semula.


"Kau lihat yang baru saja terjadi, Teddy? Sebelumnya maaf, aku lepas kendali. Keabadian yang aku miliki adalah sebuah perubahan besar. Aku tak akan menceritakan padamu secara detail, tapi aku merasa bahwa perubahan itu tak hanya mengubah diriku menjadi monster seperti ini, aku hanya khawatir bahwa perubahan itu akan mengubah susunan DNA milikku juga. Sekarang, kau mengerti mengapa aku tak ingin bicara tentang anak itu, bisa saja dia mewarisi kekuatan monster ini pula."


"Tuan...," panggil Teddy pelan, "Anda mungkin salah. Bayi itu, Edgar. Ia hanya bayi biasa, jika Anda takut ia mewarisi kekuatan itu, bukankah lebih baik jika ia berada dalam pengawasan Anda?"


Victor menyeringai. "Aku masih kesal dengan ulah Ruby."


"Tapi setidaknya Anda bisa menjadi lebih dewasa dengan mengesampingkan itu semua. Lupakan kesalahan Ruby, maafkan dia, dan cobalah untuk mengenal Edgar. Ia bayi yang sangat menggemaskan."


Victor mendecih. "Kau banyak maunya. Baiklah, sebagai ucapan maaf karena hampir membunuhmu, ambil cuti setengah hari, pergilah berobat, lalu pergilah ke tukang kayu. Belikan aku boks tidur bayi."


Itulah mengapa sekarang Victor berakhir di salah satu kamar yang terletak tak jauh dari klinik. Boks bayi yang baru saja dibeli Teddy masih beraroma khas pelitur. Victor sendiri ragu, apakah ia memiliki keberanian menimang Edgar. Ia takut, jika nantinya akan melukai bayi tersebut. Victor memeluk tubuhnya, hawa dingin malam ini membangkitkan hasrat mencukupi kebutuhan biologis. Namun, ia enggan. Setelah emosinya yang tak terkontrol, Victor bisa saja menyakiti gundiknya di luar keinginan.


"Marion. Dulu kau pernah berkata aku akan menjadi ayah yang baik, apakah aku bisa melakukannya?"


To.Be.Continue